Pelet Hitam Pembantu episode 12

Chapter 12

“Melati!” Andri menyongsong Melati. Tak dipedulikannya senjata api yang tergenggam erat di tangannya.

“Mundur Andri!” ujar Bu Medi mengingatkan.

“Aku tidak main-main!”

Melati mengancam dengan pistol itu pada kening Andri.

“Ingat Melati! Bukankah kamu berjanji untuk terus mendampingi ku? Selamanya?” ujar Andri menahan Melati agar tak sampai melakukan tindakan nekat.

“Aku tahu itu. Tapi tak ada artinya lagi sekarang ini. Ambu telah mati. Diambil oleh tangan-tangan mereka. Aku tak rela Ambu diperlakukan begini. Aku harus balas dendam.”

Ditatapnya Andri yang berdiri terpaku.

“Andri. Kau mau mati bersama mereka?”

Sejenak terlihat Andri ragu-ragu. Dipandangnya sekilas ibunya, ayahnya, juga Melati. Tampak berat baginya. Tak mungkin mengalahkan orang tua demi Melati. Begitu juga dengan Melati. Terlalu besar rasa sayang padanya.

“Andri! Jawab cepat. Kau mau mati bersama mereka sekarang?” hardik Melati tanpa belas kasihan.

“Atau kau ikut bersamaku?”

“Maaf Melati. Aku tak bisa memilih. Aku menyayangi kalian semua.” ucap Andri lemah.

“Huh! Dasar laki-laki lemah. Lebih baik kau mati saja sekarang. Dan ikut bersamaku.”

“Darrr!”

Tiba-tiba saja pistol di tangan Melati menyalak dan melemparkan amunisinya, membuat Andri seketika tersungkur bersimbah darah.

“Ahkhkhkh…. Melati…kkkk…kkk…kkkaauuuu….” ucap Andri tertahan. Tenaganya keburu habis. Dan langsung jatuh terpuruk di lantai. Tak jauh dari mayat ayahnya.

“Lebih baik begitu Andri. Kini, tak ada lagi yang bisa memilikimu selain aku.”

Tersungging senyuman sinis Melati.

Diangkatnya sekali lagi pistol, dan

“Darrr!”

Kembali terdengar pistol menyalak. Dan kali ini menyasar dirinya sendiri. Tepat menembus rahang hibgga otaknya. Dan Melati pun tewas seketika. Dengan darah menyembur deras dari ubun-ubunnya. Melati mati.

Yati tercenung. Segelas kopi yang diminumnya sedari tadi tanpa sadar telah menjadi dingin tanpa sempat dihabiskannya.

“Hmmmm…. Jadi begitu ya Mbok?”

“Sungguh tragis perjalanan cintanya. Melati rela mati membawa Andri agar tak ada yang bisa memilikinya.”

“Slurrp!” kembali dihirupnya sisa kopi yang tinggal seperempat.

“Yah. Cinta tlah membutakan mata hatinya.” ucap Mbok Minah menanggapi.

“Lalu, bagaimana ceritanya Andri masih bisa hidup sampai sekarang?” tanya Yati kembali.

“Waktu itu, sepeninggalnya Melati dan ibunya, serta dokter Sutawijaya dan keenam tukang, mereka langsung dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.”

“Namun dari sekian banyak orang, hanya dokter Andri lah yang bisa diselamatkan. Sisanya…..”

Yati manggut-manggut mendengar cerita Mbok Minah.

“Ya mbok. Aku turut sedih mendengarnya.”

“Lalu, kemana perginya Bu Medi dan putrinya? ….si Laras itu?”

“Menurut cerita yang beredar, selepas kejadian itu, Bu Medi merasakan trauma yang luar biasa. Dan sebagai akibatnya, hampir saja rumah ini akan dijual kalau saja tak ditahan oleh Andri.” ujar Mbok Minah.

“Dan mereka?”

“Konon mereka saat ini tinggal di Amerika. Hanya sesekali saja kesini. Itupun sangat jarang. Bisa dihitung dengan jari.”

“Kuk kuk kukuruyuuuuuk”

Tanpa terasa, waktu sudah menjelang pagi. Diliriknya jam dinding.

“Eh, Mbok. Sudah jam tiga loh. Istirahat dulu aja ya Mbok. Ceritanya dilanjut besok saja.”

“Oh iya. Iya. Besok mbok harus bangun pagi-pagi mau ke pasar. Mbak Yati mau temenin Mbok? Biar sekalian kenal lingkungan sini.” tanya Mbok Minah.

“Iya Mbok. Tentu Yati mau. Yuk masuk dulu Mbok. Istirahat dulu. Besok dilanjut lagi.” ucap Yati seraya berdiri. Siap-siap beristirahat.

Dan masuklah mereka ke dalam kamar masing-masing. Mbok Minah di kamar belakang, dekat dapur, sedangkan Yati di ruang tengah, berdekatan dengan kamar dokter Andri.

“Srek…srek!” suara alas kaki Yati diseret perlahan menuju kamarnya.

Namun, saat Yati beranjak masuk ke dalam kamarnya, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang aneh. Sesuatu yang seolah-olah begitu dekat dengannya.

Ia berhenti sekejap.

“Hmmmm…. Ada apa ini? Mengapa tengkukku tiba-tiba merinding?” gumamnya.

Diedarkannya pandang. Dari sudut ke sudut dijelajahinya. Tak nampak apapun yang mencurigakan atau aneh. Hanya tampak susunan perabotan seperti biasa. Meja dan kursi pun tampak sama. Tak ada yang berubah. Sama seperti kemarin-kemarin.

Dilanjutkannya jalan.

“Aneh…..masih saja tengkukku merinding. Tapi nggak ada apapun disini. Apa hanya perasaanku saja?”

Kembali ia bersiap membuka pintu. Diputarnya knop.

“Cekrek!”

Tapi tampak terkunci. Siapa yang menguncinya? Padahal dari tadi tak ada siapapun yang masuk ke kamarnya.

“Cekrek!”

Masih tetap tak terbuka.

Dilangkahkannya kaki lagi ke kamar Mbok Minah. Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba terdengar suara,

“Mau kemana Mbak Yati?” tanya sosok itu. Terdengar datar dan suram.

“Eh, kebetulan. Mbok. Kamar saya kok terkunci ya? Apa Mbok yang pegang kuncinya?”

“Enggak kok Mbak. Ayo coba saya tolongin.” ajak Mbok Minah seraya melangkah ke arah pintu.

“Cekrek!”

“Krieeeet!”

“Nah, sudah mbak. Saya pamit dulu. Mau istirahat.” ujar Mbok Minah singkat seraya melangkah ke dapur. Sehelai kelopak melati terjatuh dari tubuh tua itu, menguarkan aroma bunga yang begitu kuat.

Yati tertegun. Ditatapnya kelopak itu. Dia menunduk untuk mengambil kelopak melati itu.

“Mbo……” seru Yati tertahan.

Karena saat diangkatnya wajah, tak nampak wanita tua itu. Secepat itukah langkahnya? Padahal sama sekali tak terdengar gesekan sandalnya pada lantai. Padahal biasanya tak pernah lepas wanita tua itu dari sandal. Rematiknya bisa kambuh.

“Mbok Minah!” seru Yati lagi, seraya berusaha menyusul. Namun tak nampak satu jejakpun.

“Mungkin ia sudah masuk ke kamarnya.” gumam Yati pelan sambil melangkahkan kaki kembali ke kamar yang sudah terbuka.

Tapi bagaimana ia bisa secepat itu? Tak mungkin kan ia melayang? Huh. Dia mengusir jauh-jauh pikiran buruk itu.

Tapi soal kelopak melati? apakah ini berarti…

“Teng, teng, teng!” terdengar jam berdentang tiga kali.

“Sudah jam tiga. Hoaaaahm!”

“Aku harus segera tidur.” ujarnya seraya melangkah masuk.

Namun, lagi-lagi Yati kembali terperanjat. Karena disana… nampak disana….di meja rias kamarnya….

Sesosok wanita dengan rambut panjang dan hitam tergerai indah tampak sedang menyisiri rambutnya pelan. Sementara dari bibirnya terlontar satu tembang yang sepertinya tak asing baginya. Sebuah lagu lama yang sering terdengar dinyanyikan oleh neneknya dulu semasa ia masih kecil. Sebuah lagu Sunda lama. Ia hafal betul nadanya. Tapi tak tahu sama sekali soal lirik dan maknanya.

Yati tertegun. Tak bisa kakinya melangkah. Ia terpaku di pintu. Ragu untuk melangkah. Sekelebat bayangan buruk menghantuinya.

“Apakah ini Melati?” batinnya. Terasa kuduknya makin merinding mengingat cerita yang tadi dikisahkan Mbok Minah.

“Apakah kali ini aku yang akan menjadi korbannya?”

“Masuklah!”

Tiba-tiba wanita itu bersuara. Lirih dan pelan. Terdengar seperti satu bisikan saja.

“Kok diam saja?”

Yati tak berani menjawab. Dirasakannya seluruh persendiannya gemetaran. Badan dingin menggigil. ia merasakan ketakutan menyelimutinya.

“Yatiiiii…”

Tiba-tiba sosok berambut panjang itu memanggil namanya, dan menolehkan kepalanya. Bukan. Bukan menolehkan kepala. Tapi lebih tepatnya memutar kepalanya. Ya. Memutarnya seratus delapan puluh derajat.

Kini terpampang dihadapannya satu wajah putih. Wajah dengan riasan tebal pupur putih. Dan dengan mata menghitam cekung dalam. Dan dari bibirnya yang hitam tersungging satu seringaian tajam menakutkan.

Yati terperanjat kaget.

“Kkakkaaa…kkaaakaauuu sssisssiisiapa?!” tanya Yati ketakutan.

“Ayoooo….sini. Kita main bersama… Hihihihihi…..”

Tiba-tiba sosok itu berdiri dan melangkah. Oh, bukan. Bukan melangkah. Tepatnya melayang. Melayang sejengkalan kaki.

“Tidak! Tidak!” ujar Yati yang terus saja berusaha menghindar.

Namun sepertinya mahluk itu tahu ketakutan yang melanda Yati. Terus saja dia mengejar dan berusaha menggapai Yati. Dan pada satu ketika,

“Waaaaaaaa,”

Yati jatuh terjerembab hingga keningnya berdarah akibat terantuk tepi meja.

“Jangan…jangan….” ujar Yati berusaha menutupi wajahnya dari serangan cakar tajam wanita itu.

cerbung.net

Pelet Hitam Pembantu

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Sekonyong-konyong sebuah tas pakaian besar sarat isi menimpa tubuh mungil wanita berambut sebahu itu. Tak dikancingkannya retsleting dengan benar, hingga sebagian isinya berhamburan keluar."Aduh!"Wanita itu urung menutup wajah dan tubuhnya dari lemparan tas besar, hingga sempat mengenainya dan membuat tubuhnya tampak sesaat limbung, dan kemudian terjatuh duduk dengan lutut menghantam aspal jalanan.Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset