Onee-chan will become a Hero, and Save the World! episode 1

Chapter 1

Aku, seorang gadis SMA biasa, tiba-tiba dipanggil sebagai calon pahlawan, bersama dengan adik perempuanku, dan adik laki-lakiku yang lebih muda empat tahun. Karena tidak terbiasa dengan dunia, dan disandera bersama, kami tidak punya lain selain mematuhi summoner kami.

Di dunia yang tidak dikenal yang mana menculik kami secara paksa, kami tidak diberi waktu untuk bersedih, yang ada hanya waktu untuk belajar. Pengetahuan umum kerajaan, moralitas, lingkungan hidup, cara berpikir, kebiasaan makan. Sementara semua ini terpatri ke dalam otak kami, masing-masing dari kami membangkitkan kemampuan yang luar biasa. Adik perempuanku mendapat kemampuan penghalang suci, adik laki-lakiku memperoleh kekuatan untuk memurnikan iblis – dan aku mempunyai kemampuan kecepatan yang melampaui batas manusia.

Adik perempuanku merasa malu, adik laki-lakiku merasa senang, sedangkan aku, merasa takut.

Jika kekuatan ini tidak berkembang, kita tidak perlu bertarung sebagai pahlawan. Untuk mempertaruhkan hidup kita untuk mengalahkan iblis. Bagaimana jika mereka terluka? Bagaimana jika mereka mati?

Suatu hari di hari yang suram, ketika aku sedang melatih penggunaan kemampuanku, aku mendengar percakapan antara Raja dan Paus, rencana untuk orang yang paling tepat untuk dikirim untuk mengalahkan raja iblis, dan untuk yang lainnya bersiaga sebagai pengganti untuk keadaan darurat.

Karena aku adalah Onee-chan, sudah jadi tugasku untuk melindungi adik-adikku.

Karena aku tidak peduli apa yang terjadi padaku, aku hanya peduli kepada mereka.

Dengan pemikiran seperti itu, aku benar-benar fokus pada latihan yang melelahkan, mengerahkan lebih banyak upaya daripada adik-adikku. Untuk membuatku menjadi pahlawan, dan mengalahkan Raja iblis. Aku bertarung sampai menge;uarkan batuk darah, mengayunkan pedangku sampai kulitku terkelupas – dengan kemampuanku yang tak terbantahkan, akhirnya aku terpilih sebagai pahlawan oleh Raja.

Tapi tentu saja, jika aku kalah, mereka akan menggunakan kedua adikku sebagai kandidat pahlawan.

Jadi aku tidak akan kalah.

“Kenapa harus kamu?” Tanya adik laki-lakiku, menatap dengan mata penuh dendam.

“Mengapa kamu melakukan ini? “Adik perempuanku bertanya, menangis dan bergumam bahwa dia ingin pulang ke rumah.

Kemampuan bertarung dan kekuatanku hanyalah rata-rata, jadi hanya dengan mengandalkan kecepatan, aku menantang Raja iblis yang tidak bisa dikalahkan oleh siapa pun. Tapi, tidak peduli betapa sulitnya itu, tidak peduli betapa menakutkannya, bagi seorang gadis SMA normal, jika aku gagal, mereka berdua akan berakhir menghadapi Raja iblis, dan dalam kasus terburuk, mereka akan terbunuh.

Sudah pasti mereka akan dimanfaatkan, karena kekuatan mereka terlalu cocok untuk melawan iblis.

Sambil menyembunyikan jari-jariku yang gemetaran, “Maaf,” aku meminta maaf dan tersenyum pada mereka.

Orang yang bisa melindungi mereka di dunia ini, hanyalah aku.

 

****

 

Sementara adik laki-laki dan perempuanku menundukkan kepala mereka kepada para bangsawan yang memperlakukan mereka dengan hangat dan akan merawat mereka, aku terus menghabisi para iblis dengan pedangku.

Sesegera mungkin, demi mengembalikan adik-adikku ke dunia asal kami, aku mengabaikan rasa sakit dan luka di badanku. Meski aku selalu tersiksa oleh rasa kesepian, kembali ke ibukota dan melihat adik-adikku untuk waktu yang singkat sudah cukup untuk memberiku keberanian. Noda darah, dan bekas luka di mana-mana; Melihat sosokku yang sangat rusak, sihir pemulihan saja tidak bisa memperbaikinya, adik laki-lakiku berhenti mengatakan kalau Ia ingin menjadi pahlawan. Sedangkan adik perempuanku hanya diam-diam menyerahkanku perban untuk menutupi lukaku.

Setelah dua tahun menjalani kehidupan seperti itu, aku akhirnya berhasil mengalahkan Raja Iblis.

Semuanya sudah berakhir. Ketika aku kembali ke ibukota, aku disambut dengan perayaan kemenangan, dan semua orang meneglu-elukan diriku. Penduduk di dunia ini, para bangsawan, Paus, dan pada akhirnya, bahkan Raja.

Sambil meminta maaf kepada mereka yang ingin mendengar bagaimana kekalahan raja iblis, aku menuju ke rumah bangsawan di mana adik-adikku tinggal. Aku berterima kasih kepada bangsawan yang terkejut dengan kunjungan mendadakku, dan dipandu ke sebuah kamar setelah aku meminta untuk melihat adik perempuanku.

Setelah sekian lama tidak melihat mereka, adik laki-lakiku telah tumbuh lebih tinggi, dan rambut adik perempuanku telah tumbuh panjang dan indah. Sambil menyembunyikan bagian tubuhku yang hilang, dan menyembunyikan bekas luka tragis di balik armorku, aku berdiri di depan adik laki-laki dan perempuanku, dan berbicara dengan suara yang sulit didengar karena tenggorokanku yang hancur.

“Semuanya sudah berakhir.”

Adik perempuanku memelukku sambil menangis, dia berulang kali mengatakan “Maafkan aku, maafkan aku”.

Adik laki-lakiku menunjukkan ekspresi sedih, dan berbalik tanpa berkata apa-apa.

Aku senang mereka berdua aman.

Aku mengatakan pada mereka dengan suaraku yang rusak, bahwa dengan ini, kita bisa kembali. Kita dapat kembali ke kehidupan damai kita, bebas dari pertarungan dan konflik.

Akan tetapi….

Bahkan beberapa saat setelah aku kembali, masalah untuk kembali ke dunia asal kami sama sekali tidak pernah diungkit.

Meski perayaan dan upacara kemenangan sudah berlalu, meski semuanya sudah berakhir, tidak ada pemberitahuan dari Raja maupun Paus.

Saat aku bergumam pada diriku sendiri, “Apa yang salah …”, Adik perempuanku membuat senyuman yang bermasalah, dan adik laki-lakiku memasang ekspresi serius, seolah-olah sedang berpikir dalam-dalam.

Pada suatu hari yang bermasalah ini, Paus memanggilku ke pandai besi dan meminta kerjasamaku dalam menciptakan pedang suci.

“Aku ingin menciptakan pedang suci supaya negara ini tetap aman bahkan setelah pahlawan tidak ada.”

Melihat Paus meminta hal itu dengan senyumannya, akhirnya aku mencapai batas kesabaranku yang sudah menumpuk beberapa tahun.

“Aku tidak peduli dengan urusan negara atau semacamnya. Sekarang Raja iblis sudah dikalahkan dan dunia akan aman selama ratusan tahun. Jika itu cuma iblis biasa, para ksatria bisa mengurus mereka dengan mudah. Aku hanya ingin adik-adikku kembali ke dunia asal kami secepat mungkin. ”

Dengan ekspresi serius, Paus menunjuk ke arah tungku sembur.
Ketika aku melihatnya, sesuatu seperti besi cair menggeliat di dalam.

Ia pun berbicara.

“Aura suci dan kekuatan besar para pahlawan, kedua hal itu harus diwariskan ke generasi mendatang. Garis keturunan pahlawan penuh energi. Namun, tidak semua keturunan mereka dijamin akan mewarisi bakat mereka, jadi jika mereka dibiarkan hidup tanpa pandang bulu, kamu mungkin akan mendapatkan keturunan yang tidak berguna tapi memiliki otoritas politik. Sebaliknya, itu cukup untuk membiarkan satu atau dua dari mereka hidup. Selain itu, dari awal sudah mustahil mengembalikan pahlawan ke dunia asalnya, jadi akan merepotkan jika kamu tetap hidup.”

Dan kemudian, mereka akan menaruh jiwaku di pedang suci.

Jadi seorang ‘pahlawan’ tidak bisa kembali ke dunia asalnya?

Lalu, aku bertanya-tanya apakah mereka bisa kembali.

Tidak, pertama-tama, meninggalkan keturunan di dunia ini?

Berapa banyak orang yang bersedia kembali jika mereka memiliki keturunan?

Tidak, tidak masalah jika mereka tidak bisa kembali sejak awal.

Dasar pembohong, dasar licik, pikiranku terus berputar-putar tanpa kesimpulan . Bahkan dalam keadaan bingung, aku bisa memahami satu hal. Orang-orang ini, tidak berniat mengembalikan adik-adikku ke dunia asal kami.

Saat aku mencoba menyerang Paus karena amarah, sihir pelindung berwarna perak yang pernah kulihat di suatu tempat sebelumnya menghalangi saya.

… ..Ah, itu benar.

Sudah lama aku tidak melihat warna ini.

Kekuatan suci emas adik laki-lakiku, dan penghalang perak adik perempuanku—

Paus tertawa saat aku menjadi kaku karena terkejut. “Adik perempuanmu sudah setuju.”

Seorang prajurit membuka pintu.

Adik perempuanku perlahan-lahan masuk, wajahnya yang cantik pucat, berdiri di samping Paus.

Matanya gelap, dan dia menunjukkan senyuman bermasalah. “Aku ingin hidup. Maaf, Onee-chan. ”

Dia bukanlah seseorang yang akan menunjukkan wajah seperti itu.

Apa yang kau lakukan pada gadis ini saatku melawan para iblis 一 itulah apa yang ingin aku tanyakan, tapi pita suaraku yang rudak hanya nisa mengeluarkan erangan.

Penghalang adik perempuanku menahan tubuh saya yang terpana di dekat tungku.

Bukannya aku tidak cukup kuat untuk membebaskan diri, tapi jika aku melawan, efek samping dari sihir ini akan menimpa adik peremppuanku. Jika aku menghancurkan penghalang ini, adik perempuanku akan terluka parah ー dalam kebimbangan, tanpa aku sadari, aku terjatuh.

Adikku mengucapkan “selamat tinggal” dengan senyuman yang seakan-akan menangis, perutku ditusuk dengan tombak— itulah ingatan terakhirku sebagai manusia.

Dari sanalah, kesadaranku mulai kabur.

Aku… ingin pulang, aku tidak ingin bertarung.

Dipanggil dengan paksa, dikhianati oleh adik perempuanku, aku tidak merasakan dendam; Yang ada justru, aku hanya merasa sedih.

Meski mendapatkan kemampuan khusus dan disebut pahlawan, aku masih seorang gadis yang pengecut, jadi meski dikhianati oleh orang yang aku coba lindungi, aku tidak memiliki keberanian atau kemauan untuk membenci mereka.

Walau aku memiliki rasa permusuhan terhadap paus, perasaan tersebut juga ditimpa oleh kesedihan yang mendalam.

Berbagai emosi bercampur aduk di dalam diriku, tapi sedikit demi sedikit, semuanya memadat menjadi kesedihan. Namun, meski semua emosi ini menjadi satu, orang lain, orang lain, orang lain, orang lain ditambahkan bersama dengan tubuhku di antara besi cair. Aku tidak tahu berapa banyak pengorbanan yang dipersembahkan, tapi orang-orang yang tidak bersalah ini mungkin diperdaya dengan cara yang sama sepertiku.

Aliran emosi yang memilukan tanpa akhir; teriakan kebencian, ratapan, menimpa “diriku” dan kesedihanku—

 

****

 

Pada akhirnya, pedang suci itu tidak selesai.

Dibentuk dengan pahlawan sebagai intinya, pedang kebencian.

Pedang dengan terlalu banyak kekuatan yang dipaksakan ke dalamnya, pedang yang keseimbangannya hancur karena pengorbanan yang berlebihan.

Pedang yang menyerap terlalu banyak dendam untuk menjadi pedang suci ー adik laki-lakiku yang pertama kali menggunakannya.

Adikku mengambil pedang terkutuk di tangannya, dan menyerang kastil raja. Meski sebagai calon pahlawan dan mengasah kemampuannya secara menyeluruh, dia masihlah seorang remaja yang tidak memiliki penguasaan ilmu pedang atau pertarungan fisik. Anak laki-laki biasa, yang takut bertempur setelah melihat bekas luka kakak perempuannya.

Namun, saat ingatan dan kemampuanku mengalir ke dirinya dari gagang pedang, adik laki-lakiku bergerak dengan cepat. Lebih cepat dan semakin cepat, lebih cepat dari siapa pun.

Sama seperti diriku, ketika aku masih hidup.

Adik laki-lakiku menebas adik perempuanku yang mencoba memasang penghalang untuk melindungi kastil, dan kemudian melanjutkan pertempuran melawan banyak prajurit yang mengelilinginya, sampai tubuhnya hancur karena kecepatan yang dipaksakan oleh pedang terkutuk. Dikelilingi oleh prajurit, ditusuk pada tombak mereka, Ia memeluk erat pedang terkutuk dan menolak untuk melepaskannya.

Sihir air mata emas jatuh ke atas pedang yang dipegang di pelukannya.

Dia berhenti bernapas setelah mengeluarkan beberapa suara serak terakhirnya.

“Maaf, Onee-chan.”

Air mata kesedihan adik laki-lakiku, sihir emas pemurnian mengalir dengan hidupnya, darahnya mewarnai pedang putih menjadi merah, hal tersebut membangkitkan “diriku” yang telah kehilangan kesadaran diri setelah terkubur dalam karma orang lain.

Jadi—hal pertama yang aku pahami setelah tersadar ialah adik laki-laki dan perempuanku yang tercinta saling membunuh, dan mereka berdua sudah mati.

Dalam kesadaran samarku yang baru saja terbangun, di dalam pedang terkutuk ini, dendam baru terhadap dunia pun lahir.

 

****

 

Setelah sekian lama adik laki-lakiku meninggal, orang berikutnya yang menggenggamku adalah seorang pemuda. Pemuda terpilih, pahlawan kerajaan. Meski kemampuannya kurang, sama seperti diriku yang dulu, Ia dengan gigih melawan iblis.

Oleh karena itu, Ia dimanfaatkan.

Ia dimanipulasi demi kenyamanan orang lain dan gagal menyadari jebakan yang ada di sekelilingnya, sampai akhirnya Ia dituduh melakukan pengkhianatan. Ia dikejar-kejar oleh mereka yang seharusnya Ia lindungi, dipaksa untuk membunuh orang lain demi bertahan hidup, danum perbuatan tersebut hanya meningkatkan ketenarannya sebagai pembunuh. Namun, pemuda tersebut tetap percaya, lari dari timur ke barat, bersikeras tidak bersalah kepada rekan-rekannya.

Ia pemuda yang kuat.

Meski Ia lebih lemah dari diriku di masa lalu, kekuatan dari keyakinannya tidak dapat disangkal kalau Ia adalah seorang pahlawan. Setelah dirinya, aku dimiliki oleh banyak orang, tapi cuma pemuda itu satu-satunya yang memegangku untuk waktu yang lama dan tidak teracuni dalam pikiran atau tubuh.

Penyebab kematiannya adalah karena diarcuni orang tuanya. Dia memegang pedang sembari menderita racun, menebas orang tuanya saat mereka mengutuknya, dan mati.

Dendamnya, pada pedang terkutuk, diwarnai agak tipis.

—Dari sanalah, dari satu tangan ke tangan lain, aku dibawa dalam proses pengkhianatan dan balas dendam, saat mereka mati sambil melontarkan kata-kata penuh dendam.

Sedikit demi sedikit, dendam mereka perlahan menghitamkanku.

Aku adalah lambang dendamku, lambang dendam semua orang yang pernah memilikiku dan tidak lagi bernapas; ke “Kerajaan para pahlawan”.

Saat aku meninggal dalam kesedihan, aku tak punya keinginan untuk melakukan sesuatu seperti mengutuk seseorang atau menjadi pedang terkutuk yang ternodai dendam. Sebaliknya, aku hanya ingin menahan kesedihan karena pengkhianatan, dan kesedihan karena mereka tidak dapat kembali. Tapi, air mata adik laki-lakiku yang menyelamatkan “aku” terlalu lemah untuk memutuskan rantai dendam yang bersemayam di dalam pedang terkutuk ini.

Keluarga kerajaan yang takuta dengan kutukan pedang ini, menyegelku di dalam gereja. Namun, kekuatan kutukan yang terlalu besar meluap dari dalam gereja, lalu melanda “Kerajaan para pahlawan”…..

Dan kemudian, menghancurkannya.

****

 

Tanpa disadari, kekuatan kebencian perlahan-lahan menumpuk, dan akhirnya aku mampu membuat tubuh spiritual yang meniru manusia. Meski tubuh spritiual memiliki bentukku yang dulu, sebelum tubuhku rusak sampai tidak bisa dikenali, tapi semuanya diwarnai hitam.

Beberapa tahun pun berlalu, bahkan sedikit dari bagian diriku yang diselamatkan adik laki-lakiku itu mulai ternoda hitam. Terlepas dari niatku, keberadaan pedang terkutuk akan menyebarkan kutukannya tanpa pandang bulu. Tapi, selama aku disegel, selama tidak ada yang memegangku, pedang terkutuk ini seharusnya tidak menjadi ancaman bagi apapun selain “Kerajaan para pahlawan”.

Selama aku disegel, itu seharusnya sudah cukup.

“Jika kamu memegangku, kamu akan ditelan dalam kegelapan. Jadi buang aku, atau hancurkan. ”

Aku terus berbisik.

Setelah aku memperoleh kemampuan untuk berbicara dengan pemegangku, aku menyarankan ini, lagi dan lagi. Tapi, tidak peduli seberapa keras aku mencoba, tidak ada yang mau mendengarkan.

Karena, aku adalah pedang terkutuk. Pedang yang mampu memberi kekuatan besar, dan menyeret mereka ke dalam kegelapan. Tak ada satu pun yang peduli dengan peringatanku.

Jadi, aku terus diwariskan.

Meski tidak ada yang mendengarkan, lagi-lagi, hari ini, aku berbisik di telinga korban baru.

Meski aku tahu ini sia-sia, aku hanya bisa melakukan ini.

Karena aku hanya dapat mengingat “diriku” dengan melakukan itu.

Karena sudah tidak ada banyak lagi waktu yang tersisa.

 

****

 

Pedang terkutuk yang gagal menjadi pedang suci; bepergian di antara tangan para pahlawan bodoh yang mencarinya, meski mereka tahu bahwa mereka tidak sanggup menahan kutukan pedang tersebut. Kutukan dari pedang tersebut terus menyebar, dan berkeliling dunia di sisi korbannya.

Pedang terkutuk itu semakin lama semakin kuat.

Benda it terus menyebarkan kutukan, menuntun mereka yang memegangnya menuju jalan kehancuran, sambil memimpikan bahwa suatu hari nanti, seseorang akan menghancurkannya.

Sampai jiwa gadis yang terjebak dalam pedang itu, mengutuk seluruh dunia.

 

xX TAMAT Xx


cerbung.net

Onee-chan will become a Hero, and Save the World!

Onee-chan ga Yuusha ni natte, Sekai wo Sukutte Ageru!
Score 8
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2016 Native Language: Japanese
Aku menjadi pahlawan di dunia dimana aku terpaksa dipanggil. Mengalahkan pasukan iblis meski sedang terluka parah, membawa perdamaian dunia, dan apa yang kuinginkan— hanyalah harapan kecil untuk kembali ke dunia asal kami, namun, aku………

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset