Pendekar Cinta dan Dendam episode 41

Chapter 41

Mereka lantas pergi ke paviliun. Lelaki itu tampak tertawa kecil saat bocah itu bermain dalam gendongannya. Dia terlihat begitu menyayanginya dan memperlakukannya seperti putranya sendiri.

“Tunggu di sini. Jangan masuk sebelum aku memanggilmu,” ucap Jenderal Wang Zhu pada Dayang Lin sambil memberikan bocah itu padanya.

Lelaki itu kemudian masuk ke dalam kamar dan melihat Li Jia memangku kepala suaminya. Dia lantas mendekati Li Jia yang tidak peduli dengan kehadirannya. Tatapannya hanya tertuju pada sang suami yang terbaring lemah dan menggengam tangannya.

“Lepaskan tanganmu darinya dan tatap aku!” perintah Jenderal Wang Zhu yang duduk di depan Li Jia.

Li Jia bergeming. Tangannya tidak dia lepaskan. Tatapan matanya masih tertuju pada wajah suaminya.

“Aku bilang tatap aku!” bentak Jenderal Wang Zhu sambil meraih dagu Li Jia dan memaksa wanita itu menatapnya. Li Jia memejamkan matanya saat wajahnya dialihkan dari pandangan suaminya.

“Kenapa kamu memejamkan matamu? Lihat aku!” Li Jia masih menutup kedua matanya dengan air mata yang perlahan jatuh. Melihat air mata itu, Jenderal Wang Zhu menghapusnya. Tiba-tiba saja bibirnya mengecup bibir Li Jia hingga wanita itu membuka matanya dan berusaha mengelak dari ciuman itu, tetapi tangan kekar lelaki itu begitu kuat memegang lehernya hingga membuatnya tidak mampu untuk mengelak.

Melihat istrinya diperlakukan seperti itu, Pangeran Wang Li tidak berkutik. Walau berusaha untuk bergerak, tetapi dia tidak sanggup. Yang bisa dilakukan hanyalah memejamkan matanya yang kini berlinang air mata. Tangannya hanya bisa merasakan genggaman erat dari tangan istrinya saat dicium paksa olah Jenderal Wang Zhu. Dia tidak mampu menyaksikan semua itu dan mengutuk dirinya karena tidak mampu melindungi istrinya.

Tubuhnya yang sudah tidak mampu bergerak hanya bisa mematung saat di depan matanya lelaki itu mencium istrinya. Rasanya dia ingin mati, tetapi dia tidak sanggup karena tidak ingin berpisah dengan istrinya. Andaikan dia mampu, dengan tangannya sendiri dia akan membunuh lelaki itu dan mencabik-cabik tubuhnya hingga hancur, tetapi apalah dayanya karena kini dia hanyalah seonggok tubuh yang sudah tidak berguna.

Jenderal Wang Zhu melepaskan ciumannya setelah dia merasa puas. Walau Li Jia memohon, dia tidak peduli walau sebenarnya hatinya hancur saat melakukan itu semua. Rasa cemburu telah membutakan hatinya hingga tega melakukan itu pada wanita yang sangat dicintainya. Mata Li Jia memerah dengan air mata yang tidak mampu ditahan. Dia marah hingga memukul bibirnya dan menghapus kasar bekas ciuman itu dengan tangannya.

“Apa yang kamu lakukan? Hentikan!” seru Jenderal Wang Zhu sambil meraih tangan Li Jia yang masih memukul bibirnya sendiri.

Walau tangannya sudah ditarik paksa, tetapi dia tidak peduli. Sambil menangis, dia menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah.

“Li Jia, hentikan!” teriak Jenderal Wang Zhu saat melihat Li Jia menyakiti dirinya sendiri.

Li Jia tersenyum kecut dengan darah yang keluar dari sudut bibirnya. “Aku tidak rela jika tubuhku disentuh olehmu. Aku akan menggigit bibir ini hingga hancur agar kamu tidak lagi bisa menyentuhnya untuk kedua kali. Aku akan mati bersama suamiku, itu lebih baik daripada aku harus bersamamu,” ucap Li Jia dengan air mata.

Jenderal Wang Zhu terdiam. Dia tidak ingin melihat wanita yang dicintainya itu melukai dirinya sendiri. “Apa kamu ingin mati? Baiklah, tapi sebelum kamu akan melihat orang-orang di dekatmu akan mati. Aku tahu kamu begitu perhatian pada Dayang Lin. Kalau dia mati karena dirimu, apa yang akan kamu lakukan?”

Li Jia tersentak. Seketika dia terdiam.

“Kenapa? Apa kamu masih berpikir kalau aku tidak mampu melakukannya? Aku mampu untuk membunuh demi mendapatkanmu. Jangankan mereka, adikku saja aku sanggup untuk membunuhnya. Jadi, kenapa kamu tidak turuti saja kemauanku?”

Ancamannya ternyata berhasil. Li Jia tertunduk dengan air mata. Dia tidak ingin mereka mati karena dirinya.

“Lihat aku!” Jenderal Wang Zhu mengangkat dagu Li Jia dan menatap wajahnya. Terlihat darah segar di sudut bibir wanita itu. Dia lantas menyeka darah itu dan mengecup bibir Li Jia lembut. Li Jia terdiam dan tidak mampu mengelak. Hanya air mata yang tidak berhenti mengalir. Tangannya menggenggam erat tangan suaminya.

“Jangan pernah menyakiti dirimu, karena aku akan menyakiti orang lain setiap kamu berusaha menyakiti dirimu. Aku tidak akan memaksamu asalkan kamu mengikuti kemauanku. Aku datang ke sini karena putramu ingin bertemu denganmu. Bagiku, dia seperti putraku. Aku akan membesarkannya dan membuatnya melupakan Wang Li dan menganggapku sebagai ayahnya. Malam ini, aku akan biarkan dia bersamamu karena selepas itu, aku tidak akan lagi mempertemukan kalian hingga kamu bersedia untuk tetap tinggal di sampingku selamanya.”

“Baiklah, aku akan membiarkanmu bersamanya. Li Jia, aku tidak ingin menyakitimu karena aku sangat mencintaimu. Karena cintaku, aku melakukan semua hal gila ini. Aku akan menunggu hingga kamu menerimaku. Aku mohon, biarkan aku mencintaimu,” ucap Jenderal Wang Zhu yang tiba-tiba memeluk tubuhnya.

Li Jia terdiam. Rasanya dia ingin melepaskan pelukan itu, tetapi dia takut karena hal itu akan membuat Dayang Lin terbunuh.

Lelaki itu lantas memerintahkan Dayang Lin untuk masuk. Wanita itu masuk bersama Pangeran Wang Yi. Seketika, dia menangis saat melihat raja dan ratunya itu.

Melihat orang tuanya, Pangeran Wang Yi berlari memeluk ibunya. Bocah itu memeluk sang ibu yang kini memeluknya dengan air mata.

“Putraku, maafkan kami, Nak,” bisik Li Jia sambil memeluk putranya erat.

“Maaf, Jenderal. Apa boleh aku memeluk Yang Mulia Ratu?” pinta Dayang Lin sambil berlutut di depan lelaki itu.

Jenderal Wang Zhu menatapnya. Dia tahu bagaimana dekatnya dayang itu dengan Li Jia. Akhirnya dia mengizinkan Dayang Lin memeluk Li Jia.

Dayang Lin lantas memeluk Li Jia. Dia menangis karena kedua orang yang saling mencintai dipaksa untuk berpisah. Di sela pelukannya itu, dia menyelipkan sebuah surat dari Liang Yi. “Nyonya, maafkan aku,” ucap Dayang Lin setelah memberikan surat yang sudah disembunyikan Li Jia. Dia kemudian pergi dengan air mata.

“Wang Yi, sekarang tidurlah bersama ibumu. Besok, Paman akan datang menjemputmu dan kita akan bermain bersama,” ucap Jenderal Wang Zhu sambil membelai kepala bocah itu.

Lelaki itu kembali menatap Li Jia dan menyeka sisa darah di sudut bibirnya. “Jangan lagi menyakiti dirimu, aku mohon,” ucapnya mengiba. Li Jia hanya diam dan tidak peduli dengan ucapannya itu.

Jenderal Wang Zhu kemudian pergi. Setelah lelaki itu pergi, Li Jia meluapkan tangisnya dalam pelukan putranya. Tangannya gemetar saat membelai wajah putranya itu. “Putraku, kamu baik-baik saja ‘kan, Nak?” Bocah itu mengangguk dan menghapus air mata ibunya.

“Ibu, jangan menangis.” Li Jia mengangguk dan kembali memeluknya.

“Ayo, kita bermain dengan Ayah.”

Li Jia mendudukan suaminya yang bersandar di dinding kamar. Pangeran Wang Yi menatap ayahnya yang hanya diam. “Ayah,” ucapnya sambil memeluk ayahnya itu.

“Putraku.” Pangeran Wang Li menangis saat putranya memeluknya. Sementara Li Jia berusaha menghindar karena merasa sudah tidak pantas untuk dekat dengan suaminya. Rasanya, dia telah menjadi wanita kotor karena tubuhnya telah disentuh lelaki lain selain suaminya.

“Istriku, kemarilah. Jangan jauh-jauh dariku,” panggil Pangeran Wang Li yang mulai sadar kalau istrinya ingin menghindar darinya.

Li Jia menitikkan air mata saat suaminya memanggilnya. Kakinya begitu berat untuk melangkah.

“Aku tidak marah padamu. Kamu tetap istriku dan selamanya akan tetap menjadi istriku. Apa pun yang terjadi, kita tetaplah suami istri dan kita adalah ayah dan ibu dari putra kita. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi kita di matanya. Dia tahu siapa ayah dan ibunya dan jangan pernah khawatir karena aku tahu putraku senfiri tidak akan mungkin melupakanku.” Lelaki itu berusaha mengangkat tangan untuk meraih istrinya.

Li Jia lantas memeluk suaminya. Dalam pelukan, dia menumpahkan rasa sedihnya. Melihat ayah dan ibunya saling berpelukan membuat Pangeran Wang Yi ikut memeluk mereka.

Sementara di luar sana, Jenderal Wang Zhu masih berdiri menatap ke arah ruangan itu. Samar-samar dia bisa mendengar semua percakapan mereka. “Malam ini adalah malam terakhir kalian bersama sebagai keluarga. Aku sudah cukup bersabar. Nikmatilah malam ini karena malam selanjutnya, anak dan istrimu akan menjadi milikku.”

Kini, cinta mereka benar-benar diuji. Rupanya, kebahagiaan hanya datang sesaat karena kebahagiaan itu akhirnya terenggut kembali. Terenggut karena keegoisan cinta yang membuat mereka harus kehilangan. Sama seperti yang pernah mereka rasakan. Sejarah kembali terulang, tetapi dengan kisah yang berbeda.

Mereka kini menangis bersama. Li Jia menangis hingga tidak mampu mengangkat wajahnya. “Istriku, angkat kepalamu dan lihat aku.”

Li Jia mengangkat wajahnya dan menatap suaminya. Tangan lelaki itu bergetar saat berusaha menyentuh wajah istrinya itu. Li Jia meraih tangan suaminya dan meletakkannya di pipinya. Lelaki itu menyentuh bibir istrinya yang berdarah dan menyeka darah itu.

“Istriku, jangan lagi menyakiti dirimu seperti ini. Aku tahu kamu marah, tapi jangan menyakiti dirimu. Aku tidak ingin melihatmu terluka. Maafkan aku karena aku …. ” Lelaki itu terdiam. Dia menunduk dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.

Li Jia menghapus air mata yang menggenang itu. “Jangan katakan apa pun. Aku harap malam ini adalah malam terakhir kita di sini. Dayang Lin diam-diam memberikanku surat ini.”

Li Jia membaca isi surat itu dan matanya melebar saat membaca sebuah nama. “Suamiku, ini surat dari Liang Yi.”

“Aku tahu, dia pasti akan datang menolong kita.”

Melihat ekspresi suaminya yang tidak terlalu terkejut membuatnya penasaran. “Apa kalian pernah bertemu sebelumnya?”

Lelaki itu lantas menceritakan semuanya. Li Jia tersenyum. Setidaknya, Liang Yi tidak benar-benar meninggalkannya.

“Suamiku, apa benar ada jalan rahasia di paviliun?”

Lelaki itu mengangguk. “Jalan rahasia itu hanya aku dan Liang Yi yang tahu.”

“Suamiku, sebentar lagi kita akan pergi dari sini. Kita akan tinggal di mana tidak ada orang yang mengenali kita. Bukankah, itu yang kamu inginkan?”

Lelaki itu tersenyum. Dia ingin tinggal dengan anak dan istrinya di suatu tempat di mana mereka tidak dikenali. Dia ingin hidup sebagai orang biasa tanpa harus memikirkan istana. Dia ingin bebas melakukan apa saja dengan keluarga kecilnya.

“Ibu, aku ingin melihat Ibu menari,” pinta Pangeran Wang Yi.

“Baiklah, Ibu akan menari untuk kalian.”

Bocah itu duduk bersandar di samping ayahnya sambil menggenggam tangan ayahnya itu. “Ayah, aku menyayangimu.”

“Ayah juga menyayangimu, Nak.”

Li Jia menari di depan dua orang yang begitu berarti dalam hidupnya. Mereka adalah sumber kebahagiaannya. Bersama mereka, dia mampu menentang dunia. Dan kini, dia ingin secepatnya pergi meninggalkan tempat itu dan hidup bahagia bersama mereka.

Melihat ibunya menari, Pangeran Wang Yi tersenyum. Walau mengantuk, dia tetap menatap ibunya, hingga tubuh mungilnya itu benar-benar tertidur di pangkuan ayahnya.

Li Jia menghentikan tariannya dan duduk di samping suaminya. Kepalanya disandarkan di lengan suaminya itu. “Aku harap selamanya kita akan tetap bersama. Kita akan melihat Wang Yi tumbuh dewasa dan menjadi lelaki hebat sepertimu.” Li Jia menggenggam tangan suaminya seraya mengecupnya.

Pangeran Wang Li menitikkan air mata karena dia tahu hidupnya tidak akan lama. Dia merasa tubuhnya sudah tidak berdaya dan hanya menunggu kematian datang menjemputnya.

Sementara di luar istana, Liang Yi dan beberapa anak buahnya sudah bersiap-siap di ujung jalan rahasia. Jalan itu terlihat sunyi dan gelap karena sudah ditumbuhi semak dan pepohonan.

“Paman Chow, tunggu dan berjagalah di sini. Aku akan masuk. Jika sampai setengah jam aku tidak kembali, maka kalian pergilah dari tempat ini.”

“Paman akan tetap menunggu sampai kamu kembali. Jika sampai setengah jam kamu tidak kembali, Paman akan menerobos masuk. Karena itu, kembalilah dengan selamat.”

Liang Yi hanya mengangguk. Dengan menutup wajahnya, dia kemudian masuk ke jalan rahasia itu.

Sementara Pengawal Yue dengan beberapa anak buah kepercayaannya, terlihat mengendap-endap memasuki paviliun. Mereka sudah bersiap dengan anak panah yang siap dilesatkan ke arah para penjaga. Setelah waktu yang ditentukan telah tiba, mereka lantas melesatkan anak panah. Penjaga-penjaga itu roboh. Mereka lantas bergegas ke ruangan di mana raja dan ratu dikurung. Pengawal Yue lantas masuk.

“Yang Mulia, aku akan membawa Yang Mulia dan Yang Mulia Ratu keluar dari tempat ini,” ucapnya sambil mengangkat tubuh Pangeran Wang Yi yang masih tertidur.

“Pengawal Yue, angkat kayu di lantai itu,” perintah Pangeran Wang Li. Lelaki itu lantas mengangkat kayu di lantai dan tiba-tiba seseorang muncul dari sana. Rupanya, itu adalah jalan bawah tanah yang sengaja dibangun atas perintah ibu suri.

Li Jia menatap lelaki itu. Walau wajahnya ditutupi, tetapi dia sangat mengenalinya. “Liang Yi,” ucapnya sambil memeluk lelaki itu. Dia menangis karena sudah lama mereka tidak bertemu.

“Kamu baik-baik saja, kan?” tanya Liang Yi sambil menatap Li Jia. Sontak, pandangannya tertuju pada bibir Li Jia yang terluka dan berdarah. Tangannya mengepal saat melihat sisa darah yang masih menempel di sudut bibir wanita itu.

“Cepatlah, kita harus segera pergi. Li Jia, bawa putramu, biar aku dan Pengawal Yue yang akan membawa Wang Li.”

Li Jia mengangguk. Dia lantas mengambil putranya dari Pengawal Yue dan turun ke jalan rahasia. Dia menyusuri lorong yang gelap hingga sampai di ujung lorong dan mendapati Paman Chow yang sedang menunggu.

“Yang Mulia Ratu,” ucap Paman Chow sambil memberi hormat.

“Tolong jaga putraku. Aku akan kembali ke dalam,” ucap Li Jia yang kembali masuk ke dalam lorong itu.

Samar-samar, dia mendengar suara dentingan pedang beradu. Dia kemudian berlari walau terjatuh beberapa kali. Saat tiba di dalam kamar, dia melihat Liang Yi dan Pengawal Yue sedang bertarung dengan prajurit yang sudah mengepung mereka.

Melihat Li Jia kembali membuat Liang Yi khawatir. “Pengawal Yue, bawa Ratu keluar dari sini. Biar aku yang menghadapi mereka,” perintah Liang Yi.

Pengawal Yue lantas meraih tangan Li Jia dan bermaksud membawanya, tetapi dia menolak karena suaminya masih berada di tempat itu. “Kalian pergilah! Jaga anakku. Aku akan tetap di sini bersama suamiku. Apa pun yang terjadi jangan biarkan anakku tertangkap. Liang Yi, tolong bimbing dia dan jadikan dia anak yang kuat dan berani. Katakan padanya kalau aku dan ayahnya sangat menyayanginya. Terima kasih karena telah datang menolong kami. Sekarang pergilah!” Li Jia lantas mengambil anak panah dan meletakkannya di lehernya.

“Biarkan mereka pergi, kalau tidak aku akan membunuh diriku di depan kalian!” ancam Li Jia pada prajurit-prajurit itu. “Liang Yi, pergilah!” Li Jia menitikkan air mata. Liang Yi tidak bisa membantah karena dia tahu mereka telah terpojok.

“Aku berjanji akan menjaga putra kalian. Dia akan aku jadikan lelaki yang tangguh. Tunggulah hingga dia datang menjemput kalian.” Liang Yi kemudian pergi bersama Pengawal Yue.

Tak lama kemudian, Jenderal Wang Zhu datang. Tangannya mengepal dengan suara gemeretak giginya yang beradu. Melihat Li Jia meletakkan anak panah di lehernya membuatnya naik darah. “Kalian cepat kejar mereka dan dapatkan pangeran kembali. Biar aku yang mengurus Ratu!” Lelaki itu lantas mendekati Li Jia.

“Jangan mendekat! Kalau tidak aku akan mati di depanmu. Katakan pada mereka untuk tidak mengejar putraku, biarkan dia pergi!” ancam Li Jia yang berdiri menutupi jalan rahasia itu.

Melihat leher Li Jia yang berdarah membuat Jenderal Wang Zhu memerintahkan prajuritnya untuk mundur. “Pergilah dan kembali ke tempat kalian!” perintahnya.

“Letakkan anak panah itu, maka aku akan melepaskan putramu.”

Li Jia bergeming. Dia tidak percaya dengan ucapan lelaki itu. Dia masih meletakkan anak panah itu di lehernya.

“Istriku, letakkan anak panah itu,” ucap Pangeran Wang Li. Li Jia menoleh ke arahnya dan menitikkan air mata. Dia kemudian meletakkan anak panah itu dan berniat mendekati suaminya, tetapi Jenderal Wang Zhu segera meraihnya dan mengangkat tubuhnya itu ke atas pundaknya.

“Apa yang kamu lakukan? Turunkan aku!” teriak Li Jia yang berontak sambil memukul pugggung lelaki itu, tetapi Jenderal Wang Zhu tidak peduli dan tetap membawanya keluar dari tempat itu.

“Jaga dia dan cari pangeran lewat jalan rahasia itu!” perintahnya. Para prajurit lantas masuk ke jalan rahasia itu.

Pangeran Wang Li berteriak memanggil istrinya saat dibawa pergi. Dengan sekuat tenaga dia merangkak. Para pengawal tidak membiarkannya. Tubuhnya ditarik kembali dan menjauh dari pintu. “Istriku, maafkan aku,” ucapnya sedih.

“Turunkan aku!” seru Li Jia saat tiba di sebuah kamar.

Lelaki itu lantas meletakkan Li Jia di atas tempat tidur. “Aku sudah berbaik hati padamu. Aku membiarkanmu bersama suami dan putramu, tapi kenapa kamu melakukan ini padaku?” teriaknya dengan mata yang memerah.

“Aku sudah bilang jangan sekali-kali menyakiti tubuhmu, tapi kenapa kamu masih melakukannya? Apa kamu ingin menguji kesabaranku?” Dia lantas mengambil sebuah pisau dan menggoreskan pisau itu ke lehernya hingga berdarah. Li Jia terkejut melihat darah yang mengucur dari leher lelaki itu.

“Kenapa? Apa kamu takut melihat darahku? Lihat luka ini! Aku tidak merasakan sakit sedikit pun, tapi melihat lukamu hatiku sakit, lebih sakit dari luka ini. Kenapa kamu tidak bisa sekali saja mengikuti perintahku?” Jenderal Wang Zhu menitikkan air mata. Tatapan matanya terlihat sedih saat menatap Li Jia. Tangannya bergetar saat menyentuh luka goresan di leher wanita itu.

“Tidak bisakah kamu berbaik hati padaku. Aku tidak ingin menyakitimu dan orang-orang di dekatmu. Aku tidak ingin menyakiti suami dan putramu, tapi hatiku tidak tahan jika melihatmu tertawa bersama mereka. Aku juga ingin bahagia bersamamu, melihatmu tertawa dan tersenyum kepadaku. Aku hanya ingin memilikimu hanya untukku. Semua ini karena aku mencintaimu!” Jenderal Wang Zhu menangis dan memeluk Li Jia, tetapi wanita itu mengelak. Namun, percuma. Lelaki itu telah memeluknya.

“Kenapa kamu lakukan ini padaku? Apa dengan melakukan semua ini kamu pikir bisa memiliki diriku? Mungkin kamu bisa, tapi kamu hanya bisa memiliki ragaku bukan hatiku. Selamanya, kamu tidak akan pernah bisa memiliki hatiku!”

“Kita lihat saja, sekuat apa kamu bisa bertahan dengan keangkuhanmu itu. Selama ini, aku sudah membiarkanmu bersama suamimu, tapi kini tidak lagi. Aku akan memisahkan kalian dan tunggu saja karena tidak lama lagi dia pasti akan mati dan kamu tidak akan pernah melihat jasadnya. Aku akan membuang jasadnya agar kamu sadar kalau aku tidak pernah main-main dengan ucapanku!”

Seketika Li Jia terperanjat. Dia menitikkan air mata saat membayangkan itu semua. “Jangan lakukan itu, aku mohon. Izinkan aku menemani suamiku. Biarkan aku menemaninya,” ucap Li Jia memohon.

Jenderal Wang Zhu tersenyum penuh kemenangan. Ternyata, ancamannya berhasil hingga membuat Li Jia luluh. “Biarkan aku membalut lukamu itu dan temani aku tidur malam ini. Besok, aku akan mengembalikanmu padanya dan aku akan membiarkanmu menemaninya hingga dia mati,” ucap Jenderal Wang Zhu. Li Jia tersentak dengan permintaan lelaki itu. Bagaimana mungkin dia menemani lelaki lain tidur sedangkan dia adalah seorang istri yang masih mempunyai suami.

Li Jia menangis mendengar pilihan itu. Keduanya terasa begitu sulit dan dia harus bisa menentukan pilihannya. “Suamiku, apakah cinta kita akan berakhir tragis? Aku mohon, tolong maafkan aku.”

Li Jia menangis saat tubuhnya direbahkan di atas tempat tidur. Air matanya jatuh mengingat suaminya yang kini sendirian. Hatinya hancur karena dirinya kini telah ternoda.


cerbung.net

Pendekar Cinta dan Dendam

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Kepulan asap hitam tampak mengepul di atas sebuah bukit. Bukit yang ditinggali beberapa kepala keluarga itu tampak diselimuti kepulan asap dengan kobaran api yang mulai membakar satu per satu rumah penduduk yang terbuat dari bambu. Warga desa tampak berlarian untuk berlindung, tapi rupanya penyebab dari kekacauan itu enggan membiarkan mereka meninggalkan tempat itu."Cepat bunuh mereka! Jangan biarkan satu pun yang lolos!" perintah salah satu lelaki. Lelaki yang menutupi setengah wajahnya itu menatap beringas siapa pun yang ada di depannya. Tanpa belas kasih, dia membantai setiap warga yang dijumpainya. Tak peduli anak-anak ataupun orang dewasa, dengan tega dia membantai tanpa ampun.penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset