Nasi Goreng Parkiyem episode 8

Di Hajar Bandit Pelabuhan Tanjung Perak

Panji sore itu diajak pak Rudi jalan-jalan ke Pelabuhan melihat-lihat orang yang hendak pulang dan pergi ke Jawa tapi kapal Maduraku hanya sampai Pelabuhan Telaga Biru .

Panji         : ” Kalau kapal kita nanti sampai mana pak…?”

Pak Rudi : ” Kapal Pelni sampai Pelabuhan Tanjung Perak..dan sandarnya sehari setelah itu muter sesuai jadwal, kalau ke Bawean hari Sabtu dan Senin.

Panji mencium bau nasi goreng dia mencarinya karena teringat masakan Parkiyem. Panji bersandar di pinggir tangga karena siang ini amat terik, Parkiyem membangunkan Panji dan anak-anaknya agar membantu ayahnya jualan pagi ini. Panji kaget ternyata dia tadi mimpi dikapal bersama pak Rudi, Ia mengambil air wudhu dan diikuti anak-anaknya melakukan shollat subuh. Parkiyem sedang menyapu warung yang kotor karena terbawa angin dan langsung dibakarnya lalu disiram abunya agar tak terbawa angin lagi. Karena anak-anak masih libur mereka langsung mengerjakan kebiasaan sehari-hari.

Panji melihat persediaan yang ada di kulkas dan memanasi babat serta keperluan nasi goreng dan meniriskan dagung-daging tersebut. Parkiyem mengajak sarapan sebelum pelanggan berdatangan. Parkiyem senang karena suaminya sudah menghangatkan jeroan-jeroan tersebut dan mengajaknya sarapan di warung. Panji menurut saja , mereka sarapan bersama . Palupi memberikan minuman jeruk hangat agar bersemangat dalam bekerja. WA pesanan  memenuhi hape Parkiyem.

Parkiyem   : ” Nah pak pesanan ini yang buat bapak sedangkan ibuk memasak yang datang di warung ini”.

Panji           : ” Injih  buk siap”.

Palupi membantu bapaknya memisahkan pesanan-pesanan tersebut sambil menuangkan es teh juga makanan pesanan yang menunggu ditempat dan es jeruk pesanan pelanggan. Karena banyak pesanan lewat WA maka Panji pindah tempat di dalam rumah dan gilang yang mengirimkan catatannya sedangkan Narto mencuci piring dan gelas.

Jam 24.00 nasi goreng sudah ludes dan juga sudah capek.

Narto          : ” Pak…., jangan lupa ceritanya disambung lagi…..”

Parkiyem   : ” Sudahlah To….bapak biar istirahat ….dia capek banget baru istirahat membuat pesanan berapa tadi pak…?

Panji          : ” 150 pesanan…gak apa ..ayok dilanjut …”

Gilang       : ” Aseeek…..itu baru bapak sayang anak..yeeee..”

Panji          : ” Lo….tadi kan sudah merem…ternyata belum tidur eehhhh….ternyata nunggu cerita lanjutannya?!”

Narto        : ” Ayo pak…..”.

Panji          : ” Iya tapi setengah jam saja…ya…”.

Palupi        : ” Horeee…dilanjut, aku tidur dekat bapak ah…..” Panji memeluk Palupi sedangkan Parkiyem sudah merem dan mendengkur

Panji          : Sampai mana ya…bapak lupa….. coba diingat-ingat…”

Narto         : ” Bapak makan sate ayam Pak Rambing…..habis kemarin ditanya malah ngorok…”

Panji          : ” Okey…ternyata kapal yang dinaiki pak Anton segera berangkat, maka pagi itu pak Anton berpamitan dan memberikan jaketnya kepada bapak biar hangat”.

Pak Anton meninggalkan kami sambil melambaikan tangan, pak Rudi mengingatkan Panji kalau besok kapal akan mengantarkan kita pukul 10.pagi , jadi jam sembilan sudah harus masuk kapal  Pelni. Malam itu Panji sudah memberesi semua pakaiannya, uang sudah dipisah-pisahkan agar aman. Jaket pak Anton dipakainya waaaahh….keren ….Panji memuji diri sendiri walau sebenarnya ia tak Percaya Diri karena jaketnya terlalu bagus.

Jam tujuh Panji dan pak Rudi sudah berada di pelabuhan Bawean  mereka sarapan dahulu dengan membeli makanan ramesan, pak Rudi takut untuk membeli karena kemarin sakit gegara makan nasi bungkus itu. Panji percaya saja karena dah biasa kalau di rumah beli nasi bungkus , pak Rudi tak mau makan nanti akan memesan di kapal saja . Ternyata di kapal juga ada penjual mie goreng maupum mie rebus , pak Rudi pesan mie rebus biar segar dan dimakan di tempat duduk yang sudah dipilih berdua dengan Panji.

Kapal Pelni segera melaju Panji sudah membayangkan bertemu keluarganya, pak Rudi tidur dan semua penumpang juga tidur maka Panjipun ikut tepar karena merasa sunyi hanya deburan ombak menemani sesekali terlihat orang melihat-lihat deru ombak dan menatap lautan nan biru sambil berjalan kesana-kemari yah mungkin ingin menggerakkan badannya saja seperti Panji yang mulai bangkit dan mengangkat tas rangselnya untuk melihat-lihat lautan…Panji perlahan melewati orang-orang yang dilaluinya dan pamit pada pak Rudi ingin jalan-jalan saja.

Lima jam sudah Panji diluaran kapal…berbincang sama orang-orang yang belum dikenalnya dan bersama melihat pulau Madura dan Jawa dari kejauhan, pak Rudi memanggilnya untuk untuk diajak makan.

Rudi       : ” Kamu senang sekali kelihatannya bertemu mereka…..”

Panji      : ” Iya pak , mereka akan mengajak saya bekerja di Gresik yang mengolah batubara ..”

Rudi      : ” Yakin..ingin kerja di Gresik…bagaimana dengan keluargamu di Semarang..? ”

Panji     : ” Ya izin dulu sama mereka tentunya pak…”

Rudi      : ” Jangan mudah percaya pada mereka…saya tu hafal sama orang-orang macam itu…”

Panji     : ” Tapi kenapa bapak tidak memberitahu saya kalau orang-orang itu berbahaya…?”

Rudi      : ” Lha ini saya menemuimu…saya ajak makan biar mereka tak curiga pada saya….kalau ku kasih tahu langsung bisa bonyok saya…juga kamu….”

Panji     : ” Haduh…pak, dia tadi pinjam 50.000 pada saya tapi nanti dikembalikan sesampai Tanjung Perak…katanya…”

Rudi      : ” Periksa saja selipan-selipan tas tempat simpananmu semoga aman…tapi nanti saja jangan membuat curiga gerakanmu…mata-matanya banyak…satu persatu kamu cek…mata-matanya banyak, makanya mending tiduran dan tas di peluk…..”.

Panji dengan wajah kecut mau mencoba mengecek tapi ada salah seorang teman tadi memperhatikannya sehingga Panji pura-pura membenarkan celana panjangnya, Panji benar-benar takut apalagi orang tersebut memainkan pisau kecilnya…

Narto    : ” Bapak siiiih…kenapa keluar dan berlama-lama sama mereka…”.

Panji     : ” Yaaahhh …namanya menghilangkan kejenuhan…lagian bapak rasanya mau muntah kaluu tak aktivitas…rasanya seperti diayun…”

Gilang   : ” Bapak…bapak…jadi ikutan jengkel sama bapak…Gilang”.

Panji     : ” Ya…pengalaman bapak jangan kamu contoh yang jelek..karena memang bapak tak tahu…”

Narto    : ” Iya Gilang…jangan jengkel sama bapak…..?!”

Panji     : ” Jatahnya dah habis untuk cerita …bapak tidur ya….?”

Palupi  : ” Yaaah…bapak…..” dengan nada kecewa

Parkiyem : ” Dah dilanjut besok lagi….kasihan bapak sudah ngantuk, besok pagi bapak ngantar ibuk di rumahe mbak Susi…?!” Panji menggeliat dan menguap rasanya ngantuk banget dan dia tertidur, Palupi memeluk bapaknya yang rambutnya sudah dipotong cepak karena Parkiyem tak bisa memotong rambut sehingga tetap di kuncir karena belum rapi. Malam itu amat sepi sementara udara terasa panas sehingga pada kegerahan dan tidur di lantai. Panji terbangun  karena kegerahan Ia mengambil air wudhu hendak bertahajut, hatinya merintih karena keadaan rumah tangganya seandainya ia masih berada di rusun Banjardowo tentu lebih panas lagi dan lebih tidak sehat lagi.

” Ya Alloh terima kasih hamba ucapkan kepadaMu yang selalu memberikan kebaikan kepada keluarga yang hamba kasihi , Shollawat serta salam kepada junjungan hamba Baginda Rosululloh Nabi Muhammad SAW semoga selalu melapangkan dada ini untuk selalu bersabar…Aamiin”.

Panji selesai tahajud melakukan wirid dan berdhikir hingga masuk subuh , Parkiyem ikut berjamaah dan mendoakan supaya suami dan anak-anaknya diberikan kesehatan, keselamatan dan diberikan murah rizki. Parkiyem tahu suaminya sedari tadi belum tidur maka Ia membiarkan Panji rebahan lagi dan bermimpi….

Penjahat   : ” Serahkan semua barang dan lucuti bajunya “.

Panji          :  ” Tolong apa kesalahan saya…saya tak pernah mengganggumu….”

Penjahat   : ” Cepat serahkan….”. Panji dipukul hingga pingsan, pak Rudi mencari-cari Panji di pelabuhan Tanjung Perak dan menemukan Panji dalam keadaan tak sadarkan diri memakai kaos singlet dan celana pendek dan masih bersepatu. Pak Rudi membawanya ke Puskesmas agar diberikan bantuan seadanya. Setelah Panji tersadar terasa kepalanya sakit karena hantaman kayu.

Dia kehilangan uang, tas rangsel yang berisikan pakaian serta uang yang sudah dipisah-pisahkan.

Rudi         : ” Ini tadi tu bagaimana to…kok bisa sampai dihajar orang, terus tas ranselnya dimana…?”

Panji       : ” Maafkan saya pak Rudi tak menuruti nasehat sampeyan agar segera masuk mobil penjemput…tapi karena saya tak kuat menahan kencing dan dicegat tiga orang bandit ditutup mukanya dan memaksa meminta uang dan saya memberikan perlawanan sehingga jadi seperti ini”. Pak Rudi merasa iba pada Panji dan setelah agak enak Panji diajak ke rumah pak Rudi yang ada di Gresik agar kesehatan Panji benar-benar pulih lagi dan dinyatakan sehat oleh dokter.

Panji ingin segera pulang karena amat rindu pada keluarga, Pak Rudi memberikan uang untuk transport ke Semarang sebesar Seratus Ribu Rupiah.

Panji      : ” Cukup pak…ini sudah cukup …terima kasih atas bantuan pak Rudi dan trima kasih tas punggung beserta oleh-olehnya..”


cerbung.net

Nasi Goreng Parkiyem

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2018 Native Language: Indonesia
Parkiyem menangis sudah tiga bulan suaminya tidak kembali ke rumah, boro-boro uang dikirim, anak-anak untuk makan saja sulit, sementara pinjam tetangga sudah gak dipercaya, menjadi buruhpun gajian mingguan, Parkiyem ke pasar untuk mencari kerjaan yang tiap hari bisa didapat untuk makan. Mulanya dia ragu kerja sebagai apa...? tapi apapun ia lakukan, angkat junjung barang, antar belanjaan, buruh cuci gosok ia lakukan apa saja asal dapat duwit. Dari mata melek pagi otaknya terus jalan, melihat anak-anak sekolah dari yang besar Narto kelas4, Palupi kelas 3, dan Gilang kelas 1 cuciannya sudah lumayan menggunung. sarapan mereka beli karena sudah tidak ada beras, mereka beli bubur sayur Rp 1.500,- kali 4 orang dan 1000 untuk kerupuk, untuk sarapan saja sehari 10.000, makan siang beli nasi 5000 sayur bayam 5000, Parkiyem tidak membeli minyak goreng paling kerupuk untuk gorengannya dan sambel tempe vitamin C nya, ada rezeki ya malam bisa makan seadanya. pokoknya sekali makan 10.000 tiga kali makan 30.000,  sangu sekolah masing-masing 2.000  dan ia harus menyisihkan tiap hari 5.000 untuk listrik dan air, makanya ia harus memasak sendiri dan agar lebih ngirit lagi.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset