Pelet Hitam Pembantu episode 43

Chapter 43
Wisnu tercekat. Batinnya terpana. Tak disangkanya, pada saat yang genting begini justru bertemu dengan salah seorang kawan lamanya. Bukan dalam keadaan yang baik. Namun,…

“Kkk…kkaau … Arman?” tunjuk Wisnu lagi seraya memastikan bahwa pria malang itu adalah Arman sahabat lamanya. Bahwa pria dengan pakaian kumal dan penuh darah itu adalah Arman. Sahabatnya sejak dulu.

“Yhatiii…Yatiiii….maafkan akuuuh…”

“Aduh….sakiiit…aduuuuh…sakiiiit.”

Lelaki malang itu terus saja mengucapkan dua kalimat itu. Terus-menerus diucapkannya tanpa ada ucapan lain yang bisa didengar maupun dikatakannya.

“Arman! Maafkan aku Arman!” Isak Wisnu pada sahabatnya.

Pria gembel itu tak peduli pada ucapan kawan lamanya. Tatap matanya kosong. Ia terus saja merintih dan mengaduh lemas. Air matanya berlinangan mengalir dari sela-sela keriput pipinya yang terlihat begitu tua di usianya.

Wisnu mendekat. Pilu hatinya melihat kondisi kawan lamanya itu. Ia sadar sepenuhnya, bahwa keadaan Arman adalah akibat darinya. Ialah biang segala kehancuran yang menimpa Arman.

“Arman! Arman!” ucap Wisnu seraya berusaha memeluk tubuh Arman yang kini begitu ringkih dan sembab oleh debu dan darah.

“Bapak bapak. Tolong angkat sahabat saya ini ke mobil! Tolong ya bapak-bapak!” ucap Wisnu memohon pada para pria yang tampak berkumpul disitu.

Sesaat mereka saling berpandangan. Lalu, dimulai satu orang maju, maka diangkatlah tubuh Arman yang terluka dan diletakkan pada jok belakang mobil Wisnu.

Tiba-tiba maju salah seorang dari para pengangkat itu seraya berujar,

“Kaka! Kalau boleh, Beta mau ikut antar itu korban ee.” seru lelaki itu mantap. Terlihat seram dengan tatoo burung melekat di punggung. Ditambah lagi rambut kribonya membuat kesan seram erat melekat padanya.

“Ya. Kami tak mau kau membuang bukti kejahatan ini.” seru yang lain menimpali.

Wisnu mau tak mau mengikuti permintaan para penonton itu. Ia tak mau dianggap pembunuh. Ia akan bertanggungjawab terhadap hasil perbuatannya.

“Baik bapak-bapak. Silakan bagi yang berniat ikut mengantar sahabat saya ini.” ujar Wisnu bijak. Ia tak mau bertindak sembrono.

Tak sampai setengah jam melaju, sampailah mobil mereka di Jakarta Hospital, tempat berpraktek dokter Andri.

“Mbak Yati mau menunggu dimana?” ujar dokter Andri pada Yati.

“Nanti aku tunggu di lobi saja.” ujar Yati menjawab.

Diturunkannya kaki jenjang itu dan berjalan pelan menunggu lobi rumah sakit. Sementara dokter Andri sudah melesat entah kemana.

Ditatapnya barisan kursi panjang di lobi. Tak terlalu buruk untuknya melalui malam ini. Bahkan jauh lebih baik dibanding sebelum-sebelumnya di warung mie ayam yang sempit dan sumpek.

“Mbak Yati?” ujar seorang suster ramah.

Yati kaget dengan penerimaan suster itu.

Darimana ia tahu namanya? Namun segera disingkirkannya pikiran itu. Pasti dari dokter Andri kan?

“Eh, iy-iya Sus. Ada apa?” ujar Yati tergagap.

“Nggak papa Mbak. Ini saya disuruh mengantarkan ini oleh dokter Andri.” ujar suster seraya meletakkan segelas teh hangat dan sebungkus camilan.

“Oh, makasih ya Sus.” ujar Yati, yang hanya ditanggapi senyuman oleh suster cantik itu, yang langsung pergi meninggalkannya.

Yati sungguh merasa beruntung kembali dipertemukan dengan dokter Andri. Sungguh ia berhutang Budi yang tak terhitung padanya.

Disaat orang lain melecehkannya, menghinakannya, bahkan hampir membunuhnya, dokter Andri selalu hadir sebagai pahlawan. Entah dengan cara apa dia bisa membalas kebaikan dokter Andri yang berhati malaikat itu.

Dimbilnya teh hangat itu dan dihirupnya pelan,

“Slurrrrrp,”

Baru sehirupan teh itu, tiba-tiba matanya terpaku pada sebuah mobil yang berhenti tergesa-gesa di loby rumah sakit.

Terlihat seorang pria pendek dan berperut buncit turun seraya membuka pintu belakang. Terlihat tampan dengan rambutnya yang disisir rapi.

“Ayo pak!” ujar pria itu, yang langsung diikuti dua pria berbadan tegap, berjalan memapah sesosok tubuh berlumur darah.

“Suster!” ucap pria pendek itu suster penjaga.

Tampak si pria mendaftarkan lelaki berdarah itu, dengan dirinya sebagai penjaminnya.

Tak berapa lama, datang dua orang perawat pria dengan brankarnya, yang langsung menyambut si lelaki berdarah dan bergerak menjauh melewati lorong rumah sakit.

Tak terdengar suara apapun dari tubuh penuh luka itu. Hanya sesekali terdengar lirih dia menyebut sebuah nama,

“Yati…. Yati…..”

Sesaat Yati tertegun mendengar namanya disebut-sebut, seakan pria itu mengenalnya.

“Ah, dia menyebut namaku. Siapa dia?”

Diikutinya para pria itu dengan ujung matanya. Namun begitu menyadari bahwa ia sama sekali tak mengenal satupun diantara para pria itu, segera dihempaskannya kembali tubuhnya pada sofa empuk itu.

Tampak bibirnya mengulas senyum kecil.

“Ah, halu saja aku. Mana mungkin sih ada yang mengenaliku. Memangnya siapa aku sampai dikenal orang.” gumamnya seraya mencoba memejamkan mata.

‘Nama Yati kan banyak. Mungkin ada puluhan. Atau bahkan ratusan. Bisa jadi hanya kesamaan nama saja. Ge er banget sih aku.’ kembali Yati membatin seraya tersenyum sinis.

“Yati! Yati! Maafkan aku!”

“Maafkan aku Yati!” teriak si pria malang tadi yang terus saja dibawa ke ujung lorong. Mungkin di sanalah ruang UGD berada. Karena dilihat dari lukanya, sepertinya pria itu korban kecelakaan.

“Kenapa dia terus saja memanggil namaku?”

‘Dan….sepertinya aku sedikit kenal dengan suara itu. Tapi siapa ya?’

Batin Yati semakin berkecamuk, karena seakan ia mengenal suara itu. Suara orang yang pernah dekat dengannya.

‘Tapi siapa ya?’ batin Yati lagi.

Tapi, begitu melihat mereka berempat, tak dihiraukannya ucapan lelaki itu.

“Ah, paling hanya kesamaan nama saja. Nggak usah dipikirin.” ujar Yati yang melanjutkan istirahatnya.

Keempat lelaki itu segera berlalu pergi. Tapi tidak dengan pikiran Yati. Dia terus saja terfikir siapa pria malang itu. Pria gelandangan berambut acak-acakan. Berkulit sedikit kuning walaupun saat ini terlihat kusam dan menghitam.

‘Siapa ya dia?’

Yati bangkit. Untuk membunuh rasa penasarannya, dihampirinya meja resepsionis dan bertanya,

“Maaf Sus. Pasien tadi siapa ya namanya?” ujar Yati pada suster cantik yang duduk di meja resepsionis itu.

“Oh, sebentar ya Mbak saya cek dulu.”

Terlihat jari-jemari suster cantik itu tampak mengecek data pasien.

“Cek….data hari ini….nama….”

“Apa Mbak keluarganya?” tanya suster itu seraya menelusuri data pasien.

“Ehm…eng-enggak sih Sus. Hanya saja saya pernah mendengar suaranya. Tapi siapa ya?”

“Oh, gitu Mbak. Oh iya, namanya Wisnu Mbak. Mbak kenal dengan beliau?” tanya suster cantik itu.

“Wisnu…..pernah sih. Tapi nggak tahu siapa dan dimana ya berada.” gumam Yati lagi.

“Ya sudah sus. Makasih ya.” ujar Yati kembali duduk.

“Eh, mbak. Tunggu sebentar Mbak!” seru suster itu lagi. Terlihat tangannya membolak-balikkan data.

Yati berbalik.

“Ya. Ada apa sus?”

“Maaf Mbak. Nama pasien tadi Arman. Penanggung jawabnya yang Wisnu.”

Seketika Yati terperanjat kaget.

“Arman? Benarkah dia Arman? Arman yang kukenal? Arman suamiku? Mantan suamiku?” gumam Yati dengan bibir bergetar.

Batin Yati semakin berkecamuk. Ia sama sekali tak mengenali penampilan mantan suaminya kali ini. Semua sungguh diluar dugaan dan nalarnya.

Memang, beberapa Minggu lalu sempat mereka bertemu di warung mie ayamnya. Namun saat itu kondisinya masih baik-baik saja. Atau setidaknya tidak separah sekarang. Dan sempat pula mantan suaminya itu sempat memintanya untuk kembali padanya. Namun, rasa sakit di dada Yati membuatnya tidak bisa menerima Arman kembali padanya. Apalagi jika ingat bagaimana ia diusir bak binatang liar. Dilempar dan dicampakkan sedemikian rupa. Sakit hatinya.

Dan setelah mendengar keputusan bulat dari Yati, Arman pergi. Bahkan tak sempat baginya berpamitan.

Namun kini, setelah peristiwa itu berminggu-minggu lalu, Taman hadir dalam kondisi yang begitu memilukan. Tampak luka berdarah seluruh tubuhnya.

Tanpa disadarinya, pelan-pelan menetes air mata menggenangi dua bola mata indahnya, dan perlahan turun menelusuri pipinya.

“Mbak!….Mbak!” ujar suster itu pada Yati.

cerbung.net

Pelet Hitam Pembantu

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Sekonyong-konyong sebuah tas pakaian besar sarat isi menimpa tubuh mungil wanita berambut sebahu itu. Tak dikancingkannya retsleting dengan benar, hingga sebagian isinya berhamburan keluar."Aduh!"Wanita itu urung menutup wajah dan tubuhnya dari lemparan tas besar, hingga sempat mengenainya dan membuat tubuhnya tampak sesaat limbung, dan kemudian terjatuh duduk dengan lutut menghantam aspal jalanan.Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset