My Wife is My Enemy episode 4

Pagi Pertama Pasangan Baru

“Bercerai…!?”

Bella membeo.

Matanya terbuka lebar. Wajahnya membeku saat ini. Kelihatan jelas sekali kalau dia tak kepikiran tentang hal ini. Yah, yang bisa dia lakukan cuma marah-marah tak jelas dan melampiaskan emosinya kepada orang lain.

Sesaat kemudian dia terlihat antusias.

“B-Benar juga, ya. Kenapa aku tak berpikiran ke sana? Haha…”

Cara tertawa yang buruk. Suaranya lebih mirip dengan penyihir tua saat sedang merencanakan sesuatu yang buruk pada orang lain.

“Kalau begitu, Sena! Ceraikan aku sekarang!”

“Tidak semudah itu, bodoh!”

“Heh…!!? Kenapa?”

Bella memiringkan kepalanya, bukti bahwa ia sama sekali tak mengerti situasi yang terjadi sekarang.

“Kalau kita bercerai, pasti orang tua kita akan berpikir kalau ini disengaja.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan?”

“Aku punya rencana untuk membuat keluarga kita bertengkar, dengan begitu orang tuaku dan ayahmu akan menentang hubungan kita. Bukankah itu saat yang tepat untuk bercerai?”

Ia menganggukan kepalanya sembari bertopang dagu.

“Kau benar, lalu kau sudah punya rencana untuk selanjutnya?”

“Belum.”

“Belum…!!? Kupikir kau sudah merencanakan semuanya!”

“Apa boleh buat, bodoh!!? Aku ini tidak terlalu cerdas. Kenapa tidak kau saja yang membuat rencananya sendiri?”

“Huh…”

Bella menghela napas panjang. Dia lalu menghempaskan tubuhnya ke atas sofa yang empuk. Beberapa saat kemudian, suara bel berbunyi menandakan ada seseorang yang tengah berdiri di depan pintu rumahku.

“Hei, cepat buka pintunya! Suara belnya membuat telingaku sakit.”

“Kenapa harus aku? Kau ‘kan istriku, seharusnya kau tak boleh menyuruh suamimu seperti itu.”

“Berisik!!! Memangnya aku sudi menjadi istrimu…!!!?”

Karena suara melengking dan nyaringnya lah yang membuatku refleks menutup telingaku. Bahkan punggung telapak tangan yang kugunakan sebagai perisai tak mampu menahan suara yang hampir merobek gendang telingaku.

Sial, punya istri macam dia rasanya seperti di neraka saja!

Aku pun segera melangkahkan kakiku menuju pintu dan membukanya. Seseorang pria berkemeja biru bergaris kuning berdiri di baliknya. Kelihatanya dia adalah pegawai kurir. Hal itu diperkuat dengan sebuah koper yang ia bawa bersamanya.

Tanpa basa-basi lagi setelah serah-terima, aku langsung membawa barang itu ke dalam. Melihatku membawa koper, mata Bella terbelalak. Lalu segera berlari ke arahku dan mendorong tubuhku sampai tersungkur ke atas lantai.

“Aduh, apa-apaan sih kau ini!?”

“Ini ‘kan koperku! Kenapa bisa ada padamu?”

“Itu diantar kemari bersama kurir tadi. Apa itu semua pakaianmu?”

Bella mengangguk pelan.

“Cepat bawa itu ke kamar! Kau boleh memakai lemariku. Setelah itu datanglah ke dapur.”

“Eh…!?”

“Kau belum sarapan, kan? Akan kubuatkan sesuatu.”

“Mm… baiklah…”

Entah kenapa dia terlihat seperti gadis biasa saat ini. Tanpa membuang waktu lagi, aku segera ke dapur.

Meskipun aku bilang begitu, aku belum pernah memasak sebelumnya. Saat ditinggal orang tuaku sendirian, aku selalu membeli makanan dari luar. Wajar kalau kulkas di rumahku tak menyimpan banyak bahan makanan.

Aku masih bingung kenapa aku jadi ingin memasak untuknya. Mungkinkah aku merasa harus menjaganya karena dia adalah istriku?

Tak masalah apa alasanya, yang penting sekarang adalah bagaimana caranya membuat sesuatu yang bisa dimakan. Aku mengeluarkan semua bahan makanan dari dalam kulkas. Selain bumbu dapur ada telur, daun singkong, dan daging ayam.

Selagi aku bingung memikirkan apa yang bisa kubuat, Bella muncul dari ruang tamu. Dia kini mengenakan sebuah kaos oblong putih dan celana pendek. Entah kenapa aku jadi terpesona padanya walau hanya sesaat.

“Kau masih belum mulai?”

Tanya Bella padaku yang masih menyiapkan bahan makanan.

“Begitulah. Aku baru ingat kalau aku tak pernah memasak sebelumnya.”

“Bodoh! Makanya jangan sok jadi orang. Sini biar kumasakan!”

Bella merebut sebilah pisau dari tanganku dan mulai memotong-motong bawang serta cabai merah di atas talenan.

“Kau bisa memasak?”

“Tidak terlalu. Jadi jangan berharap banyak padaku. Lebih baik kau tunggu saja di meja makan!”

Aku pun menunggu di meja makan sesuai perintahnya. Tanganya dengan cepat memotong semua bumbu dan menumbuknya sampai halus. Dia terlihat seperti seorang koki sungguhan walau sesekali melakukan kesalahan.

Meskipun aku tidak menyukainya. Entah kenapa aku sangat menantikan masakanya.

Setelah setengah jam menunggu, Bella pun selesai memasak dan langsung menghidangkanya di meja makan. Semangkuk opor ayam dan sayur singkong telah tersedia di atas meja. Kelihatanya ini sangat lezat.

“Silakan dicoba!”

Aku langsung memakanya segera setelah Bella menyiapkanya.

“Ugh…!”

Aku refleks mengernyitkan keningku saat kuah opor ayam menyentuh ujung lidahku. Ternyata rasanya tak selezat kelihatanya.

“Ini sangat asin…! Berapa banyak garam yang kau masukan? Satu kilo…!!?”

“B-Benarkah…!? Sepertinya aku terlalu berlebihan.”

“Ini hampir saja membunuhku!”

“Kalau tidak suka ya jangan makan! Biar kubuang saja.”

Tak membalas perkataanya, aku kembali memakan opor ayam yang baru saja kuhina. Bella pun memasang ekspresi terkejut.

“Kenapa kau malah memakanya? Bukanya kau bilang tidak enak?”

“Sangat tidak baik membuang-buang makanan. Lagipula, aku tak mau menyia-nyiakan makanan yang sudah dimasak istriku.”

Mendengar perkataanku, muka Bella langsung tersipu. Wajahnya merah sampai ke telinganya. Ia pun segera menyembunyikan wajahnya agar tak terlihat olehku.

“Bodoh! Kalau kau berkata seperti itu, aku akan…”


cerbung.net

My Wife is My Enemy

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Pernikahan sudah biasa terjadi pada pasangan yang saling mencintai. Tapi bagaimana kalau itu terjadi pada dua orang yang saling membenci?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset