Pengagum Rahasia episode 13

Chapter 13 : Selesai

Esoknya kuputuskan menunggu Nida di tempat yang sama. Entah ada dorongan dari mana, aku merasa dia akan melewati jalan yang sama. Aura positif seakan-akan tersembur keluar dari seluruh tubuh. Pertemuan satu arah yang kemarin tak sengaja terjadi memberiku semangat luar biasa. Rasa pesimis yang awalnya ada kini nyaris lenyap tak berbekas. Meski kemarin aku tak bisa menggapainya, tapi satu hal yang akhirnya pasti, Nida benar-benar berada di kota ini. Aku menyaksikan sendiri dengan mata kepalaku. Kami menghirup sejuknya udara yang sama, melewati jalan yang sama, menapaki trotoar yang sama. Kenyataan seperti itu saja sudah menguatkanku melebihi apapun.

Tapi kemudian, lagi-lagi aku tersadar. Semuanya itu selalu berjalan melenceng dari rencana. Alih-alih bertemu Nida, malah hujan deras yang menyapaku. Kata Rama, Bandung memang nyaris selalu hujan setiap hari. Untungnya aku sudah menyiapkan payung, yang juga atas saran darinya. Hujan ini agaknya akan awet sampai sore nanti menjelang. Membawaku kembali dalam kekecewaan tak bisa menemukan sosok Nida lagi seperti kemarin. Mungkin terbawa suasana, hari ini aku memutuskanuntuk pulang lebih awal. Badanku sudah kebas menahan dingin. Jatuh sakit di kota orang bukan pilihan yang baik untuk dijalani.

***

Hari berikutnya, setelah istirahat yang cukup aku memulai lagi pencarianku. Atau sebenarnya ini penantian ya, toh yang kulakukan dari kemarin hanya menunggu menemukan sosoknya di antara orang yang berseliweran. Apapun itu hari ini aku sudah cukup siap. Sesiap-siapnya mentalku ternyata tak mampu membendung rasa mual yang mendera tanpa ampun di dalam angkot. Sekarang aku sedang terbungkuk di dekat pohon, mencoba mengembalikan kondisi badan, agaknya pagi ini aku makan terlalu banyak. Dalam keadaan itulah sebuah suara halus mengejutkanku.

“Daris..”

Aku langsung menoleh ke arah asal suara itu. Suaranya benar-benar kukenal baik tanpa harus bersusah payah membuka kembali kotak memori. Tanpa menoleh pun aku sebenarnya sudah tahu pemilik suara tersebut.Hanya reflek belaka yang membuat kepalaku mendongak ke atas.

“Daris, ini benar-benar kamu? ” tanya pemilik suara itu dengan nada tak percaya. Gerak tubuhnya juga menunjukka reaksi serupa.
Aku hanya berdiri sambil membersihkan celana.

“Kamu kok ada disini?” lanjutnya.
Aku berdehem pelan dan sedikit menghela napas.

“Aku mau lihat-lihat kampus di sini,” Tunggu, kenapa mulutku ini selalu saja mengatakan hal yang tak seharusnya. Bahkan di saat seperti ini dan keadaan begini.

“Ooh..” jawabnya. Aku tak bisa membaca ekspresinya.

Tiba-tiba dia berbalik dan menuju serombongan gadis. Aku yang tak kuasa mencegah hanya mampu menjulurkan tangan seolah ingin menggapainya. Apakah pada akhirnya ini hanya akan jadi seperti teman lama yang lama tak bertemu dan sebatas menyapa di jalan. Sumpah aku tak ingin berakhir seperti ini. Aku menunduk dalam-dalam dan membulatkan tekadku. Aku harus mengejarnya. Aku tak akan membiarkan ini berakhir begitu saja. Dan ketika kudongakkan kepalaku, kudapati ternyata dia sudah di depan mataku, mengagetkanku.

“Kita jalan dulu yuk, tadi aku baru aja bilang ke teman-teman buat duluan aja,” ajaknya ringan.

Aku terpana. Tanpa bisa kucegah bibirku menyunggingkan senyuman.

***

Kami berjalan menyusuri trotoar. Tanpa tujuan pasti, hanya berjalan saja dalam diam. Secara tiba-tiba rasa canggung langsung menyergap kami berdua. Seperti ada dinding tak terlihat yang melintang di antara kami. Dalam keadaan seperti itu kami terus melangkahkan kaki. Langkah kaki membawa kami ke sebuah taman, dan entah siapa yang memulai kami sudah mengambil tempat di salah satu sudut taman. Mengamati anak-anak berlompatan, orang berpacaran, penjual yang menjajakan makanan.

“Kamu itu jarang tersenyum ya,” tiba-tiba dia memecah keheningan.

“Dan kamu terlalu banyak tersenyum,” tanpa bisa dicegah, nada sarkasme terselip dalam sahutanku. Dia hanya meringis.

“Aku sebenarnya bohong,” tanpa tahu kenapa tiba-tiba aku berbicara seperti itu.
Nida hanya menoleh ke arahku.

“Tujuanku kesini sebenarnya untuk mencari kamu,” lanjutku.
Dia terdiam sejenak, ekspresinya sedikit melembut.

“Untuk?”

“Minta maaf, marah dan pengakuan mungkin,”

“Minta maaf untuk apa?” dia bertanya sambil mengernyit.

“Untuk tak bisa menemanimu di saat-saat terberatmu. Untuk tak sadar tentang keadaanmu. Untuk setahun ini aku menyalahkanmu yang menghilang dariku.”
Nida hanya menunduk.

“Aku marah karena kamu tak menganggapku sebagai teman. Apa aku sebegitu tak bisa dipercaya untuk bisa membantumu? Aku marah karena kamu meninggalkanku tanpa tahu apa-apa.”

“Dan aku mau mengakui. Sejauh apapun aku mencoba membencimu, aku tak pernah bisa benar-benar berhenti memikirkanmu.”
Nida terdiam agak lama.

“A.. aku juga minta maaf,” ujarnya lirih.

“Setahun ini aku juga banyak berpikir, rasanya aku tak adil kepadamu. Dan ketika aku melihatmu disini, rasa bersalah itu semakin menjadi-jadi. Meski begitu aku…” tiba-tiba dia terdiam.

“Aku senang kamu mencariku.” lanjutnya lirih sambil tertunduk. Wajahnya memerah.

Aku kaget, aku yakin wajahku juga sedang merona sekarang. Aku sama sekali tak menyangka dia akan sampai seperti itu. Mungkin sekarang aku sudah tak berpijak di bumi.

“Ma.. makasih..” hanya kata itu yang mampu keluar dari mulutku.
Kami cukup lama saling diam.

“Tapi aku tetap tak mampu untuk menjalin hubungan,” ujarnya tiba-tiba.
Aku mendengus.

“Apa aku memintamu untuk itu?” tanyaku agak kesal.

“Aku hanya ingin meringankan bebanmu saat perlu. Mungkin aku memang tak akan banyak membantu. Tapi berbagi rasanya pasti lebih baik daripada sendiri. Aku hanya memintamu untuk percaya, segelap apapun dunia, kamu tak pernah selalu sendiri.”

“Lebih dari apapun, aku ingin kamu terus tersenyum.”

Nida terdiam cukup lama, seperti termenung.

“Aku hanya ingin kamu percaya.” lanjutku lirih.

Aku merasa sudah menumpahkan beban yang kupendam sekian lama. Rasanya benar-benar lega di dada ini.

“Aku nggak bisa memberi jaminan apa-apa,” akhirnya dia bersuara.

“Aku juga nggak minta jaminan,” sahutku cepat.

“Lalu?” tanyanya sambil memiringkan kepala ke arahku.

“Aku cuma percaya KEMUNGKINAN.” jawabku sambil membuang muka.

Kulihat Nida sedikit tersenyum. Aku selalu suka kalau dia tersenyum. Setelah itu kami sama-sama membisu. Sampai tiba-tiba gerimis datang tanpa diundang. Nida tiba-tiba berdiri dan melangkah pelan. Dia membentangkan tangannya seolah-olah ingin menangkap rintik hujan.

“Aku selalu suka bau hujan, bau tanah ketika gerimis baru turun, rasanya menenangkan,” ujarnya sambil menoleh ke arahku. Aku hanya mengangguk pelan mengamini perkataannya.

“Kamu bawa payung?” tanyanya padaku.

Tanpa banyak berkata aku langsung mengeluarkan payung. Dan membukanya. Dia juga langsung mengambil tempat di sebelahku. Berlindung dari air hujan yang makin lama makin cepat jatuhnya.

“Daris..” panggilnya.

Aku menoleh. Kulihat Nida menggerakkan bibir, bergumam lirih nyaris tanpa suara. Aku tak bisa mendengar jelas apa yang dia katakan. Tapi aku bisa tahu dari gerak bibirnya.

Aku tersenyum dan mengangguk. Dia juga tersenyum.

-FIN-


cerbung.net

Pengagum Rahasia

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2014 Native Language: Indonesia
Kisah anak SMA yang mengagumi teman sekelasnya , namun tokoh utama menyadari terdapat "jarak" yang tidak dapat ia capai dan berpikir tidaklah mungkin ia dapat bersama pujaan hatinya.Akankah cinta tokoh utama dapat terwujud?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset