Pelet Hitam Pembantu episode 10

Chapter 10

Pagi yang cerah. Melati sudah berdandan wangi. Aroma harum parfum menguar kuat dari badannya. Dengan perlahan didekatinya Andri yang masih sibuk dengan persiapan ujian akhirnya. Tampak setumpukan buku tebal tersusun rapi layaknya tumpukan uno.

“Aaaa….” ucap Melati manja di telinga Andri.

“Ya Sayang….”

“A Andri, hari ini Melati mau jalan-jalan ke taman. Bisa temenin nggak?” tanya Melati manja seraya menggelayut mesra pada Andri. Ia tahu bahwa tak mungkin Andri menolaknya. Jimat dari aki Buyut benar-benar ampuh mempengaruhi alam bawah sadar Andri dan keluarganya.

“Iya Sayang. Buat Melati, apa sih yang enggak?” ucap Andri seraya mencubit dagu Melati mesra. Sementara Melati hanya tersenyum kesenangan.

Sementara itu, dari ruang tengah terlihat Bi War senyum-senyum seraya memperhatikan anaknya yang terlihat mesra dengan Andri.

“Memang kalau jodoh nggak bakalan kemana ya Bu?” ucap Bi War pada Bu Medi, yang hanya bisa melihat dengan jengah. Berpikir keras bagaimana cara bisa mengakhiri semua ini.

Pengaruh Bi War sedikit banyak sudah mulai berkurang setelah ritual yang dilaksanakannya tempo hari. Apalagi sejak beberapa hari lalu, dia dan suaminya sama sekali tak memakan dan meminum apapun yang disajikan pembantunya itu. Sengaja dia menyiapkan sendiri segala keperluannya. Hanya saja disembunyikan agar tak kelihatan oleh Bi War dan Melati.

“Sssstttt…. Bu. Sini!” bisik pak dokter pada istrinya.

Tampak Bu Medi melangkahkan kaki mengikuti panggilan suaminya.

“Bagaimana dengan orang suruhan ibu? Sudah pada datang belum?” bisik pak Dokter pelan. Hampir seperti berbisik.

“Tunggu sebentar pak. Paling juga tak sampai setengah jam bakalan datang mereka.” jawab Bu Medi seraya berbisik juga.

“Ibu panggil berapa orang?”

“Enam pak.” ujar Bu Medi menimpali.

Tak lama kemudian, datanglah serombongan pria dengan baju kaos dan celana pendek dengan mobil pick up. Dan tampak masing-masing dari mereka menggenakan tutup kepala, baik caping, peci maupun topi.

“Assalamualaikum….” salam satu orang. Mungkin ketuanya.

“Waalaikumsalam… Masuk pak. Silakan!” ujar Bu Medi ramah mempersilakan para tamunya masuk.

Berbagai peralatan kebersihan diturunkan dari pick up. Tampak mereka gesit sekali menurunkan muatan dan menyusunnya di halaman. Tak lama kemudian, selesailah sudah persiapan mereka.

Sementara dari arah dapur tergopoh-gopoh Bi War datang menemui Bu Medi. Dia heran karena tak biasanya ada banyak tukang yang datang tanpa sepengetahuannya. Biasanya, kalau ada apa-apa, dialah yang akan diberitahu lebih dulu oleh juragannya itu.

“Aduh ibu. Kok ada tamu nggak bilang saya. Kan jadi ibu yang repot bukain pintu sendiri.” ujar Bi War tak enak hati. Padahal dalam hatinya penasaran.

Bu Medi tak menjawab. Hanya tersenyum simpul pada pembantunya itu.

“Ada pekerjaan apa ini Bu?” tanya Bi War kemudian.

Sesaat tampak Bu Medi kebingungan mencari alasan. Disekanya keringat dari dahinya dan berujar,

“Oh, ini … ehm … anu….”

“Anu apa Bu?” desak Bi War.

“Oh … ini … mau bersih-bersih rumah dan kebun. Kelihatannya banyak yang kotor. Rumput juga sudah mulai tinggi.” jawab Bu Medi seraya berlalu ke dalam rumah.

“Kan ada saya Bu. Sayang uang diboros-borosin Bu.”

“Nggak papa kok Bi. Bibi kan banyak pekerjaan. Nanti Bi War kecapekan siapa yang repot?” jawab Bu Medi lembut. Sudah bisa menguasai diri.

“Ya sudah Bu. Urusan tukang biar sama saya aja. Nanti ibu bilang saja mau bersihin yang mana biar saya yang bilang sama tukang-tukang itu.”

“Ya sudah ya Bi. Saya ke belakang dulu.”

Bu Medi pun berlalu meninggalkan Bi War yang terbengong sendiri. Dia sadar dengan sikap Bu Medi yang tak seperti biasanya. Seolah selalu menghindarinya.

“Ah…jangan-jangan…..” gumam Bi War gusar.

Seperginya Bu Medi, Bi War mendekati para tukang seraya berujar,

“Silakan pak. Silakan.” ujar Bi War ramah mempersilahkan para tukang itu duduk di serambi.

“Ini pada mau minum apa?” tanya Bi War ramah, yang disambut dengan sukacita oleh para tukang itu. Mereka pun ramai meminta disediakan makanan dan minuman sambil sesekali bercanda. Apalagi dilihat lagak Bi War yang seolah jinak-jinak merpati.

Tak lama kemudian, datang Bi War seraya membawakan beberapa minuman dan camilan. Diletakkannya di lantai tempat para tukang itu berkumpul.

“Jadi, sebenarnya mas-mas ini mau bersihin apa sih?” tanya Bi War pada tukang itu penasaran.

“Oh, jadi gini Bu. Tuan rumah dan istrinya berpikir ada hal gaib yang ditanam di sekitar rumah ini.”

Degh!

“Jadi tugas mas-mas ini?” ulang Bi War.

“Ya. Kami mau membersihkan semua yang sekiranya mencurigakan. Termasuk mencari di pekarangan dan taman.”

“Oh, gitu ya. Hmmmm…..”

‘Sudah kuduga….’ gumam Bi War.

‘Rupa-rupanya mereka sudah tahu akan hal ini. Aku harus lebih waspada lagi.’ batin Bi War.

“Ya sudah Mas. Saya tinggal dulu ya. Silakan lho ini camilannya.” ujar Bi War seraya berlalu.

“Nanti kalau masih kurang jangan sungkan-sungkan ya. Bilang!”

“Iya Bu. Makasih banyak.” seru para tukang kegirangan.

Bi War berlalu ke dapur. Sempat mondar-mandir sebentar sembari ditatapnya para tukang itu seraya bergumam,

“Kurang ajar. Sudah berani kalian bermain-main denganku.”

“Tunggu saja. Apa kalian bisa menyingkirkan ku dari sini?”

Tangannya terkepal. Gerahamnya saling beradu menahan marah.

“Hmmmm Bu Medi … coba saja kalau kalian berani macam-macam. Para tukang itu takkan sanggup lima menit bertahan disini. Hehehehe….”

“Hmmmm… jahat sekali mereka ya Mbok?” ucap Yati seraya menyeruput kopi hitamnya.

Terlihat asap mengepul dari kopi hangat itu.

“Yah….begitulah Mbak. Kalau nafsu dan keserakahan sudah berkata. Aku sendiri nggak habis pikir. Kok bisa ada orang sejahat itu?” ucap Mbok Minah pula menimpali Yati.

“Lalu, bagaimana ceritanya tukang-tukang itu bisa pergi? Bukankah Bi War itu hanya seorang … maaf … pembantu biasa?”

Tampak Mbok Minah terdiam seraya menatap jauh.

“BI War bukanlah pembantu biasa. Sejak muda sudah terbiasa berhubungan dengan hal-hal gaib.”

“Lalu?” tanya Yati penasaran.

“Baginya tukang-tukang itu terlalu mudah diperdaya. Baginya, orang-orang itu tak lebih dari tikus-tikus yang mudah dihancurkan.”

Tak lama setelah keenam tukang itu makan dan minum, tiba-tiba terasa mata mereka sangat berat. Dan hanya hitungan menit, keenamnya ambruk tak sadarkan diri.

Melihat kondisi tak wajar itu, dengan mengendap-endap Bu Medi membangunkan mereka.

“Pak, bangun pak. Pak!” ucap Bu Medi lirih, setelah ditengoknya kanan kiri tak nampak Bi War.

Lama tak ada tanggapan dari tukang-tukang itu. Masih saja asik terlelap.

Disaat yang sama, tampak dokter Sutawijaya mendekat.

“Hei, gimana Bu? kok malahan pada molor disini?”

“Entah ya pak. Ibu juga bingung. Padahal niatnya mau kerja. Kok malahan pada terkapar begini.”

Dokter itu mendekat. Dengan rasa penasaran diperiksanya satu persatu tukang itu.

“Bu…..”

“Iya pak. Ada apa? Bagaimana kondisi mereka?”

Tampak sesaat dokter itu terdiam. Ditariknya nafas panjang.

“Bu….”

“Mereka…mereka…”

“Ada apa Pak? Jangan katakan mereka sudah mati!”

“Sayangnya iya Bu…”

Bu Medi terkesiap. Wajahnya memucat.

“Lalu? Lalu, bagaimana ini pak?” tanya Bu Medi ketakutan. Bagaimanapun juga polisi pasti akan mencari mereka dan tentu saja mereka harus mempertanggungjawabkannya.

“Aduh….bagaimana ini pak?”

Sesaat diedarkannya pandang. Terlihat gelas-gelas kotor bekas minuman.

“Pak…jangan-jangan….”

Pak dokter gemeretakan. Rahangnya menggembung menahan amarah.

“Sungguh keterlaluan dia. Tak bisa diampuni lagi.” ujar dokter Sutawijaya seraya tangannya terkepal.

“Kita lihat Bu. Siapa tuan disini.” ujarnya geram. Kali ini dokter ini tak lagi bisa tinggal diam.

Kakinya melangkah maju. Setengah berlari dicarinya Bi War.

“Coba ke dapur pak!” ucap Bu Medi.

Dapur kosong. Begitu juga halaman belakang dan kamarnya.

“Kurang ajar. Licik sekali dia. Tak tahu balas budi!”

“Bi War! Bi War!” teriak dokter Sutawijaya menggelegar. Amarah telah menguasainya. Sementara Bu Medi terlihat berlari-lari kecil mengikuti langkah suaminya itu.

“Sabar Lak. Sabar!”

Sekeliling rumah sudah dicari. Tapi tak nampak satupun jejaknya tertinggal. Seolah Bi War memiliki ilmu menghilang.

Dokter Sutawijaya tampak semakin geram.

“Lihat saja nanti. Kalau sampai ketemu aku akan ….”

Namun, ucapan dokter Sutawijaya terhenti disitu. Tangannya terlihat memegangi batang lehernya. Seolah ada benda tajam menghalangi ucapannya.

“Ahkhkhkh…. aiiir buuu….aiiir….” ucap dokter itu dengan tangan terus menekap lehernya.

“Ada apa pak? Ada apa?” tanya Bu Medi cemas. Raut mukanya gemetaran.

“Tholhooong… cepat Bu…aiiiiir”

Cepat Bu Medi berlari mencari air minum. Namun, karena gugupnya, tanpa sadar saat ia membawa segelas air putih itu, tiba-tiba saja tubuhnya terpelanting hingga gelas berisi air minum itu hancur berantakan.

“Ahkhkhkh!”

Bu Medi terjatuh. Tumpah sudah air minum yang sedianya akan diberikan pada suaminya. Sementara tampak suaminya semakin dalam kondisi mengkhawatirkan. Lehernya semakin terasa perih. Sesekali beliau tampak batuk berdarah.

Sementara itu, satu sosok tampak tersenyum puas melihat apa yang menimpa pasangan suami istri itu.

“Hehehehe….. sudah puas kalian bermain-main denganku?”


cerbung.net

Pelet Hitam Pembantu

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Sekonyong-konyong sebuah tas pakaian besar sarat isi menimpa tubuh mungil wanita berambut sebahu itu. Tak dikancingkannya retsleting dengan benar, hingga sebagian isinya berhamburan keluar."Aduh!"Wanita itu urung menutup wajah dan tubuhnya dari lemparan tas besar, hingga sempat mengenainya dan membuat tubuhnya tampak sesaat limbung, dan kemudian terjatuh duduk dengan lutut menghantam aspal jalanan.Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset