Pelet Hitam Pembantu episode 20

Chapter 20

“Hah!” ujar Yati dan Andri hampir bersamaan. Tak menyangka jika mereka akan dijodohkan begini rupa.”Iya. Kalian yang akan menikah.” seru Kong Bitun.

“Kong. Apa saya tak salah dengar Kong? Saat ini saja, tanpa ada hubungan khusus, dia sudah menderita begini. Apalagi sampai menikah? Apa tak mungkin dia akan…” ucap dokter Andri tanpa sempat melanjutkan.

“Justru karena itulah kalian harus melawannya. Toh, saat ini kalian sudah kepalang tanggung. Tak ada yang menjamin kondisinya akan membaik bukan? Begitu juga dirimu. Tak ada yang menjamin kutukan itu bakalan musnah jika terus kau turuti permainannya.”

“Jadi kami harus menikah? Bagaimana jika hal terburuk yang terjadi?”

“Itulah resikonya. Tapi itu satu-satunya cara agar sihir itu lepas darimu. Juga darinya. Kamu pikir ini karena penyakit biasa? Bukan Ndri. Bukan. Ada sesuatu yang menghalangi sarafnya hingga membuatnya tak bisa beraktivitas.”

“Kalian harus menikah. Itu solusi agar kalian terbebas darinya.”

Dokter Andri tampak termenung. Bukannya ia tak suka dengan Yati. Tapi bagaimana jika Yati akan mengalami nasib sama seperti yang lain? Pening kepala dokter Andri memikirkannya.

“Yang sekarang harus kamu usahakan adalah, bagaimana cara kamu memikirkan calon istri kamu sebagaimana kamu memikirkan Mbok Minahmu itu. Niatkan mendapatkan kebaikan. Luruskan niat karena beribadah. Untuk menghilangkan kutukan. Hilangkan pemikiran nafsu dan lain-lain. Sekali lagi, luruskan niatmu menikah karena ibadah. Bisa?”

“Baik Kong.”

“Dan untuk sementara waktu, biarlah Yati disini. Mbok Minah bisa menemaninya sementara waktu. Hal itu untuk membuatmu tidak selalu memikirkan calon istrimu. Karena…”

“Karena apa Kong?”

“Terus terang seperti kubilang tadi, hal ini belum teruji.”

Degh! Hati mereka serasa Ambyar. Karena sepertinya masih menunggu keberuntungan.

“Jadi, kapan kalian akan siap menikah?” tanya Kong Bitun lagi.

Yati terdiam. Ia menyerahkan jawabannya kepada dokter Andri.

“Bagaimana Andri?” tanya Kong Bitun menegaskan.

“Insyaallah Minggu depan Kong.”

“Baik. Sepakat. Nanti, Minggu depan kamu kesini lagi. Sementara itu, Yati bisa menunggu sambil diterapi disini.”

“Baik Kong. Saya pamit dulu.” ucapnya seraya meraih tangan Kong Bitun dan menciumnya takzim.

Sepeninggal dokter Andri, Yati disuruh beristirahat dulu dengan ditemani Mbok Minah. Yati tahu, ia takkan bisa berbuat apa-apa tanpa bantuan wanita tua itu.

“Cit, cit, cit!”

Suara burung-burung di pagi hari membangunkan Yati dari tidur panjangnya. Dia merasa cukup rileks setelah semalaman beristirahat dengan tenang.

Dipandangnya jendela yang sudah terbuka. Mbok Minah tidak ada disampingnya. Kemana dia?

“Mbok!” ujar Yati memanggil Mbok Minah.

Sekonyong-konyong Mbok Minah datang dengan sebaskom air hangat.

“Mbak, sekarang dilap dulu badannya ya.” ucap Mbok Minah penuh kasih.

“Maaf ya Mbak. Saya buka dulu bajunya.”

“Iya Mbok. Makasih ya.” ucap Yati terharu. Dia merasa sungguh berhutang Budi para Mbok Minah dan dokter Andri. Tak terasa air matanya menetes.

Mula-mula, dibukanya baju yang menutupi tubuh Yati. Lalu, dengan perlahan diusapnya bagian-bagian tubuh Yati menggunakan washlap, sebuah sarung tangan kotak berbahan handuk.

Yati merasakan sensasi hangat saat kain basah itu membersihkan tubuhnya. Terasa segar dan bersih. Apalagi sabun yang dipakai membuat jiwanya seolah-olah melayang diantara bunga-bungaan di taman.

“Maaf ya Mbak.” ucap Mbok Minah lagi-lagi saat wanita tua itu berusaha membersihkan area pribadi Yati.

Sungguh telaten Mbok Minah memperlakukannya, layaknya anak sendiri. Sungguh beruntung orang yang memiliki ibu seperti ini.

Tak berapa lama kemudian, selesailah sudah prosesi mandi. Dipakaikannya baju yang longgar dan nyaman.

Begitu terus menerus kegiatannya berhari-hari. Hanya saja setiap saat selalu diberikan semacam jejamuan yang terbuat dari bahan alami, yang berfungsi sebagai penguat otot agar tak menjadi kecil karena tak digunakan beraktivitas.

“Mbok, tolong nanti seluruh tubuh Mbak Yati ini dibolehkan ramuan ini ya!” ucap Kong Bitun pada Mbok Minah.

“Apa itu Kong?” tanya Yati, sementara Mbok Minah menerima mangkok itu dengan segera.

“Ini ramuan herbal. Terbuat dari jahe, beras, kencur, dan beberapa bahan lain. Efektif menjaga tubuh tetap hangat. Bagus untuk memulihkan otot yang beristirahat lama sepertimu.”

Dan dilain kali, jari jemari Yati dirangsang dengan aliran listrik statis untuk mengecek reaksi saraf-sarafnya. Namun lagi-lagi terlihat reaksinya tidak memuaskan.

“Bagaimana Kong?” ucap Mbok Minah.

“Hhhhhhhhhh….belum ada perkembangan.”

“Mudah-mudahan, nanti setelah prosesi pernikahan akan ada hasil bagus.” ucap Kong Bitun pelan. Namun tetap optimis, mungkin.

Seminggu berlalu. Kong Bitun sudah menunggu kedatangan dokter Andri. Begitu juga Yati yang sudah didandani sedemikian rupa. Dipakaikannya pakaian terbaik. Sebuah baju terusan bunga-bunga ungu dengan renda air berwarna putih.

Pernikahan sengaja dilaksanakan di kediaman Kong Bitun, selain karena memang tak banyak mengundang tamu, juga untuk menjauhkan sentara dokter Andri dan Yati dari pengaruh buruk sihir yang sudah ditanam almarhum Bi War dan anaknya Melati.

“Bagaimana Yati. Kau sudah siap?” tanya Kong Bitun memastikan.

“Insyaallah Kong.” ucap Yati pendek.

Hatinya bergemuruh. Ia merasa tak nyaman. Hatinya berdebar. Berkali-kali dirasakannya tubuhnya panas dingin. Jika saja saat ini tangannya normal, pasti sudah dilapnya keringatnya dari dahi yang terus saja mengucur deras.

Tak lama berselang, datanglah dokter Andri dengan setelan jas hitam dan tak lupa sekuntum mawar terselip di sakunya. Penampilannya yang layaknya bintang Korea membuat siapapun terpana. Terlebih lagi pembawaannya yang kool membuat siapa saja akan terpesona. Begitu juga dengan Yati, yang tak kunjung berhenti menatap dokter Andri. Bahkan sampai saat ini dia masih belum sadar sepenuhnya, bahwa lelaki tampan itu akan menjadi suaminya.

“Bagaimana Ndri? Sudah siap semua?” tanya Kong Bitun berbisik.

“Sudah Kong.” ujar Andri menunjukkan pasukannya.

Terlihat di barisan belakang tampak beberapa orang berpakaian medis, lengkap dengan brankar dan berbagai peralatan yang tak seberapa dipahaminya. Tapi tampaknya memang dokter Andri sudah memperhitungkan dengan cermat seandainya terjadi hal-hal yang fatal atas mereka berdua.

Sementara disebelah kanan tampak pula penghulu dan asistennya. Mereka sibuk mempersiapkan berkas-berkas pernikahan.

“Kau tak dihadiri orangtuamu?” tanya Kong Bitun lagi.

“Oh, kemarin sudah saya kabarkan kepada beliau. Kemungkinan nanti siang langsung datang kesini Kong. Jadi hemat saya tak perlu menunggu kedatangan mereka. Karena belum bisa dipastikan jam kedatangannya.”

“Baiklah hadirin semua. Karena semua sudah siap, maka untuk acara selanjutnya saya persilakan kepada pak penghulu. Silakan…!” ucap Kong Bitun menyerahkan acara kepada penghulu.

Masuklah penghulu beserta asistennya.

“Bismillah hirrokhman nirrokhiim…” ucapnya membuka acara.

Setelah sepatah dua patah kata, dimulailah prosesi ijab Kabul mereka.

“Saya nikahkan dan saya kimpoikan engkau, Andreas Sutawijaya bin Sutawijaya dengan seorang perempuan yang bernama Maryati binti Sanusi…”

Namun, belum juga kalimat itu terselesaikan, tiba-tiba berkelebat satu bayangan.

“Astaghfirullah…. apa itu?” ucap penghulu kaget.

Ditatapnya Kong Bitun yang masih dengan mata terpejam konsentrasi untuk menghalau bayangan itu.

“Teruskan…” bisik Kong Bitun lirih.

Diulanginya lagi kalimat ijab itu.

“Saya nikahkan dan saya kimpoikan engkau, Andreas Sutawijaya bin Sutawijaya dengan seorang perempuan yang bern… ahkhkhkh…”

Ucapan penghulu tiba-tiba terputus. Terasa sesuatu menyangkut di tenggorokan nya. Terasa perih panas.

“Airhhh….airhhh…” ucapnya pelan.

“Panasss….phanassshhh.” ucapnya lagi dengan peluh bercucuran. Dipegangnya leher seolah menahan haus yang teramat sangat.

Melihat kondisi tersebut, Kong Bitun segera bersedekap. Matanya terpejam. Digerakannya kedua tangan dengan pola-pola tertentu. Dan sesaat kemudian…

Muncullah selarik asap tipis dari ubun-ubunnya. Begitu tipisnya hingga tak sembarangan orang mampu menginderanya. Secara perlahan asap itu meliuk-liuk seolah mencari sasaran.

Rupanya Kong Bitun sudah mencapai titik kecemasan tertentu. Terbukti dari dikeluarkannya ilmu yang sangat jarang digunakan itu; ilmu Peraga Sukma. Sebuah ilmu yang hanya akan digunakan dalam keadaan terpojok saja. Ilmu yang konon didapatkannya saat beliau masih belia dulu. Kegemarannya berkelana ditambah hausnya akan ilmu kesaktian membawa langkahnya berkeliling ke seluruh Nusantara. Sehingga tak heran jika beliau mengetahui banyak hal yang tak sembarangan orang mengetahuinya.

Asap itu terus saja meliuk-liuk dari satu arah ke arah lain. Sangat tipis dan hampir tak kentara. Meliuk diantara desiran angin. Membentur larik angin satu dengan lainnya.

Dalam keadaan diliputi kecemasan itu, tiba-tiba,

“Ahkhkhkh….”


cerbung.net

Pelet Hitam Pembantu

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Sekonyong-konyong sebuah tas pakaian besar sarat isi menimpa tubuh mungil wanita berambut sebahu itu. Tak dikancingkannya retsleting dengan benar, hingga sebagian isinya berhamburan keluar."Aduh!"Wanita itu urung menutup wajah dan tubuhnya dari lemparan tas besar, hingga sempat mengenainya dan membuat tubuhnya tampak sesaat limbung, dan kemudian terjatuh duduk dengan lutut menghantam aspal jalanan.Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset