Nasi Goreng Parkiyem episode 6

Diterjang Badai

Panji berteriak-teriak gak karuan dia terbangun karena teriakannya sendiri….dia terbayang saat kapalnya terdampar di pulau Bawean waktu diterjang badai . Panji sedang memasakkan makan malam ketika badai itu melanda kapal barangnya… Panji tertidur lagi. Suara air hujan dan geluduk mengganggu pandangannya.. dingin …Panji berenang mencari teman-temannya …Panji terlindungi baju pengamannya sambil tengkurap di daun pintu yang didapatkannya diantara pecahan kapal itu .

Bagai ditelan lautan tubuh Panji terombang-ambing menaiki daun pintu dan tak melihat salah  seorang temannya. Panji  tersadar berada ditepian pantai lalu ia mencari kawan-kawannya lagi tak satupun Ia temui,  kala mendengar suara takbir Panji segera bangun dan ikut bertakbir di rumah. Berkali-kali Panji mengaca apakah betul dia sudah berada di rumah ? , Panji memandangi istrinya…Palupi…Narto..lalu Gilang. Kejadian terdampar di pulau Bawean membuat Panji amat strees dan depresi makanya Panji melakukan takbir dimalam lebaran. Parkiyem terbangun dan bersama suaminya menuju masjid untuk menyerahkan zakat fitrah.

Mendengar suara sepeda motor Narto langsung bangun dan menemui bapaknya

Narto     : ” Bapak dan ibuk mau ke mana..?”

Parkiyem  : ” Narto, ibu sama bapak akan membayar zakat fitrah tolong jaga rumah dulu ya….?!”

Narto    : ” Iya hati-hati pak, buk…”. Meskipun agak kaku Panji tetap semangat menjalankan sepeda motor dengan percaya diri. Narto memperhatikan bapaknya sampai tikungan gang.

Panji      : ” Aku belum ada pengkasilan, tolong di bantu zakat fitrahnya ya bu…?”

Parkiyem  : ” Iya gak apa-apa pak, tiap tahun ibu membayarnya agar bapak cepat pulang ..kumpul kembali sama kita”.

Panji     : ” Matur nuwun bu….”. Betul-betul Panji merasa bersyukur bisa kembali ke tengah-tengah keluarganya.

Narto  menunggu bapak dan ibunya pulang sambil mengumandangkan takbir diteras sesekali ia memakan makanan kecil  lebaran

Tak lama kemudian bapak ibunya sampai, Narto memeluk bapaknya yang di rindukan siang malam takut akan hilang lagi, mereka bertiga mengumandangkan takbir sementara Parkiyem kembali kedapur memanaskan masakan lebaran dan memotong – motong ketupat

Jam 6 pagi mereka berangkat menuju lapangan Bank Tabungan Negara untuk melakukan sholat Idul Fitri, Panji diapit kedua anaknya  kanan dan kiri sementara Palupi melihat kakak-dan adiknya merasa iri karena dipeluk Panji dengan sayangnya. Parkiyem merasakan perasaan Palupi yang melihatnya maka Parkiyem memeluk Palupi agar terasa nyaman. Selesai shollat saling bermaaf-maafan dengan masyarakat yang mengikuti shollat Iedul Fitri . Di rumah  Parkiyem mengucapkan maaf lahir dan batin pada suaminya dan bertangisan diikuti anak-anaknya.

Panji    : ” Istriku dan anak-anak bapak yang amat bapak sayangi, maafkan bapak jika selama ini bapak sudah membuat kalian menderita karena bapak tak bisa melindungi kalian semua….sehingga kalian bekerja sendiri terutama ibumu yang selalu menghargai bapak yang saat ini bapak kembali tak memberikan apa-apa dan menyusahkan kalian”.

Parkiyem  : ” Sudahlah pak….kami semua memaafkan bapak dan tetap sayang sama bapak…jadi bapak jangan bersedih lagi”.

Narto    : ” Iya pak trima kasih doa kita terkabul untuk bisa berkumpul lagi dan bapak tidak bersalah karena bapak selalu mengingat kami meskipun tak memiliki ongkos pulang akhirnya sampai juga menemani kami, terima kasih bapak…kami semua sayang bapak…..”.

Air mata Narto berlinang saat mencari bapaknya dan menghilang…ternyata bapaknya menuju rumah susun Banjardowo dengan menahan lapar dan dahaga, karena lupa lokasi rumahnya sehingga Panji kesasar-sasar salah jalan serta  tidurnya diemperan toko-toko , cerita Panji kepada anak istrinya.

” Ayok kita santap  makanan di  hari kemenangan ini “, kata Parkiyem yang dibantu Palupi putrinya. Panji diambilkan lontong , sambal goreng dan opor ayam oleh istrinya sedangkan Palupi menambahi emping sebagai toping. Semua menikmati hari kemenangan dan wajah mereka berseri-seri , Parkiyem menelepon bu Sukoco mengucapkan selamat kari raya Iedul Fitri.

Bu Sukoco   : ” Iya Par sama-sama,  kamu dan anak-anakmu sehat kan ? ” tanya bu Koco

Parkiyem     : ” Alhamdulillah bu , ini suami saya sudah pulang dan ingin bicara sama ibu dan bapak”. Parkiyem menberikan hapenya pada Panji suaminya.

Panji             : ” Buk selamat Hari Raya Iedul Fitri maaf lahir dan batin gih….?!”

Bu Koco       : ” Yo mas sama-sama, ini mas Panji ya…?”

Panji             : ” Inggih buk…”.

Pak Koco     : ” Weee..laaaah…lagi tumon aku…saya masih lama menunggu surat akte jadi, sabar ya mas..tolong jagain rumah dan dirawat ya….?”.

Panji            : ” Inggih pak matur suwun sanget “.

Bu Sukoco menelepon balik dan mengobrol sama Parkiyem , Bu Sukoco amat kangen masakan Parkiyem terutama nasi gorengnya.

Parkiyem melihat keluar karena pelanggan pada membaca pengumuman Nasi Goreng buka pada lebaran ke dua jam empat sore, ada yang WA pesan nasi goreng untuk besok. Perkiyem masih bercanda dengan bu Koco Sementara Panji membersihkan warung dan melap meja serta kursinya karena tak ada aktivitas. Narto menggandengnya untuk pulang ke rumah untuk istirahat karena besok sore hari akan melelahkan dan Panji menuruti kemauan anaknya Narto untuk menutup lagi.

Narto           : ” Bapak, coba ini lihat pesanan yang ada di WA ibu ada 30 pesanan dengan jumlah 70 pesanan yang di bungkus .  Narto meneruskan sambil menunjukkan pesanan masing-masing pemesan, sekarang tinggal membagi kerja…bapak sama Narto yang melayani pelanggan yang datang ditempat ini sedangkan ibu yang mengurusi masakan pesanan  bagaimana pak…?”

Panji            : ” Kamu kok pinter Le…iya bapak mau seperti itu”.

Narto           : ” Ini hanya saran saja dari ibuk pak…agar bapak kembali semangat untik memasak “.

Panji            : ” Iya Le..mulai besok bapak akan memasak seperti yang selalu bapak kerjakan di kapal ” Panji memeluk Narto dengan mata berbinar-binar. Parkiyem menyaksikan mereka dengan sangat terharu betapa sayangnya Panji kepada anak-anaknya, Parkiyem merasa berdosa pernah marah waktu menunggu kabar yang tak pernah kunjung tiba dan mendamprat habis-habisan suaminya tapi Narto memeluk Parkiyem memohon bapak jangan dimarahi kalau pulang….membuat Parkiyem berlinangan air mata.

Malam itu Panji hendak bercerita tentang tentang kecelakaan maut yang berada di kapalnya dan sampai terdampar di Pulau Bawean. Palupi dan Parkiyem tidur di kasur sementara sedangkan Panji bersama kedua anak lelakinya Narto dan Gilang.Mereka tidur bersama-sama dan saling berpelukan ….Narto disebelah kiri dan Gilang disebelah kanan sedangkan mata Panji melihat Palupi.

Gilang        : ” Ayo dong pak segera dimulai ceritanya…..”

Panji          : ” Jam lima sore kapal  Anak Samodra  tempat bapak kerja menuju ke Mamuju Sulawesi Barat untuk mengirim pakaian anak dan dewasa  dari Mamuju akan membawa kopra untuk dibawa ke Jakarta diolah menjadi minyak. Bapak menuju Banjarmasin karena mendapat perintah mengambil batu permata , keluar dari Banjar masin itulah langit tampak menghitam sehingga laut jawa menjadi gelap. Penerangan kapal sudah dinyalakan tapi tetap saja kurang terang”.

Gilang        : ” Bapak tidak takut airnya masuk kapal…?”

Panji           : ” Itu sudah biasa..kalau di laut harus siap basah….”.

Palupi         : ” Ayo dilanjut ceritanya….” Palupi memutus pertanyaan Gilang.

Panji           : ” Bapak memakai baju penyelamat sambil memasak makanan dan mempercepat makan malam ketika gelombang tenang,  mereka semua makan bergantian termasuk bapak yang memasak sambil makan”.

Palupi         : ” Bapak masak apa..? “.

Panji           : “Bapak memasak Bau Piapi karena pak Aras amat menyukainya dan pak Aras orang Mamuju”.

Parkiyem   : ” Bau Piapi itu sayur apa makanan dari apa pak..?”

Panji           : ” Bau Piapi itu hidangan berkuah dan hidangan  yang terbuat dari ikan segar seperti cakalang, bapak juga membuat ikan bakar. Ketika bapak membuat kue pukis ombak tiba-tiba  meninggi dan hujan disertai badai semua memakai baju pengaman lagi, bapak memberesi ruang dapur dan mematikan kompor. Ombak besar bergelombang menghantam bertubi-tubi dan mengambil rekan bapak yang panik. Kapal bapak menabrak sesuatu dan oleng lalu kapal pecah .

Narto dan Gilang memeluk bapaknya dia takut membayangkan kejadian itu, badannya ikut gemetaran.

Panji          : ” Lho kalian kok gemetaran ..?, dilanjut enggak …? ”

Narto         : ” Iya gak apa….kan ini pengalaman bapak…?”

Panji          : ” Bapak akhirnya pingsan dan terbawa arus…sampai bapak tersadar berada diatas daun pintu,  ada seekor ikan besar mendorong daun pintu itu, bapak hanya pasrah pada Alloh akan dibawa kemana tak tahu….”. Tiba -tiba Gilang menangis dan memeluk bapaknya, ” Bapak…Gilang sayang sama bapak…..”. Palupi menangis juga dan memeluk ibunya, ternyata Parkiyem juga ikut menangis sambil berkata, ” Kasihan ya bapak….untung bapak kuat dan bisa kembali ke rumah….dan bersama kita lagi. Parkiyem menenangkan hati anak-anaknya


cerbung.net

Nasi Goreng Parkiyem

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2018 Native Language: Indonesia
Parkiyem menangis sudah tiga bulan suaminya tidak kembali ke rumah, boro-boro uang dikirim, anak-anak untuk makan saja sulit, sementara pinjam tetangga sudah gak dipercaya, menjadi buruhpun gajian mingguan, Parkiyem ke pasar untuk mencari kerjaan yang tiap hari bisa didapat untuk makan. Mulanya dia ragu kerja sebagai apa...? tapi apapun ia lakukan, angkat junjung barang, antar belanjaan, buruh cuci gosok ia lakukan apa saja asal dapat duwit. Dari mata melek pagi otaknya terus jalan, melihat anak-anak sekolah dari yang besar Narto kelas4, Palupi kelas 3, dan Gilang kelas 1 cuciannya sudah lumayan menggunung. sarapan mereka beli karena sudah tidak ada beras, mereka beli bubur sayur Rp 1.500,- kali 4 orang dan 1000 untuk kerupuk, untuk sarapan saja sehari 10.000, makan siang beli nasi 5000 sayur bayam 5000, Parkiyem tidak membeli minyak goreng paling kerupuk untuk gorengannya dan sambel tempe vitamin C nya, ada rezeki ya malam bisa makan seadanya. pokoknya sekali makan 10.000 tiga kali makan 30.000,  sangu sekolah masing-masing 2.000  dan ia harus menyisihkan tiap hari 5.000 untuk listrik dan air, makanya ia harus memasak sendiri dan agar lebih ngirit lagi.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset