Nasi Goreng Parkiyem episode 10

Membeli rumah

Parkiyem akhinya membayar pembelian rumah seharga 226 juta  dibayar tunai dan atas namanya, Narto amat senang karena dia sekarang sudah memiliki rumah sendiri dan rumah yang di rusun Banjardowo di pindah tangankan , Parkiyem mendapat ganti sebesar 10 juta untuk dibelikan sarana rumah tangga seperti kulkas dan lain-lainsetelah pindahan. Panji belum boleh keluar oleh Parkiyem dan pembelian rumah tersebut yang tahu hanya Narto karena yang membantu  ibunya kesana kemari pakai sepeda motor.

Parkiyem      : ” Nang kamu tak belikan motor bekas saja ya ..karena uangnya masih diperlukan untuk modal jualan di tempat yang baru tapi nanti setelah kita pindah rumah”. Narto senang sekali dan memeluk ibunya.

Narto            : ” Injih buk..Narto nurut saja…” Berbunga hati Narto setelah mengantarkan ibuknya bertransaksi dengan bank pemilik rumah tersebut.

Setelah tiga hari Parkiyem dan Narto menemui bapaknya sepulang sekolah sambil membelikan buah anggur kesukaan bapaknya.

Parkiyem    : ” Pak…bapak jangan sedih ya…. karena anak bu Koco akan menempati rumah ini dan kita kembali ke Banjardowo..”

Panji            : ” Tak apa bune…saat ini aku belum sehat benar..asal ada tempat ngiyup saja alhamdulillah…”

Narto           : ” Pak jangan sedih…ibuk sudah beli rumah baru hasil jualan nasi gorengnya….” sambil memeluk bapaknya, Panji yang kaget langsung bertanya pada Parkiyem.

Panji            : ” Bener bune….apa yang dikatakan Narto itu gurauan apa beneran…?!” Gilang dan Palupi yang mendengarnya spontan meloncat-loncat kegirangan sambil memeluk bapaknya.

Parkiyem    : ” Iya pak…ibuk sudah mendapat kuncinya….ini….”. Parkiyem menunjukkan kunci dan memeluk Panji bareng anak-anaknya.

Panji menangis karena bahagia tak mengira begitu surprise yang diberikan keluarga pada dirinya .

Panji ingin melihat rumah tersebut tapi menahan diri menunggu waktu yang tepat dari istrinya ,  karena memang amat sibuk sekali apalagi anak-anak pada sekolah semuanya dan waktu digunakan untuk meracik bumbu sekalian memanasi jeroan biar empuk, Panji yang memasak sayuran untuk anak-anaknya dan masakannya Panji benar-benar lezat pantas saja mereka semua pada suka masakan bapaknya.

Minggu pagi Sariyah bersama keluarga mendatangi rumah barunya agar di cek suaminya dan memperbaiki dalam rumah tersebut, Panji memerlukan peralatan tukang untuk perbaikan terutama untuk ruang jualan dahulu ditata seperti di warung bu Koco. Narto dan semuanya kerja bakti membersihkan lantai dan mengecat tempat jualannya, ternyata rumah tersebut berhadapan dengan pasar dan warungnya bernama NASI GORENG PARKIYEM kemudian warung yang lama ditulisi SEGERA PINDAH  depan pasar parang kusumo.

Pelanggannya pada bertanya : ” Kapan pindahnya..?” dan dijawab Parkiyem : ” Seminggu lagi”.

Parkiyem membetulkan dan memperbaiki rumah Bu Sukoco lalu  melaporkan kepada pak RT Wahyu kalau bu Sukoco akan pulang bersama putrinya dan akan tinggal disini lagi.

Pak Wahyu  : ” Owh jadi mbak Lastri akan pindah disini…?”

Parkiyem     : ” Ya , katanya putrinya yang diSemarang yang akan menikah ..”

Pak Wahyu  : ” Terus mbak Parki akan pindah kapan…?”

Parkiyem     : ” Saya disuruh menunggu Bu Sukoco baru pindah pak RT Wahyu…saat ini sedang bersih-bersih”

Pak Wahyu : ” Owh ya..ya…jadi untuk bulan depan mbak Parki sudah tak disini lagi dong…wah jadi agak jauh beli nasi gorengnya nih…”

Parkiyem    : ” He..he…gak begitu jauh kok pak…kalau saya malah senang karena dekat pelanggan pasar…”.

Pak Wahyu : ” Kira-kira berapa lama ya mbak tinggal di sini…?”

Parkiyem    : ” Hampir tiga tahun pak…?!”

Pak RT Wahyu menerima laporannya Parkiyem kalau akan pindah di dekat pasar Parang Kusumo dan Parkiyem meminta maaf apabila ada kesalahan selama tinggal di wilayah ini, Pak RT Wahyu menyatakan kalau mbak Parki baik selama tinggal di sini dan Parkiyempun pamit untuk melanjutkan jualannya. Pak RT Wahyu menanyakan Panji apakah sudah baikan..kesehatannya ? dan Parkiyem tersenyum karena suaminya sudah mulai membaik.

Panji dan istri serta anaknya ngangslupi rumah barunya dan memindahkan alat-alat dapurnya di warung yang lumayan luas seusai jualan . Lampu-lampu sudah dipasang dan tampak terang .  sekarang. Parkiyem hanya membawa televisi dan kompor gas kecil serta baju-baju yang dibawanya dengan tempat dos-dos karena belum ada lemari.

Parkiyem dan Panji membelikan lemari plastik yang besar satu dan untuk anak-anaknya menggunakan box yang bersusun 4 sebanyak 3 buah untuk Narto, Palupi dan Gilang.

Panji            : ” Maaf ya Bune…bapak belum bisa bantu untuk mengisi rumah ini….?!”

Parkiyem   : ” Seadanya dulu pak….seperti ini saja sudah bersukur, dan lihat tu anak-anak berebut kamar dan Narto yang mengatur adik-adiknya.

Narto         : ” Sabar gitu looo….kamar segede ini akan kamu apakan….? Biarlah seperti di bu Koco…Ibu, Bapak dan Palupi satu  kamar…Gilang sama kak Narto di kamar depan ”

Palupi        : ” La..kamar dua itu buat siapa…..?”

Narto         : ” Ya teserah bapak dan ibu nanti mau pilih yang mana….? kalau kamu mau tidur sendiri yo gak apa-apa …ya gak buk….?” Parkiyem hanya tersenyum sambil  menata pakaian anak-anaknya di karpet.

Parkiyem   : ” Nah…Narto kamu masukkan semua pakaianmu di box mana yang kamu pilih dan letakkan di kamarmu bersama Gilang…”

Narto memilih box pakaian dan diikuti Palupi serta Gilang, sambil bergurau mereka menata pakaian masing-masing.

Parkiyem   : ” Bagian atas untuk pakaian seragam sekolah, yang kedua untuk pakaian pergi-pergi, yang ke eiga untuk pakaian rumah dan yang paling akhir untuk pakaian dalam, nah selesaikan ibuk dan bapak membersihkan rumah bu Koco dulu karena nanti sore mereka sudah sampai rumah ”

Narto dan adik-adiknya menyelesaikan pekerjaannya dengan riang gembira sambil membersihkan kaca jendela dan merapikan kasur serta  bantal gulingnya.

Di rumah baru ini kamar tidurnya ada 3 gede-gede lagi untuk seukuran anak-anaknya Parkiyem,  dan dapurnya cukup luas. Gilang mencari minuman tapi belum ketemu karena merasa haus.

Gilang        : ” Kak…, Gilang haus…tekonya dimana…?”

Palupi        : ” Itu ada…masih di tempat jualan ibuk lupa menaruh didapur….Gilang lapar gak….?”

Gilang        : ” Iya…tapi makanannya gat ada…..”

Palupi        : Iya …ibu sudah membelikan roti dan jajanan yang masih tergeletak di warung ayuk kita makan…”.

Panji pulang membawa sepeda motor Beat , Narto keheranan.

Narto          : ” Motor siapa pak….?”

Panji            : ” Motor kita…karena motor pak Koco sudah di kembalikan…..”

Palupi          : ” Ibuk dimana pak….?”

Panji            : ” Masih membantu bu Koco…dan nanti bapak jemput “. Gilang mengelus motor yang baru di beli bapak dan ibunya, Panji tahu kalau Gilang ingin menaikinya maka Gilang diajak muter-muter sebentar. Gilang senang sekali dan memeluk bapaknya erat-erat.

Bu Koco senang karena rumahnya bersih, lau Parkiyem memberikan surat-surat yang dulu dititipkan padanya.

Bu Sukoco   : ” Trima kasih Par…ini kompor kamu bawa saja sama rice cookernya karena Lastri sudah membawa yang baru., jumbo-jumbo juga kau bawa buat perlengkapan jualanmu…juga kursi yang ada di luar kamu bawa sekalian ya…?!”

Parkiyem     : ” Inggih bu…matur suwun…” Parkiyem amat gembira karena tidak usah membeli yang baru keperluan warungnya dan hapenya juga diberikannya, Panji yang sedang lewat disuruhnya berhenti dan meminta Narto membantunya membawa ember untuk meletakkan perlengkapan warung makannya seperti piring dan gelas  karena Lastri akan membuka butik dan merenovasi warung menjadi toko pakaian. Panji bukan main senangnya dan membawa Gilang pulang.

Palupi sudah ngecem teh dan menuangkan nasi ke dalam bakul dan menata telur dan membuat acar juga memanasi jeroan, perasan jeruknya masih berada di kan karena belum memiliki jumbo dan ketika Narto pulang membawakan jumbo, Palupi segera membantunya  dan menyiapkan teh dan jeruk hangatnya. Sambil me lap piring dan mempersiapkan tissue Palupi yang mau ujian SMP tahun ini melayani pembeli orang-orang pasar yang mau pulang, masakannya lumayan bisa dirasa.

Fadilah     : ” Kamu kok pinder to nduk sudah bisa membuatkan nasi goreng babat sendiri, ibu tolong dibungkuskan dua untuk yang di rumah”.

Palupi       : ” Inggih buk di kasih telur dadar ‘gak bu…?”

Fadilah     : ” Iya komplit nduk…krupuk udang metenya juga 2 nduk…”

Parkiyem pamit pulang karena pesanannya sudah menggunung sampai rumah dia merasa heran karena sudah menuk pelanggan dan dilihatnya Palupi sedang mengolahnya, Hati Parkiyem merasa tenang karena keharuman masakan Palupi sudah tercium sampai mulut gang. Mulanya Parkiyem tak percaya begitu Palupi yang memasaknya alangkah senang hatinya karena Palupi bisa mewarisi masakan nasi goreng Ibunya. Parkiyem langsung mandi untuk menggantikan Palupi , Panji mencuci piring yang sudah bertumpuk dan meniriskannya.


cerbung.net

Nasi Goreng Parkiyem

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2018 Native Language: Indonesia
Parkiyem menangis sudah tiga bulan suaminya tidak kembali ke rumah, boro-boro uang dikirim, anak-anak untuk makan saja sulit, sementara pinjam tetangga sudah gak dipercaya, menjadi buruhpun gajian mingguan, Parkiyem ke pasar untuk mencari kerjaan yang tiap hari bisa didapat untuk makan. Mulanya dia ragu kerja sebagai apa...? tapi apapun ia lakukan, angkat junjung barang, antar belanjaan, buruh cuci gosok ia lakukan apa saja asal dapat duwit. Dari mata melek pagi otaknya terus jalan, melihat anak-anak sekolah dari yang besar Narto kelas4, Palupi kelas 3, dan Gilang kelas 1 cuciannya sudah lumayan menggunung. sarapan mereka beli karena sudah tidak ada beras, mereka beli bubur sayur Rp 1.500,- kali 4 orang dan 1000 untuk kerupuk, untuk sarapan saja sehari 10.000, makan siang beli nasi 5000 sayur bayam 5000, Parkiyem tidak membeli minyak goreng paling kerupuk untuk gorengannya dan sambel tempe vitamin C nya, ada rezeki ya malam bisa makan seadanya. pokoknya sekali makan 10.000 tiga kali makan 30.000,  sangu sekolah masing-masing 2.000  dan ia harus menyisihkan tiap hari 5.000 untuk listrik dan air, makanya ia harus memasak sendiri dan agar lebih ngirit lagi.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset