Nasi Goreng Parkiyem episode 5

Panji bangga akan keluarganya

Panji keheranan anak itu amat mengenalnya : ” Kamu siapa…. apakah kamu….?” tanpa basa-basi Narto menjawab : ” Bapak ini aku Narto Yudistiro…putrane Pak Panji Suroto, apa bapak sudah lupa…?”. Narto menangis dan memeluk Panji.

Panji Suroto  : ” Ya Alloh Lee….anakku…kamu kok sudah segedhe ini…?!” tangis Panji sambil memeluk anak sulungnya.

Narto              : ” Bapak kemana saja to….bapak gak ingat kami lagi…rambut bapak panjang…bauk ..pasti keramas tak pakai shampo” tangis Narto mulai mereda .

Panji               : ” Bapak terdampar….bapak menderita, teman – teman bapak entah kemana bapak tak ingat….”.

Narto              : ” Bapak kita pulang dulu bertemu sama ibuk…..tapi nunggu pak Gareng dulu ya…?”

Panji               : ” Ibumu dimana..? Semalem bapak sampai sini dan ditolongi pak Gareng subuh tadi dan tidur disini”.

Pak Gareng membuka pintu sambil membawa minuman teh hangat dan roti.

Pak Gareng   : ” Lo…kamu tak cari dari tadi…di mushola…ternyata sudah disini…Ni roti dimakan…”,  sambil menyodorkan roti dan minuman hangat pada Panji. Panji menerimanya dan meminum teh juga rotimya.

Narto             : ” Pak Gareng ini sandal buat pak Gareng sama sarung dan kopiyahnya”. Pak Gareng senang sekali diberi sandal baru karena sandalnya sudah sobek.

Pak Gareng  : ” Matur nuwun bilangkan sama ibuk ya….oh ya semalem ada orang tidur sini, itu orangnya…yang lagi makan…”.

Narto             : ” Iya pak, itu bapaknya Narto…Pak Panji namanya….”.

Pak Gareng   : ” Woooohh….aku gak ingat nama bapakmu…ternyata si gondrong itu Panji bapakmu to….maapin ya mas…rang dah lupa…”.

Narto             : ” Ayok pak ketemu ibu….kasihan ibu mencari bapak sampai kurus badannya…”.

Panji              : ” Ayo Le…bapak kangen sama ibuk “.

Narto dan Panji pamit sama pak Gareng.

Panji               : ” Naik apa ini le….arah kemana….?”

Narto             : ” Ke Tlogosari naik sepeda motor, bapak bonceng Narto dulu ‘gih..?”

Panji              : ” Iyo le…pelan-pelan saja ”  Panji masih grogi membonceng Narto anaknya karena hambir 6 tahun tak naik motor hanya jalan dan nunut angkot saja.

Narto             : ” Tlogosari sekarang maju pak, ramai dekat pasar dijalan-jalan orang pada buka toko buat usaha apa saja”. Memang terlihat kemajuannya, ekonomi yang merubah kehidupan sosial dan bermasyarakat, Panji amat senang melihat-lihat bangunan toko dan lainnya, Panji ingin bekerja lagi hasratnya tumbuh lagi.

Panji              : ” Ibuk masih menerima cucian le….?”

Narto             : ” Sudah tidak lagi…pokoknya bapak ketemu ibuk dulu….baru cerita tentang bapak ya….?” Narto setuju dan menuju warung nasi gorengnya.

Narto sudah sampai parang kusumo dan sudah memutari warung nasi goreng, Palupi melihat Narto kakaknya juga Gilang tapi dia tak tahu orang yang diboncengnya. Panji tak melihat anak perempuannya karena memperhatikan toko samping kanan kirinya.

Palupi   : ” Buk, tadi kak Narto sudah lewat sini tapi kok gak brenti ya…?”

Parkiyem  : Mungkin bukan kak Narto nduk..?”

Palupi    : ” Iya …bener kok buk Palupi gak bohong”

Gilang.   :  ” Iya betul buk…Gilang juga lihat tapi kak Narto bicara sama orang itu”.

Parkiyem. :  ” Ya ditunggu lagi , nanti kakakmu pasti kembali lagi “.

Gilang.      : ” Betul buk, itu kak Narto kembali lagi sama orang rambut panjang”.

Parkiyem kaget mendengar Gilang memboncengkan wanita lalu Parkiyem menunggu Narto yang sudah kelihatan tapi Narto menurunkan dirumah dan menuju warung pas selesai melayani pelanggan Narto minta ditutup dulu karena ada yang perlu dibicarakan.

Narto.     : ” Ayok buk selak nanti pelanggan datang”.

Mereka menuju rumah hati Parkiyem tersentak dan kaget lalu langsung berlari sambil menangis .

Parkiyem.    : ” Bapaaaak…!!!” Parkiyem menangis tersedu-sedu

Gilang dan Palupi ikut berlari dan memeluk bapaknya sambil menangis, Gilang bingung dia merasa tak kenal orang itu tapi air matanya mengalir deras Ia juga tak tahu, Gilang hanyut dalam kesedihan karena melihat semua menangis. Parkiyem masuk kedalam dan mengajak semuanya masuk karena malu dilihat orang.

Parkiyem     : ” Pak bagaimana keadaan bapak sekarang…?”.

Panji             : ” Alhamdulillah aku amat bersukur bisa bertemu dengan kalian semuanya..”.

Air mata Panji mengalir lagi . Palupi mengambil teh hangat dan es teh yang ada di warung untuk berbuka puasa dan menyiapkan makanan. Sirine buka puasa terdengar nyaring lalu Narto memimpin  membaca doa buka puasa, rasanya Panji seperti mimpi setelah setahun di tanah Jawa bisa bertemu dengan keluarganya lagi. Tanpa uang dan baju ganti Panji berusaha dapat pulang ke pangkuan keluarganya.

Parkiyem menyuruh ganti baju karena baju suaminya kelihatan kumuh , dan menyuruh istirahat dulu bersama anak-anaknya sementara Parkiyem membuka lagi warungnya . Pelanggannya langsung berdatangan. Narto dan Palupi minta izin membantu ibunya.

Gilang masih bersama bapak dan menemani sambil nonton tivi, bau masakan nasi goreng istrinya begitu menggoda sayang perut Panji tak mampu menampungnya karena masih kenyang dan sudah terbiasa menahan nafsu makannya. Panji ingin keluar melihat-lihat warung istrinya setelah memindahkan tidur Gilang. Ada lima orang yang sedang makan disitu dan ada yang menunggu nasi goreng untuk dibawa pulang. Panji yang memakai sarung mau keluar menjadi ragu.

Pak Bono     : ” Loh bu..siapa laki-laki yang ada di teras sampeyan..?”

Parkiyem     : ” Oh..itu suami saya pak Bono…yang barusan pulang dari Luar Jawa…”

Pak Bono     : ” Eeeh tak kira sampeyan itu janda heee….maaf lo bu….jadi sampeyan siaminya pelaut…?”

Parkiyem     : ” Suami saya itu koki di kapal, tapi kapal nelayan bukan kapal wisata..”

Pak Bono    : ” Waaah yo sama….artinya pinter masak “.

Parkiyem    : ” Tapi saya belum pernah merasakan masakannya selama melaut…”

Pak Bono    : ” He..he…he..yo pastilah bu…sampeyan kan di darat gak di laut..ya gak bakalan bisa ngincipi….ya gak mas…?” kata pak Bono pada salah seorang pelanggan sambil ketawa pelan .

Pelanggan   : ” Inggih pak…leres niku..”

Pak Bono    : ” Pean namanya siapa dan dari mana kok sering saya lihat sampeyan makan disini”.

Pelanggan  : ” Perkenalkan saya Marno  asal dari Situbondo Jawa Timur..”.

Pak Bono   : ” Mas Marno kok makan disini, mang kerjanya dimana..?”

Marno        : ” Saya di asuransi pak Bono dan kos di jalan Kimar dekat sekolahan SMA”.

Pak Bono   : ” Waaah yo lumayam jauh… ya mas..?!

Pak Bono memesan nasi goreng yang dibungkus 2 sambil minta teh hangat lagi, rupanya pak Bono masih pingin ngobrol dengan Marno.

Parkiyem   : ” Nunggu bentar ya pak Bono ini masih mbuatin mase yang diluar kurang 3 bungkus”

Pak Bono   : ” Kok banyak sekali mbungkusnya mas….” sambil menoleh keluar.

Orang itu tersenyum sambil berkata : ” Inggih pak buat saur perjalanan pulang ke Tasik, mudik bareng ngaten…”

Pak Bono  : ” Waaaah pelangganmu dari jauh-jauh… bu Parkiyem termasuk saya dari  Lumajang, tetanggaan dengan Mas Marno dari Situbondo”. Mas Marno manggut-manggut dan  Parkiyem tersenyum sambil mengolak-alik nasi gorengnya. Parkiyem menyerahkan pesanan yang di luar sama Narto dan Palupi lalu membuatkan pesanan pak Bono.

Palupi memberikan nasi goreng pada pelanggan lalu mengambil sepiring nasi goreng untuk bapaknya dan membawakan kerupuk sekalian.

Panji        : ” Matur nuwun nduk…sekalian es jeruknya ya….”

Palupi     : ” ‘Geh pak..”.

Panji bersukur sekali bisa bertemu kembali dengan keluarganya, meskipun tinggal di rumahnya pak Sukoco tapi anak istrinya bahagia telah dibantu sampai saat ini oleh mereka bapak san ibu Sukoco.  Karena ikan jeroan sudah habis maka Narto memasang tulisan TUTUP padahal masih jam 24 . Parkiyem menghitung uang, Narto dan Palupi mencuci piring juga gelas , Panji menuju warung hendak membantu mereka sambil mengembalikan piring dan gelas.

Banyak orang yang kecelik, karena warung sudah tutup dan bertanya : ” Bu Lebaran tutup apa buka…?”

Parkiyem  :” Lebaran hari pertama tutup hari kedua buka jam 16 sore”. Lalu orang tersebut berlalu , Pak RT Wahyu juga kecelik karena nasi gorengnya sudah habis lalu Parkiyem memperkenalkan Panji suaminya pada mereka.

Pak RT Wahyu  : ” Ooo selamat datang pak Panji semoga betah tinggal disini dan jangan lupa mengikuti perkumpulan RT tiap tanggal 15 jam 20 njih..?!”

Panji                    : ” Injih pak Wahyu , matur suwun”. Parkiyem sudah lega memperkenalkan suaminya pada pak RT.
Parkiyem mengunci warung dan mengajak sahur sekalian, tapi Panji akan menjaga mereka sahur dan memasakkan sesuatu pada mereka agar mereka tidak terlambat sahur, Parkiyem menurut saja pada suaminya dan memeluk lengan Panji diikuti anak-anak mereka.

Sahur hari terakhir Panji membuatkan nasi goreng sosis dan bakso serta kacang polong  persediaan yang ada di kulkas, Gilang amat senang sekali karena masakan bapak enak, Narto dan Palupi memuji kelezatan masakan bapaknya, Parkiyem memberikan nilai jempol dan esok hari yang mengantarkan ke pasar tidak Narto lagi tapi bapaknya. Panji mengucapkan terima kasih pada anak-anaknya yang telah membantu ibu selama Panji di luar Jawa. Sariyah membelikan baju koko dan sarung serta sandal baru untuk melaksanakan shollat Idul Fitri bersama keluargamya.


cerbung.net

Nasi Goreng Parkiyem

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2018 Native Language: Indonesia
Parkiyem menangis sudah tiga bulan suaminya tidak kembali ke rumah, boro-boro uang dikirim, anak-anak untuk makan saja sulit, sementara pinjam tetangga sudah gak dipercaya, menjadi buruhpun gajian mingguan, Parkiyem ke pasar untuk mencari kerjaan yang tiap hari bisa didapat untuk makan. Mulanya dia ragu kerja sebagai apa...? tapi apapun ia lakukan, angkat junjung barang, antar belanjaan, buruh cuci gosok ia lakukan apa saja asal dapat duwit. Dari mata melek pagi otaknya terus jalan, melihat anak-anak sekolah dari yang besar Narto kelas4, Palupi kelas 3, dan Gilang kelas 1 cuciannya sudah lumayan menggunung. sarapan mereka beli karena sudah tidak ada beras, mereka beli bubur sayur Rp 1.500,- kali 4 orang dan 1000 untuk kerupuk, untuk sarapan saja sehari 10.000, makan siang beli nasi 5000 sayur bayam 5000, Parkiyem tidak membeli minyak goreng paling kerupuk untuk gorengannya dan sambel tempe vitamin C nya, ada rezeki ya malam bisa makan seadanya. pokoknya sekali makan 10.000 tiga kali makan 30.000,  sangu sekolah masing-masing 2.000  dan ia harus menyisihkan tiap hari 5.000 untuk listrik dan air, makanya ia harus memasak sendiri dan agar lebih ngirit lagi.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset