Misteri Hutan Tawengan episode 5

Hutan Kabut Merah, Bayangan Hitam, dan Suara Bisikan

am 09.00 pagi, si kembar Angga dan Anggi, bersama dengan mas Parto dan mbok Tonah, akhirnya sampai di desa yang dituju. Desa Patrolan, demikian yang tertulis di gapura sederhana di ujung desa.

Meski hari telah merangkak siang, namun kabut tipis masih menyelimuti setiap sudut desa. Hawa juga masih terasa sangat dingin. Anggi yang duduk di sebelah Angga yang menyetir, tak henti hentinya mengagumi keindahan alam desa tersebut.

Sampai di rumah mbok Tonah, mereka beristirahat sejenak, menikmati hidangan kopi panas dan singkong rebus, dan berkenalan dengan keluarga mbok Tonah. Ternyata mbok Tonah ini seorang janda, suaminya telah meninggal dua tahun yang lalu. Selain mas Parto, mbok Tonah juga mempunyai anak perempuan berusia tujuhbelas tahun bernama Lestari. Dan yang unik, mas Parto yang belum menikah ini ternyata telah memiliki seorang anak angkat perempuan berusia empat tahun. Namanya Wahyuni. Gadis kecil nan cantik jelita ini sebenarnya adalah anak kandung dari Permadi, yang setelah kehilangan ibunya dan ditinggalkan oleh ayahnya, menjadi anak yang terlantar. Sang nenek tak bisa mengurusnya karena stress dan mengalami gangguan jiwa setelah kehilangan menantu kesayangannya. Akhirnya atas persetujuan dari pak Bayan, mas Parto yang merawat Wahyuni dan mengangkatnya sebagai anak.

Anggi yang mendengar kisah itu menjadi tersentuh hatinya. Stigma negatifnya terhadap mas Parto sedikit berubah. Anggi mencoba mendekati gadis kecil itu, sambil memberikannya sebatang coklat. Namun gadis kecil itu sepertinya sangat pemalu. Alih alih menerima coklat pemberian Anggi, ia justru bersembunyi di belakang punggung mas Parto sambil sedikit mengintip ke arah Anggi. Angga tergelak melihat peristiwa itu.

Cukup beristirahat, Si kembar dengan diantar oleh mas Parto berangkat ke rumah pak Bayan. Sebagai pendatang, Angga merasa berkewajiban untuk sekedar melapor dan meminta izin kepada kepala desa itu untuk tinggal selama beberapa hari di desa tersebut.

Mereka memilih untuk berjalan kaki. Selain rumah pak Bayan tak begitu jauh, sekalian bisa sambil menikmati pemandangan. Angga berjalan di depan bersama mas Parto, sedang Anggi mengikuti dari belakang. Tak henti hentinya ia mengabadikan pemandangan dengan kameranya.

Desa itu benar benar sangat sepi. Benar cerita mas Parto. Hanya tinggal empat keluarga yang tinggal di desa itu. Selain keluarga mas Parto dan pak Bayan, ada keluarga mbah Mo, orang paling tua setelah ayahnya pak Bayan, yang juga dianggap sebagai sesepuh desa, dan satu lagi adalah mbah Darmi, perempuan gila yang merupakan ibu dari Permadi.

Selebihnya adalah rumah rumah kosong tak bertuan, yang keadaannya sangat memprihatinkan. Tak terawat, ditumbuhi rumput rumput liar dan semak semak. Bahkan ada beberapa yang telah roboh dan hanya menyisakan puing puingnya saja.

Di sebelah utara dan barat desa itu menghampar area persawahan yang sangat luas, sedang di sebelah timur dan selatan hutan belantara yang masih alami, dengan sebuah sungai yang membatasi desa dengan hutan.

Mungkin ini hutan yang dimaksud dalam cerita Permadi. Dilihat sekilas saja sudah terasa aura mistisnya. Diselimuti oleh kabut tebal, sehingga pepohonan hanya terlihat sebagai siluet bayangan hitam diantara pekatnya kabut. Tak salah jika Permadi menyebut hutan itu sebagai hutan kabut merah, karena dilihat sekilas kabut yang menyelimuti hutan itu sedikit berwarna kemerah merahan.

Anggi mengambil kameranya, lalu membidik ke arah hutan. Maksud hati ingin mengabadikan gambar hutan itu. Namun baru saja matanya mengintip dari balik lensa kamera, gadis itu tercekat. Disana, di hutan, diantara bayangan hitam pepohonan, sekilas nampak bayangan hitam besar melintas. Sangat cepat, hanya sekelebatan mata. Tapi cukup membuat Anggi kaget. Mirip bayangan manusia, tapi lebih besar, dan melintas sangat cepat. Seolah berlari diantara lebatnya hutan.

Anggi menajamkan pengelihatannya, namun bayangan tadi telah lenyap. Gadis berambut sebahu itu bergidik. Pundaknya meremang, karena hawa dingin yang dibawa oleh angin yang tiba tiba bertiup semilir. Anggi menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia merasa ada yang memperhatikannya. Namun tak ada siapa siapa di sekitar situ, selain Angga dan mas Parto yang berjalan di depan, agak jauh meninggalkannya.

Anggi mengusap tengkuknya yang merinding. Angin semilir itu seolah menggelitiknya. Dan diantara desau angin yang melintas di telinganya, gadis itu seolah mendengar suara bisikan.

“Pergiiiiiiiii……!!!!!!” suara bisikan lirih. Terdengar seperti suara perempuan yang sangat serak. Anggi tercekat. Ingin dia berteriak memanggil kakaknya. Namun lidahnya terasa kelu. Tak sepatah katapun yang bisa ia ucapkan.

“Pergiiiiii……!!!!! Atau kamu akan matiiiiiiiii…….., matiiiiiiii……., MATIIIIIIIIIII……..!!!!!!!! HIHIHIHIHIHIHI……….!!!!!!!” kembali bisikan itu terdengar, disusul dengan suara tawa yang sangat mengerikan.

Tubuh Anggi bergetar, karena dingin, juga karena takut. Ingin ia berteriak dan lari. Tapi lagi lagi lidah terasa kaku. Dan kaki juga terasa terpaku, tak bisa digerakkan. Hanya matanya yang mampu bergerak liar. Keringat dingin mulai mengucur, membasahi pakaiannya.

Beruntung, disaat yang genting itu, Angga menyadari sesuatu. Mungkin insting sebagai saudara kembar, pemuda itu tak sengaja menoleh kebelakang, dan menyadari bahwa telah terjadi sesuatu dengan adiknya. Spontan ia berbalik dan melangkah mendekati sang adik.

“Nggi…, Anggi….., hey, kamu kenapa?!” Angga menepuk pundak Anggi, mencoba menyadarkannya. Namun ia berasa menepuk patung batu. Dingin dan kaku.

“Nggi, sadar Nggi. Mas Parto!!!!!” Angga menguncang guncang bahu adiknya, namun hasilnya nihil. Anggi hanya terdiam dengan tatapan mata kosong. Akhirnya Angga berteriak memanggil mas Parto. Laki laki desa itu segera tanggap. Didekatinya gadis cantik yang berdiri mematung itu. Dilihat sekilas, lalu dengan cepat mas Parto menyambar tangan Anggi.

“Maaf ya mbak,” ucap mas Parto, lalu menekan kuat kuat sela sela ibu jari dan telunjuk tangan Anggi, sambil mulutnya komat kamit seperti orang membaca mantera.

“Aaauuwww…..!!!!!” Anggi mengibaskan tangannya dari pegangan mas Parto. “Kau menyakitiku mas!” teriak Anggi.

“Maaf mbak, cuma itu cara menyadarkan mbak Anggi.” mas Parto membungkuk bungkuk meminta maaf. Ngeri juga ia dipelototi oleh gadis itu.

“Ah, syukurlah,” Angga berkata lega sambil memeluk adik kembarnya itu.

“Kalau melihat atau mendengar sesuatu yang janggal jangan dihiraukan mbak,” kata mas Parto. “Dan jangan sampai pikiran mbak kosong.”

Anggi masih mengibas ngibaskan tangannya. Entah apa yang dilakukan oleh mas Parto tadi. Yang jelas ia merasa tangannya seperti tersengat aliran listrik ribuan volt.

“Ya sudah, mari kita lanjutkan perjalalan. Sebisa mungkin jangan melihat ke arah hutan. Biasanya orang baru memang sering diganggu.” ujar mas Parto lagi.

Akhirnya mereka kembali berjalan. Sambil melangkah, Anggi masih sempat melirik ke arah hutan. Tapi suasana sudah berubah. Tak ada bayangan hitam berkelebat. Tak ada kabut berwarna kemerahan, hanya ada kabut pekat keabu abuan. Dan tak ada lagi terdengar suara bisikan, meski angin semilir masih tetap bertiup.

*****

cerbung.net

Misteri Hutan Tawengan

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2020 Native Language: Indonesia
Anggada dan Angginita, dua orang kakak beradik kembar, merupakan novelis terkenal yang sudah menerbitkan puluhan novel best seller dengan nama pena Angganita, gabungan dari kedua nama mereka.Spesialisasi mereka adalah cerita cerita horor dan misteri. Dan karena totalitas mereka dalam berkarya, tak jarang mereka harus mengunjungi lokasi lokasi yang dikenal angker untuk mendapatkan inspirasi dalam membuat cerita.Hingga suatu saat, berawal dari sebuah thread sederhana yang di unggah di sebuah media sosial, membawa mereka ke sebuah petualangan mistis yang tak akan pernah mereka lupakan seumur hidup.Bagaimana kisah petualangan mereka? Simak kisahnya di bawah ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset