Misteri Hutan Tawengan episode 7

Kesialan Anggi

“Jadi kalian berdua ini adalah…….” pak Bayan mengernyitkan dahi, lalu mendekatkan kertas yang dipegangnya ke arah mata tuanya. Sepertinya kacamata setebal bantal yang dipakainya tak banyak membantu. “Hmmmm, penulis novel ya,” sambung laki laki setengah baya itu.

“Benar pak,” jawab Angga sambil menyerahkan berkas berkas dokumen yang dibawanya.

“Lalu tujuannya datang kemari?” pak Bayan tak begitu memperdulikan kertas kertas yang diserahkan oleh Angga. Sepertinya formalitas tak begitu dibutuhkan di desa ini.

“Kami, saya dan adik saya ini, pernah mendengar cerita tentang desa ini, lalu tertarik untuk datang berkunjung. Yah, sekedar berjalan jalan menikmati alam pedesaan, sekaligus mencari ide untuk bahan tulisan kami. Jadi kami mohon kepada bapak, sudilah kiranya mengijinkan kami untuk tinggal di desa ini untuk beberapa hari.” Angga menjelaskan tentang maksud kedatangannya.

“Mohon maaf sebelumnya nak,” pak Bayan menyalakan rokoknya. “Bukannya saya menolak atau melarang. Tapi, jarang ada orang luar yang mau singgah di desa ini. Jangankan orang kota seperti kalian. Bahkan orang orang dari desa tetanggapun enggan datang kemari, kalau tidak punya kepentingan yang benar benar mendesak. Nak Angga tahu kenapa?”

Angga hanya menggeleng, sambil menatap pak Bayan, berharap laki laki setengah baya itu melanjutkan ucapannya.

“Desa ini nak,” pak Bayan melanjutkan. “Orang mengenalnya sebagai desa terkutuk. Nak Angga bisa lihat sendiri. Di desa yang seluas ini, saya menjadi Bayan yang hanya memiliki warga tiga kepala keluarga. Jangan tanya kenapa, karena itu sulit untuk dijelaskan. Yang jelas, berbahaya untuk orang luar berkeliaran di desa ini. Kami sendiri yang sudah turun temurun tinggal di desa ini, merasa tak nyaman tinggal di rumah sendiri. Tapi kami tak punya pilihan. Suka atau tidak, kami harus tetap menjalaninya. Karena kami juga tak bisa pergi kemana mana.”

“Justru karena itu kami datang menemui bapak,” kata Angga setelah terdiam sejenak. “Kami sudah banyak mendengar cerita dari mas Parto tentang desa ini. Dan sebagai seorang yang dituakan di desa ini, kami berharap bapak bisa membantu kami agar bisa tinggal di desa ini dengan aman dan nyaman. Melihat bahwa masih ada warga yang sanggup bertahan di sini, saya kira ada hal hal yang bisa dilakukan agar kami juga bisa tinggal. Kalaupun ada syarat syarat yang harus kami penuhi, atau aturan aturan dan pantangan pantangannya, sebisa mungkin kami akan mematuhinya.”

Pak Bayan diam sejenak. Sepertinya laki laki itu berpikir keras. Tamu yang dihadapinya sepertinya orang yang sangat terpelajar. Ia harus hati hati dalam berbicara.

“Kalau sekedar memberi ijin sih, saya bisa. Tapi untuk yang lain lainnya, biar nanti Parto yang mengantar kalian ke rumah mbah Mo. Mungkin beliau bisa membantu.” akhirnya pak Bayan memutuskan. Angga tersenyum samar, dan Anggi bersorak dalam hati.

“Brruuaaakkkkk……..!!!! Arrrrrgggghhhhh…..!!!!” tiba tiba mereka dikejutkan oleh suara berderak dari dalam kamar, diikuti suara erangan serak. Sontak pak Bayan terlompat dari tempat duduknya dan berlari masuk ke dalam kamar, tanpa memperdulikan tamu tamunya.

“Mbah Atmo,” mas Parto ikut berlari ke kamar. Angga dan Anggi saling pandang, lalu serentak ikut berdiri dan melangkah mengikuti mas Parto.

Sampai diambang pintu kamar, Angga tersentak. Anggi Cumiik lirih. Di dalam kamar itu, diatas sebuah dipan, nampak laki laki tua kurus kering mengelepar gelepar sambil menggeram geram, seperti menahan rasa sakit yang tak terperikan.

Sedang di sekeliling dipan nampak pak Bayan beserta anak dan istrinya yang sibuk dan panik menenangkan si orang tua.

“Parto, tolong panggilkan mbah Mo! Dan kalian……, ah maaf, bisa tolong kalian ambilkan air putih di dapur!?” kata pak Bayan penuh kepanikan.

Mas Parto segera menghambur keluar. Sedang Anggi bergegas mencari dimana posisi dapur di rumah itu. Angga sendiri yang tak tahu harus berbuat apa, akhirnya ikut mendekat ke arah dipan.

Anggi telah kembali dari dapur. Bukan hanya segelas air yang ia bawa, tapi gelas kosong berikut sebuah teko besar penuh berisi air putih. Pak Bayan segera menyambar gelas di tangan Anggi.

“Tolong tuangkan,” kata pak Bayan sambil mengulurkan tangannya yang memegang gelas ke arah Anggi. Sedang tangan yang satunya menahan kaki mbah Atmo yang masih terus mengelepar dan menggeram.

Anggi segera menuangkan air ke dalam gelas. Mungkin karena panik, air sampai tumpah tumpah ke lantai. Pak Bayan tak peduli. Medekatkan gelas penuh air itu ke mulutnya, komat kamit sebentar sambil meniup air dalam gelas, lalu menyeruput air itu dan menyemburkannya ke arah mbah Atmo. Hal itu dilakukan sampai beberapa kali, sampai tubuh mbah Atmo berikut alas tidurnya menjadi basah kuyup.

Ajaib. Begitu disembur air yang telah dijampi jampi oleh pak Bayan, gerakan mbah Atmo mulai melemah, lalu berhenti. Tinggal erangan erangan lirih yang masih terdengar dari mulutnya. Semua yang ada disitu menarik nafas lega. Namun tiba tiba…….

“Aauwwhh…..,” Anggi terpekik saat tiba tiba tangan kurus mbah Atmo menyambar dan mencengkeram tangannya. Teko yang ia pegang terlempar, isinya tumpah menggenangi lantai tanah. Semua kembali menjadi panik.

Anggi menjerit jerit sambil meronta, mencoba melepaskan cengkeraman laki laki tua yang begitu kuat itu, seolah ingin meremukkan tulang tangannya. Angga juga tak kalah panik, ikut membantu sang adik. Pak Bayan beserta anak istrinya juga tak ketinggalan.

Namun siapa sangka, cengkeraman tangan kurus kering yang terlihat lemah itu ternyata begitu kuat. Tiga orang yang mencoba melepaskannya tak berhasil. Anggi terus menjerit jerit, kesakitan, juga ketakutan, melihat mata mbah Atmo yang menatapnya dengan tatapan penuh kebencian, disertai dengan geraman yang keluar dari mulutnya.

Beruntung, di saat saat yang menegangkan itu, datanglah mas Parto bersama seorang laki laki tua yang mungkin seumuran dengan mbah Atmo. Tanpa banyak bicara lagi orangtua itu segera menangkap tangan mbah Atmo yang mencengkeram lengan Anggi, lalu menyentakkannya sambil mulutnya komat kamit entah membaca mantera apa.

Keajaiban kembali terjadi. Cengkeraman itu lepas begitu saja dengan sangat mudahnya. Anggi jatuh terduduk, meringis sambil mengurut urut pergelangan tangannya. Angga segera membantu adik kembarnya itu.

“Kamu ceroboh, Bayan!” sentak laki laki tua itu sambil melotot ke arah pak Bayan. “Apa susahnya mengganti janur kuning itu sebulan sekali! Atau memang kamu sengaja ingin menyiksa bapakmu yang sudah sekarat ini?”

“Ah, maaf mbah, saya benar benar lupa kalau hari ini adalah hari selasa kliwon,” pak Bayan menunduk, tak berani membalas tatapan mbah Mo.

“Bodoh! Cepat kau ganti, atau bapakmu akan celaka!” lagi lagi mbah Mo menyentak. Angga dan Anggi baru menyadari, bahwa dipan tempat berbaringnya mbah Atmo itu dikelilingi oleh untaian janur kuning yang hampir mengering.

“Baik mbah, akan segera saya ganti,” pak Bayan kemudian mengajak tamu tamunya kembali ke ruang tengah, untuk melanjutkan obrolan yang tadi sempat tertunda. Kebetulan juga ada mbah Mo. Jadi bisa sekalian minta saran saran dari orang yang dituakan di desa itu.

Setelah mendengar penjelasan dari pak Bayan, mbah Atmo hanya menyarankan agar tempat dimana Angga dan Anggi menginap, harus dibuat untaian janur kuning yang mengelilingi pagar rumah, seperti yang mengitari dipan mbah Atmo. Tentu saja janur itu nantinya akan dijampi jampi terlebih dahulu oleh mbah Mo.

Setelah semua beres, akhirnya mereka pamit. Angga juga sempat meminta ijin untuk menempati salah satu rumah kosong yang ada di desa itu, yang disetujui oleh pak Bayan.

***

“Masih sakit Nggi?” tanya Angga saat dalam perjalan menuju rumah tempat mereka akan menginap. Rumah yang bersebelahan dengan rumah mbok Tonah.

“Bukan sakit lagi bang,” gadis cantik itu masih mengelus elus pergelangan tangannya. “Berasa mau remuk tulangku.”

“Nanti biar diurut sama simbok mbak,” mas Parto menyarankan. “Kebetulan simbok juga sedukit sedikit bisa ngurut.”

“Gampanglah nanti mas. Kita beres beres saja dulu di rumah tempat kita akan menginap. Takutnya nanti kemalaman,” sahut Anggi.

“Kenapa nggak nginap dirumahku saja sih mas? Daripada harus capek capek beresin rumah yang sudah lama kosong?” tanya mas Parto.

“Maaf mas, bukannya saya menolak niat baik mas Parto. Tapi saya butuh tempat yang sepi untuk bekerja.” jawab Angga.

“Oh, begitu to,” mas Parto manggut manggut, meski tak sepenuhnya mengerti ucapan Angga. Orang mau bekerja saja kok nyari tempat yang sepi.

Sedang asyik asyikya mereka mengobrol sambil berjalan, tiba tiba……,

“Menantuku sayaaaaaannnggggg…….., kau sudah pulang nak,” seorang perempuan tua berpakaian kumal tiba tiba muncul, memeluk dan menciumi Anggi, membuat gadis itu menjerit ketakutan.

“Kemana saja kamu nak? Simbok kangen lho. Kenapa kamu pergi lama sekali? Dimana anak dan cucuku?” celoteh wanita tua itu sambil terus menciumi Anggi. Anggi memberotak, berusaha melepaskan diri dari pelukan perempuan tua itu. Angga dan mas Parto juga berusaha membantu.

“Mbok, sudah mbok, lepasin menantumu. Jangan dipeluk peluk begitu. Nanti dia malu lho, terus pergi lagi gimana coba?” mas Parto membujuk perempuan tua itu.

“Hihihihi……..,” perempuan tua itu tertawa setelah melepaskan pelukannya, lalu sambil melompat lompat ia berteriak teriak, “menantuku pulaaaaannnngg……., menantuku pulaaaaannnngggg…..”

“Dasar orang gila,” gumam mas Parto sambil mengajak Angga dan Anggi kembali berjalan.

“Hei, menantuku, kau mau kemana lagi……” sambil terus berjingkrak jingkrak perempuan itu mengikuti mereka, membuat Anggi merasa risih. Entah sudah berapa hari perempuan itu tak mandi. Saat memeluknya tadi baunya sudah seperti terasi busuk.

“Sudah mbok, kamu pulang saja,” hardik mas Parto kepada perempuan itu. “Mandi dan dandan yang cantik, biar nanti kalau menantumu pulang dia senang.”

“Hihihihi….., ayo mandi….., ayo mandi…..,” perempuan gila itu masih terus melompat lompat menjauh sambil mulutnya tak henti henti mengoceh.

“Itu ibunya Permadi mas?” tanya Angga.

“Ya begitulah keadaanya sekarang mas,” jawab mas Parto.

“Sial! Kenapa seharian ini aku terus yang ketiban sial!” umpat Anggi yang disambung oleh gelak tawa Angga dan mas Parto.

*****

cerbung.net

Misteri Hutan Tawengan

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2020 Native Language: Indonesia
Anggada dan Angginita, dua orang kakak beradik kembar, merupakan novelis terkenal yang sudah menerbitkan puluhan novel best seller dengan nama pena Angganita, gabungan dari kedua nama mereka.Spesialisasi mereka adalah cerita cerita horor dan misteri. Dan karena totalitas mereka dalam berkarya, tak jarang mereka harus mengunjungi lokasi lokasi yang dikenal angker untuk mendapatkan inspirasi dalam membuat cerita.Hingga suatu saat, berawal dari sebuah thread sederhana yang di unggah di sebuah media sosial, membawa mereka ke sebuah petualangan mistis yang tak akan pernah mereka lupakan seumur hidup.Bagaimana kisah petualangan mereka? Simak kisahnya di bawah ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset