My Beautiful Angel episode 20

Chapter 20
POV Anton
Sudah hampir pukul sembilan pagi toko belum buka juga.”Tumben Bang Roel belum datang,” ucap Mbak Santi aku diam saja sambil menyeruput kopi.

“Gimana ya cara mengacaukan hubungan antara Rani dan Bang Roel? Nggak rela banget aku kayaknya,” kata Mbak Santi.

“Iya, nasibnya bagus banget. Nggak kaya aku,” keluh Vina. Aku juga belum rela lagi ikhlas melihatnya dimiliki laki-laki lain.

“Vin, kamu hamil ya?” Pertanyaan Mbak Santi hampir saja membuatku tersedak kopi.

“Nggak tahu nih, Mbak. Rasanya lapar terus sih, ada rasa mual juga beberapa hari belakangan,” desisnya.

“Coba periksa ke dokter atau bidan kek takut aja kalau kamu itu lagi hamil.”

“Iya, Mbak,” jawab Vina. Berarti kalau Vina ini hamil, Rani beneran mandul dong. Nggak rugi juga kalau cerai dari dia. Yah, meskipun masih ada rasa sayang. Sebenarnya, kalau dapat sih dua-duanya tanpa ada perceraian.

“Nah, coba kita bilang sama Bang Roel, Mbak. Mana tahu dia mikir lagi untuk ngelanjutin hubungan sama Rani,” ujar Vina. Bagus juga sih rencananya. Biar saja mereka yang melakukan, aku tinggal jadi penonton saja.

******

“Dari tadi ya? Maaf Abang kesiangan. Males banget ke toko tadinya. Capek,” ujar Bang Roel yang langsung memberikan kunci padaku.

“Kalau nggak enak badan aturan Abang nggak usah ke toko. Biar kami saja yang buka, Bang. Kuncinya kami yang pegang saja,” ujar Mbak Santi. Vina mengangguk. Sedangkan Bang Roel hanya diam. Mungkin dia belum percaya sepenuhnya. Aku juga saat masih jadi bos, tidak semudah itu mempercayakan pada karyawan. Kalau jujur, nah kalau yang kaya Vina? Hahahaha, keenakan dong.

“Iya, nanti Vin.”

20 menit berlalu, toko pun sudah rapi. Sekarang saatnya menunggu pembeli datang. Bang Roel seperti biasa, duduk di kursi kesayangan sambil memainkan ponsel.

“Boleh! Belanja gamis dan batiknya, boleh bunda!” teriak Mbak Santi menawarkan setiap pengunjung yang datang melihat-lihat. Kalau aku malu disuruh teriak-teriak. Untung jatah jadi tukang panggul. Meskipun capek manggulin karung tidak masalah, supaya bisa hidup enak lagi. Hum, harusnya saat Rani memberi uang 20 juta, dijadikan modal. Ini malah untuk beli sesuatu yang belum terlalu penting. Eh, tapi motor juga penting sih.

“Boleh, Bunda … belanja!” teriak Vina yang langsung disahuti oleh karyawan toko sebelah. Vina terlihat tersenyum sambil malu-malu terlihat seolah tengah mencari perhatian. Sebenarnya aku sedikit ilfil melihat aksinya seperti itu. Merasa sedang aku perhatikan, Vina pun salah tingkah.

“Assalamualaikum, halo, Ma. Mama, Papa dan Dita bisa berangkat ke Jakarta? Ajak sekalian Yudha, Ma.” Aku memberi kode pada kedua Kakak beradik untuk diam karena Bang Roel tengah berbicara di ponsel.

“Iya, Roel ada perlu. Roel mau nikah Ma.”

“Serius. Ya udah, kapan Mama berangkat? Kalau perlu secepatnya deh,” kata Bang Roel lagi.

“Ya sudah, Roel tunggu, Ma. Hati-hati, assalamualaikum.”

“Jadi Abang nikah sama Rani? Nggak pikir panjang lagi, Bang? Rani mandul lho. Nanti nyesel,” ujar Mbak Santi.

“Kamu jangan sembarangan ngomong,” bantah Bang Roel.

“Loh aku nggak sembarangan ngomong kok. Cobalah Abang tanya Anton. Atau tanya langsung sama Rani.”

“Betul, Ton?” Mata Bang Roel beralih padaku. Aku hanya mengangguk.

“Dulu sih pernah periksa ke dokter kandungan, katanya Rani itu susah buat punya anak. Coba aja Abang tanya sendiri sama Rani.” Wajah Bang Roel langsung berubah. Sepertinya dia tengah berpikir. Anak pastilah sangat diinginkan oleh semua pasangan suami istri. Termasuk aku sendiri.

“Susah bukan berarti mandul, Ton.”

“Hehe …iya Bang.

.

.

.

****

“Besok kalian buka toko ya, saya ada perlu. Ini kuncinya.” Bang Roel menyerahkan kunci padaku, wajah Vina terlihat sumringah. “Saya duluan,” ucap Bang Roel seraya berlalu. Kami tidak langsung pulang dan memilih untuk duduk di depan toko sambil bersandar rolling door yang sudah tutup.

“Nggak pulang, Bang Anton?” sapa Era. Perempuan yang telah bersuami dan memiliki dua orang anak, tapi masih terlihat sangat cantik. Entah, melihat perempuan itu tersenyum ramah ada sesuatu yang mengganjal dalam diri ini.

“Aku perhatikan, dia itu dekat sekali dengan karyawan toko yang di depannya itu.”

“Yang mana, Mbak?” tanya Vina.

“Itu loh, Bang Andi. Kayaknya mereka ada hubungan deh,” ujar Mbak Santi. Dasar perempuan.

“Tapi kan Bang Andi udah punya istri. Mana mungkin?” ujar Vina.

“Mungkin saja Vin, perhatikan gelagatnya. Aku juga pernah kok, lihat mereka gandengan tangan di lantai 8.

“Kapan lihatnya, Mbak?”

“Pas disuruh Bang Roel ngambil hp-nya di parkiran.”

“Ih, masa sih, orang seperti mereka juga bisa berbuat kaya gitu? Suami Mbak Fera dan Bang Andi juga masih sepupuan. Padahal kelihatan-nya Mbak Era itu rajin shalat. Bang Andi juga. Apa nggak takut dosa ya?” ucap Vina sok bijak. Kadang aku sendiri bingung, mereka suka menggosip, tapi tidak sadar dengan kelakuan sendiri.

“Shalat itu sudah kewajiban setiap orang muslim! Sekalipun mereka pendosa!” timpalku. Aku bisa berkata seperti ini, tapi aku sendiri kesulitan untuk menerapkan.

“Udah ayo, pulang. Gosip aja!” desisku.

“Bonceng tiga ya?”

“Nggak lah Mbak. Nanti kempes ban motorku. Sadar diri sama badan, Mbak,” tolakku. Gila saja kalau harus bonceng tiga. Lagian di depan juga ada pos polisi. Bisa kena tilang aku nanti.

“Ya sudahlah cepetan ayok pulang,” ketusnya.

“Mbak, perasaan kamu tadi pagi bawa motor,” ujar Vina mengingatkan.

“Eh iya, lupa. Hahahaha.” Dia pun tertawa lebar. Ada ya perempuan seperti ini. Tak habis pikir Mas Galang bisa mau?

*****

“Vin, jadi kan kita ke salon? Sekalian deh kamu juga periksa ke dokter itu. Siapa tahu hamil.”

“Jadi, Mbak. Aku jual gelang dulu ya? Kalau gitu, kita mampir ke pasar kebayoran,” balas Vina.

“Ayo Mas, kita ke pasar kebayoran,” ajak Vina. Sebenarnya aku merasa malas. Hutang duit kok buat ke salon.

“Oke jalan,” titah Mbak Santi.

******

“Kalian tunggu di sini ya? Aku jual dulu.” Vina pun segera gegas ke toko emas tempat membeli kemarin. Aku paling malas sebenarnya jual-jual begini. Malu juga sama yang jaga. Baru beli udah dijual. Mending tidak usah beli sekalian.

“Nggak usah manyun gitu, Ton! Nanti bakal Mbak ganti kok!”

“Ganti dong, Mbak. Namanya juga pinjam alias hutang. Saya juga nyari duitnya capek. Kalau saya kaya sih bodo amat.”

“Mas udah,” ucap Vina. Mbak pinjam berapa?” tanya Vina pada Kakaknya.

“1 juta,” singkat Mbak Santi. Vina pun segera memberikan uang itu.

“Terimakasih adikku. Kamu baik banget. Mbak udah nggak sabar pengin cantik lagi,” ujarnya. Vina hanya tersenyum.

“Kita langsung ke salon, Mbak?”

“Iya. Ayo jalan.”

“Siap, Mbak.”

“Mana sisanya?” ketusku.

“Lah, buat apaan?”

“Buat disimpan. Ini kan yang simpanan. Kamu gimana sih!”

“Udah aku aja yang simpan. Cepetan jalan,” ujar Vina. Aku pun enggan mendebat dan segera menyusul Mbak Santi yang sudah berada di depan. Perempuan itu ternyata lihay juga mengendarai motornya.

******

“Aku nunggu di warung kopi ya. Males banget nungguin perempuan nyalon. Lama!” sungutku ketika kami sudah sampai di depan salon.

“Siap, Mas … sayang….” Vina memang begitu, kalau maunya dituruti ya seperti itu. Terlihat manis.

“Aku masuk dulu,” ujar Vina. Aku pun segera ke warung kopi yang berada di samping salon ini.

******

Sudah hampir dua jam menunggu, sampai kopi hampir habis dua gelas dan juga Indomie dua mangkok, mereka belum selesai juga. Hadeh … dari pada jenuh dan bosan, lebih baik kepoin FB mantan. Kuketik nama Rani Apriliani di pencarian orang. Langsung nongol, karena memang kami sudah berteman. Kucari semua postingan foto-foto saat kami masih bersama, siapa tahu Rani masih menyimpannya. Aku penasaran, apa iya dia benar-benar sudah melupakanku?

Dari postingan paling atas, hingga postingan paling bawah, bahkan sampai ibu jariku gempor, tidak ada satupun Foto aku di Efb Rani. Padahal, aku sangat ingat, dulu dia rajin menandaiku di setiap postingannya.

[Bersama calon imam. Semoga niat baik kami segera disegerakan] Hum, postingan Rani satu menit yang lalu, mampu membuat rasa di hatiku berkobar hebat. Bahkan kopi ini enggan membuatku untuk kembali menyeruputnya. Ah, mereka terlihat sangat mesra, meskipun tanpa berpegangan tangan. Puluhan komentar mulai membanjiri kolom komentarnya. Kebanyakan dari mereka mengucapkan selamat dan mendoakan agar lancar sampai hari H. Mungkin hanya aku yang mendoakan supaya hubungan mereka cepat putus di tengah jalan. Sebentar lagi masa iddah mantan istriku habis ya Allah, nyesel aku nyesel … kembalikan dia padaku ya Allah, gagalkan hubungan mereka… meskipun aku tahu doa jelekku tidak mungkin terkabulkan.

“Kamu ngapain sih, ngeliatin foto mantan istri kamu!” Vina datang dan langsung memukul pundakku menggunakan ponsel. Membuatku meringis menahan rasa sakit.

“Mang! Jangan ketawa!” kesalku pada tukang kopi yang sibuk cekikikan melihatku terpergok.

“Mang, bikinin Indomie rebus dua sama ovaltine dua,” ujar Vina sambil menatapku kesal. Dengan nafas yang naik turun dia terlihat ingin memangsaku. Matanya membulat sempurna memelototiku, semakin lama, bola matanya berkaca-kaca. Dapat kurasakan nafas kecemburuannya.

“Vin, kenapa?” tanya Mbak Santi yang baru saja masuk.

“Nggak apa Mbak. Tadi hanya kesal saja sama Mas Anton.”

“Sudah dipesan buat Mbak?”

“Sudah. Ini es ovaltinenya.” Vina menyerahkan segelas minuman itu pada Mbak Santi. Seperti orang yang tidak minum selama sebulan, Mbak Santi langsung menyedot minumannya hingga tak tersisa. Punya Vina masih penuh, sedangkan dia tinggal es batu sama gelasnya.

*************

Sampai di kontrakan, Vina masih mendiamkanku. Mungkinkan dia cemburu? Kalau cemburu berarti cinta dong?

“Vin.” Aku mencoba untuk menyapa.

“Mas maksud kamu apa sih ngeliatin foto Rani tadi sampai segitunya? Sampai nggak sadar kalau aku udah datang?” geramnya dengan mata yang berkaca-kaca. Aku mencoba untuk meraih dan menenangkannya.

“Nggak ada maksud apa-apa, tadi itu aku bengong karena lihat setatus Rani yang bilang Bang Roel calon imam. Berarti mereka jadi nikah dong.”

“Terus kamu nyesel gitu? Kamu cemburu dan nggak rela?” Kalau boleh jujur ya seperti itu. Aku memang tidak rela. Kalaupun Rani mau kembali sama aku, asal kamu harus aku tinggalin juga aku rela.

“Mas! Aku tanya ….!”

“Hum, aku rela kok. Kan udah ada kamu,” jawabku berkilah. Kalau aku jujur pasti akan terjadi perdebatan panjang.

“Beneran?”

“Iya.”

Ya udah tidur yuk. Tadi nggak jadi ‘kan priksa ke dokter. Besok aja kita periksa,” ujarku. Vina mengangguk. Gerah sebenarnya tidak mandi dan memilih langsung tidur. Tapi, rasa malas menyelimuti relung hati.

************

POV Vina

Pagi ini aku dan Mas Anton memutuskan untuk ke bidan terdekat terlebih dulu. Takutnya kalau menunggu pulang kerja ada rasa malas. Takut juga hamil, karena belum siap. Apalagi keuangan Mas Anton juga masih seperti itu. Kalau tidak bekerja bagaimana? Belum untuk makan, bayar kontrakan, untung saja kami tidak memiliki angsuran.

“Mas aku deg-degan. Kalau hamil gimana?” tanyaku. Mas Anton mengernyitkan kening.

“Hamil ya nggak gimana-gimana! Kan ada suaminya!” Nada suara Mas Anton terdengar kesal.

“Iya, Mas.”

“Ayo, masuk.”

“Silahkan,” sapa asisten dokter. Entah, mungkin juga suster. Dia memakai pakaian biasa dan duduk menjadi kasir juga memberi kertas antrian. Kami datang ke klinik biasa tempat praktek dokter. Bukan datang ke rumah sakit yang sudah jelas mana susternya dengan melihat seragam yang dikenakan.

“Langsung saja ke dalam, Bu,” titahnya. Aku dan Mas Anton pun langsung mengikuti perintahnya. Sepertinya baru buka karena aku adalah pasien pertama.

Sampai di dalam, dokter langsung bertanya seputar keluhan yang aku rasakan. Dengan lugas dan lancar aku ceritakan semuanya. Dokter cantik yang memiliki senyum ramah itu pun langsung memeriksaku.

“Oh ini si ….”

“Sebentar-sebentar,” ujarnya lagi memastikan.

Aduh, Dokter ini kenapa buat aku deg-degan. Mau ngomong hamil tapi ragu… jangan sampai aku ini kenapa-kenapa. Masih mending hamil.

cerbung.net

My Beautiful Angel

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Kisah seseorang yang menikahi karyawannya tanpa sepengetahuan sang istri pertama, Anton yang baru saja membawa pengantin baru ke rumahnya harus berhadapan istri pertama dengan celotehan tanpa henti dari Rani, yang sejatinya sangat judes dan tidak peka dengan keadaan disekitarnya , tetapi bagaimana pun Anton akan tetap mempertahankan pengantin barunya ,Vina dengan meminilasir masalah sekecil mungkin, tapi sayang karena tiga-tiganya edan mungkin ini akan jadi rintangan yang tidak mudah untuk mereka. Dapatkah Anton menjalani hidup sekaligus mempertahankan keluarganya ? Yuk dibaca kisahnya lebih lanjut...

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset