Pendekar Cinta dan Dendam episode 1

chapter 1

Kepulan asap hitam tampak mengepul di atas sebuah bukit. Bukit yang ditinggali beberapa kepala keluarga itu tampak diselimuti kepulan asap dengan kobaran api yang mulai membakar satu per satu rumah penduduk yang terbuat dari bambu. Warga desa tampak berlarian untuk berlindung, tapi rupanya penyebab dari kekacauan itu enggan membiarkan mereka meninggalkan tempat itu.

“Cepat bunuh mereka! Jangan biarkan satu pun yang lolos!” perintah salah satu lelaki. Lelaki yang menutupi setengah wajahnya itu menatap beringas siapa pun yang ada di depannya. Tanpa belas kasih, dia membantai setiap warga yang dijumpainya. Tak peduli anak-anak ataupun orang dewasa, dengan tega dia membantai tanpa ampun.

Walau melawan, nyatanya warga desa yang tidak seberapa itu hanya bisa menerima nasib takdir mereka. Satu per satu mayat bergelimpangan dengan luka tebasan dan anak panah yang menancap di tubuh mereka. Suasana desa yang hiruk pikuk dengan suara tangisan dan histeris ketakutan seketika hening. Yang terdengar hanyalah suara derak rumah bambu yang jatuh karena hangus terbakar.

Desa yang ada di atas bukit itu adalah sebuah desa kecil yang cukup damai. Kehidupan mereka sangat jauh dari kemewahan, tetapi mereka hidup berdampingan saling membantu dan menolong sesama mereka.

Desa yang hanya ditinggali beberapa kepala keluarga itu adalah sebuah desa yang dikenal dengan ras mereka yang lain dari ras mana pun. Mereka memiliki kulit yang putih dan warna mata yang kebiruan. Karena itulah, desa mereka dihancurkan.

Pembantaian itu dilakukan karena desa itu dianggap sebagai desa yang membawa kesialan bagi desa yang berada di sekitar bukit. Bagi mereka, desa itu layak untuk dimusnahkan karena mereka telah dikutuk. Warna kulit dan mata yang berbeda adalah penyebab mereka dimusuhi.

“Tuan, semua penduduk desa telah mati. Lalu, sekarang apa yang harus kita lakukan?” tanya seorang pemuda pada lelaki yang kini berdiri di depannya.

“Kumpulkan mayat mereka dan bakar! Aku tidak ingin jejak mereka berbekas karena kita pasti akan dimurkai oleh Dewa. Mereka hanyalah pembawa kesialan bagi desa kita!”

Pemuda itu lantas mengangguk dan segera memerintahkan beberapa temannya untuk mengumpulkan mayat-mayat penduduk desa. Mereka lantas mengumpulkan mayat-mayat dan menumpuk tubuh kaku itu di tengah lapangan yang tidak terlalu besar. Setelah disiram dengan minyak, mereka lantas membakar dengan melempar sebuah obor yang menyala. Seketika, api berkobar melahap tubuh-tubuh yang telah kaku itu.

Sementara di balik semak, tampak seorang gadis kecil sedang bersembunyi. Gadis kecil berkulit putih dan bermata biru itu tampak menahan tangis saat melihat penduduk desanya dibantai dan dibakar. Dia hanya bisa bersembunyi dan melihat pembantaian di depan matanya. Terlebih, saat dia melihat ayah ibunya mati tanpa dirinya bisa melakukan apa-apa.

Gadis kecil itu lolos dari pembantaian karena saat itu dia tengah berada di hutan. Dia sedang merajuk pada ibunya karena tidak mengizinkannya pergi ke kota. Karena itu, dia menyembunyikan diri di hutan agar ibunya mengkhawatirkannya dan mau menuruti keinginannya. Namun, apa yang disangkanya itu berbanding terbalik. Kini, dia telah kehilangan orang tuan dan juga desanya.

Gadis kecil itu masih bersembunyi karena para pembunuh masih berada di desanya. Dari balik semak dia memerhatikan wajah-wajah pembunuh itu. Saat melihat api berkobar melahap tubuh tak bernyawa orang tua dan penduduk desanya, tangannya mengepal. Tatapan matanya menyiratkan kemarahan. Namun, dia hanya bisa bersembunyi dan menahan perasaan yang kini tersulut amarah.

Saat matahari tenggelam, para pembunuh itu mulai meninggalkan desa. Sementara gadis kecil itu masih memerhatikan mereka dari balik semak. Saat mereka sudah menjauh, dia lantas keluar dan berlari ke arah tumpukan mayat yang kini telah hangus terbakar. Gadis itu menangis meratapi kematian penduduk desanya. Dia menangis karena kini dia telah sendiri.

“Ibu, maafkan aku!” Gadis kecil itu terduduk dengan isak yang memilukan. “Ayah,” ucapnya sesenggukan. Ditatapnya tumpukan mayat yang telah hangus itu sambil mengepalkan tangannya. Dia terlihat marah. Gadis yang berusia 10 tahun itu lantas mendongakkan kepalanya ke atas, menatap cakrawala yang mulai menghitam.

“Apa salah kami hingga mereka membunuh keluargaku? Apa kami meminta untuk terlahir dengan kulit dan mata yang berbeda dari mereka? Apa karena itu kami dianggap sebagai manusia yang dikutuk?” Gadis kecil itu berseru lantang, seakan menyalahkan para dewa.

“Katakan padaku apa salah kami! Kalian para dewa hanya bisa diam melihat semua kebiadaban ini! Kalian di mana!” Kembali dia berseru. Seketika, petir menggelegar. Cahaya putih menyambar di antara langit hitam. Suara dentuman dan gemuruh petir saling bersahutan. Titik-titik air hujan perlahan turun dan membasahi tempat itu.

Bara api yang masih menyala lantas padam. Kepulan asap seketika musnah. Tempat itu terlihat mengenaskan. Desa yang sudah porak poranda itu terlihat menyeramkan. Tanpa sedikit pun rasa takut, gadis itu lantas bangkit dan mendekati salah satu mayat. Dengan tangan gemetar, dia menyentuh tangan mayat itu. “Aku akan membalaskan dendam ini. Mereka pantas mati karena telah melakukan hal ini pada kalian. Aku, Li Jia berjanji akan menuntut balas atas perbuatan mereka pada kalian!”

Seketika, suara dentuman yang sangat keras terdengar dari atas langit. Hujan turun semakin deras. Sekujur tubuh gadis kecil yang bernama Li Jia itu telah basah kuyup. Setelah memerhatikan tempat itu, dia akhirnya memutuskan untuk pergi.

Di tengah hujan dan gemuruhnya petir yang menggelegar, dia pergi meninggalkan desanya. Dengan derai air mata, dia melangkah pergi menyusuri hutan. Di sepanjang malam, dia terus berjalan dengan langkah kecilnya, hingga menjelang matahari terbit gadis itu terduduk lemah. Wajahnya memucat dengan bibirnya yang membiru. Sepanjang perjalanan dia menahan dinginnya embusan angin malam dengan tubuh yang basah kuyup. Itu sudah cukup untuk membuat tubuhnya melemah dan akhirnya ambruk tidak sadarkan diri. Tubuh kecilnya tergeletak tak berdaya tanpa pertolongan dari siapa pun. Tempat itu terlihat sepi karena masih berada di perbatasan hutan.

Dua jam berlalu. Matahari makin meninggi dan menyinari wajahnya. Kehangatan sinar matahari memberikan kekuatan baru untuknya. Perlahan, dia membuka matanya dan merasakan silau, hingga dia kembali menutup matanya.

“Di mana aku? Apa aku sudah mati?” gumamnya.

Gadis kecil itu lantas membuka matanya dan memerhatikan sekitar tempat itu. Dengan tenaga yang tersisa, dia berusaha untuk duduk dan bersandar di pohon yang berada tidak jauh darinya.

Setelah beristirahat sebentar, dia kembali melanjutkan perjalanan. Walau tubuhnya melemah, tidak membuatnya mundur. Dia harus meninggalkan bukit itu. Bagaimanapun caranya.

Li Jia, nama gadis itu. Nama yang diberikan oleh ayahnya saat dia terlahir ke dunia. Wajahnya cantik. Kulit putih bak salju itu terlihat memukau dengan paduan warna matanya yang biru cerah. Rambutnya lurus.sepunggung selaras dengan alisnya yang terukir rapi.

Li Jia masih terus berjalan, hingga dia tiba di perbatasan kota. Rasa lapar dan kedinginan membuatnya berhenti sejenak. Dilihat kakinya yang mulai berdarah karena menyusuri jalanan hutan yang penuh ranting kering yang tajam. Perjalanan yang biasa dilalui kuda tunggangan selama tiga jam dari desanya, ditempuhnya dalam waktu semalam.

Li Jia melihat sekelilingnya. Dia terpaku saat melihat kemegahan bangunan yang ada di tempat itu. Orang-orang berlalu lalang di depannya dengan mengenakan pakaian yang mewah. Aneka makanan tertata rapi untuk dijajakan.

“Apa tempat ini yang dinamakan pasar?” batinnya.

Li Jia, tidak pernah meninggalkan desanya. Walau ingin ikut ayahnya ke kota, dia selalu dilarang dan hanya bisa mendengar keramaian pasar dari cerita ayahnya. Dan kini, dia telah berdiri di tengah keramaian pasar yang dipenuhi pengunjung.

Li Jia lantas berjalan dan melihat-lihat tempat itu. Melihat makanan di depannya, dia menelan salivanya sambil mengelus perutnya yang kelaparan.

“Hei, pergi dari sini! Kamu terlihat menjijikan! Pergi kamu dari depan kedaiku!” bentak pemilik kedai yang mengusirnya.

Li Jia ketakutan. Dia kembali berjalan dan melihat beberapa anak yang seumuran dengannya sedang meminta-minta. Melihatnya, mereka lantas mendorongnya, hingga terjatuh di tanah.

“Minggir kamu! Apa kamu anak baru di sini? Jangan sekali-kali merebut daerah kekuasan kami, kalau tidak kami akan menghajarmu!” Seorang anak lelaki membentaknya. Li Jia hanya diam dan bergegas bangkit dan meninggalkan mereka.

Li Jia kembali berjalan dan dia menghentikan langkahnya saat melihat seorang anak laki-laki yang dikepung oleh beberapa anak jalanan. Melihat anak itu terdesak, Li Jia lantas mengambil sebuah ranting dan berlari ke arah mereka.

Li Jia berdiri di depan anak laki-laki itu sambil mengayunkan ranting di depan anak jalanan. “Pergi kalian!” serunya sambil mengayunkan ranting tersebut.

Melihat seorang anak perempuan di depan mereka, anak-anak jalanan itu tertawa. “Apa kamu pikir bisa mengalahkan kami dengan rantingmu itu?” Suara gelak tawa terdengar, tetapi Li Jia tidak peduli dan masih berdiri dengan ranting di tangannya.

“Jika kalian mengganggunya lagi, aku akan memukul kalian dengan ranting ini!” ancamnya, tetapi ancamannya itu tidak berhasil. Salah satu anak jalanan lantas menarik ranting itu, hingga terlepas dari tangannya.

“Sekarang, apa yang akan kamu lakukan, hah?”

Li Jia terdesak dan menatap anak laki-laki yang berdiri di belakangnya. Anak itu lantas tersenyum dan meraih tangannya. “Ayo, lari!” ucapnya sambil menarik tangan Li Jia. Mereka berdua lantas berlari menyusuri jalanan pasar yang ramai. Anak-anak jalanan kemudian mengejar mereka, tetapi anak laki-laki itu tahu tempat yang aman agar mereka tidak dikejar.

Di sebuah lorong sempit mereka bersembunyi. Mereka berdua berdiri berhadapan dengan napas yang naik turun. Tangan mereka masih saling menggenggam, hingga Li Jia tersadar dan melepaskan tangannya.

Anak laki-laki itu tersenyum. “Terima kasih karena sudah membelaku di depan mereka,” ucapnya sambil menatap wajah Li Jia. Sesaat, dia terpana dengan keindahan mata yang dimiliki gadis itu. Mata dengan warna biru yang terlihat menenangkan.

Li Jia hanya terdiam. Dia tengah menahan rasa sakit karena kedua telapak kakinya terluka dan berdarah. Menyadari hal itu, anak laki-laki tersebut lantas mengajaknya pergi dari tempat itu.

“Kita akan ke mana?” tanya Li Jia panik.

“Tenanglah, mereka tidak akan mengejar kita lagi,” jawab anak laki-laki itu. Dia lantas melihat ke kaki Li Jia yang berdarah. “Kita harus obati luka di kakimu itu. Jika tidak, aku khawatir kamu tidak akan bisa berjalan dalam waktu yang lama.”

Li Jia melihat ke kakinya dan merasakan sakit yang teramat sangat. Walau ingin menyembunyikan rasa sakit itu, tetapi raut wajahnya tidak bisa berbohong.

“Ayo, naik ke punggungku. Aku akan membawamu ke tabib untuk mengobati lukamu itu.” Anak laki-laki itu lantas duduk berjongkok, tetapi Li Jia enggan untuk naik ke punggungnya.

“Ayolah, cepat naik! Aku juga punya makanan. Bukankah, kamu belum makan?”

Li Jia terlihat ragu-ragu. “Maaf, apa tidak sebaiknya kita berjalan kaki saja. Aku tidak ingin menyusahkanmu karena menggendongku. Aku bisa berjalan sendiri.” Li Jia lantas berjalan beberapa langkah, tetapi dia terhenti sambil menahan sakit.

“Bukankah sudah kubilang untuk naik ke punggungku? Apa kamu takut aku tidak kuat menggendongmu? Lihat saja otot di tanganku ini,” ucapnya sambil memukul lengannya.

Anak laki-laki itu berusia sekitar 14 tahun. Walau masih muda, dia rupanya memiliki tubuh yang kuat. Setelah dipaksa, Li Jia akhirnya mengalah dan naik ke punggung anak laki-laki itu.

“Siapa namamu?” tanya anak laki-laki itu saat dia mulai berjalan.

Li Jia hanya diam. Anak laki-laki itu lantas tersenyum. “Kamu ternyata memiliki nyali untuk melawan mereka. Apa kamu pikir aku tidak sanggup melawan mereka?”

“Kalau kamu berani, kenapa kamu tidak melawan? Kenapa kamu membiarkan mereka menakutimu?”

Anak laki-laki itu kembali tersenyum. “Apa kejahatan harus dibalas dengan kejahatan? Lalu, kalau aku melawan apa itu akan menghentikan mereka?”

“Setidaknya jangan biarkan mereka menindasmu. Memangnya, apa salahmu hingga mereka menindasmu seperti itu?” Li Jia tampak marah dan mengepalkan tangannya. Anak laki-laki itu hanya bisa melihat kemarahan di balik detak jantung Li Jia yang berdetak cepat.

Di depan sebuah kedai obat, mereka berhenti. Anak laki-laki itu lantas mendudukkan Li Jia di atas sebuah bangku kayu yang terletak di depan kedai. “Tunggu di sini. Aku akan memanggil tabib untuk mengobati lukamu.”

Anak laki-laki itu lantas masuk ke kedai dan keluar bersama seorang pria paruh baya. “Tabib, tolong obati lukanya. Aku akan pergi sebentar,” ucapnya sambil mengeluarkan beberapa keping uang logam.

“Kamu tunggu di sini! Aku akan membawakanmu makanan. Ingat, jangan pergi sebelum aku datang, mengerti!” ucapnya pada Li Jia sambil berlari kecil.

Li Jia mengangguk dan tersenyum padanya. Anak laki-laki itu lantas menemui seorang wanita yang sedang membagi-bagikan makanan di sisi jalan.

“Liang Yi, kamu dari mana saja. Ibu dan ayah sudah hampir selesai membagikan makanan dan kamu baru datang. Apa mereka mengganggumu lagi?” tanya wanita itu.

“Maafkan aku, Bu. Apa masih ada makanan yang tersisa? Aku ingin memberikannya pada temanku.”

Wanita itu lantas mengeluarkan sebungkus makanan dan dua buah persik. “Apa ini cukup?”

Liang Yi mengangguk dan mengambilnya. “Terima kasih, Bu. Aku akan segera kembali,” ucapnya sambil berlari meninggalkan tempat itu.

Pemuda yang bernama Liang Yi itu berlari dengan semangat menuju kedai. Dia ingin segera memberikan makanan yang dibawanya pada Li Jia. Namun, saat hampir sampai di kedai tiba-tiba saja terjadi kekacauan. Orang-orang berlarian tak tentu arah karena sekelompok pengacau telah membuat keributan.

Liang Yi berusaha menerobos jalanan dan saat tiba di depan kedai, Li Jia tidak lagi ada di sana. Hatinya gelisah dan ingin mencarinya, tetapi tangannya tiba-tiba ditarik. “Cepat tinggalkan tempat ini!” Seorang pria dengan penampilannya yang gagah berdiri di sampingnya. Pria itu memegang pedang di tangannya.

“Tapi Ayah …. ”

“Liang Yi, cepat lindungi ibumu! Biar Ayah yang akan menghadapi mereka!”

Dengan berat hati, Liang Yi akhirnya pergi. Sementara ayahnya dan beberapa orang lainnya mulai menyerang para pengacau.


cerbung.net

Pendekar Cinta dan Dendam

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Kepulan asap hitam tampak mengepul di atas sebuah bukit. Bukit yang ditinggali beberapa kepala keluarga itu tampak diselimuti kepulan asap dengan kobaran api yang mulai membakar satu per satu rumah penduduk yang terbuat dari bambu. Warga desa tampak berlarian untuk berlindung, tapi rupanya penyebab dari kekacauan itu enggan membiarkan mereka meninggalkan tempat itu."Cepat bunuh mereka! Jangan biarkan satu pun yang lolos!" perintah salah satu lelaki. Lelaki yang menutupi setengah wajahnya itu menatap beringas siapa pun yang ada di depannya. Tanpa belas kasih, dia membantai setiap warga yang dijumpainya. Tak peduli anak-anak ataupun orang dewasa, dengan tega dia membantai tanpa ampun.penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset