Pelet Hitam Pembantu episode 40

Chapter 40

Sepanjang perjalanan tak ada pembicaraan sama sekali diantara keduanya. Mereka sibuk berkecamuk dengan pikiran masing-masing.

Setengah jam lamanya mereka saling diam, tanpa salah satupun berusaha membuka percakapan.

Di satu sisi, dokter Andri merasa heran. Karena setahunya Yati sudah membuka usaha mie ayam di daerah Cengkareng.

Beberapa kali ia sempat meninjaunya dari jauh terlihat warungnya itu cukup ramai. Bahkan pernah berpikir jika warung itu makin ramai, ia berencana akan memperbesar usaha itu menjadi semacam restoran kecil.

“Mbak…” ucap dokter Andri memulai pembicaraan.

“Iya…” jawab Yati lemah, seolah tanpa ada harapan hidup.

“Mau makan apa?” ucap dokter Andri lagi.

“Terserah…” jawab Yati lagi.

Sesaat terlihat dokter Andri berpikir sejenak, lalu berucap.

“Kita makan seafood saja ya. Sepertinya Muara Karang tak terlalu jauh.” ucap dokter Andri menawarkan, yang hanya ditanggapi dengan anggukan saja oleh Yati.

Tak lama kemudian, diparkirlah mobil putih dokter Andri di salah satu restoran seafood yang lumayan terkenal disana.

“Ayo Mbak!” ucap dokter Andri seraya membukakan pintu.

Yati menurunkan kaki dengan pelan dan malas.

Sebenarnya ia sama sekali tak berselera makan. Hanya saja ia tak enak untuk menolak tawaran makan dari orang yang sangat baik ini.

Entah sudah berapa kali ia berhutang nyawa padanya. Dan dokter itu seolah tak pernah memperhitungkan semua kebaikannya. Tetap baik dan tulus. Benar-benar dokter berhati malaikat.

Sesaat ia teringat akan rencana pernikahannya yang gagal tempo hari. Saat ia hampir saja diperistri oleh dokter tampan itu. Namun kedatangan ibunya menghancurkan segalanya. Bahkan ia dipermalukan sedemikian rupa didepan orang banyak. Dan dokter itu sama sekali tak berusaha untuk membelanya. Ia sangat menuruti kata ibunya. Ia sosok yang sangat penurut apa kata orang tua.

Sempat saat itu ia merasa kesal dengan sikap dokter Andri. Namun kembali disadarkan bahwa sikap dokter Andri sesungguhnya tak pernah salah. Bahkan hanya jiwa orang mulia yang mampu memuliakan orang tuanya.

“Eh, kok malah bengong mbak?” ucap dokter Andri seraya menyodorkan buku menu, membuat Yati tergagap.

“Eh, eh, iy-iya. Maaf.” ujar Yati malu. Cepat diambilnya buku itu dan dibolak-balikkannya seraya membaca beberapa menu yang terpampang.

‘Wow, mahal semua. Harus pilih yang mana?’ batin Yati tak enak hati. Ia harus tahu diri bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa dokter itu. Hanya kebaikan hatinya saja yang membuatnya dihargai.

“Mbak mau makan yang mana?’ ucap dokter itu lagi seraya menatap wajah pemilik mata indah itu.

Sesaat tampak dibolak-balikkanyya lagi buku itu. Lalu bergumam,

“Yang murah mana ya?”

Melihat itu, sontak dokter Andri tertawa hingga terlihat barisan giginya yang putih dan bagus.

“Udah mbak. Nggak usah dipikirin soal harga. Kebetulan saya lagi ada rejeki. Mbak pilih aja yang mana. Atau saya yang pilihan?” tawar dokter Andri begitu melihat Yati kesulitan memilih menu.

“Mbak!” ucap dokter Andri pada pelayan.

“Iya pak!” ujar pelayan yang datang tergopoh-gopoh.

“Saya mau pesan cumi bakar satu, gurame goreng satu, cah kangkung satu. Mbak Yati mau gurame asam pedas? Satu mbak ya.”

“Lalu minumnya?” tanya pelayan lagi.

“Saya teh hangat saja. Mbak Yati?”

“Oh, satu lagi jeruk hangat Mbak.”

“Ok. Mohon ditunggu ya.” ucap pelayan segera berlalu setelah meletakkan nomor meja didepan mereka berdua.

“Mbak….”

“Iya dok.” ujar Yati kikuk. Ia tak mau sampai dicap pengganggu rumah tangga orang. Ia tahu bahwa dokter Andri kini sudah dijodohkan dengan gadis bule yang Tempo hari dibawa ibunya.

“Mbak harus sering makan di tempat begini. Jadi mbak tahu bagaimana selera makan orang Jakarta.” ujar dokter Andri bersemangat.

Yati hanya diam membisu. Ia berusaha untuk tidak menceritakan masalah yang dihadapinya.

“Bagaimana usaha mie ayam Mbak Yati?” ucap dokter tampan itu tiba-tiba.

Sesaat Yati tampak kaget. Bagaimana ia bisa tahu soal mie ayam itu?

“Iya mbak. Mie ayam itu. Bagaimana prospeknya? Bagus?” ucap dokter Andri. Kali ini tampak serius.

Yati masih terdiam. Tak tahu bagaimana harus bicara.

Dokter Andri tertawa.

“Mbak pasti heran kan? Bagaimana saya bisa tahu soal mie ayam itu?”

“Saya itu setiap hari selalu keliling Mbak. Hanya saja memang mbak Yati tidak tahu.”

“Bahkan tempo hari sempat kita berbicara dengan Kong Bitun soal rencana untuk memperbesar usaha itu. Ya, minimal setara dengan restoran ini lah.” ucap dokter Andri seraya memandang berkeliling.

“Saya yakin, asal kualitas rasa dan pelayanan tetap terjaga, insyaallah dalam Tempo tak lama usaha itu akan bisa bersaing dengan usaha lain yang lebih dulu jalan.”

Sesaat tampak Yati seperti teringat sesuatu, lantas berujar,

“Oh, jadi yang dimaksud Kong Bitun soal pemodal itu dokter?” ucap Yati seolah tak percaya. Karena memang sejak tragedi kegagalan pernikahan itu, mereka tak tampak saling bertemu, hibgga hari ini.

“Ah, itu nggak usah dipikirkan mbak. Yang penting kan langkah selanjutnya. Bagaimana?”

Tiba-tiba tampak wajah Yati murung. Ditunjukkannya wajah dalam. Dan beberapa saat tampak terisak.

Dokter Andri heran. Ia berucap,

“Mbak…? Mbak menangis? Ada apa Mbak?”

“Usaha itu…usaha itu…”

“Ya Mbak? Ada apa dengan usaha itu?”

“Hancur Dok. Hancur tak tersisa…. Hik hik hik…” kembali Yati terisak.

Dokter Andri mengernyitkan kening.

“Hancur? Hancur bagaimana maksud Mbak?”

“Roboh? atau…”

Lalu Yati bercerita rangakaian peristiwa tadi pagi, dari datangnya para pendemo hingga akhirnya warung itu habis dibakar massa. Bahkan sempat pula dirinya akan dilemparkan ke dalam api oleh para pendemo.

“Untung saat itu ada petugas polisi yang datang patroli. Kalau saja mereka tak datang, atau datang terlambat beberapa detik saja….jika jika hiks….”

Dokter Andri tampak termenung. Ia prihatin akan nasib yang mendera wanita cantik ini. Beruntung dan seolah tak ada habisnya.

“Lalu, apa mereka mau bertanggung jawab Mbak?”

Yati menggeleng.

“Mereka hanya manis di depan polisi saja. Begitu keluar dari kantor, masing-masing mereka sibuk menyelamatkan diri.”

” Huh! Kurang ajar!” dengus dokter Andri.

“Memang susah ya sama orang julid? Nggak senang lihat orang senang? Para pembenci dan memfitnah itu harus mendapatkan hukuman yang setimpal.”

“Lalu, kau sudah tahu siapa dalang dibalik ini semua?” ujar dokter Andri lagi.

Terlibat Yati menganggukkan kepala.

“Siapa Mbak?” tanya dokter Andri lagi.

“Isma.”

“Isma? Isma adikmu? Adik tirimu?”

Yati menganggukkan kepala.

Dokter Andri mendengus kesal.

“Dia lagi, dia lagi. Apa nggak ada orang lain apa yang bisa diganggu?”

Tangannya mengepal keras.

“Lalu? Mbak Yati sudah lapor polisi?” tanya dokter Andri lagi.

“Sudah.”

“Lalu?”

“Ya. Seperti biasanya. Menunggu diselidiki dulu.” ujar Yati lemas.

Di saat yang sama, tiba-tiba datang pelayan membawakan pesanan mereka. Diletakkannya pesanan itu di meja saji, dan segera berlalu.

“Ayo makan dulu Mbak!”

Wisnu masih terpekur di masjid. Entah sudah berapa banyak rumah sakit dan pihak PMI yang dihubungi, namun hasilnya nihil.

Diambilnya gawai. Digulirkannya jari di layar tipis itu. Diketikkanya beberapa kata

“Hmmmm…. apa ini?” ujarnya menuju aplikasi GiveBlood.

“Hmmmm… menurut informasi, kita bisa mencari stok darah disini. Apa benar?” gumamnya seraya menuju kolom chat.

[selamat malam] tulisnya.

“Tlung!” suara notifikasi dari gawainya.

[Selamat malam juga. Ada yang bisa dibantu?] balas seseorang di sana.

[Apa bisa saya mencari stok darah disini?]

[Bisa. Mau mencari golongan darah apa? Butuh berapa banyak?]

Wisnu hampir melompat tak percaya. Akhirnya setelah berlama-lama mencari ia mendapatkan titik terang.

Ditulisnya lagi di gawainya.

[Saya mencari golden blood. Apakah ada stok?]

Lama tak ada jawaban. Wisnu menunggu dengan tak sabar.

“Ayo! Cepat!” gumam Wisnu seraya mengepalkan tangannya dengan tak sabar.

“Tlung!” terdengar notifikasi lagi.

Diambilnya lagi gawai itu dan dibacanya.

[Saat ini stok masih kosong. Tapi ada beberapa anggota yang bisa kami hubungi. Silakan tunggu beberapa saat]

Seketika Wisnu berteriak kegirangan. Dia melompat tinggi seraya mengepalkan tangannya.

“Uhuuuy!” serunya seraya tersenyum lebar.


cerbung.net

Pelet Hitam Pembantu

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Sekonyong-konyong sebuah tas pakaian besar sarat isi menimpa tubuh mungil wanita berambut sebahu itu. Tak dikancingkannya retsleting dengan benar, hingga sebagian isinya berhamburan keluar."Aduh!"Wanita itu urung menutup wajah dan tubuhnya dari lemparan tas besar, hingga sempat mengenainya dan membuat tubuhnya tampak sesaat limbung, dan kemudian terjatuh duduk dengan lutut menghantam aspal jalanan.Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset