Pemuja Rahasia episode 2

Chapter 2

Ketika musim liburan tiba, di mana sebelum liburan sudah pasti ada acara perpisahan sekolah. Tahun ini adalah tahun angkatan Beni yg harus berpisah dengan sekolah tercinta kita. Sudah lama, sejak terakhir bertemu dengannya, sejak terakhir berbicara dengannya dan sejak terakhir aku lihat tawa itu. Semenjak saat itu aku sudah tidak pernah bertemu atau melihatnya lagi. Rasa yg ada dalam dada mulai sedikit terhapus tapi tidak sepenuhnya terhapus. Ah, rasa apa ini sebenarnya? Kenapa begitu mengganggu batinku? Sedangkan dia tak pernah tau apa2 tentangku, akupun tak tau apa2 tentangnya. Karna di jaman ini masih belum ada yg namanya sosial media sebagai wadah untuk mengintai, jadi aku hanya menikmati setiap terpaan rasa yg ada setiap hari seperti itu. Terkadang rindunya menyakitkan, terkadang rasanya tak bisa dilukiskan, hingga untuk menerima pria lain masuk ke hati sempat mengalami kesusahan. Oh Tuhan, harus sampai kapan rasa yg tak bisa kupahami ini menetap di hati? Mungkin kah hingga nanti ketika usiaku sudah memahami tentang hal yg seperti ini? Aku juga sempat berpikir ah sudahlah mungkin ini hanya cinta remaja yg tidak akan lama lagi pasti akan menghilang dan tergantikan dengan yg lain yg lebih indah. Hari-hari terus berlalu dan Akupun tetap menjalani rutinitasku seperti biasa, sekolah, mengerjakan PR, dan bermain. Hingga tiba saat aku lulus dari sekolah SMP dan melanjutkan studi di Jawa Timur hingga saat itu aku ga pernah tau apa kabar dia? Dimana dia saat itu? Memang aku tidak pernah berusaha untuk mencari tahu tentangnya tapi hatiku secara diam2 ingin terus mengetahuinya, tapi sia-sia aku tak pernah mendengar kabarnya sedikitpun. Akhirnya setelah euforia kelulusan aku pun berpamitan dengan semua sahabat serta saudara2ku untuk melanjutkan studi ku di Jawa Timur. Tangis haru sahabatku Tini yg ga rela aku pindah sekolah membuatku berat juga tapi apalah daya ini sudah menjadi keputusanku dan juga keputusan dari orangtuaku untuk menimba ilmu di sekolah yg berlatar belakang agama. Sehari sebelum aku berangkat Tini mengirimkan pesan singkat seperti ini “aku takut ketika nanti kita ketemu lagi kita bakal canggung, aku masih pengen kita kayak sekarang yg ga ada batas, yg ga ada jarak. Semoga kita nanti ga sampe lost contact dan tetep ngabarin satu sama lain ya.” Seketika tangisku pecah dipangkuan Ibuku dan sempat terbersit ragu dihati untuk meninggalkan Pulau yg begitu indah ini. Tapi sekali lagi orangtuaku menginginkan yg lebih baik untuk anaknya. Sebagai anak tunggal aku memang manja terutama pada kedua orangtuaku dan nenekku. Akan tetapi aku tidak manja seperti yg orang lain lihat. Aku juga bisa melakukan pekerjaan seperti anak perempuan yg lainnya.
Di pertengahan tahun 2009 aku mulai mengawali hariku di Jawa Timur dengan rutinitas yg baru, suasana yg baru dan sahabat yg baru. Tapi hati tetap belum ada yg baru, masih tetap Beni walaupun getarnya sedikit mereda tapi tetap saja masih ada.
Aku pun mencoba untuk memulai hariku yg baru disini di Kota ini, aku mulai aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yg diadakan sekolah. Sampai pada saatnya aku mulai membuka hati dan menepiskan rasa untuk Beni itu. Aku mulai dikenal kakak kelas karna aku mungkin anak baru dan berasal dari luar pulau.
Banyak yg mulai mendekati, banyak yg bermodus seperti ingin menjadi sahabat atau sekedar ingin mengenal lebih dekat dan ujung-ujungnya mereka pada menyatakan cinta (red: nembak). Ah sudah kuduga lelaki semua seperti itu. Aku tidak terlalu menanggapi jika yg mendekat hanya karna menginginkan hal tersebut. Setelah aku menepiskan rasaku yg bertahan bertahun-tahun pada Beni ada teman sekelas yg menarik perhatianku, namanya Faiz, memang kami sekelas tapi kami jarang bertegur sapa layaknya seorang teman, dia pendiam dan membuatku sungkan sendiri ketika akan memulai percakapan. Faiz adalah orang yg mampu menggeser Beni dari hatiku meskipun sisa-sisa rasa itu masih ada. Akan tetapi pada saat yg sama ada satu kakak kelas yg berusaha menarik perhatianku sebut saja namanya Idris, dia kakak kelasku 1 tahun. Dia mulai intens menunjukkan perhatiannya, mulai sering mengirimkan gift kecil untukku. Dan tiba suatu malam handphoneku berdering tertera di layar handphoneku nomor tanpa ada nama. Aku abaikan saja karna aku sudah ngantuk dan malas meladeni hal-hal yg ga penting. Tapi semakin aku abaikan semakin aku penasaran karna tak hentinya telponku berdering. Akhirnya dengan sedikit rasa malas dan deg deg an aku angkat telponnya.
“Hallo, assalamualaikum?”.
“Waalaikumsalam, udah tidur Er?” Jawab seseorang di seberang sana
“Ini siapa ya maaf?,” kataku
“Ini Idris Er” jawabnya
“Oalah kak Idris, kirain aku siapa tumben telpon malem2 gini dan pake nomor baru pula” sahutku
Idris menimpali “aku ganggu kamu ga Er?” Aku jawab ” enggak kok kak, ada apa emang?”
” ga ada apa2 kok, aku cuma mau bilang aku mulai suka kamu, kamu mau gak jadi pacar aku?”
Gila ni cowo to the point amat ya kalo ngomong batinku
“Apa kak? Ga terlalu cepet itu? Aku mah ga mau ah kalo ditembak gini lewat telpon, kesannya cuma buat mainan doang”
Seketika dia matikan telponnya.
“Hallo, kak hallo. Tut tuut tuut”
Aku berfikir dia marah setelah aku respon seperti itu. Aku mulai ga enak sendiri. Setelah 15 menit berlalu ada telpon dari nomor yg sama langsung aku angkat “hallo kak Idris?, kok dimatiin gitu aja tadi? Kakak marah ya? Maaf ya kak aku ga bermaksud seperti it” pembicaraanku di potong “coba keluar bentar deh, aku udah depan rumah kamu”
“What?, seriusan kak? Ngapain malem2 gini” dipotong lagi “ayolah keluar” “oke2 aku keluar kak” Dan apa yg aku lihat dia bersama 3 temannya tepat di depan rumahku memegang tulisan I, love, dan you. Wanita mana yg tidak tersentuh dengan hal seperti ini? Akupun terharu dan i said yes i do walaupun hatiku sebernarnya masih menginginkan Faiz, tapi karna melihat usaha kak Idris yg sampai segitunya aku terharu juga.
Entah gimana ceritanya gosip aku jadian sama Idris udah tersebar kemana2, bahkan sekolah tetangga pada tau.
Bulan pertama kami menjalin hubungan semua baik-baik saja lancar saja dan pada bulan ketiga kami menjalin hubungan sudah mulai ada konflik yg membuat kami untuk break sementara.
Saat itu percakapan kami mulai seperti ini
“Yang, kamu udah mulai banyak bohong ya?, kamu kemarin bilang pulang jam 9 dan ga jalan sama mantan kamu, tapi ternyata aku dpt infonya kamu keluar sama mbak Ria”!!
“Kamu tau darimana sih? Gak ah itu bohong, udah ya aku sibuk”
“hallo yang, hallo hallo, tut tut tut”
Panggilan mati. Idris mulai berubah setelah kita jadian selama 3 bulan, dia mulai suka marah2, kasar kalo ngomong, dan jarang ngasi perhatian kecil kayak waktu PDKT. Tapi aku masih bertahan. Dan pada akhirnya aku melihat dgn mata kepalaku sendiri kalo dia emang keluar bareng mantannya. Emosiku memuncak saat itu langsung kuambil handphoneku dan cari nomornya nada sambung samsons kenangan terindah terdengar di telingaku, dua kali aku telpon tak ada jawaban lalu yg ketiga kali baru ada jawaban dan terdengar ramai.
“hallo, iya kenapa?” Jawabnya diseberang sana.
“Kamu dimana sekarang yang?” Berharap dia jujur masih dengan nada yg lembut. ” aku lg dirumah temen ini yang, kenapa”. Ternyata dia bohong padahal aku lihat dengan matakepala sendiri saat itu dia sedang bermain di Alun-alun kota bersama mantannya. “Oke, aku bilang ya ke kamu aku udah ga bisa lanjutin hubungan ini lagi, jangan pernah tanya aku kenapa, tapi coba tanya ke dirimu sendiri kenapa. Makasih ya kak Idris atas semuanya. Aku pergi” tuuut tuut tuutt
Aku sama sekali ga patah hati, aku biasa saja mungkin karna belum terlalu dalam dan memang Idris bukan orang yg aku inginkan sebenarnya hanya saja aku mencoba untuk setia.
Keesok paginya Idris mendatangi kelasku dan…


cerbung.net

Pemuja Rahasia

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2016 Native Language: Indonesia
Lucunya cinta monyet anak baru gede (ABG) , malu ? iya , takut ? iya , panik ? IYAAAA , itulah yang kita alami ketika bertemu dengan cinta(monyet) pertama , perasaan cinta yang besar tapi kecanggungan selalu terjadi ketika kedua merpati saling yang bertemu...

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset