Pelet Hitam Pembantu episode 36

Chapter 36

“Stop!” seru petugas berseragam lengkap, dengan pistol di tangan mengarah para pendemo.

“Turunkan! Jangan main hakim sendiri.”

Segera turun beberapa petugas kepolisian berseragam lengkap, yang langsung mengambil alih Yati dari tangan mereka. Sementara dari kalangan pendemo, terdengar riuh rendah suara ketidakpuasan.

“Lepaskan saja pak! Lepaskan dia! Biar kami habisi saja disini!”

“Dia memang layak dihukum!” ujar para pendemo bersahutan meminta Yati dikembalikan kepada mereka.

Segera setelah pendemo dibubarkan, dipilih beberapa orang untuk diperiksa di kantor polisi, dengan Yati sebagai tersangkanya.

Sementara itu, di satu sudut, di restoran yang cukup mewah, tampak sepasang lelaki tampan dan perempuan cantik tampak memperhatikan peristiwa yang terjadi di warung Yati seraya tersenyum gembira.

“Nah, Mas. Apa aku bilang? Isma selalu bisa diandalkan. Ya kan?” ujarnya seraya menatap si lelaki, yang langsung memeluk pinggang seksi si wanita.

“Makasih ya sayang. Aku yakin, kali ini pasti usahamu berhasil.” ujarnya lagi seraya mencium perut si wanita yang terkikik kegelian.

“Pokoknya, untuk urusan yang satu ini, serahkan padaku. Semua pasti beres Mas. Hahahaha…”

Terdengar tawa panjang Isma ditanggapi oleh pasangannya, Wisnu.

Namun, tawa itu tak berlangsung lama, karena saat itu tanpa disadari mereka, muncul sesosok mahluk liar yang tampak berbahaya. Mahluk yang berjalan terhuyung-huyung tanpa kendali. Tampak liar dan penuh kemarahan.

Jalannya terpincang-pincang akibat salah satu kaki berkoreng yang sangat parah hingga terlihat tulangnya mencuat dari lobang luka yang menganga.

Sesekali mahluk itu menggaruk-garuk kepalanya yang bolong mengerikan. Tengkoraknya berlubang, memperlihatkan isinya yang berlendir dengan sisa luka mengering yang tampak coklat kehitaman. Tampak luka menganga di kepala bagian belakang, menyisakan luka merah meradang, dengan belatung yang tampak mengintip dari sela-sela lobang menganga itu.

“Hghghghhhrrrrr…..”

Terdengar gerengan-gerengan mahluk itu seraya memamerkan giginya yang kuning dan berlendir.

Isma tersudut mundur. Antara ngeri, takut, geli bercampur jadi satu. Luka-lukanya sangat mengerikan. Sanggup membuatnya tak bisa makan berhari-hari.

Ia tahu mahluk itu tak nyaman. Sangat berbahaya jika membuatnya marah. Dan akan sangat berbahaya jika ada penyakit menular yang akan ditularkan olehnya.

“Mas Wisnu! Mas!” ujar Isma bergidik geli dan ngeri melihat kondisi mahluk itu, yang tak lain adalah anjing yang kemarin sempat mengambil janin misterius dari Michelle.

Sementara itu, dilihatnya Wisnu masih asik memperhatikan warung mie ayam Yati yang terbakar, hingga menyisakan kepulan asap kehitaman saja.

“Mas!” rajuk Isma seraya menarik lengan Wisnu dengan ketakutan.

“Silakan Ibu Yati. Duduk!”

Lalu, duduklah Yati untuk dimintai keterangan. Begitu juga pihak pendemo. Panjang lebar mereka berbicara, hingga akhirnya jatuh pada kesimpulan.

“Jadi, bapak dan ibu dapat darimana makanan ini? Dalam hal ini mie ayam?” tanya petugas tegas seraya menatap perwakilan pendemo.

“Jadi gini pak. Tadi saat kami sedang nongkrong-nongkrong di jembatan, datang seorang wanita. Dia bilang utusan dari warung mie ayam si mbak ini. Dan menurut si mbak itu, mie ayam ini merupakan bentuk sedekah hari Jum’at.”

“Lalu?”

“Tanpa curiga sedikitpun, langsung kami santap semua makanan pemberian si mbak itu.”

“Namun, tanpa disangka, beberapa saat setelah kami menyantap semua mie ayam itu, tiba-tiba seluruh orang yang ada keracunan. Bahkan ada diantaranya yang sampai muntah-muntah dan pingsan.” kata si pendemo.

“Jadi, karena itu kalian ramai-ramai datang ke warung mie ayam mbak Yati dan melakukan pengrusakan?” sahut si petugas memperjelas.

“Benar pak. Kami tak mau dijadikan tumbal oleh si mbak itu. Jelas-jelas itu kriminal. Tidak boleh dibiarkan begitu saja.”

“Dia harus mendapatkan balasannya.” kata si pendemo geram.

“Tapi, tahu darimana kalau benar si Mbak itu yang mengirimkan makanan? Apa ada bukti jelas?” selidik si petugas.

Sesaat mereka terdiam dan saling pandang, sebelum akhirnya si ibu yang tangannya merah-merah gatal angkat suara.

“Oh iya pak. Tadi si mbak yang ngantar itu penampilannya sama persis dengan mbak ini. Bahkan baju seragam yang dipakainya pun sama.” ujar si ibu seraya melirik Yati yang memang saat itu mengenakan seragam warung; dress kuning oranye dengan celemek warna krem.

“Seperti ini?” tanya Yati seraya menunjukkan pakaiannya.

“Betul. Sama persis.” kata ibu itu.

“Lalu, bagaimana rambutnya? Wajahnya?”

“Tinggi badan sama, rambut ikal hitam diurai, wajah cantik. Kulit kuning Langsat. Pokoknya, cantik lah.” ujar ibu itu diiyakan temannya.

“Apakah dia mengenakan jam tangan di tangan kanan? Badan langsing? Tahi lalat kecil diatas bibir sebelah kiri?” tanya Yati kembali.

“Ya. Benar. Itu benar pak, mbak!”

Yati terdiam. Ia benar-benar geram. Ia tahu, siapa biang keroknya itu. Rahangnya menggembung. Ia tahu kemana harus membalaskan dendamnya itu.

Petugas berpaling pada Yati.

“Nah Mbak. Mbak tahu siapa yang harus bertanggung jawab?”

“Iya pak. Saya tahu persis. Siapa yang harus dituntut.”

Kembali petugas menghadap pendemo, sebelum berujar,

“Nah, sampai sejauh ini sudah jelas kan? Bahwa tidak ada bukti sama sekali tentang si Mbak ini yang telah meracuni kalian?”

“Lalu, kalau bukan dia, lantas siapa pak?”

“Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.” ujarnya diamini rekannya.

“Untuk soal itu, nanti kami pelajari lagi.

Sekonyong-konyong, Yati mendekat dan menunjukkan satu pesan digawainya.

“Apakah dia orangnya pak?” tanya Yati menyelidik. Digawainya tampak terpampang sebuah wajah yang cantik dan enerjik.

Pendemo itu, dua lelaki dan satu perempuan, nampak memicingkan mata. Memorinya bekerja untuk memproses ingatan tadi pagi.

“Tepat! Betul sekali itu!” seru si ibu dengan gembira, mendapati titik terang sudah didepan mata.

“Hmmmm… Dia Isma pak.” ujar Yati lirih. Sekuat tenaga ditahannya agar kemarahan itu tidak meledak.

“Isma? Siapa itu?” tanya petugas mencari keterangan.

“Dia adik tiriku pak. Tapi kini sudah mengambil suami dariku. Entahlah harus bagaimana aku memanggilnya sekarang. Adik? Atau…”

Pelan diucapkan cerita itu. Sebuah cerita yang hampir saja membuat beberapa diantaranya menahan geram hingga terdengar gigi -geliginya yang bergemeletukan.

“Ah….maafkan kami ya Mbak. Kami sudah bersikap buruk pada Mbak. Maafkan kami ya.” ujar si ibu seraya bangkit dan memeluk tubuh Yati.

“Kami juga minta maaf ya Mbak.” seru dua orang pria disampingnya.

“Hampir saja nyawa Mbak hilang ditangan kami. Kami memang benar-benar bodoh Mbak. Mau saja diperalat orang lain.”

“Benar-benar bodoh!” rutuk mereka seraya memukul kepala sendiri.

Kini, hilang sudah rasa benci dan marah mereka pada Yati. Namun berubah jadi rasa simpati.

Tak lama kemudian, acara penuh kebencian yang ada diantara mereka berubah menjadi nuansa sedih dan haru. Terlihat, mata-mata mereka basah dan sembab. Sementara kalangan lelakinya, tampak menundukkan kepala dengan sedih.

“Hmmmm… jadi sudah jelas semua permasalahannya kan?” tanya petugas ditengah acara drama keluarga itu.

“Sudah pak. Terima kasih sudah memfasilitasi kami.”

“Hmmmm…. tapi, lain kali kalian harus hati-hati saat bertindak.”

“Sudah kalian lihat kan akibatnya? Warung mbak ini hancur. Dagangan hilang. Bahkan yang lebih parah, tahukah kalian bahwa kalian baru saja berhasil membangkitkan semangatnya?”

“Nanti akan kami ganti rugi pak.”

“Lalu, soal nama baiknya? Traumanya? Itu bukan perkara mudah lho. Butuh waktu untuk si mbak ini agar bisa kembali beraktivitas normal.

Kembali para pendemo itu saling pandang tak mengerti.

“Baik. Nanti silakan dipikirkan bagaimana membantu si Mbak ini agar bisa bangkit lagi.”

“Iya pak. Kami berjanji.”

“Lalu, apa yang kalian tunggu lagi? Menunggu Mbak Yati melaporkan kejahatan kalian?”

Lagi-lagi, mereka saling pandang sebelum berujar.

“Pak,….”

“Apa?”

“Sekarang, kami mau melaporkan sosok Isma itu kepada bapak. Bisa?”

“Silakan!” ucap petugas itu ramah.

Lalu, kembali mereka memproses laporan dari para pendemo. Hanya saja, kali ini sasarannya lain, yaitu Isma. Sosok yang hampir saja mencelakai mereka semua.

“Baiklah. Segera kita buat laporannya dan bertindak.” ujar petugas yang langsung membuat berita acara penangkapan, tanpa tahu apa yang sudah terjadi dengan targetnya.


cerbung.net

Pelet Hitam Pembantu

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Sekonyong-konyong sebuah tas pakaian besar sarat isi menimpa tubuh mungil wanita berambut sebahu itu. Tak dikancingkannya retsleting dengan benar, hingga sebagian isinya berhamburan keluar."Aduh!"Wanita itu urung menutup wajah dan tubuhnya dari lemparan tas besar, hingga sempat mengenainya dan membuat tubuhnya tampak sesaat limbung, dan kemudian terjatuh duduk dengan lutut menghantam aspal jalanan.Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset