PARMIN episode 13

Sehari bersama pak Hambali

Parmin menelepon adiknya Reni,  memberikan pesan agar bapak jangan sering lembur ,  harus dikontrol kesehatannya, dan dijawab Reni:” Bapak itu cuma ngawasi kak, yang kerja Tarjo , Andi, dan  Jupri sudah mulai ikut membantu di otomotif, oh ya kak bapak keren lo bawa mobil kakak setir sendiri , ibu jadi cemburu….?! ” Parmin geli cerita adiknya…” Ya gak apalah…cemburunya ibu karena pingin ikut lembur…nemenin bapak gitu”

” Ih iya kak…ibu ikut beneran, ketika ditawari bapak ikut”

” He.leeehhh, beneran to..? jadi tadi kakak telpon sebenarnya ibu ada di bengkel..?!”

” Ha…ha…kakak gak tahu kan..? ibu itu selalu ikut bapak mbikin minuman, beli sate atau apalah keperluan bapak selalu di awasin..biar kak Parmin enggak marah, sebentar lagi mereka pulang kak, jadi kakak gak usah kawatir sama bapak dan ibu…mereka saling melindungi..oke kak..?”

“Baiklah kalau memang demikian, jaga yang baik orang tua kita ya Ren..?!” begitu akhir pembicaraan Parmin dan Reni .

Pak Sony sudah selesai mandi dan dia memakai pakaian tak kalah macing dengan Parmin ” Bagaimana baju kota-kotak saya…keren kan..? Parmin tersenyum karena warnanya kurang sepadan dengan celana panjangnya atau bajunya gak dimasukkan kali..?

telpon ruangan berdering dan Parmin mengangkatnya, ” Parmin ayuk makan malam di restoran” itu suara pak Hambali. ” Ayuk pak Sony kita ke restoran diajak bareng  boss,” pak Sony langsung keluar kamar dan diikuti Parmin sambil mencabut kartu dan menutupnya. Di restoran pak Hambali mengenalkan istrinya Mastuti dan dua anak laki-lakinya  Dito dan Akbar. Mereka memesan makanan dan segera dihidangkan. Kita besok pagi jam 05.00 sudah harus di Monas sampai Clear terus kita istirahat, dilanjut ke Bandara sekalian antar kamu dan urus izin pengambilan foto, Parmin mengajukan permintaan ke Pak Hambali : ” Maaf pak jika saya ke Masjid Istiqlal untuk shollat Jum’at apakah diperbolehkan..?”

” Boleh..sekalian istirahat di Istiqlal saya juga akan shollat Jum’at  bersama anak-anak , maaf pak Sony bisa lihat-lihat Masjid atau sama pak Mamat  juga tidak apa-apa ibu bawa mukena kok ” Parmin senang sekali keinginannya untuk shollat Jum’at tercapai. Karena sudah malam mereka menutup dinner , Ibu Hambali sudah capek ingin istirahat..pak Hambali sedang ke kasir dengan anak-anaknya, mereka segera menuju kamar. Parmin dan pak Sony belum bisa tidur tapi sudah jam 22.00 Parmin mau telpon bapaknya gak tega mereka mungkin sedang tidur, waaahhh ..menghubungi Miciko sudah jam 24. 00 gak elok juga, akhirnya mereka pesen nasi goreng sea food dan nasi goreng ikan asin minumnya juice melon. Malam itu serasa panjang Dito dan Akbar masih main game..dia mendengar kamar sebelah sedang pesen makanan sepontan perut Dito dan Akbar kukuruyuk. Dito menuju kamar Parmin bersamaan room service keluar.

” Dito akbar kalian mau makan ? kak Parmin pesenin ya..?”

” Iya boleh kak menunya sama ya… Dito makan sini sekalian ah…sama Akbar..” Dito menginginkan di kamar Parmin, pak Sony tertawa….” Bapak sudah tidur ya Dit..?

” Iya Om…ngorok lagi…”

” Pintu kamar sudah ditutup belum, ntar ada yang masuk gimana..?” tambah pak Sony

” Sudah om ni kuncinya Akbar  yang bawa ”

” Kak Parmin , main games yoo…” Dito menantang Parmin, sambil nunggu dua pesanan mereka

” Ayo..?! siapa takuuut… mainan apa ini…?  wow Mobile Legends ”

” Wah …baunya nasi goreng pingiin makan….nih kak..”

” Sebentar lagi datang….sabar…nah…itu ada bell pasti dari restoran” dan ternyata benar.

Mereka makan, dan pesen potatoes  sama bakso ikan dan shushi plus susu coklat.

” Kita pesta kedua nih ” seru Parmin

” Iya kak, Nasi gorengnya enak ya…” Akbar menghabiskannya

” Itu bakso kamu sudah nunggu di santap, keburu dingin” Pak Sony mengingatkan baksonya

” Tenang om… masih muaaat…”

Bu Hambali mau ke kamar kecil, tapi tak melihat dua anaknya, dan  segera membangunkan suaminya.

Tapi ternyata pak Hambali memperhatikan anaknya keluar masuk di kamar Parmin dan makan disana, sewaktu bu Mastuti membangunkannya, pak Hambali tenang saja dan mengatakan mereka ada disebelah sedang makan .

“Mama juga lapar nih pah…kita pesen nasi goreng kayak disebelah pah, minumnya chocolato panas ya ..mama yang diingin, Pak Hambali akhirnya memesan  makanan juga, ia telpon ruangan Parmin, tapi yang angkat malah Dito.

” Kok Dito gak kembali ke kamar, papa mau pesan makanan..minta dipesenin gak..?”

” Dito sudah kenyang pah, sekarang masih main games nih..”

” Dito…kak Parmin besok kerjacukup lama dan belum istirahat…ayo segera kembali..kak Parmin biar istirahat, om Sony sedang apa..?”

” Om Sony tidur pah…”

” Tu, om Sony capek..seharian kerja, kak Parmin malah belum tidur, ayo segera pulang…nanti jam 05.00 sudah cek out looo…”

” Ya pah..Dito sama Akbar pulang sekarang” Dito dan Akbar pamit sama Parmin, dan membukakan pintu sambil mengucapkan selamat istirahat. Olala….ngantuk banget nih mata, ..Parmin menyetel alaram dan segra menjatuhkan diri di kasur.

04.30 Parmin mandi langsung shollat subuh, Parmin segera membangunkan pak Sony, lalu menelepon kamar pak Hambali, Parmin sudah rapi mengenakan pakaian Olah Raga dan tas punggung tak pernah ketinggalan. Silvia sudah menunggu di loby bersama crew, Parmin turun dulu nunggu di bawah, disusul pak Sony, baru keluarga Hambali. Silvia bersama crew driver pak Mamat, Pak Sony dan Parmin bersama keluarga pak Hambali. Mereka menuju ke Monas langsung action. Gaya Parmin tak diragukan lagi, ketika crew membawa motor terbaru produksi Honda Parmin  mencoba bersama pak Hambali  , tepuk tangan menghadiahi mereka , rupanya Dito ingin menguji kemampuan aksinya dengan memeluk Parmin ia menggonceng dibelakang sedangkan Akbar minta duduk di depan. Parmin sepintas kangen sama Miciko dan meminta difotokan dengan anak-anak pak Hambali . Banyak  sample diambil baik dengan cew maupun pak Sony dan keluarga Pak Hambali.

Rombongan menuju Masjid Istiqlal.. disana Parmin mandi dulu lanjut memakai setelan koko untuk mengikuti shollat Jum’at. Crew istirahat di mobil, Silvia ikut persiapan shollat bersama ibu Hambali.

Selesai shollat Jum’at mereka mengambil foto Parmin bersalaman dengan pak Hambali, Silvia meminta foto bersama Parmin. Mereka segera menuju bandara Soekarno Hatta , Pak Hambali telpone sahabatnya yang ada di bandara, dan katanya izin diperbolehkan tapi cuma satu jam setelah jam makan siang ini hari. ” Agak cepat sedikit pak Sony, kita sudah ditunggu di Bandara.

Parmin dan pak Sony sekalian check inn, jam 16.15 pesawat dah berangkat, pemotretan segera di lakukan sementara sahabat pak Hambali masih memperhatikan modelnya, sepertinya mengenal Parmin ..” Aahhh…dia itu yang ada di Haneda Airport….kok pakai baju koko…? ..tadi hanya sample foto saja…bener-bener cakep..itu orang..”  Pak Hambali segera minta pamit sudah mengganggu kerja sahabatnya, dan rencana foto yang akan datang mungkin memerlukan waktu yang cukup lama dan surat izin masuk bandara untuk kepentingan perusahaan segera akan dikirimkan. Pak Hambali minta pamit pada Parmin dan pak Sony karena sebentar lagi pesawat segera berangkat ke Semarang. ” Salam buat Dito dan Akbar pak” kata Parmin ” Iya akan saya sampaikan, terima kasih…selamat jalan …sukses selalu..” sahut pak Hambali sambil meninggalkan Parmin dan pak Sony.

Pesawat sudah take off, menuju Semarang, Pak Rahmat sudah menunggu di Ahmad Yani bersama keluarga, Akhirnya nyampai juga di Semarang, Pak Sony sudah di jemput pak Heru mereka bersalaman sekalian pamit. Hujan turun ketika mobil meninggalkan Bandara. ” Bagaimana kalau kita makan bakso Salatiga yang di Tamprin , kak Parmin lapar..bagaimana Ren..? Parmin menanyakan pada Reni

“Tapi ibu sudah nyiapin martabak bang Kohar kak..?”

” Iya nanti tetep kita ambil buat malam nanti ya nggak pak..?

” Ya.. ayolah, kita makan bakso dulu..entar perut kakamu masuk angin..” begitu sahut bapak

” Asiik…Kinan suka bakso…kita makan bakso dulu ya kak..?”

” Yubs… ” sahut Parmin

Mereka makan nikmat sekali, sambil bercerita keadaan bengkel, dan bakalan banyak kerjaan Parmin esok hari. ” Kita langsung ke Bang Kohar ya buk..?

” Iya … biar lekas istirahat kita.” jawab ibu

Sampai dirumah, Reni dan ibu langsung ke dapur mau membuat minuman hangat, Parmin segera mandi, ” Waaahhhh bapak benar-benar hebat sudah memasang Water Hiter, di kamar mandi jadi nggak kedinginan.” teriak Parmin, bapak mendengarnya dan langsung menjawab ” Demi keluarga, bapak lakukan semua ini, semoga kamu senang ”

” Tentu pak , Parmin super..super …bangga pada bapak”  Parmin keluar dari kamar mandi langsung menuju ayahnya, ” Terima kasih bapakku…aku tidak kedinginan lagi..”

” He..he..he..bapak juga amat berterima kasih padamu semuanya, nanti kita ngobrol banyak sama ibu dan adik-adikmu, sekarang berpakaianlah dahulu, kita tunggu sekarang nak..”

“Baik siap pak…” Parmin segera merapikan diri.

” Maaf pak lama ya menunggunya…?”

” Tidak nak…ini gini…pemilik rumah ini mau menjual rumahnya pada kita, surat-suratnya sudah lengkap, bapak senang-senang saja cuma harus nunggu Parmin.

” Kalau bapak suka Parmin akan ikuti keinginan bapak, dan ibu apakah menyetujuinya..?”

” Ibu amat setuju nak, cuma harganya mahal nak..”

” Berapa buk…, rumah ini sudah menjadi rumah keluarga semenjak Parmin masuk SMK-3 sampai sekarang”

” Mintanya Rp 200 juta, bapak sama ibu belum punya uang sebanyak itu…ibu cuma ada Rp 30 juta dari nona Miciko ditamba tabungan bapak Rp 50 juta ..”

” Sudah bu..kalau bapak ibu mencintai rumah ini, Parmin akan belikan, biar Parmin yang bayar semua, karena Parmin juga sayang sama rumah ini. Dan rumah ini biar diberikan nama untuk Ibu , bagaimana pak , buk…?” bapak dan ibuk memeluk anak laki-lakinya,

” Terima kasih anak ibu…. ibu bangga padamu memiliki anak seperti kamu….” Luluh hati Parmin..dan memeluk ibunya

” Ini semua karena kesabaran ibu dan bapak, mendidik kami semua dengan susah payah, dan sudah sepantasnya Parmin memberikan semua ini untuk bapak ibuk.”

“Reni, Kinanti adik-adik kak Parmin apakah kalian senang tinggal dirumah ini..?”  tanya Parmin

” Tentu kak, Reni senang dimanapun asal ada bapak dan ibuk serta kak Parmin ” begitu jawab Reni

” Kinan juga mau tinggal disini karena sudah baik sama tetangga kak..orangnya baik-baik..”

“Baiklah pak , buk , secepatnya kita akan transaksi pembelian rumah ini atas nama ibuk, sekarang kita shollat dulu yok pak…berjamaah ” Semua shollat, bersujud berterima kasih pada Allah atas semua Rachmat dan Hidayahnya dan kita selalu diberi kesehatan .

cerbung.net

PARMIN

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2018 Native Language: Indonesia
Tambal Ban pak Rahmat begitu kecil dan kurang terawat, tapi sejak anaknya yang bernama Parmin lulus STM 3 Semarang membantu usaha bapaknya, lingkungan jadi bersih dan rapi, tambal ban sepeda motor itu jadi ramai karena keramahan Parmin dan ketelatenan menghadapi pelanggan, dan Parmin menambah buka cuci sepeda motor . Baik yang mau cuci sepeda motor maupun tambal ban dilakukan berdua dengan semangat dan penuh kesabaran otomatis pendapatan mulai meningkat, sehingga atas persetujuan bapaknya Parmin menambah tenaga cuci sepeda motorParmin sangat piawai mengatur keuangan karena dia harus mengurusi kedua adik perempuannya untuk sekolah dan dia juga ingin melanjutkan kuliah nantinya, adik perempuannya masih masuk SMP klas satu  dan kelas 3 SD Cita-cita Parmin ingin sekali bengkel itu besar dia sering membaca buku-buku tentang perbaikan sepeda motor dan mobil sambil menghafal cara kerja onderdil-onderdilnya dan memperhatikan sepeda motor yang dicucinya dan selalu menstater motor  dan meng cek semua hasil pekerjaannya, hal ini membuat pelanggan puas atas hasil kerjanya, kadang Parmin mendapat tip dan ia kumpulkan untuk keperluan cuci dan tambal Rahmat miliknya. Karena dari membaca dan kebutuhan pelanggan dia menambah pengadaan olie seperlunya , sehingga tambal Ban dan cuci motor tersebut berubah nama jadi Bengel RahmatSuatu hari Parmin mendapat seorang pelanggan cuci yg menawarkan motornya untuk dijual, karena kebutuhannya untuk anaknya masuk SMA ." Saksikan perjalanan Parmin untuk mengubah hidupnya".

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset