PARMIN episode 17

Kedatangan Miciko

Reni baru pulang sekolah  dan mencari ibunya , ” Ibu ..jangan ditinggal-tinggal dong logistiknya nanti kalau ada telpon dari kakak gimana..?” Ibu yang masih bersama pak Rahmat segera keluar dari kamar makan ” Ibu cuma menemani bapakmu sebentar kok nduk ..barusan juga kakakmu telpon mencari kamu, dan ibu jawab belum pulang.”

” Kak Parmin pesen apa bu…?”

” Nona Miciko besok pagi berangkat ke Semarang , dan rencana mau tidur dengan kamu di rumah kita.”

” AAhhhh…masak , mau tidur dengan Reni..? wwaaahhh suatu kehormatan ditemani tidur dengan nona Miciko…untung aku sudah selesai UTS   ya bu…?”

” Iya.. makanya ibu nemenin bapak di ruang makan supaya membelikan dipan satu lagi untuk nona Miciko, karena  dipan kamu kecil-kecil sedangkan ruangannya masih longgar .”

” OO ..gitu bu..maafkan Reni ya bu..habis Reni kesal….sama Rano buk…!! kakak kelas Reni…nanyain kerjaaaaannn….terus…dia butuh kerjaan setelah lulus karena gak ada biaya untuk nglanjutin kuliah”

” Ya dijawab yang enak saja to nduuk….nunggu kakakmu gitu saja….”

” Waallaaahhh …malah pingin ketemu kak Parmin, kak Parmin saja sulit ketemunya…”

” Ya sudah…..yang sabar saja ya nduuukk…?”

Parmin pulang dari kantor langsung ke direksi ngobrol dengan bapaknya, dan pak Rahmat mengajak membeli mebel untuk nona Miciko

” Ya pak..tapi Parmin makan dulu ya….lapar nih belum makan….?”

” Astaghfirullaaah..kenapa kamu nggak langsung  makan Nak.?..Bu…Bu…Parmin tolong diambilkan makan  dulu.”

” Iya pak… tu..kakakmu dateng sampai nggak denger….” kata ibu pada Reni. Mereka berdua langsung menuju ruang makan karena Reni juga belum makan, Reni melihat-lihat orang yang sedang nganggur., karena semua masih sibuk akhirnya Reni memanggil Kabul “Mas Kabul tolong jagain telpon sambil kerja kalau dengar ya.. Reni makan dulu”.

” Ya siap sambil saya jagain telponnya mbak Reni” jawab Kabul.  Ibu nyiapin makan untuk Parmin dan Reni.  ” Piye pak …? sido po ora..?” tanya ibu kepada pak Rahmat.

” Nunggu anakmu makan sik , piye…melu..?” bapak menawari istrinya

” Jangan buuk, Reni ditemenin sik….jangan pergi-pergi..kalau mau pergi besok pagi saja pak…?!”

” WWeeeeeee…adik cantikku kelihatannya lagi galau niiiihhh..?!” goda Parmin sambil melihat Reni.

” Kakak..kenapa malah bilang gituuuu…. ” Reni merajuk

” Habis tu…muka kamu merah padam….he..he….” lagi-lagi Parmin menggoda

” Nanti  malam saja pak kita ke Java mall kan sedang ada promo macem-macem , sekalian adikku ikut memilihnya..bagaimana ?”Parmin meminta waktu pada bapaknya.

” Itu baguus..anakku , ibu pasti setuju benerkan Ren…?” Reni mengacungkan jempol dua . Habis maghrib pak Rahmat sekeluarga keluar mencari dipan untuk nona Miciko. Kinanti membayangkan kak Parmin pasti senang jika nona Miciko tidur dirumah, walaupun keadaan rumah tak semewah apa yang biasa nona Miciko hadapi tapi nona Miciko tulus orangnya sama kak Parmin…juga sabar …..kak Parmin sangat sayang pada nona Miciko bahkan kami sekeluarga menyayanginya, Reni memilih dipan modern bergaya Jepang dan  meminta meja kecil untuk sarana mengobrol dengan alas  duduk rendah khas Jepang.Mereka segera pulang karena sudah didapat apa yang dicari  dan mobil pengangkut barangpun sudah siap. Ketika sampai dirumah Parmin minta tolong tenaga pengangkut mebel itu sekalian menata dipan di kamar.

” Mas tolong dipan itu ditaruh di tengah sini dan dipan yang kecil-kecil ini disamping kanan dan kiri” begitu Reni menjelaskan dibantu Kinanti juga

” Kamarnya luas ya mbak ” tanya tukang mebel itu

” Iya pak ini kamar untuk tiga orang jadi yang tengah besar ukurannya, biar yang kecil bisa kumpul jadi satu di tengah kalau kedinginan..he..he…” canda Reni dan Kinanti, ” Oke pak kiranya sudah cukup, terima kasih bantuannya ya..?!”

” Kak sudah selesai bisa dilihat deh…” Parmin segera masuk kamar Reni dan tersenyum melihat tatanan kamar Reni sekarang.

” Waahhh..lumayan juga adikku menata kamarnya ” Parmin memuji Reni. Pengantar mebel tadi minta pamit dan Parmin memberi tip pada mereka. Reni belajar tapi fikirannya mengarah ke susunan meja belajar dan lemari pakaian dia memanggil bapaknya.

” Bapak….”

” Napa nduuk…?

” Reni minta tolong , lemarinya digeser ke kanan dikit…terus meja riasnya digeser dekat jendela” Bapak menuruti anak perempuannya.

” Masih ada lagi yang perlu dirapikan  ? ”

” Sudah pak, terima kasih pak ”

” Iya…selamat belajar anak-anak bapak ”

Kamar itu kembali sunyi, dan sangat hening karena Kinanti dan Reni sedang belajar. Ibu , bapak, dan Parmin sedang mengobrol  sambil minum teh, Parmin mendapat telpon dari pak Hambali menanyakan kedatangannya Mr Tanaka, telpon pak Tanaka sangat sibuk sehingga sulit dihubungi pak Hambali ” OH gitu ya pak, barusan telpon sama saya , oh ya maaf pak terus  pak Tamazagi nanti apakah harus izin dulu sama pak Sony ataukah nanti dapat surat tugas pak?” tanya Parmin

” Pak Tamazagi akan mendapat surat tugas seperti kamu beserta fasilitasnya untuk transportasi pak Tanaka yang mengurus kalian berdua.” dari tadi Tamazagi telpon tapi Parmin masih sibuk. Banyak pesan yang disampaikan pada Parmin bila nanti ketemu Mr Tanaka dan pak Hambali akan ke Semarang menemuinya.

Pak Sony dan keluarga akhirnya berangkat ke India  juga sebagai bonus Akhir tahunnya sekalian mengikuti perjalanan espedisi Seiko begitu kabar dari Tamazagi ketika telpon Parmin barusan , juga menanyakan Miciko jadi berangkat bareng pak Tanaka..?

” Iya brow..Miciko bareng berangkatnya besok jam10.00 atau jam 08.00 jam  Jakarta semoga diberikan kelancaran”

” Terima kasih brother kabarnya, rencana calon istriku akan kukenalkan Miciko dan keluarga mas Brow di Semarang, tolong sampaikan pada Miciko ya..?”

” Oke brow pasti akan aku sampaikan kalau keadaan Miciko sudah santai nanti. ” Begitu pembicaraan Tamazagi yang lagi borring karena sendirian dirumahnya di Bukit Sari, mami , papi , dan calon istrinya masih perjalanan pulang dari Boyolali.

Parmin melihat kamar adiknya, mereka sudah pada tidur, karena sudah jam 01.00 Parmin mengambil air wudhu untuk melakukan shollat hajat, setelah itu Parmin langsung istirahat.

Jam 08.00  Miciko menelepon Parmin kalau segera take off menuju Indonesia, Parmin senang sekali nanti sore akan ia jemput di Ahmad Yani ” Semoga lancar perjalananmu my love”

” Thanks sweet heart see you daggg…muach ” Miciko suaranya amat gembira tapi cuma sebentar dan hape sudah dimatikannya. Parmin tersenyum dan ia merubah PP di WAnya dengan foto asli pemberian Tamazagi ketika berada di Haneda Airport sedang memeluk Miciko diberi bingkai hati dan bertuliskan

I Miss You . Tamazagi ketawa…hua..ha..ha…lagi gila nih Parmin ia coment di foto profil Parmin, dan dibales Parmin”Bodhok! ni cewek kan calon bini gue hua..ha..ha…” pak Trisna pun ikut coment waaahhh…yang lagi kangen sudah tak tahan, dan dibalas Parmin  ” Mendem kangen ” .Pak Trisna mengshare foto mendem kangen di facebooknya… jadi ramai dan ger…geran… Parmin ikut nimbrung juga tapi pakai akun palsu kuda lumping “waahh pagi-pagi gini kok sudah terasa panasnya…gerah nih bos..?” notivikasinya bunyi terus sampai terpaksa Parmin matiin facebooknya. Parmin bersama bapak dan ibunya ke bengkel  melihat-lihat kerjaannya pak Santo yang lagi finishing mengecek kamar mandi atas, loker tempat tas-tas siswa dan lantai keramik yang masih kurang. Parmin meminta tenaga kerja ditambahin karena ia akan pergi  dan bangunan harus sudah selesai ketika Ia berangkat ke India. Pak Santo menyanggupinya  dan mengajak mengecek tangga dari lantai satu ke lantai dua  ada disamping dibatasi dengan stenlis sebagai pegangan dan setiap dua setengah meter berbelok agar aman

Parmin segera menuju ke kantor di Ungaran, banyak yang harus dikerjakan serta ada meetting nanti jam12.00. Sementara Reni sudah pulang dan mengecek buku harian kerja, UTS nya sudah selesai Reni bisa fokus kerja lagi ketika ia membuka internet banking  ada masukan 28juta dari pak Trisna dan besok Senin akan ada yang mengambil minibusnya, dan ada email dari Pak Yudi besok Senin akan ada kiriman barang dari Jakarta adapun barang-barangnya antara lain adalah …Reni segera mengecek laporan kebutuhan yang berada di meja kakaknya Parmin dan sudah di tanda tangani , Reni  mencocokkan kebutuhan tersebut apakah sudah ada semuanya dengan barang yang dikirim besok. Alhamdulillah sudah ada semuanya, berarti kakaknya sudah mengemailkan catatan tersebut, terima kasih kak, kamu baik sekali kalau aku masih uts dan kakak membantu mengirimkan pesanan.

Jam 16.00 Miciko sudah ada di Jakarta dan segera menelepon Parmin saat ini sedang menunggu keberangkatan dari Jakarta ke Semarang pukul 18.45 , kira-kira jam 21.00 sudah sampai Semarang. Parmin dan keluarga segera pulang dan mempersiapkan diri untuk  menjemput Nona Miciko. Setelah shollat Maghrib mereka berangkat ke Bandara Udara Ahmad Yani, begini resikonya kalau malam minggu masuk bandara, parkirannya jauh terpaksa bapak dan ibu yang menunggu di parkiran. Ketika terdengar pengumuman pesawat Garuda dari Jakarta segera mendarat bapak memajukan parkirannya menuju kedatangan. Miciko berlari keluar dan segera memeluk Parmin karena rindu yang mendalam. Banyak yang mengambil foto bahkan video pertemuan mereka. Miciko memesankan Taxi untuk dua mobil Mr Tanaka dan crew beserta barangnya menuju ke Citraland dan sudah dibokingkan Parmin seminggu yang lalu, Parmin menghubungi resepsionis untuk menanyakan kesiapan kamar sweet room ternyata untuk hari ini sudah di siapkankarena sebentar lagi check inn sekali lagi petugas meyatakan kesiapan nya. Miciko segera mengambil kopornya dan Parmin membawakan ke bekasi karena pak Rahmat sudah menunggu dan satu lagi oleh-oleh satu kopor. Parmin menunggu Mister Tanaka dan menyalaminya, pak Tanaka senang sekali berjumpa dengan Parmin dan diminta Parmin untuk mengantar ke Hotel Citraland


cerbung.net

PARMIN

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2018 Native Language: Indonesia
Tambal Ban pak Rahmat begitu kecil dan kurang terawat, tapi sejak anaknya yang bernama Parmin lulus STM 3 Semarang membantu usaha bapaknya, lingkungan jadi bersih dan rapi, tambal ban sepeda motor itu jadi ramai karena keramahan Parmin dan ketelatenan menghadapi pelanggan, dan Parmin menambah buka cuci sepeda motor . Baik yang mau cuci sepeda motor maupun tambal ban dilakukan berdua dengan semangat dan penuh kesabaran otomatis pendapatan mulai meningkat, sehingga atas persetujuan bapaknya Parmin menambah tenaga cuci sepeda motorParmin sangat piawai mengatur keuangan karena dia harus mengurusi kedua adik perempuannya untuk sekolah dan dia juga ingin melanjutkan kuliah nantinya, adik perempuannya masih masuk SMP klas satu  dan kelas 3 SD Cita-cita Parmin ingin sekali bengkel itu besar dia sering membaca buku-buku tentang perbaikan sepeda motor dan mobil sambil menghafal cara kerja onderdil-onderdilnya dan memperhatikan sepeda motor yang dicucinya dan selalu menstater motor  dan meng cek semua hasil pekerjaannya, hal ini membuat pelanggan puas atas hasil kerjanya, kadang Parmin mendapat tip dan ia kumpulkan untuk keperluan cuci dan tambal Rahmat miliknya. Karena dari membaca dan kebutuhan pelanggan dia menambah pengadaan olie seperlunya , sehingga tambal Ban dan cuci motor tersebut berubah nama jadi Bengel RahmatSuatu hari Parmin mendapat seorang pelanggan cuci yg menawarkan motornya untuk dijual, karena kebutuhannya untuk anaknya masuk SMA ." Saksikan perjalanan Parmin untuk mengubah hidupnya".

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset