Pemuja Rahasia episode 5

Chapter 5

Dan akhirnya ada satu postingan yg membuatku berani untuk memulai komen. Salah satu postingan yg pertama kalinya aku berani menampakkan diri adalah postingan foto. Iya foto dia menggendong keponakan barunya. Saat itu aku berfikir ribuan kali untuk meninggalkan komen. Pada akhirnya aku meninggalkan komen juga.
A : itu R bukan? (Nama keponakannya)
B : iya bener itu R.
A : oh kirain anakmu Ben 😀
B : aku belum nikah kali Er
A : hahaha kirain udah nikah, gimana kabar btw?
B : baik alhamdulillah, kamu sendiri gimana?
A : baik juga alhamdulillah
Seperti itu percakapan singkatnya. Saat itu aku merasa senang, karna dia sama sekali tidak bertanya tentang siapa aku, yg menandakan dia masih mengingatku padahal sudah sekian tahun lamanya tidak bersua.
Komentar di facebook sudah disudahi, kembali lagi aku menjadi secret admirer, yg setiap kegiatan maya nya seolah olah aku mengetahuinya, kadang aku membaca postingan2 lamanya membuatku geli sendiri, membuatku tertawa sendiri. Anehnya aku tidak merasa ilfil sama sekali, aku selalu berfikir hanya dunia maya apapun yg tidak nyata seolah nyata, tapi yg nyata malah tersembunyi. Begitu lah dunia maya yg aku tahu.
Aku tidak mengerti apakah ini cinta? Tapi kenapa aku tidak memiliki hasrat yg kuat untuk memilikinya? Aku tidak ingin memilikinya, sungguh aku tak berharap bisa memilikinya.
Bahkan aku pernah berfikir untuk menyimpan rasaku ini selamanya dan menyembunyikannya dari suamiku kelak agar tak menyakitinya karna bukan dia yg pertama ada dihatiku.
Kembali hatiku susah terbuka karena hal ini, bahkan sudah bertahun tahun lamanya ini aku belum berani menceritakan tentang rasa ini kepada siapapun. Hanya aku dan Tuhanku yg tahu.
Tidak lama setelah itu, seseorang di masa lalu juga hadir, Sahid. Iya Sahid yg dulu aku rela menjadi anjing untuk mengejar ngejar dia demi menutupi rasa yg sesungguhnya aku rasa terhadap Beni. Dia tiba2 datang menyapa, sering meninggalkan jejak di akunku. Aku masih mengabaikan. Sampai akhirnya dia mulai menyapa seperti biasa layaknya kawan lama yg tidak pernah berjumpa. Bercanda, ejek2an, seperti biasa. Akan tetapi ketika aku mulai percakapan dengan Sahid seakan ada duri didalam hati, sakit. Entah kenapa sakitnya aku tidak dapat mengartikannya.
Seperti orang bodoh rutinitasku on hp, stalking Beni, ngarep dia online setiap hari.
Ah, sebenarnya aku ini kenapa sih? Dia di pulau sebrang, dia tak akan pernah tau tentangku, aku juga hanya mengetahui dunia mayanya tanpa tau kehidupan pribadinya. Aku takut, aku ingin berhenti, tapi aku tidak bisa. Hingga pada akhirnya seseorang masa lalu datang lagi, Idris, iya orang itu, orang yg membuatku merasa sangat berdosa, orang yg membuatku merasa sangat kotor. Aku membencinya, sungguh. Aku tidak ingin melihatnya lagi, aku takut akan lebih parah dari waktu itu. Aku takut dia masih ingin mewujudkan obsesinya. Akhirnya aku mulai menutup semua akun media sosialku, memblokir dia, menyaring no telponnya. Aku benar2 ingin menghindari psikopat macam ini dari hidupku, trauma itu muncul lagi. Aku takut. Hingga saat ini ketika aku mendengar suara bentakan rasanya langsung down, lemas, dan gelap. Aku berusaha untuk mengobati itu, mengobati luka lamaku, mengobati rasa traumaku akan kejadian itu. Aku berusaha menghilangkan rasa-rasa yg dulu membuatku benar2 ketakutan. Meskipun belum benar-benar sembuh setidaknya sudah mulai berkurang. Kembali lagi ke Idris, dia mulai mengancamku lagi melalui banyak media, aku hanya mengabaikan, tak pernah aku tanggapi, aku biarkan dia hingga dia merasa lelah. Akan tetapi dia tidak lelah juga, malah tindakan yg dilakukannya semakin ekstrim. Ada hari dimana aku sendirian dirumah, orang rumah sedang berkunjung ke tempat saudara di luar kota, sepertinya Idris memang sudah mengintai rumahku, saat itu pukul 7 malam ba’da maghrib, karna memang tidak ada orang jadi aku sudah mengunci rumah dan berdiam diri didalam kamar, kebetulan kamarku berada didepan tepat di samping pintu utama. Saat aku asyik nonton movie samar2 aku mendengar ada ketukan pintu dari luar kamar. Aku pause movieku, dan aku memastikan lagi ketukan itu, ternyata memang ketukan dari luar, tapi aku tidak berani untuk membuka pintu kamar. Aku mengintip keluar dari jendela kamarku, aku melihat ada MX merah sudah terparkir di halaman depan. Seketika aku shock, aku takut, badanku lemas, aku ingin berteriak tapi tenggorokanku tercekat. Apa lagi maunya? Aku tidak beranjak dari kasurku, aku masih diam tak bergerak. Untuk bernafaspun aku sangat ketakutan, aku takut dia mendengarnya.
Lalu aku mendengar suara tetanggaku memanggil “nduk, iki lho wonten rencange ngentosi” nduk, ini ada temennya nungguin.
Aku merasa lega sekali ketika aku mendengar suara tetanggaku.
“Nggih nyi, kulo teng kamar, sek nyi” iya nyi, aku di kamar, sebentar nyi sahutku dari dalam kamar. (Nyi = panggilan untuk nenek, nduk = panggilan untuk anak wanita)
Aku mengambil jilbabku, dan kemudian bergegas keluar kamar serta bersiap membuka pintu depan, dengan gemetar aku memegang gagang pintu, yg kulihat adalah pria berbaju navy didepanku kini. Ternyata aku salah menduga, memang benar dia Idris, akan tetapi saat ini dia datang dengan sorot yg berbeda, dengan sorot yg tenang, padahal beberapa hari sebelumnya dia sempat mengancamku melalui facebook. Aku mengajaknya mengobrol diluar saja, karna aku masih takut, aku khawatir ini adalah sisi dia yg lain, dan aku takut dia bisa berubah dalam sekejap seperti monster waktu itu. Dia memulai percakapan “apa kabar?” Bukanya
“Baik, ada apa kesini?” Jawabku
“Ga ada apa2, aku mau bilang maaf kalo selama kita pacaran aku lebih nyiksa kamu, aku banyak nuntutnya” katanya.
Kalimat itu seakan membuka luka lamaku lagi, seakan mengulang ingatanku pada perlakuan bak binatang peliharaan. Aku hanya mampu menjawab “oh gitu, udah aku maafin kok” dengan gemetar suaraku keluar.
Dia mulai mendekat, dan mengatakan sesuatu “aku masih sayang kamu, aku harap kamu masih tetep bisa jaga diri sampai seseorang yg halal datang menemuimu, aku tau kamu selama ini sama sekali ga pernah ada hati buat aku, aku tau hanya saja waktu itu aku bener2 suka sama kamu, bener2 ga mau kamu sama yg lain, akhirnya aku melakukan itu semua”
Aku masih diam seribu bahasa, tak menanggapi apapun karna aku sangat ketakutan. Dan aku berfikir mimpi apa dia bisa mengucapkan kalimat yg menyentuh seperti itu, tapi sayangnya aku hanya takut dan tidak tersentuh sama sekali.
“Kamu paham maksudku?”
Aku hanya menggeleng dengan tangan masih kugenggam.
Lalu dia merogoh sakunya dengan mengeluarkan suatu benda berbentuk botol sebesar ibu jari dan aku melihat ada rambut didalamnya.
Dia berkata “ini maksudku, aku minta maaf”
Aku masih geleng2 belum paham apa maksud itu semua. Saat itu aku sangat tidak mengerti apa sebenarnya benda tersebut.
“Yaudah, pokoknya aku minta maaf, lupain semua ancaman2ku, aku ga serius melakukan itu semua”
“Udah aku maafin kok” kataku.
“Yaudah aku pamit ya” katanya
dia menatapku begitu lekat dan dalam, aku melihat ada yg beda dari sorot matanya, aku terbawa suasana, aku ikut menatapnya seakan aku lupa akan ketakutanku sebelumnya. Dia mendekat hingga aku mampu merasakan hembusan nafasnya, semakin dekat dan aku terbawa. Namun aku masih bisa tersadar, astaghfirullah aku memundurkan diriku, tapi Idris malah memegang pergelangan tanganku dengan erat sekali hingga aku tidak mampu melepaskan


cerbung.net

Pemuja Rahasia

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2016 Native Language: Indonesia
Lucunya cinta monyet anak baru gede (ABG) , malu ? iya , takut ? iya , panik ? IYAAAA , itulah yang kita alami ketika bertemu dengan cinta(monyet) pertama , perasaan cinta yang besar tapi kecanggungan selalu terjadi ketika kedua merpati saling yang bertemu...

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset