Pengagum Rahasia episode 10

Chapter 10 : Harapan Kecil

Tergerak rasa penasaran, aku mengikuti saran Adi untuk bertemu Desi. Aku menunggunya sepulang sekolah.

“Des, bisa minta waktu sebentar?” sapaku di depan pintu gerbang sekolah.

Desi terlihat agak kaget, tapi kemudian dia tersenyum. “Akhirnya kamu datang juga, ayo duduk dulu,” jawabnya sembari beranjak menuju bangku di dekat gerbang.

“Jadi, apa dulu yang ingin kamu tanyakan?” seperti biasa, Desi memang selalu tanpa basa-basi.

“Emm.. mulai dari alasan Nida pindah, aku ngerasa semuanya nggak segampang itu,” tanyaku.

“Hmm.. kamu mulai dari bagian yang paling susah,” jawab Desi sambil membersihkan roknya.

“Singkatnya, Nida harus ikut ayahnya, karena orangtua mereka bercerai, adiknya nggak mungkin ikut ayahnya karena dia masih terlalu kecil, makanya Nida yang harus ikut,” ungkap Desi masih dengan wajah tenang.

Aku sendiri seperti disambar petir mendengar itu semua. Cerai? Aku tak pernah sedetik pun membayangkan kejadian seperti di sinetron itu akan menimpa orang di sekitarku. Terlebih Nida.

“Tunggu, aku nggak salah dengar kan? Orangtua Nida cerai? Kenapa bisa?” aku masih belum bisa mencerna semua dengan benar.

“Telingamu belum rusak, jadi apa yang kamu dengar itu benar, orang tua Nida cerai, dia mau nggak mau harus ikut ayahnya, sedang ibunya sendiri masih tinggal disini sama adiknya, mengenai alasan mereka cerai, kurasa kita nggak berhak membicarakannya” urai Desi panjang lebar. Orang ini mempunyai ketenangan luar biasa, bagaimana dia bisa menceritakan semua ini dengan tenang.

“Tapi dia terlihat baik-baik saja,” sanggahku.

“Dia memang pandai berakting,” jawab Desi sekenanya.

“Kenapa dia nggak cerita ke aku?” sergahku.

“Memang kamu siapa? Lagian kamu orang yang paling dia hindari untuk tahu,” tukasnya.

“Kenapa juga dia menolakku?” aku masih bertanya.

“Kenapa juga dia harus menerimamu? Apa yang bisa diharapkan dari hubungan yang rapuh? Apalagi hubungan jarak jauh. Bahkan ikatan pernikahan nggak bisa menjamin semua , Nida sendiri menyaksikannya. Sangat wajar kalau dia ketakutan dan trauma,” jawaban Desi membuatku semakin tertekuk.

“Lalu apa yang harus kulakukan?” tanyaku semakin bingung.

“Jangan tanya aku,” jawabnya pendek sambil lagi-lagi membersihkan roknya.

“…” aku kembali terdiam.

“Aku harus ke Bandung” ujarku tiba-tiba.

“HAH?” sahut Desi terkejut. Tapi kok terdengar ada dua suara.

“Hah?” aku tak kalah terkejut, melihat Adi tiba-tiba ada di belakangku.

“Kamu ngapain disini?” tanyaku sambil melotot ke arah Adi.

“Kamu mau ngapain ke Bandung?” Adi bertanya tanpa mempedulikan pertanyaanku.

“Tunggu, dari tadi kamu nguping?” aku masih tidak bisa terima.

“Sudah, hal kecil nggak usah dipedulikan, jawab dulu pertanyaanku,” tukasnya
enteng. Anak satu ini punya bakat untuk merusak suasana.

“Aku nggak tahu, hanya saja aku ngerasa harus ketemu Nida dulu,” jawabku.

“Aku memang ngerasa kalian harus ketemu, tapi nggak secepat ini,” sahut Adi sambil menggelengkan kepala.

“Kurasa menarik, lebih cepat malah lebih baik, waktunya juga cocok, kita sudah selesai ujian dan nggak punya tanggungan apa-apa lagi di sekolah,” sahut Desi kalem.

“Ya, aku setuju, aku memang harus cepat-cepat ketemu Nida,” tukasku.

“Lalu setelah ketemu, kamu mau apa?” tanya Adi lugas.

“Itu.. itu urusan nanti,” jawabku gugup.

“Kamu memang udah pernah ke Bandung? Kamu memang tahu rumah Nida?” cecar Adi dengan pertanyaan.

“Itu bisa diatur nanti, yang penting aku berangkat dulu.” jawabku keras kepala.

“Kamu ini memang…”

“Bodoh luar biasa” sela Desi di antara ucapan Adi.

“Tapi akan kubantu, aku memang nggak bisa ngasih tahu alamat Nida, tapi aku tahu dimana sekolahnya,” tambah Desi cepat.

“Yah, kalau kamu berkeras, aku akan kenalin kamu ke temenku, setidaknya kamu bisa menginap di tempat dia selama di Bandung,” tambah Adi pula.

“….” Aku terpana.

“Aku cuma bisa bilang makasih,” ucapku tulus. Adi tertawa lebar dan Desi hanya tersenyum tipis. Aku juga tersenyum. Ah, tiba-tiba aku ingin menegaskan sesuatu.

“Des, apa Nida juga suka aku?” tanyaku.

“Itu tugasmu untuk mencari tahu,” jawab Desi ringan sambil tersenyum simpul.

Aku tersenyum. Hujan di hatiku berganti gerimis. Terang menjelma, harapan kembali timbul. Aku tak tahu perjalananku ke Bandung nanti akan membawaku ke jurang keputus asaan atau gerbang kebahagiaan. Aku sama sekali tak punya jaminan. Tapi untuk saat ini, akan kubiarkan diriku larut dalam cahaya yang hanya setitik ini.


cerbung.net

Pengagum Rahasia

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2014 Native Language: Indonesia
Kisah anak SMA yang mengagumi teman sekelasnya , namun tokoh utama menyadari terdapat "jarak" yang tidak dapat ia capai dan berpikir tidaklah mungkin ia dapat bersama pujaan hatinya.Akankah cinta tokoh utama dapat terwujud?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset