Nasi Goreng Parkiyem episode 2

Kapan Pulang Mas ?

Parkiyem merasa bungah nasi gorengnya banyak yang suka dan laris manis jualannya . Pak Sukoco merasa beruntung sekali meskipun sebenarnya pak Sukoco sudah jualan matengan tapi bu Sukoco sering sakit karena kecapekan , untung ada Parkiyem yang membantunya. Warung makan yang sudah berubah menjadi nasi goreng babat  menjadi menu sarapan warga Tlogosari . Di siang haripun nasi goreng cocok sebagai hidangan.

” Bu Koco nasinya hampir habis yang di magicom sudah mateng belum..?” tanya Parkiyem

” Iyo nanti aku tuang ke bakulnya”, teriak bu Koco sambil menggoreng telur dadar. Pak Sukoco yang memperhatikan bu Koco kawatir kalau sakit, tapi ternyata Bu Sukoco malah tambah semangat dan akhirnya pak Koco membantu mengangkat dan membantu menanak nasi lagi. Parkiyem tangannya terus mengolah nasi goreng yang baunya menyebar ke mana-mana . Salah seorang pelanggannya menyarankan agar menempelkan nomor telepon untuk menghubungi pemesanan nasi goreng.

Sudah jam 16.00 Bu Sukoco minta tutup karena amat  capek membuat telur dadar sampai bosen. Babat masih amat sedikit dan sayang kalau tak diolah , Parkiyem meminta pada bu Koco untuk mengolahnya untuk anaknya dan bu Koco mengijinkan malah memberikan telur untuk di dadarnya. Parkiyem membuat nasi goreng cukup banyak untuk keluarganya dan dimasukkan dalam tas kresek yang cukup besar. Parkiyem membersihkan warung nasi goreng dan menyimpan peralatannya dalam warung lalu pulang. Kunci warung diserahkan pak Sukoco.

” Ibuk sudah pulang mbak Palupi ” Palupi langsung bangun dari tidur dan keluar mengikuti Gilang adiknya. Narto yang baru mandi segera menyelesaikan mandinya dan membersihkan kamar mandinya. ternyata ibu masih cukup jauh, maka Palupi segera menyapu lantai dan mencuci piring. Parkiyem mengunci sepedanya dan masuk rumah, anak-anaknya sudah menunggu Parkiyem. Mereka mencium bau makanan nasi goreng.

“Ibu memasak nasi goreng ya……hhmmm baunya lezat sekali..” Narto begitu hafal makanan kegemaran bapaknya yang bernama Panji. Gilang memandang kakaknya Narto yang menangis karena kangen. Parkiyem memeluk Narto yang sesenggukan, Palupipun ikut bersedih.

” Sudahlah..kalian doakan saja bapak kalian agar lekas pulang kumpul dengan kita lagi”, Parkiyem memeluk anak-anaknya dan membuka kresek yang harum baunya.

” Nasi goreng ini memang kesukaan bapak kalian tapi akan kita makan untuk malam nanti..”

” Narto minta sedikit saja buk…”

“Palupi juga buk…”

” Gilang juga mau buk…pingin lihat bapak lagi…” Mereka dikasih sedikit-sedikit oleh Parkiyem sebagai pelepas kangen juga pembuluh rindu. Parkiyem menyuruh Palupi menaruh dalam wadah karena Parkiyem mau mandi. Parkiyem  membuka gledek tempat menyimpan makanan dilihatnya makanan pagi tadi sudah bersih tinggal bakul kosong yang belum di cuci.

“Buuuk… nasinya sudah habis tadi sepulang sekolah kita kelaparan dan tumis kangkung juga kerupuk  kita makan ramai-ramai”, Palupi mengatakan dengan takut.

” Ya di makan saja gak apa-apa…toh bapak belum pulang dan nanti di isi nasi goreng…”, Parkiyem yang selalu memberikan jatah buat suaminya dan jatah tersebut akan dimakannya apabila lapar.

Ternyata anak-anaknya semakin tambah besar dan jatah makanannyapun tambah banyak. Ketika anak-anaknya pulang mengaji  Parkiyem menyiapkan makan malam dan memanasi nasi gorengnya, anak-anaknya sudah mengantri di ruang tamu sekaligus ruang makan dan tempat tidur di sebelahnya.  Ketika pak Gareng lewat Parkiyem memanggilnya…

” Pak Gareng ini ada nasi goreng untuk pak Gareng”, mendengar teriakan Parkiyem pak Gareng menyaut ,

” Wah beruntung sekali aku dapat nasi goreng yang keharumannya lama hilang dan muncul lagi…ternyata kamu to yang bikin nasi goreng itu…”. Pak Gareng adalah penjaga keamanan rumah susun Banjardowo dia sudah tua tak memiliki anak dan istri, hidup membujang saudaranya kalau lebaran menjenguknya. Makanan tiap harinya dari penghuni Banjardowo yang rela karena pak Gareng yang mengawasi keadaan di luar kamar rusun.

” Parki…mbok kamu jualan nasi goreng disini biar aku bisa menikmati kelezatannya”, Pak Gareng menyarankan usulan.

” Walah…marahi loro ati pak….paling yo pada ngutang…terus do rak membayar…aku yo marahi kesel pak, kerjo rak dibayar…”. Memang begitulah orang kecil yang hanya bisa saling memandang keadaannya tanpa tahu apa yang membuatnya berjuang. Hidupnya hanya ingin tertawa dan bersantai karena sudah berusaha keras dapatnya ya segitu-segitu saja.

” Kalau ingin berhasil ya harus keluar dari sini dan berjuang diluar, tapi malah seperti bapaknya Gilang…malah gak pulang….”.

” Lah…yo wis..yo wis…ra usah dileng-ileng…tak bawa ya nasi gorengnya…makasih yo Par…”.

” Yo pak podo-podo….”. Parkiyem memandang pak Gareng sampai masuk pos keamanan sambil mengawasi sepeda motor maupun sepeda onthel yang diparkir sebelum masuk rusun.

Bu Gendut memperhatikan Parkiyem dan melamun pingin rasanya kerja ikut Parkiyem tapi takut karena pernah menipu Parkiyem sampai parkiyem di keluarkan di pabrik sepatu  gara-gara Bu Gendut mengambil sepatu dua pasang ditaruh di dalam tas  waktu pulang kerja dan dititipkan Parkiyem tanpa di cek dulu akibat Parkiyem kena sangsi

Parkiyem       : “Itu bukan milik saya…bu mandor…..”.

Mandor          : “Bukan milikmu kok ada didalam tasmu…?” dengan marah mandor itu mensita sepatu dan menahan Parkiyem di tempat. Ketika jatah Bu Warni alias bu Gendut Parkiyem menunjuk-nunjuk.

Parkiyem       : “Buk…itu buk pemiliknya…”.

Mandor          : ” Iya ..diam kamu Parki….!!” bentak Bu Mandor

Bu Gendut samtai saja ketika dicek barang bawaannya, ternyata hanya tepak tempat makan dan Bu Gendut disuruh langsung pulang.

Parkiyem       : ” Bu….Bu Gendut…..ini titipan sampeyan…..sepatu….” tapi Bu Gendut ngeloyor saja purak-purak gak dengar, sampai karyawan habis Parkiyem baru di urusi.

Mandor          : ” Nahhh mana orang yang kamu curigai….? Dia tak bawa apa-apa…!!”

Parkiyem       : ” Tapi bener dia buk….yang nitip sepatu ini pada saya…?!”

Mandor          : ” Sudah ..!! diam kamu….!! mana ada pencuri yang mengaku..?!”

Parkiyem  amat takut di bentak Bu Mandor yang kereng sekali membuat badan Parkiyem gemeteran..

Parkiyem       : ” Tapi bener buuuk…demi Tuhan…saya ndak nyuri…itu sepatu titipan bu Gendut…”

Mandor          : ” Dasar maling..masih saja ngeyel…kamu itu maling ….mana ada karyawan menitipkan sepatu perusahaan  di bawa pulang kalau tidak maling…?! Parkiyem baru sadar dia tadi buru-buru dan tak mengecek apa yang di titipkan bu Gendut, Parkiyem menangis dia tak tahu harus berbuat apa…? Air mata Parkiyem membanjiri baju yang dipakainya.

Bu Mandor membawa Parkiyem ke security dan ia menceritakan duduk permasalahannya lalu pulang.

Security memanggil Parkiyem dan menginterogasinya, Parkiyem bicara sejujurnya tanpa ditambah-tambahi.

Security         : ” Begini saja bu, ibu mengganti dengan membeli sepatu tersebut sebesar Rp 200.000 dan ibu harus keluar dari kerjaan karena melanggar peraturan, bagaimana buk..?”

Parkiyem       : ” Tapi saya gak punya uang pak….?”

Security          : ” Suamimu ada dirumah gak bu….?”

Parkiyem        : ” Ada pak….tapi sama saja….dia tak punya uang…..?! Security tersebut menyuruh temannya menjemput Panji suami Parkiyem.

Panji sedang membuat mie instant untuk anak-anaknya yang masih kecil-kecil, Gilang saat itu masih berumur tiga tahun dan Palupi berumur lima tahun dan Narto kelas 2 SD. Tiba-tiba datang security dan meminta Panji membawa uang Rp 200.000 sebagai penebus barang, terpaksa Panji pinjam pakdenya yang jualan di pasar Genuk, dan minta segera dikembalikan karena Panji banyak hutangnya. Akhirnya Parkiyem menanda tangani surat pengunduran dirinya sebagai pekerja lepas pabrik dan pulang dengan berjalan kaki.

Parkiyem amat marah pada bu Gendut tapi suaminya melarang ribut-ribut dengan orang macam itu kerena tak bakalan selesai.

Pagi hari Parkiyem memberikan sepatunya pada bu Gendut dan diterimanya. Panji datang ke pakdenya dan mengatakan kalau belum ada uang, pakdenya marah lalu Panji disuruh menjadi kulinya warung sebelah selama seminggu baru lunas. Toko sebelah namanya pak Anas orangnya baik dan menambahi uang saku Panji sebesar 25 ribu setiap hari. Parkiyem menjadi buruk cuci di rumah pak RW bisa menambah kebutuhan rumah tangganya.

Selama dua tahun Panji menjadi kulinya pak Anas sampai suatu hari Panji diajak menjadi ABK di kapal Seruni  oleh kenalan barunya  dan  sebulan sekali pulang , Parkiyem ekonominya mulai membaik tapi saat itulah Panji tak ada kabarnya sampai saat ini. Parkiyem menanti kedatangan suaminya tak kunjung tiba…rasa jengkel dan marah juga iba karena tak tahu secara pasti deberadaannya.  Parkiyem menjalani kehidupan memburuk lagi.


cerbung.net

Nasi Goreng Parkiyem

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2018 Native Language: Indonesia
Parkiyem menangis sudah tiga bulan suaminya tidak kembali ke rumah, boro-boro uang dikirim, anak-anak untuk makan saja sulit, sementara pinjam tetangga sudah gak dipercaya, menjadi buruhpun gajian mingguan, Parkiyem ke pasar untuk mencari kerjaan yang tiap hari bisa didapat untuk makan. Mulanya dia ragu kerja sebagai apa...? tapi apapun ia lakukan, angkat junjung barang, antar belanjaan, buruh cuci gosok ia lakukan apa saja asal dapat duwit. Dari mata melek pagi otaknya terus jalan, melihat anak-anak sekolah dari yang besar Narto kelas4, Palupi kelas 3, dan Gilang kelas 1 cuciannya sudah lumayan menggunung. sarapan mereka beli karena sudah tidak ada beras, mereka beli bubur sayur Rp 1.500,- kali 4 orang dan 1000 untuk kerupuk, untuk sarapan saja sehari 10.000, makan siang beli nasi 5000 sayur bayam 5000, Parkiyem tidak membeli minyak goreng paling kerupuk untuk gorengannya dan sambel tempe vitamin C nya, ada rezeki ya malam bisa makan seadanya. pokoknya sekali makan 10.000 tiga kali makan 30.000,  sangu sekolah masing-masing 2.000  dan ia harus menyisihkan tiap hari 5.000 untuk listrik dan air, makanya ia harus memasak sendiri dan agar lebih ngirit lagi.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset