Misteri Hutan Tawengan episode 6

Permadi

“Nengsih, awaaaaasssss……..!!!!!” teriakan Permadi menggema di seluruh penjuru hutan. Namun terlambat. Sosok hitam besar itu telah melompat dan menerkam perempuan hitam manis itu.

Permadi murka. Disambarnya sebatang kayu sebesar lengan orang dewasa yang tergeletak di dekatnya. Dan dengan disertai teriakan lantang laki laki itu berlari sambil mengayunkan kayu yang dipeganganya tepat ke arah makhluk hitam itu.

“Makhluk laknat keparat! Lepaskan istriku!” geram Permadi penuh emosi.

“Kkkrrrraaaakkk……..!!!!!!” terdengar suara berderak saat batang kayu itu menghantam tepat di batok kepala si makhluk hitam. Kayu yang menjadi senjata Permadi patah menjadi dua bagian. Sedang makhluk yang diserangnya hanya menggeram sambil menatap buas ke arahnya.

“Sial!” umpat Permadi saat menyadari serangannya gagal total. Sementara makhluk hitam tinggi besar itu melenggang pergi meninggalkannya, sambil menyeret tubuh Nengsih yang telah pingsan.

“Makhluk haram jadah! Mau kau bawa kemana istriku!” lagi lagi Permadi meradang. Kali ini sebongkah batu sebesar kepala kambing melayang dari tangan Permadi, meluncur tepat ke arah kepala si makhluk.

“Dhuag…!!!” lagi lagi serangan Permadi gagal. Batu yang ia lempar terpental dan menggelinding ke semak semak. Sedang makhluk itu seolah tak merasakan apa apa, dan terus saja menyeret tubuh Nengsih menjauh dari Permadi.

Permadi semakin meradang. Laki laki itu melompat, berusaha mengejar makhluk itu. Namun niatnya terhenti seketika, saat sekelebat dilihatnya ada makhluk yang sama melompat ke arahnya. Refleks Permadi menghindar dengan berguling ke arah kiri. Ia memang selamat dari terkaman makhluk itu, tapi tak urung duri duri semak yang tajam menggores kulitnya.

Tak sempat Permadi merasakan perihnya luka luka di tubuhnya, saat makhluk itu dengan cepat kembali menyerangnya. Kali ini sebuah pukulan dari tangan si makhluk mengincar kepalanya. Kembali Permadi berguling untuk menghindar.

Bruaakk…..!!!! Kkkrrraaakkkkk…..!!!! Brrruuussshhh……!!!!” pukulan makhluk itu meleset dan mengenai sebatang pohon, membuat pohon sebesar paha orang dewasa itu patah dan tumbang. Permadi bergidik ngeri, membayangkan jika pukulan makhluk itu berhasil mendarat di kepalanya.

Makhluk itu menggeram marah. Permadi melompat bangkit. Ia merasa tak guna melawan sosok hitam besar itu. Selain tak mungkin bisa menang, menyelamatkan Nengsih lebih penting daripada melayani lawan yang ada di depannya.

Menyadari ada kesempatan, Permadi melesat berlari saat makhluk itu bersiap untuk menyerangnya lagi. Makhluk itu kembali menggeram, dan segera berbalik mengejar Permadi. Sontak Permadi mempercepat larinya. Namun sepertinya sia sia. Makhluk yang bertubuh lebih besar dengan kaki kaki yang kokoh itu tentu saja lebih cepat larinya dibanding dengan Permadi.
Meski begitu, Permadi tak ingin menyerah. Ia terus berlari dan berlari. Meski nafasnya hampir putus, meski kaki kakinya terasa lemas kehabisan tenaga. Meski kulit dan pakaian yang dikenakannya habis terkoyak oleh duri dan ranting tajam yang diterjangnya, Permadi tak peduli lagi. Hingga akhirnya, disertai geraman yang menggema makhluk itu melompat menerjang Permadi. “Habislah aku!” umpat Permadi pasrah.

Sepersekian detik sebelum sosok tinggi besar itu berhasil menyentuh Permadi, sesosok bayangan putih melesat cepat dari arah rimbunan hutan, menyambar tubuh Permadi dan membawanya terbang menembus rimbunan belantara.

Kejadian yang begitu cepat, hanya sepersekian detik, hingga sosok hitam besar itu kebingungan menyadari bahwa mangsanya telah lenyap begitu saja tanpa meninggalkan jejak.

“Grrrooooaaaaaarrrrrrrr………..!!!!!” makhluk itu menggeram marah. Suara geramannya terdengar ke seluruh penjuru hutan, membuat Permadi tersentak. Wajah laki laki itu memucat, nafasnya memburu, keringat dingin membasahi pakaiannya. Segera laki laki itu mengusap keringat yang mengalir di dahinya, sambil mengatur nafasnya yang memburu.

“Ah, lagi lagi mimpi buruk,” desah Permadi sambil beringsut turun dari tempat tidurnya. Mimpi buruk yang selalu menghantuinya sejak ia kehilangan Nengsih istrinya, nyaris ia alami setiap malam, membuat laki laki itu nyaris menjadi gila. Ditambah harus hidup mengasingkan diri setelah terusir dari desanya, hanya mentalnya sebagai laki laki yang kuatlah yang membuatnya bisa bertahan sampai sejauh ini.

Permadi duduk di bangku kayu di depan meja tulisnya, setelah sebelumnya menenggak habis segelas air putih. Ia menyandarkan punggungnya, lalu mengusap dan meremas rambut gondrongnya yang acak acakkan. Dihembuskanya nafas kuat kuat, untuk sedikit mengurangi beban batinnya.

“Ah, Nengsih, dimanakah engkau gerangan kekasihku? Masih hidupkah engkau, atau makhluk itu telah habis memangsamu?” tak terasa mata Pemadi basah. Tidak! Aku laki laki! Aku tak boleh menangis!

Laki laki itu mengucek matanya, lalu menegakkan posisi duduknya. Diraihya bingkai foto yang ada di atas meja. Foto dirinya bersama Nengsih yang sedang menggendong Wahyuni yang masih bayi. Ditatapnya foto itu. Dan tanpa sadar matanya kembali basah.

Hanya foto itu yang sempat ia bawa saat pergi dari desa. Bahkan Bayan keparat yang mengusirnya itu tak mengijinkan ia untuk membawa serta anak dan ibunya.

Ya, semua ini gara gara si Bayan keparat itu. Permadi mendengus. Rasa pedih dihatinya berganti dengan amarah yang meletup. Teringat dengan peristiwa beberapa tahun yang lalu. Ia menyesali ketidakberdayaannya waktu itu. Tapi apa mau dikata, Bayan itu juga merupakan seorang dukun yang berilmu tinggi, ditambah dengan keselamatan anak dan ibunya yang menjadi taruhan, membuatnya tak punya pilihan lain selain harus pergi.

Amarah membuncah di benak Permadi. Tangannya mengepal dan menggebrak meja dengan kuat, hingga meja kayu itu bergetar hebat. Aku tak boleh terus terusan begini, sentak batin Permadi. Aku harus berbuat sesuatu. Aku telah kehilangan Nengsih, Aku tak ingin kehilangan untuk keduakalinya. Aku tak ingin kehilangan Wahyuni. Aku harus menyelamatkan ibuku. Aku harus bertindak. Disini bukan tempatku. AKU HARUS PULANG!

cerbung.net

Misteri Hutan Tawengan

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2020 Native Language: Indonesia
Anggada dan Angginita, dua orang kakak beradik kembar, merupakan novelis terkenal yang sudah menerbitkan puluhan novel best seller dengan nama pena Angganita, gabungan dari kedua nama mereka.Spesialisasi mereka adalah cerita cerita horor dan misteri. Dan karena totalitas mereka dalam berkarya, tak jarang mereka harus mengunjungi lokasi lokasi yang dikenal angker untuk mendapatkan inspirasi dalam membuat cerita.Hingga suatu saat, berawal dari sebuah thread sederhana yang di unggah di sebuah media sosial, membawa mereka ke sebuah petualangan mistis yang tak akan pernah mereka lupakan seumur hidup.Bagaimana kisah petualangan mereka? Simak kisahnya di bawah ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset