Pelet Hitam Pembantu episode 57

Chapter 57 (The End)

“Ahkhkhkh… Panas…panas….”

Tubuh itu terus terguling-guling di lantai. Mulutnya meracau tak jelas. Matanya nanar menatap tak tentu arah, sambil sesekali matanya terbalik hingga nampak putih matanya saja.

Sementara disana, diujung sana, tampak Mbok Minah duduk seraya membaca ayat suci Al-Quran dengan khusyuk. Sesekali matanya terpejam untuk meningkatkan konsentrasinya. Tak dipedulikannya kondisi Wisnu yang menjerit-jerit minta diampuni.

“Ampuuun…ampuuun!” ujarnya seraya memohon ampun.

Namun Mbok Minah tahu, bahwa ia tak boleh sama sekali percaya pada ucapan mahluk hina itu. Terus saja dibacakannya ayat suci dengan konsentrasi tinggi.

Sementara itu, jauh diujung sana, lamat-lamat terdengar pula lantunan ayat suci Al-Quran yang disuarakan marbot masjid dengan suara dan nada yang merdu.

Mendapati kedua serangan mematikan itu, Wisnu semakin kalap. Jiwanya berontak ingin segera terlepas. Namun yang didapatnya justru semakin membuat tubuhnya tersiksa. Berkali-kali dibantingkannya tubuhnya ke kanan dan ke kiri seolah-olah mencari celah untuknya mengakhiri pertarungan itu.

Tubuh itu terus bergulingan hingga akhirnya berhasil mendekati Mbok Minah. Tangannya memegang erat tangan wanita tua itu seraya terus mengiba.

“Tolooong….tolong hentikan itu. Aku tobat. Aku tak mau lagi berurusan dengan kalian.” ujarnya dengan memelas. Tangannya menyatu didepan mukanya dengan sikap menyembah.

Mendapati ekspresi Wisnu yang perlahan mulai berubah ke wujud manusia, hati Mbok Minah iba juga. Bagaimanapun ia masih memiliki hati nurani. Usia Wisnu tak jauh berbeda dengan dokter Andri. Sangat disayangkan jika ia mati sia-sia.

Diakhirinya bacaan ayat suci itu, dan diraupkannya tangan pada mukanya.

Namun, ternyata itu hanya siasat Wisnu saja. Setelah tak lagi terdengar bacaan ayat suci itu, dengan sekali hentak tubuh wanita tua itu tersentak jauh. Jauh sekali hingga melabrak dinding dengan keras.

“Brakkk!”

“Ahkhkhkh!”

Darah berhamburan dari mulutnya yang mengeluarkan banyak berdarah. Tubuh tua itu telah mengalami luka serius pada bagian dalamnya.

“Mbok!”

Sontak Yati dan Laras mengejar tubuh wanita tua itu, yang kembali tergeletak dengan nafas terengah-engah.

“Mbok!”

Yati mendekat. Diambilnya kepala Mbok Minah dan ditempatkan pada pangkuannya. Dibersihkannya darah yang mengalir dari sela-sela luka itu.

“Hhhhhhhhhh….”

Desah terdengar dari mulut tua itu. Darah terlalu banyak keluar. Tak hanya dari kepalanya yang bocor. Namun juga dadanya. Dada itu mengalami luka robek yang cukup lebar dan dalam akibat cakaran Wisnu.

Dibukanya dadanya oleh Yati, dan seketika terlihat pemandangan yang menggidikkan. Dada Mbok Minah sobek terkena cakaran Wisnu. Kuku tajamnya berhasil merobek dada wanita tua itu, meninggalkan luka sobek yang dalam dan lebar. Darah mengalir deras dari lukanya.

“Mboooook!” seru Yati tertahan.

Ia tak tega melihat kondisi wanita tua itu. Tak ada lagi keluarganya. Satu-satunya anaknya telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Itulah yang menyebabkan wanita tua itu sangat menyayanginya. Seolah Mbok Minah menyayanginya layaknya anaknya sendiri.

“Mbooook.”

Yati masih saja terus terisak. Batinnya sedih. Tak ada lagi orang yang menganggapnya layaknya anaknya sendiri.

“Mbaaaak…” ucap Mbok Minah pelan.

“Iya Mbok…” ucap Yati sembari terisak. Badannya terguncang-guncang menahan pedih.

“Nanti….sepeninggal Mbok….”

“Tolong….. rawat …. keluarga ini baik-baik…..”

“Mbak…Yati…mau khannnn?”

Terlihat rona kekhawatiran dari ucapannya.

Yati mengangguk. Tak ingin ia melihat wanita tua itu bersedih. Tak akan ia meninggalkan keluarga ini.

Sementara Yati, Laras dan Mbok Minah terlibat dalam kesedihan akibat luka Mbok Minah, diam-diam Wisnu mengambil kesempatan. Ia bangkit perlahan dengan sikap waspada.

Didatanginya dokter Andri yang masih terpaku diujung dipan. Matanya menatap tak percaya. Bagaimana Mbok Minah, orang yang begitu merawatnya kini dalam keadaan sekarat. Dan bahkan disaat itu ia sebagai dokter tak bisa berbuat apa-apa. Luka di tangan dan kakinya terlalu sakit untuk digerakkan. Bahkan kaki kanannya saat ini terasa kebas akibat pukulan yang tadi diterimanya. Rasa sakit masih menderanya.

“Nah, dokter Andri…kini saatnya kau harus menerima pembalasanku.” ujar Wisnu seraya memperlihatkan kuku-kuku tajamnya yang berkilauan ditimpa sinar lampu.

Dan sejurus kemudian, tubuh gempal itu telah meluncur deras dengan kuku-kuku tajam menghitam menuju jantungnya.

“Haaaaaaaaaaaaaa!”

Mendengar teriakan Wisnu yang terdengar keras dan berbahaya itu, sontak Laras berbalik. Dilihatnya tubuh Wisnu meluncur deras dengan kuku tajam siap merobek jantung dokter Andri.

Laras tak mau berpikir panjang. Diambilnya batang besi yang sejak tadi tergeletak tak jauh dari kakinya.

Cepat diambilnya tongkat besi itu, dan dilemparkannya ke arah dokter Andri.

“Kak! Pakai ini!” serunya.

“Wuts!”

Tepat sekali tongkat besi tajam itu diterima oleh dokter Andri. Dan kali ini Wisnu dilihatnya sudah semakin dekat dengan tubuhnya. Cakar tajam itupun tinggal beberapa jengkal lagi hinggap dan merobek jantungnya.

“Tap!”

Segera setelah tongkat itu diterimanya, refleks bagian tajamnya diarahkan pada tubuh Wisnu, hingga dalam sekejap,

“Crakkk!”

“Blusss!”

Ujung tajam tongkat besi berhasil menerobos tulang dada Wisnu dengan deras.

Darah muncrat dari luka tusuk itu. Menghambur deras laksana air mancur. Merah dan segar dengan aroma anyir yang begitu kuat.

“Ahkhkhkh!”

Hanya terdengar jerit kesakitan dari Wisnu. Karena setelahnya hanya terlihat tubuh itu jatuh bergulingan di lantai dengan batang besi menancap erat tepat di jantungnya.

“Ahkhkhkh…”

Terus saja tubuh dengan darah berhamburan itu terguling. Mengejang beberapa kali, hingga akhirnya diam.

Dokter Andri melirik sekilas,

“Apa dia sudah mati?” gumamnya, seolah bertanya pada dirinya sendiri.

“Sepertinya sudah Kak. Tapi kita tunggu dulu beberapa saat.”

Tampak dokter Andri, Laras dan Yati sedang bersiap-siap. Beberapa koper tampak tersusun rapi di samping mobil silver yang terparkir rapi di halaman. Sepertinya mereka akan bepergian jauh.

” Gimana Kak? Kita pergi sekarang?” tanya Laras pada kakaknya.

“Iya. Sepertinya kakak sudah tak sanggup lagi untuk terus disini.”

Ya. Tak lama setelah kejadian yang mengakibatkan tewasnya Mbok Minah dan Wisnu di rumah itu, dokter Andri memutuskan untuk meninggalkan rumah itu dan berpindah ke perumahan yang tak jauh dari situ. Dan setelah melalui berbagai pertimbangan, dipilihlah perumahan PIK sebagai pilihannya. Selain jaraknya yang tak terlalu jauh dari rumah sakit tempat dokter Andri bertugas, juga dekat dengan butik yang akan segera dirilis Laras dan Yati.

Sementara rumah lama, untuk sementara rumah itu akan dititipkan pada jasa penitipan rumah sebelum akhirnya diambil keputusan akan dijadikan sebagai apa.


cerbung.net

Pelet Hitam Pembantu

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Sekonyong-konyong sebuah tas pakaian besar sarat isi menimpa tubuh mungil wanita berambut sebahu itu. Tak dikancingkannya retsleting dengan benar, hingga sebagian isinya berhamburan keluar."Aduh!"Wanita itu urung menutup wajah dan tubuhnya dari lemparan tas besar, hingga sempat mengenainya dan membuat tubuhnya tampak sesaat limbung, dan kemudian terjatuh duduk dengan lutut menghantam aspal jalanan.Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset