Nasi Goreng Parkiyem episode 3

Pulang ke Kendari

Parkiyem sedang mengolah nasi goreng ketika seorang pengemis meminta-minta sekedarnya makanan yang dibuatnya , Parki tak tega dan membuatkan nasi goreng sama seperti yang lainnya juga diberikan es teh. Orang itu makan diluar warung karena merasa dirinya kotor , piring dan gelasnyapun minta ganti yang plastik. Parki menuruti saja kemauannya karena  Ia merasa meminta tak perlu pakai piring yang bagus , begitu pikirnya.

Bunyi lonceng MTs Nurul Iman berdering, Narto keluar menuju SD Banjardowo 7 untuk menjemput Palupi yang sudah kelas 5 dan Gilang yang sudah kelas 3, sepeda itu sudah 3 tahun bersama mereka…alhamdulillah sekolah anak-anak Parkiyem lancar ….dan penurut pada orang tua . Parkiyem mendidik anak-anaknya menanamkan cinta kasih  dengan sesama . Parkiyem memanggil ketiga anaknya.

Parkiyem          : ” Narto, Palupi dan Gilang anak-anak ibuk…besok kan bulan Romadhon bulan puasa wajib untuk umat Islam , kalau tahun-tahun yang lalu ibuk gak jualan tapi tahun ini ibuk jualan karena pak Soekoco dan ibuk pulang ke Kendari dan kita disuruh menempati rumahnya serta diperbolehkan membuka warungnya sebagai penghasilan karena untuk membayar listrik dan PDAM serta dititipi sepeda motornya agar dirawat dan ibu juga harus membayar iuran RT juga arisan ibu-ibu”.

Narto                : ” La terus pak Gareng bagai mana buk..?”

Parkiyem         : ” Pak Gareng ya masih tinggal di rusun wong dia keamanannya sini..?”

Palupi               : ” Palupi mau buk disana ramai dekat toko-toko dan pasar”

Parkiyem         : ” Maksud ibu apakah kalian mau bantu ibuk untuk jualan nasi goreng…?

Narto                : ” Pastilah Narto mau ya kan Palupi…..?”

Palupi               : ” Tentu kak !”.

Gilang               : ” Gilang juga mau , Gilang sudah pandai menyapu dan mengepel”.

Parkiyem          : ” Baiklah besok kita ikut mengantar Bu Soekoco dan bapak bersama pak RT dan Bu RT jam 10.00 pagi sudah sampai rumah pak Koco di Parang Kusumo”.

Jam 05.00 anak-anak Parkiyem sudah berada di Parang Kusumo dan ikut membantu membungkus oleh-oleh buat keluarga Kendari.

Bu Sukoco        : ” Parki…kamu boleh menggunakan almari pakaiannya dan ini kuncinya hape ibu akan saya berikan padamu untuk sarana komunikasi “. Pak RT menjadi saksi penyerahan kunci-kunci dan salinan sertifikat rumah dan warungnya  dan tempat penyimpanannya yang hanya Parkiyem dan anak-anaknya yang tahu.

Parkiyem          : ” Buk.., mengapa ibu menyerahkan semua kepada saya…apakah ibu akan lama di Sulawesi..?”

Bu Sukoco        : ” Ya Parki.., saya akan lama di Kendari sampai satu tahunan , nanti saya hubungi kalau sudah sampai Kendari…”. Parkiyem  manggut-manggut

Parkyem           : ” Kok lama buk…..?!”

Bu Sukoco        : ” Saya sekalian nyelesaikan urusan pembagian warisan…sampai selesai “. Pak RT Wahyu mempersilahkan pak Sukoco duduk depan, Bu Sukoco, Bu RT Wahyu dan Parkiyem duduk ditengah  dan anak-anaknya dibelakang.

Pak Sukoco      : ” Oh ya Parkiyem kamu segera pindah biar saya aman”.

Parkiyem          : ” Inggih pak, matur suwun..nanti sepulang antar panjenangan”.

Pak RT Wahyu : ” Kalau sudah pindah cepet lapor saya ya Par…”.

Parkiyem           : ” Injih Pak RT Wahyu..”.

Pak Sukoco sudah sampai bandara Ahmad Yani dan segera pamitan, Parkiyem menangis ingat kebaikan budi pak Koco dan bu Koco. Bu Koco memeluk Parkiyem.

Pak Koco           : ” Sebelum berpuasa saya minta maaf apabila memiliki salah baik sengaja maupun tak disengaja, sampai jumpa lagi dipuasa yang akan datang semoga Allah selalu memberikan kita kesehatan dan keselamatan dalam menjalani hidup ini…aamiin….pareng sedoyo mawon kulo pamit”. Pak Sukoco meninggalkan semuanya dan segera cek in dan selanjutnya boarding pass dan terbang menuju Surabaya lanjut Ujung Pandang lalu Kendari . Narto, Palupi dan Gilang  memangdangi pesawatnya, Parkiyem masuk ke mobil disusul anak-anaknya.

Sepulang dari bandara Parkiyem membawa televisinya dan pakaian serta buku juga alat-alat keperluan pelajaran sekolah ke rumah Bu Koco dengan menyewa angkot, setelah semuanya beres lalu kunci dititipkan pak Gareng dan Parkiyem pamit.

Pak Gareng      : ” Jadi pindah to Par ?”

Parkiyem          : ” Geh pak, tapi jangan dikontrakkan karena tiap minggu saya pulang ke rumah”.

Pak Gareng      : ” Berarti aku bisa no…. tidur di rumahmu ?”

Parkiyem          : ” Ya pak silahkan tapi jangan ajak orang lain nginap “.

Pak Gareng      : ” Yo Par, matur suwun aku biso ngasoh  yen ngantuk”.

Parkiyem membuka pintu rumah Pak/Buk Sukoco dan menata semua pakaian yang dibawanya , Palupi membantu ibuknya , Narto tidur dengan Gilang sambil menata pakaian dan buku-buku mereka.

Gilang                : ” Kak enak ya disini ada dua kamarnya, dan kamar mandinya besar, tapi sekolah kita cukup jauh…?!”

Narto                 : ” Ya…, untuk enak itu harus berjuang agar selalu berterima kasih kepada Allah dan selalu semangat”.

Gilang                : ” Kak tivinya belum bisa dipasang sekarang…?”

Narto                 : ” Belum …karena ibu belum beli antene dalam, Gilang bisa nonton di kamarmya ibuk dulu ya..?!”.

Gilang               : ” Ya kak….”.

Gilang menuju kamar ibuknya , ternyata kakaknya  Palupi sedang mengatur buku-buku dan pakaian dibantu ibuknya.

Gilang               : ” Buk Gilang mau nonton tivi boleh..?” , Parkiyem membolehkan dan menghidupkannya. Gilang langsung naik kasur dan menonton televisi. Terdengar pengumuman pemerintah tentang dimulainya Bulan Romadhon , Narto berlari ikut mendengarkannya:

Narto                : ” Buk, puasa pertama kita  gak jualan kan..?”

Parkiyem         : ” Iya…kita libur dan bukanya sore jam 16.00 pada hari keduanya….Kalian sudah siap kan membantu…?”

Palupi              : ” InsyaAllah kami siap membantu buk…”.

Sebenarnya sudah tiga hari nasi gorengnya libur karena Parkiyem membantu Bapak dan ibu Sukoco pulang kampung juga pindahannya Parkiyem dan beberes ruangan agar rapi.

Narto               : ” Buk Narto mau coba sepeda motornya pak Koco boleh…?”

Parkiyem        : ” Apa kamu bisa…? “.

Narto               : ” Bisa buk, Narto sering disuruh Pak Taji mengambil buku-buku di rumahnya dibawa ke sekolah untuk perpustakaan tapi tak boleh jauh-jauh karena belum punya Sim “.

Parkiyem        : ” Hati-hati karena di Tlogosari ramai pengendaranya…”.

Narto mengeluarkan sepeda motor supra x dan pelan-pelan menaikinya, deru motor terdengar, Narto tersenyum dan pelan-pelan melaju mengelilingi kampung Parang Kusumo, setiap sampai rumah Narto melambaikan tangan pada ibu dan adik-adiknya sambil membunyikan klakson, Palupi minta diboncengkan maka Nartopun berhenti sambil menahan remnya.

Narto              : ” Sekarang kak Palupi dulu ya baru nanti Gilang”.

Gilang             : ” Ya kak…..cepet ya kak Gilang pingin sekali naik motor….”. Narto tertawa senang Palupi amat menikmatinya dengan erat memeluk Narto kakaknya karena takut jatuh. Palupi melihat bu RT Wahyu sedang menyapu dan melambaikan tangannya.

Bu RT Wahyu  : ” Wah Narto sudah bisa naik motor, hati-hati ya le…”

Narto               : ” Inggih buk…?!”. Gilang menunggu kakanya yang belum muncul-muncul sampai hampir menangis Parkiyem ikut cemas dan keluar melihat kanan kiri dari jauh kelihatan Narto dan Palupi menuntun sepeda motornya, Parkiyem berlari menuju Narto.

Ternyata bensinnya habis, Parkiyem menyuruh membawa ke penjual bensin eceran dan Parkiyem membayarnya. Parkiyem jalan sementara Narto dan Palupi menuju rumah pakai motor karena Parkiyem takut naik motor kasihan kalau Narto terjatuh. Gilang menangis karena kelamaan menunggu . Palupi cerita kalau tadi kehabisan bensin. Lalu Gilang naik dan memeluk Narto erat-erat.

Narto kasihan sekali pada Gilang dan menunjukkan tempat  pertokoan, juga melihat toko elektronik dan menanyakan harga antene tivi dan langsung pulang lalu Narto menceritakan pada ibunya.

Parkiyem        : ” Jangan beli sekarang, kita masih belum ada pendapatan nanti kalau sudah jualan kita baru bisa beli antene ya…?” Meskipun agak kecewa Narto menuruti ibunya.

Sore itu anak-anak Parkiyem pada memperhatikan warung nasi gorengnya karena banyak yang menanyakan  lewat hape yang di bawa Parkiyem ibunya. ” Kapan dibukanya..?” Padahal sudah diberi keterangan di bawahnya mungkin mereka tak melihatnya. Maka Narto mengganti tulisan itu menjadi ” Selama bulan puasa buka mulai jam 16.00 sampai jam04.00  dan puasa hari pertama libur”. Ketika ditempelkan orang mulai mengerti dan sedikit yang bertanya.

Bu Sukoco menelepon kalau sudah sampai Kendari jam 17.20 WIT dan menanyakan apakah sudah pindah ke Parang Kusumo ?.

Parkiyem        : ” Sudah buk kami sudah pindah ke Parang Kusumo dan malam ini kita tidur pertama ”

Bu Sukoco      : ” Terus nasi gorengnya…?”

Parkiyem        : ” Besok kita baru bisa buka jam 4 sore, Selamat Berpuasa Buk/Pak semoga selalu sehat dan semangat..”

Bu Sukoco      : ”  Ayem  aku kalau kamu sudah pindah di Parang Kusumo, Ya sudah Parki ibu istirahat dulu disini sekarang sudah jam 22.00 , selamat bekerja besok pagi ya…”.

Parkiyem        : ” Inggih buk selamat malam dan selamat beristirahat”.


cerbung.net

Nasi Goreng Parkiyem

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2018 Native Language: Indonesia
Parkiyem menangis sudah tiga bulan suaminya tidak kembali ke rumah, boro-boro uang dikirim, anak-anak untuk makan saja sulit, sementara pinjam tetangga sudah gak dipercaya, menjadi buruhpun gajian mingguan, Parkiyem ke pasar untuk mencari kerjaan yang tiap hari bisa didapat untuk makan. Mulanya dia ragu kerja sebagai apa...? tapi apapun ia lakukan, angkat junjung barang, antar belanjaan, buruh cuci gosok ia lakukan apa saja asal dapat duwit. Dari mata melek pagi otaknya terus jalan, melihat anak-anak sekolah dari yang besar Narto kelas4, Palupi kelas 3, dan Gilang kelas 1 cuciannya sudah lumayan menggunung. sarapan mereka beli karena sudah tidak ada beras, mereka beli bubur sayur Rp 1.500,- kali 4 orang dan 1000 untuk kerupuk, untuk sarapan saja sehari 10.000, makan siang beli nasi 5000 sayur bayam 5000, Parkiyem tidak membeli minyak goreng paling kerupuk untuk gorengannya dan sambel tempe vitamin C nya, ada rezeki ya malam bisa makan seadanya. pokoknya sekali makan 10.000 tiga kali makan 30.000,  sangu sekolah masing-masing 2.000  dan ia harus menyisihkan tiap hari 5.000 untuk listrik dan air, makanya ia harus memasak sendiri dan agar lebih ngirit lagi.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset