Nasi Goreng Parkiyem episode 14

Menikmati Keindahan Pulau Bali

Narto akhirmya kuliah di STEKOM  Semarang dengan penghasilannya sendiri bekerja di swasta membantu bapaknya mendistribusikan daging sapi, Palupi lebih memilih kuliah di keperawatan sambil membantu ibuknya mengolah nasi goreng yang sudah ditekuninya bertahun-tahun. Panji heran kenapa anaknya tak ada yang mewarisi usaha nasi goreng padahal hasilnya tak kalah menguntungkannya dengan pegawai negeri ?!.

Panji   : Kalian ini kenapa…mempelajari bidang yang belum tentu menguntungkan, kan nasi goreng juga merupakan sumber pendapatan yang prospek di masa sulit bahkan run temurun ?!”

Narto  : ” Jaman semakin maju banyak harapan berada di depan mata, dan memungkinkan kita  memilih inovasi dalam bekerja , tapi kita tetap menjaga apa yang sudah kita miliki saat ini sebagai pendapatan yang tetap…dan tetap eksis sepanjang waktu”

Panji   : ” Baiklah..kalau keinginanmu seperti itu , bapak hanya berharap kalian lebih percaya diri bahwa Nasi Goreng adalah makanan sepanjang jaman dan janganlah kalian meninggalkannya”

Palupi  : ” ‘Gak bakalan tak tinggalkan kekayaan alamiah yang turun temurun harus aku jaga dan kukembangkan, sebagai pendapatan yang tak mungkin terbuang pak..Palupi tetep berjualan ”

Panji akhirnya menyadari bahwa mereka tetap mementingkan usaha yang sudah dirintis bertahun-tahun sebagai sumber pendapatan inti . Mereka hanya menginginkan status pendidikan formal saja yang menguntungkan buat kedepannya.

Parkiyem tersenyum bangga pada anak-anaknya yang ternyata menikmati keadaan ini dan tidak menyepelekan usaha orang tuanya karena Parkiyem merasa kelelahan mengurusi usaha yang sudah bertahun-tahun.

Parkiyem  : ” Gilang….kamu sekarang sudah SMP dulu kak Narto seusiamu membantu ibu…mengantar ibu dan menggantikan bapak yang saat itu melaut…, bantu ibuk ya….karena kakak-kakakmu akan kuliah, dan apabila ada kesulitan kakakmu pasti akan membantumu….”

Gilang       : ” Iya buuk…tapi ibu sama bapak ada apa kok ngomongnya begitu….Gilang jadi takut….”

Parkiyem : ” Ibu hanya sedikit capek….ingin istirahat saja…..”

Panji          : ” Iya…ibuk capek sekali…ingin cuti barang dua minggu…..ingin bersantai…waktu covid kemarin ibu kerja keras, sementara bapak menekuni usaha daging sapi ……maafkan bapak ya bu..bapak merepotkan ibuk….?! ”

Malam ini Parkiyem kelihatan capek sekali dan menyandarkan tubuhnya dikursi panjang di ruang makan, ruang tamunya sudah berganti ruang ojol , Parkiyem memang menginginkan rapat keluarga setelah Narto dan Palupi memutuskan kuliah agar usahanya tetap berjalan dan mereka tetap menjalankan usaha keluarga yang merupakan tumpuhan hidup selamanya. Dengan tetap menjalankan usaha nasi goreng mereka tetap menjalankan usaha keluarga.

Narto     : ” Ibuuuuk …bagaimana kalau kita piknik sekeluarga…agar santai…refreshing gitu lo….?!’

Palupi    : ” Iya kak…pak..buk kita butuh penyegaran agar tak mudah capek fikiran kita penat lo pak/buk…”

Panji      : ” Iya boleh….bapak akan mengajukan cuti dua minggu karena baru kali ini ingin santai..bapak akan minta solusi sama mbak Susi sebagai ketua organisasi penyembelihan hewan ternak berkaki empat “. Parkiyem merasa senang karena keluarga mendukungnya, Narto  dan Palupi yang akan mengurus biro perjalanannya. Palupi dan Narto meunggu keputusan mbak Susi baru mengurus biro wisatanya.

Mbak Susi akhirnya menyetujui asal ada yang membantu menjalankan marketingnya dan saat itulah mas Mangun menyuruh adiknya memegang sementara sambil diawasi kakaknya. Narto dan Palupi menghubungi biro trevel referansi dari mas Giyo selama lima hari ke Bali. Ternyata Biro trevel itu milik paman mas Giyo yang bernama paman Samsudin, biro trevelnya bernama Putri Rengganis. Liburan tahun ini membuat fikiran yang tegang jadi longgar karena melepas segala beban, lebih-lebih Gilang yang bernyanyi sepanjang jalan karena merasa penat setelah mengurusi sekolah SMPN 2 nya beres.

Gilang   : ” Buk …Pak…kita adakan tiap tahun biar kita sehat …”

Parkiyem  : ” Ya..kita lihat situasi dan kondisi kita besok…”

Panji      : ” Ya betul.. kegiatan sekolahmu kan banyak…kita lihat juga aktivitasnya…asal jangan terganggu kegiatan belajarmu…”

Palupi    : ” Iya  Gilang …,  aktivitas kakak juga belum tahu nih …kan masih baru…”

Gilang    : ” Semoga saja kerjaan Ibuk, Bapak serta kak Narto diberikan kelancaran, sehingga  Gilang bisa tamasya setiap tahunnya….”

Bapak, Ibu , Narto seta Palupi mengucap Aamiin serentak membuat Gilang merasa tersanjung dan bangga. Paman Samsudin mengajak mas Giyo ke Bali sebagai teman nyetir kalau pas paman Samsudin capek dan diperbolehkan keluarga Panji karena masih uji coba lokasi-lokasi Bali. Palupi merasa senang karena biayanya tak mahal hanya dianggap sewa mobil saja. Kini saatnya menyeberang di Ketapang Banyuwangi menuju Gilimanuk .Swab -Antigen harus negatif baru boleh melanjutkan perjalanan ke Bali serta tiket sesuai nama penumpang untuk masuk kapal . Kurang lebih empat puluh lima menit keluar dari Gilimanuk, petugas memeriksa SIM serta STNK serta bukti vaksin untuk validasi semua penumpang harus ditunjukkan sewaktu ada pemeriksaan.

Parkiyem   : ” Ternyata surat bukti vaksin di periksa terus ya..? ”

Mas Giyo   : ” Iya buk…biar ribet asal selamat dan sehat tak terinveksi Covid-19 dan harus menggunakan masker ”

Parkyem    : ” Mas Giyo sering ke Bali…? kok bisa hafal …”

Mas Giyo   : ” Ini yang kedua buk…jadi ada sedikit pengalaman selama covid , kita akan ke Ubud dulu untuk menuju ke hutan kera atau monkey forest dimana banyak kera berekor panjang berlalu lalang tapi mobil terus melaju untuk mendapatkan ticket masuk monkey forest.

Palupi melihat turis manca negara sedang berinteraksi dengan kera serta meggendongnya dan meletakkannya kembali monyet-monyet menarik tas yang berisi makanan dan kera diberinya kacang, Palupi merasa takut dan ngumpet dipelukan ibuknya.

Mas Giyo    : ” Jangan kau pandang matanya kau akan dikejar terus..terus saja jalan…cuwek gitu saja ” Rupanya Palupi takut melihat monyet yang nakal dan suka mengganggu mas Giyo mengajak melihat penginapan di Ubud Tropical dengan 5 tempat tidur kamar nomor 501 sampai 510 pas satu mobil karena ada yang single bad dan ada yang double bad dan tempat pakaian memiliki loker sendiri- sendiri.

Gilang         : ” Kayak di rumah..kamarnya campur-campur..”

Palupi         : ” Kita semalem kan disini…besok kita akan ke Kuta kan mas Giyo…? ”

Mas Giyo    : ” Ya.., besok kita ke Kuta jadi malam ini nikmati saja kenikmatan yang ada… besok kita akan nginap di Glamping Kuta…tempatnya wow….rekomended banget.. ”

Malam ini Gilang tidur bersama Narto Ibu dengan Palupi . Mas Giyo sama paman Samsudin, bapak sendirian sambil telponan sama mas Mangun membicarakan masalah pekerjaan yang minta dioleh-olehin salak bali .

” Wah..adikku tak sama dengan kecakapan Narto anakmu…dia agak bingung dan pelupa…” kata mas Mangun mengomentari adiknya yang bernama Ratno.

” Yang sabar….dia kan baru saja latihan kerja….biarkan saja dulu…lama-lama kan mengerti….” saran Panji

” Capek….Nji…kapan pulangmu…? pendapatanku menurun drastis nih….” , keluh Mangun.

” Baru tiga hari kamu sudah ngeluh.. yang sabar gitu lo…” nasihat Panji.

Mangun amat susah membangun usahanya tanpa Panji yang ulet sera bersabar, maka ia amat menanti-nanti kepulanganya yang membuat Panji tak jenak maka hape Ia matikan dan ingin konsentrasi dengan keluarganya. Semua menikmati hidangan malam berupa ayam betutu

Gilang     : ” Enak ya ayam nya…Gilang ingin nambah boleh buuukkk…”

Parkiyem  : ” Tambahlah.., kalau masih mau tambah…enak kok ayam betutunya ”

Palupi       : ” Iya enak, tapi sudah malam…gak baik makan malam-malam mengurangi kesehatan…” Mas Giyo tersenyum dengan jawaban Palupi.

Mas Giyo  : ” Waaaah ..yang akan menjadi perawat ternyata sudah mulai belajar mengatur makanan..”

Palupi        : ” Memang begitu seharusnya…”

Panji          : ” Tak setiap hari kita makan malam-malam , mumpung disini kita makan bersama ” ,  sambil mecuil paha ayam dan membagikan kepada yang mau nambah…Palupi ikut nambah juga. Parkiyem juga ikut nambah dan segelas teh hangat menutup pesta makan malamnya. Mereka segera balik ke kamar untuk istirahat dan esok hari persiapan menuju pantai Kuta. Mas Giyo sudah memesankan kamar di Kuta agar semua bisa menikmati keindahan pantai Kuta


Nasi Goreng Parkiyem

Nasi Goreng Parkiyem

Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2018 Native Language: Indonesia
Parkiyem menangis sudah tiga bulan suaminya tidak kembali ke rumah, boro-boro uang dikirim, anak-anak untuk makan saja sulit, sementara pinjam tetangga sudah gak dipercaya, menjadi buruhpun gajian mingguan, Parkiyem ke pasar untuk mencari kerjaan yang tiap hari bisa didapat untuk makan. Mulanya dia ragu kerja sebagai apa...? tapi apapun ia lakukan, angkat junjung barang, antar belanjaan, buruh cuci gosok ia lakukan apa saja asal dapat duwit. Dari mata melek pagi otaknya terus jalan, melihat anak-anak sekolah dari yang besar Narto kelas4, Palupi kelas 3, dan Gilang kelas 1 cuciannya sudah lumayan menggunung. sarapan mereka beli karena sudah tidak ada beras, mereka beli bubur sayur Rp 1.500,- kali 4 orang dan 1000 untuk kerupuk, untuk sarapan saja sehari 10.000, makan siang beli nasi 5000 sayur bayam 5000, Parkiyem tidak membeli minyak goreng paling kerupuk untuk gorengannya dan sambel tempe vitamin C nya, ada rezeki ya malam bisa makan seadanya. pokoknya sekali makan 10.000 tiga kali makan 30.000,  sangu sekolah masing-masing 2.000  dan ia harus menyisihkan tiap hari 5.000 untuk listrik dan air, makanya ia harus memasak sendiri dan agar lebih ngirit lagi.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset