Pengagum Rahasia episode 2

Chapter 2 : Lanjutan

Sudah beberapa lama sejak aku semakin dekat dengan dia. Kubilang semakin dekat soalnya dari dulu, kami nyaris tidak pernah bersinggungan kalau bukan sekedar menyapa atau kebetulan tugas kelompok. Kalau sekarang, intensitas interaksi kami meningkat, kami lebih sering ngobrol, biasanya sih di perpustakaan, aku juga lebih sering menyapa dia, dibanding dulu, aku lebih sering menghindar ketika bertatap mata dengannya. Hanya ada satu masalah, aku jadi semakin susah mengatur ritme jantungku kalau sudah di dekat dia. Ini buruk, soalnya bikin cepat lelah. Meski kuakui aku lumayan menikmati.

Ya, semuanya gara-gara insiden di perpustakaan tempo hari. Ketika dia benar-benar membuatku mati kutu. Aku memang sudah tahu kalau dia punya selera humor tinggi, kenyataan kalau dia banyak tersenyum berarti dia orang yang ceria. Tapi dia lumayan sabar juga menghadapi aku, aku yang lebih sering mengeluarkan komentar-komentar sinis ketika menanggapi omongannya. Sumpah, aku bukan bermaksud begitu, hanya mulutku kadang tidak mau sepakat dengan hatiku. Padahal dalam hati aku tertawa girang, tapi bibirku cuma menyunggingkan senyum kecut. Aku mengutuk dalam-dalam sifatku yang seperti ini. Sekarang aku sedang di perpustakaan, menunggu dia selesai rapat OSIS. Tadi dia bilang kalau ingin bertukar pendapat tentang novel yang baru selesai dia baca, juga ingin pinjam salah satu koleksiku. Apapun alasannya, tentu aku dengan senang hati menunggunya, mau berapa lama juga kutunggu. Kutarik ucapanku sebelumnya, aku benar-benar menikmati semua ini.

***

“Kamu pacaran dengan Nida?” aku tersentak ketika tiba-tiba ditanya begitu oleh Adi, teman sebangkuku.
“Apa maksudmu?” aku bertanya kembali dengan agak bingung.
“Kalian berdua kelihatan sering bareng akhir-akhir ini” jawabnya.
“Oh, nggak, siapa juga yang pacaran, emang nggak boleh kalau sering bareng?” aku menjawab sambil lalu.
“Bukan gitu sih, cuma aneh aja liat kamu bareng sama cewek” dia menjawab,kali ini aku yakin dengan nada meledek.
“Enak aja, kamu kira aku nggak bisa jalan bareng cewek” jawabku sambil melayangkan sikutan ke perutnya.
“Ups, sory, siapa tahu aja” jawabnya, sambil memegangi perut dan meringis kesakitan.
“Tapi kamu suka dia kan?” dia kembali bertanya, dengan nada menyelidik.
Aku tersentak lagi. Mencoba menyembunyikan mukaku sambil menyenderkan tangan di meja.  Kalau langsung ditembak begitu, siapa juga pasti bakal panik.
“Heee.. jadi kamu serius suka dia” rasanya pengen kutikam anak ini.
“Ugh.. memang salah?” aku tidak mencoba untuk mengelak. Percuma juga kurasa.
“Hahahahhahaa….” Adi tertawa keras sekali sekarang.
Aku langsung membungkam mulutnya, tak lupa ditambah jitakan ke kepalanya. Nah sekarang seisi kelas melirik ke arah kami, termasuk Nida. Tentu saja, tawa sekeras itu bakal mengundang perhatian kan. Sungguh adegan bodoh yang sedang kami peragakan. Anak ini memang sekali-kali perlu diselotip mulutnya.
“Oke-oke maaf, hihihihi, aku cuma nggak nyangka aja kamu bakal sejujur itu jawabnya” dia masih tertawa, dasar sial. Dan aku semakin merengut.
“Kurasa kamu punya peluang kok, lanjutkan aja, hihihihi” anak ini masih saja belum berhenti tertawa. Eh, tunggu, dia bilang apa tadi? Peluang?
“Kamu, jangan bercanda yang nggak lucu ah” Aku? Dengan Nida? Peluang? Aku sama sekali tidak pernah berpikir seperti itu.
“Pokoknya lanjutkan aja, siapa tahu nanti ada peluang, kepolosanmu itu hal yang menarik dari dirimu” entah kenapa dia terdengar bijak, tapi aku juga merasa seperti diolok-olok.
“Terserahlah” aku memutuskan mengakhiri percakapan sambil mengambil posisi selonjor di bangku. Tapi tak bisa kuhindari, perkataan Adi menancap kuat di kepalaku. Peluang? Apa di mata orang lain kedekatan kami terlihat seperti itu? Aku tak mau terlalu percaya diri, tapi aku juga tak bisa memungkiri, kalau dalam hati kecilku, aku memang ingin bersamanya. Bukan cuma sebagai teman baik.

***

Hari ini sepulang sekolah aku berencana pergi ke game centre bersama Adi. Ingin membuang pikiran penat selepas Ujian Akhir Semester yang benar-benar menguras isi kepala. Kami memang sudah merencanakan ini sejak sebelum ujian dimulai.

“Hai Daris, ada acara nggak habis ini” tiba-tiba Nida menyapaku di gerbang sekolah. Kelihatannya dia memang sudah menungguku dari tadi. Atau setidaknya aku berharap seperti itu.
“Kenapa memangnya?”
“Ng, aku mau ngajak kamu ke Gramedia, ada beberapa buku yang pengen kubeli” jawabnya sambil memainkan ujung jilbabnya.
Sialan. Kenapa pula hari ini aku harus sudah ada janji dengan Adi.  Aku benar-benar ingin menerima ajakannya.  Tapi mungkin aku sedang tidak beruntung. Bagaimanapun, janji dengan Adi lebih dulu kubuat. Rasanya aku ingin menangis saja.
“Ah, ma…”
“Oh iya ris, aku baru ingat kalau aku ada acara keluarga hari ini, aku pulang duluan ya, kamu bareng Nida aja,” belum sempat aku ngomong. Si Adi sudah memotong omonganku.
“Oke ris, Nid, aku duluan ya ” dia langsung berlalu pergi seperti angin. Meninggalkan aku yang terbengong-bengong sendiri.
“Adi itu baik ya,” sura Nida memecah kebengonganku.
“Eh? Apa?” aku masih lumayan kebingungan.
“Nggak, bukan apa-apa, jadi kamu bisa nemenin aku?” tanya Nida lagi.
“Oh, oke, nggak masalah kok, kita naik apa? Aku lagi nggak bawa motor soalnya” jawabku, masih dengan kebingungan.
“Pake motorku aja, aku bawa motor” jawabnya sambil menunjukkan kunci motor kepadaku.
“Tapi aku nggak bawa helm” kenapa pula aku harus menjawab seperti ini.
“Aku bawa helm dua kok” ujarnya sambil menunduk sambil memainkan ujung jilbabnya lagi, dan eh, apa dia sedang tersipu?
“Oh… ayo berangkat kalau begitu” sahutku, sambil menerima kunci motor yang diangsurkannya padaku.
Dalam hati aku sudah menetapkan, aku bakal traktir Adi sepuasnya nanti.
“Motorku Vega merah Daris”
“Aku tahu kok” jawabku sambil berlalu menuju motornya.
Kusempatkan diri menoleh ke belakang. Dia tersenyum. Aku melayang.

***

Kami menghabiskan waktu cukup lama di Gramedia. Kalau sudah ada di sini, persepsiku akan waktu memang jadi kabur, lebih-lebih sekarang sedang bersama dia. Ternyata dia lumayan banyak juga berbelanja, beberapa buku, novel, diantaranya aku yang memilihkan sambil sedikit berdebat, juga komik dan peta. Aku tidak tahu kenapa dia harus beli peta, dia juga tidak menjawab ketika kutanya, cuma tersenyum kecil, aku juga tidak berniat mengejar lebih jauh. Aku juga menyempatkan diri beli beberapa komik, mumpung lagi di sini.

“Fuuuh, banyak juga belanjaanku ya, berat nih” keluhnya sambil mengangkat tas.
“Aku kaget juga, beberapa ini ternyata segini ya?” sahutku, sambil tersenyum jahil tentu.
“Biarin, nggak sering-sering juga kok” jawabnya sambil menjulurkan lidah.
“Mau kubawain?” tawarku.
“Nggak usah lah, masih kuat kok” jawabnya sambil menepuk-nepuk tasnya.
“Oh, oke kalau begitu, mau langsung pulang ini?”
“Minum dulu yuk, aku lumayan haus, di depan sana ada warung es campur” ujarnya sambil menunjuk seberang jalan.
“Hmm.. aku juga lumayan haus nih, yaudah kita kesana dulu”

Kamipun segera mengambil tempat di warung itu. Tempatnya agak ramai, menandakan kalau ternyata cuaca sepanas ini memang paling cocok minum es. Aku memesan es kelapa muda, sedang Nida memesan es durian. Padahal aku paling benci durian. Baunya bikin kepala pusing. enakan Cendol Gan  becanda….. lanjut ceritanya

“Jadi liburan ini kamu ada rencana apa?” aku mencoba memulai percakapan.
“Ah.. ng.. nggak kemana-mana kok, paling cuma beres-beres di rumah” jawabnya. Hanya perasaanku atau kulihat wajahnya jadi agak sendu ya?
“Sama, aku juga belum ada rencana apa-apa,” jawabku menyetujui ucapannya.
Eh tunggu, aku bisa menggunakan kesempatan ini kan? Maksudku, aku bisa saja mengajak dia keluar. Mumpung ceritanya kami sama-sama lagi tidak ada rencana. Ah, kali ini aku tidak boleh mengacau. Aku harus berhasil.
“Nida?” panggilku ke dia.
“Eh, iya Daris, ada apa?” jawabnya sambil mengangkat wajahnya. Dari tadi ternyata dia sedang menunduk.
“Uh… jadi gini..” aku masih mengumpulkan keberanian.
“….” dia masih menunggu.
“Karena kita sama-sama nggak ada rencana, kamu mau nggak…” sampai sini aku menelan ludah. Kenapa susah sekali ya rasanya.
“Mau apa?” tanyanya penasaran.
“Kamumaunggaknontonbarengminggudepan?” aduuh, aku ngomongnya terlalu cepat saking gugupnya.
“Eh, apa?” dia bertanya lagi sambil mengernyit.
“Anu, maksudku, minggu depan mau nonton bareng nggak? Kayaknya ada film menarik di bioskop” kali ini aku mengulanginya dengan lumayan lancar.
“Nonton?” jawabnya terlihat lumayan ragu.
“Ah, tentu bukan cuma kita berdua, kamu bisa ajak Desi dan aku akan ajak Adi nanti” kilahku buru-buru, takut dia salah paham dan berpikir aneh-aneh.
“Eh?’ sahutnya terkejut.
“Kamu nggak bisa ya?” tanyaku dengan putus asa.
Dia menggeleng keras-keras. “Bukan, aku mau kok, mau banget, minggu depan kan?”
“Iya, kamu bisa ajak Desi” ulangku.
“Tentu saja, kamu juga ajak Adi” dia mengulangi juga.
“Jadi minggu depan kan?” aku tanya lagi, sekedar buat memastikan.
“Iya, minggu depan” jawabnya pasti, dengan senyum khasnya.
“…..” aku masih kurang percaya. Meski meleset dari harapanku semula, tapi minggu depan akan terasa lama. Menunggu sesuatu yang benar-benar diharapkan itu selalu terasa lama.
“Kalau begitu sekarang kita pulang yuk, punyaku udah mulai habis” ajaknya sambil menunjuk es durian miliknya.
“Ah, iya aku juga” jawabku sambil melirik gelas milikku.
Dan melewatkan waktu berharga itu selalu terasa begitu cepat. Aku segera beranjak dari tempat duduk.
“Daris, kamu salah ambil, itu kan tasku” ujarnya sambil menahan tasnya yang memang sengaja kuambil.
“Kamu bawa aja tasku,” jawabku sambil mengedikkan kepala ke tasku yang tergeletak di meja, sambil buru-buru menuju motor, biar dia tidak protes lagi.
Dia mengejarku sambil berlari kecil. Tuh kan, dia tidak mungkin bisa seperti itu kalau membawa tas ini. Satu toko diborong sih.
“Daris…..” panggilnya. Aku yang sudah siap di jok motor cuma menoleh ke arahnya
“…….” dia terdiam.
“Makasih ya..” ujarnya sambil tersenyum manis.
“Uh.. sama-sama” kalau saja mukaku tidak tertutup helm, pasti terlihat kalau sekarang sedang seperti kepiting rebus.
“Sekarang ayo pulang” ajaknya ceria sambil beranjak ke jok.

Minggu depan akan jadi penantian yang panjang. Tapi pasti menyenangkan. Aku sudah tidak sabar. Meski kayaknya bakal ada dua orang pengganggu sih.


cerbung.net

Pengagum Rahasia

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2014 Native Language: Indonesia
Kisah anak SMA yang mengagumi teman sekelasnya , namun tokoh utama menyadari terdapat "jarak" yang tidak dapat ia capai dan berpikir tidaklah mungkin ia dapat bersama pujaan hatinya.Akankah cinta tokoh utama dapat terwujud?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset