Pelet Hitam Pembantu episode 9

Chapter 9
Nah, susuk sudah kutanam untukmu.” ujar Aki Buyut seraya menepuk-nepuk pundak kiri Melati.

‘Hhhhhhhhhh…..untung ada ibumu. Kalau saja tidak ada….tentu aku sudah mendapatkan mangsa yang enak. Hhhhhhhhhh…’ batin Aki Buyut seraya memperhatikan gadis yang baru beranjak remaja itu.

“Iya Ki. Nuhun,” jawab Melati pendek.

“Berikutnya satu yang harus kamu pahami. Dengarkan!” ucap aki Buyut tegas pada keduanya.

“Iya Ki.”

Diangsurkannya sebuah bungkusan berwarna putih dengan sedikit campuran kecoklatan.

“Ini aku kasih untukmu sebungkus Bumbu Pemikat Raga. Isinya sedikit. Bahkan teramat sedikit. Jadi kau harus hati-hati menggunakannya. Jangan sampai kehabisan sebelum tujuanmu tercapai.”

BI War menerima dan menimangnya sebentar. Terlihat isinya memang sedikit.

“Bubuk ini terbuat dari tulang kucing hitam Afrika yang sudah dibakar dan dihancurkan. Khasiatnya luar biasa. Tak boleh sembarangan kau pakai.”

“Sejumput bubuk ini cukup untuk membuat targetmu tak bisa tidur semalaman karena memikirkanmu. Dan sampai saat ini belum ada penawarnya. Jadi, pastikan bahwa targetmu adalah orang yang tepat.” tutup Aki Buyut seraya memberikan satu amalan mantra sebagai penajamnya.

“Jangan lupa amalan ini wajib dibaca. Tiga kali sehari. Dan ingat! Tak boleh kau baca ini selagi datang bulan. Ingat!”

“Iya Ki. Kami mohon pamit.” ujar BI War yang segera pamit untuk kembali ke rumah majikannya, sekaligus ‘target’ baginya.

Benar saja. Sejak kedatangan mereka berdua ke Aki Buyut, hari ke hari kedekatan keluarga Sutawijaya dan Bi War makin terlihat.

Setiap hari, dalam masakan keluarga itu tak pernah lupa bagi Bi War dan putrinya untuk menaburkan ‘bumbu penyedap’. Dan itu pula yang membuat pengaruh Bi War dan Melati semakin merajai. Walaupun secara status mereka hanyalah pembantu, namun sebenarnya merekalah raja disana. Semua orang tunduk pada perintahnya.

Setiap ada permintaan dari mereka berdua, tak kuasa bagi keluarga itu untuk menolaknya. Bahkan sempat terjadi beberapa aset berpindah tangan tanpa kesadaran keluarga Sutawijaya.

Berbulan-bulan hal itu terjadi. Hingga datang seorang kerabat jauh yang curiga dengan kelakuan aneh itu. Apalagi terlihat dokter Sutawijaya dan Bu Medi setiap kali dirumah tampak bengong dan seolah hilang kesadaran. Tapi, semua tampak menjadi normal lagi saat jauh dari rumah.

Suatu kali, dibawalah mereka berdua jauh dari rumah. Sengaja dikatakannya ada undangan makan. Padahal sejatinya, mereka berdua hanya makan di restoran saja.

“Maaf Bu Medi, Pak dokter. Sebelumnya saya mau tanya. Apa kalian berdua merasa aneh dengan kelakuan kalian selama ini?” ujar kerabat itu menyelidik.

“Maksudnya apa ya Mas?” tanya dokter itu pemasaran. Sementara istrinya tampak duduk menikmati segelas Cappucino.

“Begini lho pak. Bukannya mau ikut campur dalam urusan rumah tangga kalian. Tapi apa tidak sebaiknya kalian lebih waspada sedikit.”

“Waspada terhadap apa Mas?” tanya dokter itu.

Tampak Bu Medi yang sedari tadi asik dengan minumannya menyahut.

“Apa dengan Bi War?” tanya Bu Medi.

“Benar Bu. Soalnya kalau saya lihat secara kasat mata, terlihat sekali kalian seolah dikendalikan olehnya.” jawab lelaki itu hati-hati.

“Tepat pah. Sudah lama aku curiga dengan kelakuannya. Seolah kita tak kuasa untuk menolak setiap permintaannya. Bahkan papah ingat? Berapa kali dia minta dibiayain untuknya membangun rumah di kampung sana? Sudah beberapa kali lho Pah.”

“Dan anehnya, tak ada dari kita satupun yang sadar sepenuhnya. Tiba-tiba kita tahu bahwa kita telah memberikan ini dan itu padanya.”

“Dan coba papah lihat kelakuan Andri belakangan ini. Aneh nggak pah? Setiap hari tak bisa lepas dari Melati. Padahal kan dia mau masuk kuliah tahun ini Pah. Apa dia bisa melanjutkan pendidikan dengan benar jika terus begini?”

“Sementara adiknya, Laras juga tahun ini masuk SMA. Jangan sampai dia terpengaruh seperti kita Pah.”

Tanpa jawaban, dokter Sutawijaya hanya terlihat manggut-manggut. Tampak seolah ia memikirkan sesuatu.

“Jadi bagaimana Mas? Bagaimana cara mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan kita? Soalnya nggak mungkin kan kita menuduh tanpa bukti yang kuat?” ujar dokter Sutawijaya meminta pertimbangan.

“Tapi Pah. Adakalanya beberapa hal tak bisa dinalar dengan benar Pah. Aku curiga jangan-jangan dia menggunakan sesuatu yang menghipnotis kita.”

“Tepat sekali Bu. Itu juga yang mau saya utarakan kepada pak dokter dan Bu Medi.”

“Jadi bagaimana Mas?”

“Harus kita upayakan. Upayakan agar sihir yang masuk kepada diri kalian berdua tak lagi mempan.”

“Mas Bejo tahu orang yang bisa menolong kami?”

Tampak sesaat Bejo berpikir keras. Tak mudah membentengi orang yang sudah beberapa lama diobati. Butuh orang dengan ilmu yang paling tidak setara dengan si pelaku.

“Ahaaaa! Kita ke Bogor saja. Kebetulan saya ada kenalan disana.”

“Baik Mas Bejo. Saya percaya. Jadi, kapan kita bisa berangkat?”

“Iya Mas. Secepatnya kalau perlu. Soalnya kami takut pengaruh itu makin besar dan fatal bagi kami jika terus ada.”

“Baik. Besok pagi saya jemput kalian berdua. Jam tujuh kita berangkat.”

“Hmmmm…. Saya tahu pelakunya.” bisik lelaki tua itu seraya memperhatikan gejala-gejala yang timbul dari diri pasangan setengah baya itu. Juga setelah diceritakan gejala-gejala yang ditimbulkan.

“Kalian hanya bisa dikuasai saat dirumah. Itu artinya sihir itu hanya berlaku disana. Dalam radius tak lebih dari seratus meter.”

“Aku yakin betul. Sihir itu ditanam dalam rumah kalian.” gumamnya lagi seraya pandangannya menerawang.

“Besok, kalian cari beberapa orang untuk membersihkan rumah. Jangan sampai ada yang terlewat. Kalau ada yang bertanya, katakan saja mau bersih-bersih. Paham?”

“Kami paham Ki.” jawab mereka bersamaan.

“Oh iya. Saya mau bertanya sedikit. Tapi sebelumnya mohon jangan tersinggung ya bapak, ibu.”

“Iya Ki. Silakan!”

“Maaf, kalau boleh saya tahu, apa agama yang saudara berdua anut?”

Tampak Bu Medi dan suaminya saling pandang. Mereka sadar selama ini sudah terlalu jauh dari agama. Tak pernah lagi wajahnya tersentuh air wudhu. Tak pernah lagi tubuh dan wajah itu menyentuh lantai, merendahkan diri ke hadapan illahi. Bahkan lupa kiranya kapan terakhir kalinya membaca syahadat.

“Maaf jika menyinggung bapak, ibu. Tapi ini penting.”

“Ah, eh, baiklah. Kami berdua Muslim Ki.”

Tampak sosok tua itu lagi-lagi manggut-manggut. Dipelintirnya jenggotnya sedikit.

“Baik ibu. Bapak. Kita menenangkan diri dulu sejenak. Kalian berdua duduk disini. Mata terpejam. Bacalah doa atau surat apapun yang kalian bisa. Tak harus banyak. Yang sedikitpun tak mengapa.”

Tampak Bu Medi dan pak dokter mengikuti anjuran lelaki tua itu.

Suasana hening. Tak terdengar lagi ucapan dan tindakan. Mereka semua larut dalam konsentrasi. Larut dalam doa dan lafaz-lafaz memuji kebesaran illahi.

Sesaat kemudian, tampak dalam pandangan batin lelaki tua itu, tubuh dokter Sutawijaya dan bu Medi bergetar, dan mengeluarkan sebongkah asap putih kekuningan. Tampak pengap mengitari keduanya. Seolah tak rela jika dilepaskan dari inangnya.

“Hei! Kalian mahluk kecil. Pergilah dari badan mereka berdua!”

Seolah tak menghiraukan ucapan lelaki tua itu, terus saja gumpalan asap berputar-putar di atas dahi pasangan setengah baya itu.

“Pergilah! Pergilah!”

“Jangan sampai kalian menghabiskan sisa kesabaranku.”

Masih saja berputar-putar, hingga akhirnya dengan satu gerakan lelaki tua itu mengambil sebilah keris kecil dari pinggangnya. Ditimangnya sebentar, dan dalam keadaan gaib terlihat keris itu berpendar-pendar dalam cahaya kebiruan. Cahaya itu begitu kuat, hingga mampu mendorong pergi cahaya putih kekuningan. Pergi melesat entah kemana.

“Nah, sudah selesai. Silakan buka mata kembali!” ujar lelaki tua itu seraya mengelap sisa keringatnya menggunakan ujung kain. Tampak rona lelah tergambar disana.

“Baik. Pengaruh jahat sudah saya buang.”

“Iya Ki. Badan saya terasa enteng. Enteng sekali. Nggak sakit apapun.”

“Dan, mulai sekarang. Setiap selesai sholat, usahakan selalu baca amalan ini ya pak, Bu.”

“Ini penting agar jiwa kalian tetap terlindungi. Karena…..”

“Karena apa Ki?” tanya mereka bersamaan.

“Karena tak mudah berhadapan dengan. orang semacam ini. Ambisius dan kejam. Tak tanggung-tanggung, mereka bisa mengorbankan apa saja asal tujuannya tercapai. Dan….”

“Ada satu tujuan besar yang ingin mereka capai….dan itu bukanlah hal yang sembarangan.”

“Sihir ini berbahaya sekali.”

Degh! batin kedua suami istri itu tampak menegang. Bahaya!

“Satu lagi….” bisik lelaki tua itu menegaskan.

“Jangan makan makanan ataupun minuman hasil dari pembantunya itu!”

Sesaat tampak Bu Medi dan suaminya tertegun.

“Apa hal itu tak menimbulkan kecurigaan Ki?”

“Kalian lebih tahu caranya.” tutupnya seraya menutup pintu.

cerbung.net

Pelet Hitam Pembantu

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Sekonyong-konyong sebuah tas pakaian besar sarat isi menimpa tubuh mungil wanita berambut sebahu itu. Tak dikancingkannya retsleting dengan benar, hingga sebagian isinya berhamburan keluar."Aduh!"Wanita itu urung menutup wajah dan tubuhnya dari lemparan tas besar, hingga sempat mengenainya dan membuat tubuhnya tampak sesaat limbung, dan kemudian terjatuh duduk dengan lutut menghantam aspal jalanan.Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset