Pendekar Cinta dan Dendam episode 7

Chapter 7

Sudah sepuluh tahun, Liang Yi mencari tahu tentang keberadaan gadis kecil yang pernah ditemuinya waktu itu. Tak hanya dirinya, tetapi sang ayah juga melakukan hal yang sama.

Karena gadis kecil itu, mereka mulai mencari tahu dan menemukan fakta bahwa penduduk salah satu desa yang memiliki ciri seperti gadis kecil itu telah dibantai dengan kejam. Karena itulah, Liang Yi dan ayahnya tidak melakukan pencarian secara terbuka. Mereka mencari tahu secara diam-diam atau melalui orang tertentu karena menghindar dari kecurigaan orang-orang yang membantai desa itu. Namun, hingga saat ini mereka tidak menemukan gadis bermata biru itu.

“Ayah, aku sudah mencari sekeliling negeri, tetapi aku tidak menemukannya. Sudah sepuluh tahun berlalu dan kita tidak bisa menemukan bukti tentang pembantaian di desa itu. Ayah, apa mungkin gadis itu juga telah mati?” tanya Liang Yi pada ayahnya setelah seharian menyusuri kota untuk mencari gadis yang pernah ditemuinya semasa kecil dulu.

Mendengar pertanyaan putranya, Jenderal Liang Zhou terdiam sesaat. Dia sedang berpikir karena kasus pembantaian itu telah menarik perhatian raja. Dirinya diminta khusus untuk menyelidiki kasus itu. Namun, hingga saat ini dia selalu menemukan jalan buntu. Seakan pembantaian itu sudah direncanakan dengan sangat matang.

Menurut informasi dari desa tetangga, pada saat sebelum kejadian ada beberapa orang lelaki yang datang dan menyebarkan informasi tentang desa yang memilki kutukan. Desa dengan penduduk yang memiliki penampilan fisik yang berbeda dari orang kebanyakan. Desa di mana Li Jia tinggal bersama kedua orang tuanya. Tak main-main, mereka dituduh sebagai orang yang memiliki kekuatan gaib karena warna mata mereka yang berbeda. Karena itulah, beberapa orang berhasil dihasut hingga terjadilah pembantaian itu.

Beberapa desa terdekat ikut andil dalam pembantaian dan mereka telah ditangkap oleh Jenderal Liang Zhou. Namun, otak dari penghasutan dan pembantaian hingga kini tidak diketahui. Mereka tidak mengenali beberapa lelaki yang datang menghasut. Karena itulah, mereka sangat menyesal atas pembantaian yang sudah mereka lakukan.

“Ayah yakin gadis itu masih hidup. Kalaupun dia telah mati …. ” Lelaki itu terdiam sesaat. “Ah, Ayah sangat berharap kalau di suatu tempat dia hidup dengan bahagia,” lanjutnya dengan harapan kalau gadis kecil yang pernah dibiarkan olehnya itu dalam keadaan baik-baik saja.

Sementara Li Jia, kini melanjutkan hidupnya sebagai seorang penari. Dengan menyembunyikan wajahnya di balik penutup wajah, dia menjadi penari yang telah dikenal seantero negeri.

Saat ini, dia tengah menari di Rumah Pelangi. Empat orang pemuda dari kalangan bangsawan telah memintanya untuk menari.

Seperti biasa, Li Jia menari dengan mengenakan penutup wajah. Walau begitu, dia tetap menampilkan tarian terbaiknya.

Di dalam salah satu ruangan, Li Jia ditemani beberapa wanita penghibur yang melayani keempat pemuda itu. Gadis-gadis itu duduk di samping mereka untuk menuangkan arak. Sementara Li Jia mulai menari di depan mereka.

Keempat pemuda bangsawan itu terlihat mulai mabuk. Mereka tertawa dan merayu gadis-gadis penghibur sambil memamerkan uang-uang mereka. Gadis-gadis itu tertawa manja dan saling bersaing memberikan pelayanan terbaik agar terpilih untuk diajak ke dalam kamar. Dengan begitu, mereka bisa mendapatkan uang yang lebih banyak lagi.

Salah satu pemuda tampaknya sangat penasaran dengan Li Jia. Tatapan matanya tak berpaling saat melihat tarian gadis itu.

“Tuan, apakah Tuan menyukainya?” tanya gadis yang duduk di sebelahnya. Dari sikap pemuda itu, dia tahu kalau pemuda tersebut menginginkan Li Jia. “Sebaiknya Tuan urungkan niat Tuan. Li Jia tidak bisa dimiliki oleh lelaki mana pun. Ah, kalaupun bisa lelaki itu mungkin harus seorang pangeran,” ucap gadis itu yang tanpa sadar sudah membuat pemuda itu menahan marah. Dia merasa direndahkan.

Pemuda itu menenggak arak hingga tak bersisa. Tatapan matanya terlihat begitu tajam. Matanya merah karena pengaruh arak. Dia menatap Li Jia yang masih menari, hingga dia bangkit dan ikut menari bersama gadis itu.

Li Jia masih terus menari dan pemuda itu makin mendekatinya. Tanpa curiga, Li Jia tetap menari, hingga dia terkejut saat tangan pemuda itu menarik penutup wajahnya. Li Jia lantas berbalik saat penutup wajahnya terlepas. Tak sampai di situ, pemuda itu bermaksud menarik Li Jia agar mendekat padanya, tetapi gadis itu berteriak memanggil Lian yang berjaga di depan pintu.

Mendengar Li Jia memanggil namanya, Lian kemudian bergegas masuk. Dia menarik tubuh pemuda itu saat mencoba mendekati Li Jia. Lian lantas melayangkan pukulan tepat mengenai wajahnya.

Walau sudah terjengkang, pemuda itu berusaha melawan. Namun, Lian tidak tinggal diam. Dia lantas menarik jubah pemuda itu dan melemparnya keluar dari dalam ruangan.

Gadis-gadis yang ada di ruangan itu berteriak histeris saat Lian melawan ketiga pemuda yang mencoba membela temannya. Namun, mereka tidak mampu melawan. Lian berhasil mengusir mereka keluar dari tempat itu.

Di sudut ruangan, Li Jia menyembunyikan wajahnya. Dia tampak ketakutan. Saat Lian mendekatinya, dia lantas memeluk pemuda itu.

“Tenanglah, jangan takut,” ucap Lian lembut. Pemuda itu membiarkan Li Jia memeluk tubuhnya erat. Tangannya mengepal karena tidak sanggup membalas pelukan itu walau rasa cinta mulai menggoda hatinya. Pemuda yang tampak gagah dan tampan itu mulai menyimpan rasa untuk Li Jia.

Lian lantas memakaikan penutup wajah pada Li Jia. Gadis itu menatapnya lekat saat pemuda itu memakaikannya penutup wajah. Ditatapnya wajah rupawan yang berada tepat di depannya. Saat Lian mengikatkan tali pengait di belakang kepalanya, seketika tatapan mereka bertemu. Li Jia tersenyum seiring getaran yang mulai merasuk di jiwa. Ada getaran yang membuatnya ingin selalu berada di dekat pemuda itu.

“Sebaiknya Nona kembali ke kamar,” ucap Lian setelah memastikan keadaan gadis itu. Li Jia mengangguk dan bermaksud keluar dari tempat itu. Akan tetapi, dia terhenti dan merintih kesakitan saat kakinya melangkah.

“Ada apa? Apa kamu baik-baik saja?” Lian tampak panik saat Li Jia merintih kesakitan. Pemuda itu lantas memintanya untuk duduk dan memeriksa pergelangan kaki gadis itu.

Li Jia merintih saat Lian memegang pergelangan kakinya. Rupanya, kakinya terkilir saat berusaha menghindar dari pemuda mabuk tadi.

Tanpa diperintah, Lian lantas membopong Li Jia dan membawanya ke kamar. Melihat Li Jia terluka, Yi Wei terlihat panik dan sempat menyalahkan Lian karena tidak waspada.

“Jangan salahkan Lian. Dia tidak bersalah,” ucap Li Jia membela pemuda itu. Yi Wei hanya menggeleng kepala karena pembelaan gadis itu.

Lian lantas keluar dari kamar saat Yi Wei mengobati kaki Li Jia. Di depan pintu, dia mendengar suara rintihan kesakitan saat Yi Wei mengurut kaki Li Jia yang terkilir. Sesaat, ada rasa bersalah karena tidak bisa melindunginya.

“Maafkan aku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi. Aku janji,” batinnya sambil mengenggam erat gagang pedangnya. Rasa sayangnya pada Li Jia membuat Lian ingin melindungi dan menjaganya. Apa pun akan dilakukannya untuk gadis itu.

Yi Wei keluar dari kamar setelah selesai mengobati kaki Li Jia. Lian menunduk di depannya karena merasa bersalah. “Maafkan aku, Nyonya. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya lagi. Aku janji,” ucap Lian sungguh-sungguh.

“Aku percaya padamu, Lian. Aku tahu kamu tidak akan membiarkannya terluka. Lakukan apa pun yang terbaik untuknya. Aku percaya padamu.”

“Baik, Nyonya!”

Yi Wei lantas pergi. Lian masih berdiri di depan pintu. Dia begitu khawatir dengan keadaan Li Jia. Rasanya dia ingin masuk dan memastikan keadaan gadis itu. Namun, dia menyadari kalau dia tidak pantas untuk menyukai ataupun memiliki rasa pada majikannya sendiri.

“Nona, bagaimana keadaan Nona. Apa Nona baik-baik saja?” Lian tak mampu menahan keresahan dan kecemasan di hatinya, hingga membuatnya memberanikan diri untuk bertanya.

“Jangan khawatirkan aku. Aku baik-baik saja. Kalau aku cukup beristirahat, kakiku pasti sembuh,” jawab Li Jia dengan segurat senyum di bibirnya. Dia tahu, pemuda itu sangat mencemaskannya.

“Maafkan aku karena tidak bisa menjagamu dengan baik. Nona, silakan hukum aku!” Lian duduk berlutut di depan pintu. Li Jia dapat melihat bayangan pemuda itu berlutut.

“Apa yang kamu lakukan? Lian, bangkitlah!” Li Jia merasa tidak nyaman saat pemuda itu menunduk di depannya. Dia tidak ingin pemuda itu menyalahkan diri atas insiden yang menimpanya. Karena Lian masih menunduk, Li Jia akhirnya bangkit walau kakinya terasa nyeri. Li Jia lantas membuka pintu dengan menahan sakit yang membuatnya meringis.

“Nona, apa yang kamu lakukan?” Lian lantas berdiri dan memegang tangan gadis itu.

“Bukankah aku sudah bilang untuk tidak berlutut di depanku? Aku tidak marah padamu melainkan aku harus berterima kasih karena kamu selalu ada untukku. Aku …. ” Li Jia menunduk menahan tangis. “Maafkan aku.” Li Jia menghapus air matanya dan berniat untuk kembali ke kamar, tetapi Lian menggenggam tangannya sehingga langkahnya tertahan. Namun, Lian segera melepaskan tangannya perlahan.

“Aku melakukan semua ini karena sudah merupakan tugasku. Aku akan melindungimu walau harus kehilangan nyawaku. Aku akan pastikan kalau kamu tidak akan disakiti oleh siapa pun. Aku berjanji.”

Li Jia tersenyum. Dia sadar, apa yang dia rasakan pada pemuda itu karena perhatian yang diberikan Lian padanya. Namun, itu semua karena kewajibannya sebagai seorang pengawal pribadi bukan sebagai seorang pemuda yang mencintai seorang gadis.

“Aku tahu.” Li Jia kemudian berjalan tertatih menuju ke tempat tidurnya. Ada perasaan kecewa karena pemuda itu hanya menganggapnya sebagai majikan yang wajib untuk dilindungi. “Pergilah,” ucap Li Jia tanpa menoleh pada Lian. Pemuda itu lantas keluar dan kembali berdiri di depan pintu.

Lian berdiri dengan kedua tangan yang mengepal. Perasaan yang tertahan di dalam dadanya begitu menyiksa. Perasaan cinta yang ternyata mulai mengusik jiwanya. Cinta yang menyiksa dan mengganggu sanubarinya.

Selama dua hari, Li Jia hanya berada di dalam kamar dan selama dua hari itu Lian selalu berjaga di depan pintu kamarnya. Saat malam, Lian akan menghabiskan waktunya untuk berlatih. Dia ingin mengasah kemampuan bertarungnya karena ingin melindungi gadis yang dia cintai. Saat menjelang pagi, dia kembali berjaga dan tak peduli pada kondisi tubuhnya sendiri.

Melihat Lian seperti itu, Li Jia begitu khawatir. Bagaimana bisa Lian terus berdiri di depan pintu kamarnya tanpa beristirahat. Pagi itu, Lian kembali berjaga di depan pintu kamar setelah semalaman berlatih.

“Lian, pergilah. Untuk hari ini kamu tidak usah menjagaku. Aku ingin sendiri,” ucap Li Jia sambil membuka pintu kamarnya.

Lian berdiri menatapnya. Wajah Li Jia terpampang jelas karena gadis itu tidak menutupi wajahnya. Seketika, Lian menunduk.

“Pergilah dan kembalilah besok pagi. Untuk hari ini kamu istirahat saja,” lanjut Li Jia yang kembali menutup pintu.

Lian masih berdiri seakan enggan untuk pergi. Namun, baginya perintah Li Jia bagaikan sebuah titah yang wajib dia patuhi. Karena itu, Lian akhirnya kembali ke kamarnya.

Setelah Lian pergi, Yi Wei datang ke kamar Li Jia dan menyampaikan kalau ada utusan dari pangeran yang datang untuk menjemputnya ke istana.

“Apa kamu akan pergi dengan keadaan kakimu seperti itu?” tanya Yi Wei saat Li Jia menyanggupi permintaan pangeran.

“Pangeran pasti mengerti keadaanku. Waktu itu, aku sudah menolaknya satu kali dan kali ini aku tidak mungkin menolaknya,” jelas Li Jia.

“Kalau begitu aku sebaiknya memanggil Lian,” ucap Yi Wei, tetapi Li Jia melarangnya.

“Tidak perlu. Biarkan saja dia beristirahat. Selama aku sakit, dia tidak pernah meninggalkan tempat ini.” Li Jia lantas bersiap-siap.

Walau kakinya masih terasa sakit, Li Jia tetap memaksakan diri untuk pergi ke istana. Utusan yang menjemputnya adalah Liang Yi. Pemuda itu datang bersama beberapa orang pengawal berkuda dan sebuah kereta.

Liang Yi menatap Li Jia yang berjalan tertatih dan tidak melihat pengawal pribadi yang biasa mengawalnya. “Nona, apa tidak sebaiknya Nona tidak usah pergi? Aku bisa menjelaskan pada pangeran tentang kondisi Nona,” ucap Liang Yi.

“Tidak perlu. Bagaimana bisa aku menolak panggilan pangeran. Apa kamu ingin kita berdua menerima hukuman?” tanya Li Jia. Gadis itu lantas naik ke kereta dengan bantuan Liang Yi.

Liang Yi kemudian naik ke punggung kudanya dan memerintahkan untuk segera berangkat. Pemuda itu berjalan di samping kereta dan Li Jia bisa melihatnya dari jendela. Sesaat, Li Jia cukup kagum dengan kehebatan pemuda itu. Namun, kekagumannya itu tidak membuatnya melupakan penolakan dari ayah pemuda itu. Penolakan untuk menolongnya di masa lalu.

“Aku harap kamu tidak seperti ayahmu. Setidaknya aku tahu kalau kamu itu berbeda,” batin Li Jia.

Sementara Lian terlihat gelisah di dalam kamarnya. Hatinya seakan tidak tenang karena terus memikirkan Li Jia. Walau sudah berusaha untuk memejamkan mata, tetapi itu terlalu sulit untuk dilakukan.

Karena tidak tenang, Lian akhirnya kembali ke kamar Li Jia. Namun, dia tidak menemukan gadis itu di sana. Dari salah satu penari, dia akhirnya tahu kalau Li Jia telah pergi ke istana. Tanpa menunggu, Lian bergegas menunggangi kudanya dan mengejar mereka. Lian terus memacu kudanya karena kekhawatirannya pada Li Jia, hingga dia berhasil menyusul mereka.

Melihat Lian, Liang Yi memerintahkan untuk berhenti. Saat mendekati kereta, Lian lantas melompat dari punggung kudanya dan membuka pintu kereta.

“Lian, kenapa kamu bisa ada di sini?” tanya Li Jia heran.

Pemuda itu menatapnya lekat. Li Jia dapat melihat kecemasan dari tatapan matanya dan embusan napas yang memburu.

Lian hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Li Jia. Dia kemudian menutup pintu kereta dan bergegas naik ke atas punggung kudanya. Liang Yi lantas berjalan di depan, sementara Lian berjalan di samping kereta.

Li Jia melihat Lian dari jendela. Wajah pemuda itu terlihat berbeda. Li Jia tersenyum di balik penutup wajahnya. Sikap Lian kembali membuat dia semakin mengagumi pemuda itu.

Di depan halaman istana, kereta berhenti. Lian turun dari punggung kudanya dan membuka pintu kereta. Li Jia kemudian turun dan berdiri di sampingnya.

“Apa Nona bisa berjalan?” tanya Lian cemas.

“Tenanglah, jangan tunjukkan kecemasanmu di depan mereka,” jawab Li Jia tenang.

Gadis itu lantas berjalan walau rasa sakit masih dia rasakan. Saat tiba di depan paviliun, dia disambut oleh pangeran. Li Jia lantas menunduk memberi hormat.

Lian tampak cemas karena dia tahu maksud dari kedatangan Li Jia ke istana. Gadis itu akan diminta untuk menari di depan pangeran. “Li Jia, aku mohon bertahanlah.”


cerbung.net

Pendekar Cinta dan Dendam

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Kepulan asap hitam tampak mengepul di atas sebuah bukit. Bukit yang ditinggali beberapa kepala keluarga itu tampak diselimuti kepulan asap dengan kobaran api yang mulai membakar satu per satu rumah penduduk yang terbuat dari bambu. Warga desa tampak berlarian untuk berlindung, tapi rupanya penyebab dari kekacauan itu enggan membiarkan mereka meninggalkan tempat itu."Cepat bunuh mereka! Jangan biarkan satu pun yang lolos!" perintah salah satu lelaki. Lelaki yang menutupi setengah wajahnya itu menatap beringas siapa pun yang ada di depannya. Tanpa belas kasih, dia membantai setiap warga yang dijumpainya. Tak peduli anak-anak ataupun orang dewasa, dengan tega dia membantai tanpa ampun.penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset