Pelet Hitam Pembantu episode 14

Chapter 14
Seminggu sudah Yati berada di rumah sakit. Dan selama itu pula Mbok Minah dan dokter Andri bolak-balik menunggu. Bahkan beberapa kali terlibat dokter Andri rela begadang demi menemani Yati yang kesepian.”Tok, tok, tok!”

Sebuah ketukan tak mampu membangunkan Yati dari lamunannya di bangsal. Matanya menerawang jauh. Jauh melebihi yang bisa dijangkau oleh mata indahnya. Begitu jauh, hingga menembus dimensi ruang dan waktu.

Dia teringat saat masih kecil dan tinggal di salah satu daerah di Bogor. Kota yang dingin dengan guyuran hujan mewarnai hari-harinya.

“Abah! Abah!” seru Yati kecil menghambur ke pelukan seorang pria dewasa. Pria bertelanjang dada dan bercelana hitam selutut yang tampaknya baru pulang dari sawah. Di tangan kirinya tampak tertenteng sebuah cangkul, sedang di tangan kanannya tampak beberapa ekor ikan gabus mati tertusuk ranting bambu.

“Wah… Abah baru pulang. Bawa ikan buat Yati ya Abah?”

“Iya nak. Tadi kebetulan di sawah banyak ikannya. Jadi karena Yati suka ikan, maka Abah bawain beberapa buat Yati. Mau digoreng atau dibakar aja sayang?” tanya ayahnya seraya menurunkan bawaanya dan duduk di bale-bale.

Sementara itu, seorang wanita tampak keluar dari dalam rumah dengan segelas teh hangat dan pisang goreng, makanan kesukaan mereka.

“Diminum dulu Abah. Jangan langsung masuk ya.” ujarnya seraya tersenyum manis.

“Iya Ambu. Nih Aa bawain ikan buat kita makan malam. Tinggal diolah sedikit pasti jadi lauk yang sedap. Kan Ambu paling pinter masak.” ujar ayahnya lagi seraya mengambil sepotong pisang goreng dan menikmatinya.

Begitulah. Walaupun mereka hanya hidup seadanya, dan tinggal di pinggir sawah, namun kebahagiaan selalu menyelimuti mereka. Hingga suatu hari…

“Abah!….. Abah!” ujar Yati tertahan. Saat itu usianya baru sepuluh tahun.

“Ambu. Tolong Abah Ambu. Kenapa ini Abah Ambu?” Isak Yati seraya menangis di samping ayahnya. Tampak ayahnya dalam keadaan tak sadarkan diri. Segumpal busa putih kekuningan tampak keluar dari mulutnya. Matanya melotot. Bibir dan dahinya membiru. Nafasnya tampak tersengal-sengal.

Dan disaat yang sama, ibunya pun mengalami nasib yang sama. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi, saat itu ibunya dalam keadaan hamil muda. Baru tiga bulan. Dan musibah ibunya menjadi musibah bayinya juga.

Pertolongan medis tak mampu menolong keduanya. Hanya ayahnya saja yang sempat tertolong. Sedangkan ibunya, harus direlakan menghadap illahi.

Dua tahun sepeninggal ibunya, ayahnya menikah lagi dan melahirkan satu orang anak. Isma. Adik yang selalu saja menjadi rivalnya dalam segala hal. Dimana ada Yati, maka disitu juga ada Isma.

Sepintas memang terlihat keduanya akur dan harmonis, karena tampak mereka selalu bersama. Tapi, lain didalam. Kehadiran Isma semata-mata hanya untuk menunjukkan bahwa dia bisa lebih baik dibanding Yati. Dalam hal apapun. Obsesi Isma hanya satu. Mengalahkan Yati. Bertahun-tahun hal itu terjadi. Bahkan sampai pada akhirnya Yati menikah dan tinggal di Jakarta, Isma pun turut pula dengannya. Bahkan di awal-awal pernikahan, Isma menuntut harus ikut tidur seranjang bertiga.

Sempat Yati mengingatkannya. Namun Mas Arman sepertinya tak keberatan. Bahkan tak jarang terlihat Isma bermanja-manja dengan Arman suaminya. Mungkin itu karena Isma tak punya kakak cowok, dan Arman pun tak punya adik cewek. Begitu pikirnya kala itu.

Namun, seiring berjalannya waktu, rupa-rupanya benih pertikaian tajam mulai ditabur oleh Isma. Arman tak lagi sayang padanya. Dan lebih mementingkan adiknya itu. Bahkan lebih sering mengajak Isma adik tirinya untuk jalan-jalan dibanding dirinya. Apalagi saat itu kondisinya yang bekerja, hingga tak setiap saat bisa menemani suaminya yang menganggur akibat dipecat dari perusahaan pengolahan kayu, juga Isma yang memang belum ada niat untuk bekerja. Sontak, ia menjadi tulang punggung keluarga itu.

Dan akhirnya, jadilah ia seperti sekarang ini. Terusir dari rumahnya akibat fitnah yang digulirkan adiknya sendiri. Mas Arman menelan mentah-mentah apa yang diucapkan Isma. Tak pernah sedikitpun untuk mempercayai lagi ucapannya.

“Dasar adik tak tahu diri!” rutuk Yati dalam hati.

Beruntung ada dokter Andri yang menyelamatkan hidupnya. Dia bersedia menampungnya dan membawa kehidupannya sedikit lebih baik. Setidaknya untuk urusan makan dan tempat tinggal tidak perlu dipikirkan lagi. Tapi kini, keadaan dirinya yang lumpuh tentu hanya akan menambah beban mereka. Bahkan sampai saat ini, belum ada titik terang, kapan penyakitnya akan hilang. Haruskah ia menjadi beban orang lain?

Tak disadarinya, perlahan air mata menetes mengaliri pipinya.

“Mbak! Mbak Yati!” ucap dokter Andri seraya mengibaskan tangan didepan matanya.

Yati terhenyak kaget.

“Ah, iya. Iya. Maaf dok!” ucap Yati sungkan, seraya tersenyum kikuk.

“Mbak Yati kenapa menangis?” tanya dokter Andri seraya mengusap air mata Yati yang masih mengalir menggunakan selembar tissue. Terasa lembut usapannya, hingga sejenak ia tak percaya bahwa dirinya bukanlah apa-apanya dokter ganteng itu.

“Gimana kondisinya?” ucapnya lagi.

Yati hanya menggeleng. Ia benar-benar tak tahu harus berbuat apa.

“Maaf ya dok. Sekujur badan saya lemas. Tanpa tenaga.”

“Menurut dokter, apa penyakit saya? Apa penyebabnya?”

Dokter Andri duduk di pinggir tempat tidur. Matanya menerawang jauh.

“Hasil dari dokter bisa dikatakan nol. Tak ada penyakit apapun yang bersarang di badan Mbak. Bahkan secara medis, seharusnya tubuh Mbak sehat. Bisa beraktivitas normal.”

“Lalu bagaimana dok?” tanya Yati cemas. Ia tak mau selamanya berada hanya di tempat tidur saja.

“Entahlah Mbak. Kami masih belum bisa memastikan langkah apa yang harus dilakukan. Karena secara medis semua itu tak apa.”

“Oh iya Mbak. Bisakah Mbak Yati bercerita bagaimana asal muasalnya Mbak bisa mengalami kejadian ini? Bagaimana kisah sesungguhnya?” tanya dokter Andri lagi.

Sesaat Yati terdiam.

“Apakah Mbok Minah belum bercerita soal itu?” tanya Yati heran. Karena seingatnya ia sudah menceritakan hal itu secara detail pada Mbok Minah.

“Akhir-akhir ini, saya jarang bertemu Mbok Minah. Saya pulang, beliau giliran jaga disini. Dan saat saya disini, giliran Mbok Minah nunggu rumah.”

“Repot banget ya hidup saya?” ujarnya seraya tersenyum getir.

“Lalu, kenapa dokter nggak menikah saja? Toh saya rasa, tak ada satupun gadis yang menolak untuk diperistri dokter.”

Terlihat dokter itu tersenyum tipis, lalu berujar,

“Memang, tak selamanya yang manis di luar akan terasa manis juga didalam.”

“Tentu Mbok Minah sudah bercerita soal itu kan?”

Yati mengangguk.

“Saya takkan bisa menikah selamanya. Sihir Melati dan ibunya terlalu kuat. Beberapa kali wanita yang dekat dengan saya mengalami kejadian aneh secara tiba-tiba. Ada yang kecelakaan, penyakit aneh, hingga stress dan bunuh diri.”

“Dan konon hal itu akan terus berlangsung hingga saya berhasil mematahkan sihir itu.”

“Caranya?” tanya Yati polos.

“Ya. Saya harus bisa menikah dengan seseorang.”

“Artinya jika dokter berhasil menikah dengan orang itu, maka secara otomatis sihir itu bakalan lenyap?”

“Betul!”

Yati terlihat mengernyitkan kening. Tampak berpikir serius.

“Lalu apakah selamanya dokter akan menyerah dengan kondisi ini?”

Dokter Andri tersenyum sinis.

“Entahlah. Siapa yang siap menghadapi kematian?”

“Bagaimana kalau ada yang siap? Toh urusan hidup dan mati ada di tangan Tuhan bukan?”

Sesaat dokter terdiam. Ucapan Yati ada benarnya juga. Namun,

“Tapi kenyataannya Mbak, beberapa orang sudah mengalaminya. Dan saya tak sanggup jika ada orang lain yang akan mengalaminya juga.”

“Saya tak siap jika harus kehilangan orang yang saya sayangi lagi.” ucap dokter Andri dengan mata memerah.

“Dok. Tuhan mengatakan; nasib manusia tak akan diubah jika manusia itu sendiri tak berusaha mengubahnya.”

“Jadi, alangkah baiknya jika dokter berusaha mematahkan sihir itu.” lanjut Yati.

“Mbak. Menikah itu bukan persoalan yang mudah. Butuh banyak kesiapan. Dan harus dilandasi persamaan.”

“Lalu, bagaimana jika saya niat menikah hanya untuk mematahkan sihir? Apa itu tak zalim namanya. Seolah saya mempermainkan nyawa seseorang.”

“Kenapa tidak mencoba untuk mematahkan mitos itu?”

“Mbak. Sekali lagi saya katakan, tidak mudah Mbak. Tak ada satupun orang yang siap menghadapi kematian. Karena menikah dengan saya itu hanya ada kecil kemungkinan berbahagia. Hanya sekian persen. Dan lebih banyak kemungkinan dia bakalan mati!” ucap dokter Andri tegas.

“Saya tak mau mengorbankan orang lain.” ucapnya lagi.

“Oke. Bagaimana kalau ada yang siap?”

Sekilas dokter muda itu tertawa.

“Mbak. Mana mungkin jaman sekarang ada yang siap menghadapi kematian? Semutpun akan menghindar jika bertemu kematian. Apalagi manusia?” ucapnya seraya melambaikan tangan.

“Aku siap!” ucap Yati tegas.

“Hah!!”

Dokter muda itu tertawa.

“Iya . Aku siap!”

cerbung.net

Pelet Hitam Pembantu

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Sekonyong-konyong sebuah tas pakaian besar sarat isi menimpa tubuh mungil wanita berambut sebahu itu. Tak dikancingkannya retsleting dengan benar, hingga sebagian isinya berhamburan keluar."Aduh!"Wanita itu urung menutup wajah dan tubuhnya dari lemparan tas besar, hingga sempat mengenainya dan membuat tubuhnya tampak sesaat limbung, dan kemudian terjatuh duduk dengan lutut menghantam aspal jalanan.Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset