Nasi Goreng Parkiyem episode 12

Kematian pak Koco

Narto lulus di STM Pembangunan dan selama pandemi seluruh aktivitas buyar sebelum divaksin Narto sekolahnya secara virtual sambil membantu ibunya bekerja dan Palupipun membantu jualan sambil belajar. Gilang sejak masuk SMP dirumah terus aktivitasnya tiga anak Parkiyem ngasur sambil mainan youtube, Narto yang yang sudah selesai ujian berkeinginan mondok atau istirahat dirumah membantu bapaknya bekerja karena Panji amat butuh tenaga handal untuk membantu kiriman daging ke supermarket atau online dan Narto sudah bisa mengoperasionalkan daging secara online, dan pengirimannya lewat ojek ataupun go car lumayan pendapatannya karena ekomomi amat lesu dan amat mengandalkan jasa ojek online tapi pemesanan tak seperti tahun lalu.Parkiyem juga merasakan lumayan sepi pembelinya dan harus jaga jarak keamanannya makan di warungnya.

Parkiyem   : ” Mas Kribo sudah di vaksin belum …?! ”

Kribo          : ” Sudah ni buktinya, kalau belum bagaimana …!?”

Parkiyem   : ” Yo tak suruh bungkus….lalu pergi….!?”

Kribo           : ” Kejamnya….masak tega makan di luar…”

Parkiyem    : ” Yo harus tega kalau nular apa ya mikir tega…?!”

Kribo           : ” La kalau sakit gak boleh vaksin terus piye…? ”

Parkiyem    : ” Yo biar sembuh dulu….baru vaksin..!”

Kribo sambil memesan berkelakar masalah vaksin karena temannya ada yang takut vaksin dan selalu menunda-nunda kalau mau di vaksin tapi sehat badannya kuat,

Pak Wahyu RT : ” Kerjanya apa mas….masak ‘gak butuh pergaulan…” pak RT yang berada dipojok kursinya ikut bertanya dan gabung bicara.

Kribo         : ” Kerjanya dirumah pak RT , tapi pakai masker terus  dan hand sanitizer juga terpasang di pintu masuk..”

Pak Wahyu RT : ” Itu pasti kena dia…. virus kok dilawan…tapi kalau sudah banyak yang divaksin lama-lama viruse melemah atau membentuk varian baru dan tinggal serangannya ganas atau tidak lama-lama temanmu pasti vaksin karena amat dibutuhkan kartu atau keterangan vaksin yang dikirimkan di hape sampeyan sebagai bukti vaksin seperti mas Kribo tunjukkan di hape dalam berkomunikasi apapun ”

Parkiyem : ” Wah..jelas banget itu keterangannya Pak RT “.

Kribo              : ” Jadi gimana ini mbak Parki , kalau jalan-jalan berarti kan sehat…suhu badan 36 derajat apa juga ditanyain sudah vaksin belum ?”

Parkiyem       : ” Ya teteplah kan tanya bebas…demi keamanan…dan jawabnyapun juga bebas…hanya untuk jaga-jaga saja, omong-omong pak Sukoco apa bener kena covid..terus menyusul bu Koco critanya bagaimana pak RT..? ”

Pak Wahyu RT  : ” Oh gini buk awal sakit itu mas Woro suami mbak Lastri yang mengunci diri agar tak tertular pada mbak Lastri istrinya maupun mertuanya , waktu makan malam pak Sastro duduk di kursi yang bekas dipakai mas Woro dan bu Koco tahu setelah keluar dari kamar mandi , bu Koco mengganti semua baju dan menggantikannya serta dioles hand zanitizer yang dibantu mbak Lastri karena sudah tua rentan penyakit badan pak Koco langsung panas dan nafasnya terengah-engah mbak Lastri langsung membawanya pakai mobil mas Woro ke Kariadi tapi karena suhu badannya tinggi pak Koco lemas tak berdaya dan dokter sudah memeriksanya dan sudah mendapat ruangan khusus covid , tapi pak Koco sudah tak tak tertolong. Saat itu juga jenazah diurus rumah sakit dan bu Koco langsung isoma karena tertekan bu Koco ‘geblak dan nafasnya sesak untung Lastri sudah antisipasi dengan memberikan minyak angin dan langsung dibawa ke rumah sakit saat itu rumah sakit sudah penuh dan bu Koco dapat tempat diluar dan sudah mendapat ventilator tapi tetap saja tak tertolong jadi selang sehari bu Koco meninggal”.

Parkiyem    : ” Kasihan ya pak tak ada keluarga yang menemani pemakamannya semua yang urus rumah sakit, tetanggapun tahu cuma bisik-bisik kesannya rahasia ”

Pak Wahyu RT  : “Iya buk saya tahu dari istri yang mendapat surat dari rumah sakit kalau bu Koco sudah dimakamkan”.

Parkiyem   : ” Tragis sekali kalau Tuhan mau memintanya sak- deg -sak -nyet semoga Allah mengampuni segala dosanya ..”

Pak Wahyu RT  : ” Aamiin.. saat itu saya mendengar kematian berulang kali sampai miris dengar kematian pagi….siang…sore… malam…lewat pengumuman masjid-masjid ”

Parkiyem  : ” Tapi sekarang kan sudah vaksin ke dua malahan ….semoga tak terjadi kayak kemarin …warung makan sampai tutup seminggu tiga kali  kegiatan di rumah saja sampai badannya seperti bola . hanya mas Panji yang keluar, Narto masuk STM sampai pertengahan smester langsung libur karena pandemi dan berlanjut virtual setelah ujian dan lulus  baru ini ada vaksin Gilang juga begitu SMPnya berlangsung secara virtual termasuk Palupi yang sudah klas 2 SMA sekarang sudah divaksin kedua semua sertifikat ada di hape masing-masing.

Pak Wahyu RT  : ” Sippp…. alhamdulillah…ternyata pindah langsung covid ya bu mulane gak tahu pak Koco dan ibu meninggalnya karena covid”

Parkiyem  : ” Mbak Lastri sudah punya anak apa belum ya pak ”

Pak Wahyu RT :” Gak tahu mbak…suaminya apa gak pernah mampir ke sini…?”

Parkiyem  : ” Sejak adanya ojol seringnya online pernah kesini tapi minta dibungkuskan ya mungkin sebelum vaksin terakhir ke sini dan sejak vaksin belum pernah mampir”.

Palupi        : ” Sudah kok buk…hari Minggu pagi dia kesini …” Palupi tak terima mbak Lastri diperbincangkan ibuknya dan pak RTWahyu tertawa lebar karena yang melayani Palupi dan Narto waktu itu.

Panji pulang langsung mandi dan mencari Narto yang berencana mau bekerja.

Panji          : ” Piye Le …jadi ikut bapak kerja..? ”

Narto         : ” Gak diperbolehkan ibu kok pak…!?”

Panji          : ” Ya…di fikir lagi biar mantab….” sambil  tidur disamping Narto

Narto         : ” Bapak mau kemana kok baunya harum…”

Panji          : ” Mau tidur sama kamu …biar baunya enak…”.

Parkiyem sudah mau tutup karena sudah pada pulang pelanggannya , tapi masuk pesan orderan online sebanyak sepuluh bungkus dan dikerjakan Palupi sedangkan ibuknya sudah ngantuk dan siap tidur tapi lupa menutup hapenya sehingga pesanan online bermunculan dan diterima Palupi karena tak bisa tidur.

Palupi        : ” Mas Giyo (nama ojek online) ini kok nambah jadi 15 yang benar yang mana..? ”

Giyo            : ” Ya benar semuanya yang barusan tambahan dan di kasih tas sendiri-sendiri atau minta tasnya empat biar saya yang menata”

Palupi         : ” Baik , jadi ini 15 saya pesankan …tolong diWA kembali pesanan 15 nya mas….?!”

Giyo            : ” Okey mbak…tutup kapan mbak kok masih online”

Palupi         : ”  Ini pesanan terakhir malam ini dan segera saya ganti tutup aplikasinya …tadi ibuk lupa menutupnya…padahal jam 12 malam kan tutup ini kok mas Giyo bisa pesan…?”

Giyo             : ” Saya ada caranya kok mbak …biasanya mbak Palupi tidurnya malam maka waktu saya dihubungi pelanggan saya trima mbak ”

Palupi          : ” Waduuuuh… besok  lagi jangan ya mas Giyo…..saya kira ibuk yang mau lemburrr….”

Giyo              : ” Kalau tak membalas ya saya anggap masih buka…kalau tak dibalas berarti sudah tidur…kan lumayan pendapatan saya mbak..maaf ya..kalau merepotkan “.

Palupi jadi mengerti permainan ojol dan segala aplikasinya karena Palupi meminta di ajarin bagaimana cara merubah menutup dan membuka nasi gorengnya dan mengucapkan terima kasih pada mas Giyo dan memberinya nasi goreng secara gratis

Giyo.       : ” Waah lumayan dapat gratis… suwun mbak ”

Palupi     : ” sama-sama mas Giyo, besok lagi aku di ajari pengaturan lainnya ”

Giyo sambil memberikan jempolnya dia jawab : ” Beres… makan dulu mbak”  Giyo beruntung sekali dapat makan malam yang biasanya cukup nasi kucingan kini dapat istimewa nasi goreng plus es teh. Selesai membayar Giyo langsung menstater motornya

Palupi      : ” Mas ini sudah tak ada pesanan lo…aku mau tidur….”

Giyo          : ” Okey Palupi, met tidur ….aku juga mau tidur..good night ”

Palupi       : ” ‘Gayane pakai bahasa Inggris barang…yo good night…” Palupi geli pada mas Giyo yang ngasih tangan selamat tinggal dan sun jauhnya mau tak mau Palupi membalasnya pula. Palupi persiapan tidur sambil membuka-buka hape karena tadi diberi game baru dan Palupi mau mencobanya lalu tersenyum-senyum sendiri karena Mas Giyo kerim pesan ; ” Hayo belum tidur” Palupi bingung dalam hatinya bilang;” Kok tahu sih”. Lagi-lagi kirim WA dan dibiarkan Palupi tak mau membalas karena sudah malam akhirnya Palupi tertidur.


Nasi Goreng Parkiyem

Nasi Goreng Parkiyem

Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2018 Native Language: Indonesia
Parkiyem menangis sudah tiga bulan suaminya tidak kembali ke rumah, boro-boro uang dikirim, anak-anak untuk makan saja sulit, sementara pinjam tetangga sudah gak dipercaya, menjadi buruhpun gajian mingguan, Parkiyem ke pasar untuk mencari kerjaan yang tiap hari bisa didapat untuk makan. Mulanya dia ragu kerja sebagai apa...? tapi apapun ia lakukan, angkat junjung barang, antar belanjaan, buruh cuci gosok ia lakukan apa saja asal dapat duwit. Dari mata melek pagi otaknya terus jalan, melihat anak-anak sekolah dari yang besar Narto kelas4, Palupi kelas 3, dan Gilang kelas 1 cuciannya sudah lumayan menggunung. sarapan mereka beli karena sudah tidak ada beras, mereka beli bubur sayur Rp 1.500,- kali 4 orang dan 1000 untuk kerupuk, untuk sarapan saja sehari 10.000, makan siang beli nasi 5000 sayur bayam 5000, Parkiyem tidak membeli minyak goreng paling kerupuk untuk gorengannya dan sambel tempe vitamin C nya, ada rezeki ya malam bisa makan seadanya. pokoknya sekali makan 10.000 tiga kali makan 30.000,  sangu sekolah masing-masing 2.000  dan ia harus menyisihkan tiap hari 5.000 untuk listrik dan air, makanya ia harus memasak sendiri dan agar lebih ngirit lagi.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset