Nasi Goreng Parkiyem episode 9

Panji Sakit

Panji terjaga badannya terasa panas …, dia diselimuti  istrinya lalu Panji tertidur lagi dan bermimpi.

Panji berada di bis Eltheha dari Surabaya menuju Semarang yang sarat penumpang, Panji duduk paling belakang dekat pintu, hujan mulai turun dan Panji kedinginan perutnya terasa sakit  dan tak ada jaket yang melindunginya untung pintu segera ditutup. Panji mendekab tas pemberian pak Rudi sambil menekan perutnya. Baru satu bulan Panji berada di rumah kini Panji sakit , Narto mencari angkot untuk membawa bapaknya  menuju Rumah Sakit Ketileng.

Panji langsung masuk UGD dan diperiksa dokter sementara Parkiyem ditemani Narto,  Palupi mempersiapkan sarana jualan ibunya dan belum berani membuka warungnya …tapi sudah memasak air dan membuat teh yang pekat biar mudah mengolah minuman tersebut. Gilang bersedih dan mengambil buku gambar, untuk menggambar bapaknya, air matanya mengalir mengingat cerita bapaknya yang dihajar di pelabuhan Tanjung Perak.

Gilang         : ” Pak…maafkan Gilang  ya….bapak tidak salah…Gilang hanya jengkel sama bandit-bandit itu…”  Gilang sesenggukan..Palupi yang melihat Gilang nangis langsung memeluknya

Palupi         : ” Gilang…bapak akan baik-baik saja…bapak cuma kelelahan karena kurang tidur…..”

Gilang         : ” Iya kak….tapi Gilang yang maksa bapak……” tangis Gilang menjadi…karena merasa bersalah

Palupi         : ” Bukan kamu  saja yang  sedih…Kak Narto  sedih juga…kak Palupi dan ibu juga sedih karena bapak pingsan dan keringatnya dingin…makanya langsung dibawa ke Rumah Sakit takut ada apa-apa…”

” Gilang…diam  ya..jangan nangis…Gilang mandi saja…nanti kalau bapak pulang biar lihat Gilang dah rapi dan cakep tentu bapak senang….ya….?”. Lanjut Palupi .Gilang menuruti perkataan Palupi kakaknya dan segera mandi.

Di rumah sakit Parkiyem amat cemas, kedua tangannya menggenggam dan ditaruh di  atas dada sampai ke  dagu serta  kepalanya menekan sambil duduk.

Parkiyem   : ” Pak..pak… kamu tu kenapa…?” tangis Parkiyem. Narto mengintip di jendela kaca yang cukup tinggi  karena ingin memperhatikan bapaknya.

Narto          : ” Buk..ibuk…bapak sudah bergerak-gerak …” Narto memanggil ibunya kegirangan dan menarik tangannya  Parkiyem  mengikuti Narto ,  tapi perawat memanggil keluarga Panji  serta membukakan pintu agar masuk ruangan, Parkiyem dan Narto senang segera masuk ruangan. Narto ditahan diluar karena hanya orang dewasa yang boleh masuk.

Dokter       : ” Buk ini bapak biar istirahat disini kira-kira 30 menit sambil ibu membeli obat di apotek sini , kalau kondisi bapak membaik boleh pulang ya..”

Parkiyem  : ” Inggih…inggih  dokter…suami saya sakit apa  dokter…?”

Dokter       : Pak Panji mengalami kejang dan amat tertekan emosionalnya, tensinya tinggi dan butuh istirahat paling tidak tiga hari jangan aktivitas dulu kalau belum benar-benar sehat”.

Parkiyem  : ” Pak saya ingin lihat suami saya sebentar saja….baru beli obat”,  dokter memperbolehkan dan hanya melihat lewat gorden tak boleh masuk.

Narto         : ” Buk…bagaimana keadaan bapak…..”

Parkiyem  : ” Bapak sudah agak membaik tadi ibuk pamit mau beli obat dulu dan bapak bilang hati-hati …”. Narto lega dan mengantarnya menuju apotek Rumah Sakit Ketileng.

Dokter menjelaskan pemakaian obat yang harus diminum secara terus menerus dan beberapa vitamin agar tubuh Panji tetap enerjik dalam bekerja dan tak mudah loyo.

Parkiyem  menyewa angkot untuk membawa suaminya pulang, sampai rumah Gilang memeluk bapaknya.

Gilang      : ” Bapak….maafin Gilang ya….Gilang salah….” Panji memeluk Gilang yang berbau harum dan menciumnya sekali lagi, Gilang senang dicium beberapa kali oleh bapaknya, : ” Gilang harum ya pak….?”

Panji         : ” Antarkan bapak ke kamar…yok…?”. Gilang senang memegang tangan Panji menuju kamar.

Gilang       : ” Nanti Gilang temenin bapak kalau tidur dan gantian Gilang yang mendongeng untuk bapak…?! ”

Parkiyem  : ” Gilang…..sudah…ya nak…bapak biar istirahat…bapak harus banyak tidur….ya ?!”

Gilang       : ” Iya buk…..”.

Gilang mencium bapaknya dan mendengarkan Panji berbicara lirih ditelinga Gilang, : ” Nanti bapak di dongengin ya…?” Olala…Gilang senang sekali mendengarnya, lalu meninggalkan bapaknya dan membatu Palupi mempersiapkan jualan di warung.

Parkiyem sudah mulai membuat nasi goreng pelanggan yang makan di warung, Palupi ikut membantu Parkiyem mempersiapkan jeroan dan menggoreng telur. Gilang mengambil kerupuk yang tadi dibungkusnya dan ditaruh di meja makan tempat pelanggan makan. Sambil mengambil piring yang kotor biar dicuci kakaknya Narto, Gilang istirahat dan belajar sambil menjaga bapaknya yang tidur, sesekali Gilang mencium bapaknya karena merasa sayang dan kasihan karena lama tak bertemu dan hampir melupakan bapaknya.

Narto pulang dan Gilang kembali ke warung ,  Narto  membawakan nasi rames yang beli di warung pasar Parang Kusumo , lalu dimakannya bersama bersama bapaknya .

Panji        : ” Jadi seperti ini setiap harinya ketika  bapak belum pulang ya…?”

Narto       : ” Inggih pak , kita gantian belajarnya sambi membantu ibuk di warung ” .

Panji        : ” Terus ibukmu kapan shollatnya…?”

Narto       : ” Setelah Narto selesai menata jadwal sekolah”. Panji menatap anak sulungnya serta memeluknya dan mengucapkan : “Terima kasih masih mengingat bapak yang lama hilang “, katanya lalu Narto tersenyum ,” Bapakku kami setiap malam berdoa untuk bakak agar selalu selamat dan segera pulang “.

Narto belajar sebentar setelah melakukan shollat maghrib lalu bergantian dengan Parkiyem yang melakukan shollat berjamaah dengan suaminya lalu mengambil nasi rames yang dibelikan Narto dan memberikan obat untuk suaminya.

Parkiyem   : ” Semoga lekas sembuh ya pak…” Parkiyem mencium kening suaminya

Panji           : ” Trima kasih ya bune…semoga bapak lekas sembuh…Aamiin…”

Parkiyem kembali ke warung dan Palupi balik ke rumah melakukan shollat dan makan lalu belajar sebentar disusul Gilang yang mau shollat , makan dan istirahat menemani bapaknya.

Gilang        : ” Kak Palupi…, bapak katanya seperti Gilang….jadi Gilang ganteng dong…” Palupi tersenyum

Palupi        : ” Iya ganteng dong..adiknya kak Narto….he..he…” Gilang meringis terlihat giginya yang ompong lalu mereka tertawa bersama bapaknya. ” Anak-anakku kalian membuatku tertawa dan bahagia, istriku sungguh engkau amat bijaksana..terima kasih ya Alloh Engkau telah menitipkan anak-anak dan istri yang baik buat keluargaku…Aamiin” . Begitulah perkataan Panji dalam hatinya …begitu iklasnya menerima kenyataan hidup bersama Parkiyem istrinya.

Jam 23.30 warung sudah tutup karena daging jeroan sudah habis, Palupi pulang dan belajar. Narto membantu membersihkan warung dan menatanya lalu membawa pulang jumbo yang tadi berisi minuman jeruk dan teh sedang sisa airnya sudah dibungkus plastik dan dimasukkan ke dalam kulkas. Parkiyem menyisihkan hasil kerja 1 juta untuk tabungannya dan disusun rapi untuk keperluan rumah tangganya. Anak-anak mereka tak mengerti kalau ibunya menyimpan uang dirumah karena memang dikuncinya.

Gilang tidur dipelukan Panji yang badannya sudah tidak panas lagi, Palupi masih belajar bersama Narto, Parkiyem melihat anak-anak mereka dan memandang suaminya penuh iba.

” Ya Alloh Ya Karim…. terima kasih untuk semua yang telah Engkau berikan kepada kami dan hanya kepada Engkaulah kami meminta dan memohon perlindunganMu dan kepada Engkaulah kami menyembah, Parkiyem berdoa sebelum tidur . Palupi tidur disamping ibuknya dan Narto di kamarnya selesai belajar.

Jam empat pagi Parkiyem sudah bangun dan mempersiapkan sarapan keluarganya. Gilang jalan-jalan bersama Panji sebentar dan Narto sudah mandi, Palupi sarapan pagi dan berangkat lebih awal karena piket sekolah. Narto mengantar Palupi dahulu lalu Gilang , sampai sekolahan jam 06.45 Narto sudah siap di sekolahnya Mts Nurul Iman tepat waktu karena mendapat tugas memimpin  membacakan do’a sebelum belajar dan bersholawat agar selalu diberikan kesehatan dan rezeki yang berlimpah.

Panji ingin membantu istrinya memanaskan daging tapi Parkiyem melarangnya.

Parkiyem     : ” Pak…jangan…nanti nunggu tiga hari…biar sembuh benar….”.

Panji             : ” Kenapa harus nunggu tiga hari …wong badan sudah enak kok…”

Parkiyem     : ” Nurut to pak….apa sih susahnya istirahat…itu kan dokter yang ngerti kesehatan…jadi harus dipatuhi “.

Panji             : ” Ya…sudah…sudah….aku tak melihat saja…” . Parkiyem tersenyum melihat suamimya yang tiduran di kasur lagi sambil menonton tivi.

Telepon dari bu Sukoco mengabarkan kalau anaknya akan menikah yang di Semarang, dan akan menempati rumah yang ditempati Parkiyem dan keluarganya sehingga kepulangannya ditunda sambil menunggu warisannya di balik nama sampai hampir enam bulan. Parkiyem berencana membeli rumah kecil-kecilan dekat pasar Parang Kusumo kebetulan rumah itu dijual murah karena kelilit bank dan berdekatan dengan rumah bu Sukoco hanya beda RT tapi masih satu RW

Parkiyem melihat-lihat dahulu rumah yang kena lelang bank tersebut dan kelihatannya  merasa cocok karena ada tempat jualannya yang besar lagian nyambung dengan rumah induk juga tak perlu angkat junjung  serta mudah membersihkannya.

 

 

 

 

 


cerbung.net

Nasi Goreng Parkiyem

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2018 Native Language: Indonesia
Parkiyem menangis sudah tiga bulan suaminya tidak kembali ke rumah, boro-boro uang dikirim, anak-anak untuk makan saja sulit, sementara pinjam tetangga sudah gak dipercaya, menjadi buruhpun gajian mingguan, Parkiyem ke pasar untuk mencari kerjaan yang tiap hari bisa didapat untuk makan. Mulanya dia ragu kerja sebagai apa...? tapi apapun ia lakukan, angkat junjung barang, antar belanjaan, buruh cuci gosok ia lakukan apa saja asal dapat duwit. Dari mata melek pagi otaknya terus jalan, melihat anak-anak sekolah dari yang besar Narto kelas4, Palupi kelas 3, dan Gilang kelas 1 cuciannya sudah lumayan menggunung. sarapan mereka beli karena sudah tidak ada beras, mereka beli bubur sayur Rp 1.500,- kali 4 orang dan 1000 untuk kerupuk, untuk sarapan saja sehari 10.000, makan siang beli nasi 5000 sayur bayam 5000, Parkiyem tidak membeli minyak goreng paling kerupuk untuk gorengannya dan sambel tempe vitamin C nya, ada rezeki ya malam bisa makan seadanya. pokoknya sekali makan 10.000 tiga kali makan 30.000,  sangu sekolah masing-masing 2.000  dan ia harus menyisihkan tiap hari 5.000 untuk listrik dan air, makanya ia harus memasak sendiri dan agar lebih ngirit lagi.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset