Pengagum Rahasia episode 7

Chapter 7 : Aku Ingat Hari H Lagi

Sudah seminggu sejak terakhir kali aku berbicara dengan Nida. Sejak dia menolakku. Ditolak rasanya bukan kata yang sesuai dengan apa yang dia lakukan. Aku bahkan belum sempat menyatakan perasaanku. Ditolak sebelum menyatakan, malang benar nasibku. Setelah itu aku tidak tahu bagaimana caranya bisa sampai ke rumah, tahu-tahu aku sudah sampai di depan rumah, dalam keadaan basah kuyup. Bukan pengalaman yang menyenangkan kalau boleh kubilang. Malamnya aku langsung demam, sakit di badanku tidak begitu terasa, tapi di hati benar-benar remuk redam. Aku benar-benar kosong, tak tahu lagi harus melakukan apa. Aku mungkin bisa memahami kalau dia memberi alasan yang masuk akal untuk menolakku. Meski tak bisa kupahami, tapi setidaknya aku akan mencoba memahami. Tapi yang dia lakukan bukan menolakku, tapi mencegahku mengungkapkan perasaan, artinya dia tahu benar kalau aku memendam rasa untuknya dan aku sudah terlalu percaya diri untuk yakin kalau dia juga merasakan hal yang sama. Ditolak itu pasti sakit sekali, tapi buatku ini lebih dari itu. Rasa-rasanya keberanian yang kukumpulkan seakan diinjak-injak.

Buatku mungkin ini keberuntungan. Liburan membuatku tak perlu pergi ke sekolah, aku tidak mau berangkat ke sekolah dalam keadaan seperti ini. Aku sadar, aku bukan tipe orang yang bisa menyembunyikan perasaan. Aku tak mau wajahku yang muram ini menjadi pertanyaan teman-teman, meski aku tak begitu punya teman, tapi si Adi pasti akan menyerangku. Dan aku malas menceritakan semuanya lagi, hanya mengulang luka dan tidak membantu memperbaiki apapun, setidaknya tidak sekarang. Liburan dua minggu mungkin akan cukup setidaknya membuatku bersikap lumayan normal lagi. Aku cuma butuh waktu sendiri. Sempat Adi menghubungiku menanyakan hasil, hanya kujawab tak terjadi apa-apa. Beberapa kali dia dan teman-teman lain mengajakku keluar, namun selalu kutolak dengan berbagai alasan. Hanya aku tak bisa menghindar dari keluargaku, utamanya adik dan ibuku. Tentu aku tak bisa menceritakan semuanya, pada mereka aku cuma bisa bilang aku sedang kurang enak badan. Dan bayang-bayang hari itu sampai sekarang masih terus berkelebat di benakku. Percakapan kami waktu itu rasanya terus menerus diputar di otakku seperti kaset rusak.

***

“Jangan diucapkan Daris,” ulang Nida sambil terisak.

“….” aku terdiam sesaat.

“Kenapa? Apa maksudmu? Dan kenapa kamu menangis?” aku memberondongnya dengan pertanyaan, penuh kebingungan.
“Aku.. aku nggak nangis,” jawabnya sambil mengusap matanya.

“….” lagi, aku cuma bisa terdiam.

“Daris, kamu tahu? Ada hal-hal yang sebaiknya tidak berubah, akan lebih baik bila tetap seperti biasa” tiba-tiba Nida berbicara sambil mendongak ke atas.

“Tapi, kamu bahkan tak tahu apa yang ingin kuungkapkan kan?” sergahku.

“Aku memang nggak tahu, dan sebaiknya aku memang nggak perlu tahu” ujarnya kalem.

“Tapi..”

“Daris, dengarkan aku!” potongnya tegas sambil menatap ke arahku.

“Kita mulai minggu depan nggak akan bisa bertemu lagi, aku harus ikut ayahku ke Bandung” lanjutnya lirih.

Rasanya bak mendengar petir menggelegar, aku tiba-tiba tak yakin dengan telingaku. “Tunggu.. apa kamu bilang?”

“Aku akan pindah sekolah mulai kelas tiga,” jawabanya pelan.

“Ke.. kenapa tiba-tiba begini?” kejarku masih tak mempercayai apa yang kudengar.

“Ini nggak tiba-tiba, semua sudah diputuskan sejak pertengahan semester ini.” jawabnya sambil menunduk. Pertengahan semester? Berarti itu awal-awal aku mulai akrab dengan dia. Kenapa?

“Kenapa kamu nggak memberitahuku sebelumnya?” tanyaku dengan segenap emosi sambil mengepalkan tangan.

“Aku nggak ingin suasana kita yang sudah terlanjur akrab jadi muram,”

“Kamu.. kamu nggak berpikir akan pergi begitu saja tanpa mengucapkan apa-apa kan?”

“Maaf…” jawabnya kian menunduk.

“Apa kamu nggak bisa tinggal disini hanya untuk setahun lagi?” sergahku putus asa.

“Maaf, ris..” dia makin menunduk.

“Meski jauh, kita masih bisa berhubungan kan? Aku benar-benar….”

“Nggak bisa Ris, aku nggak bisa,” potongnya sambil mengangkat wajah. Matanya merah, seperti menahan tangis.

“Aku.. aku..” aku tak kuasa mengucapkan apa-apa lagi.

“Jangan diucapkan Daris, begini lebih baik,” lirihnya.

“…..” aku cuma bisa terdiam.

“Maafkan aku Daris, terima kasih untuk beberapa bulan ini, aku benar-benar bahagia melewatinya,” ucapnya sambil tersenyum dan menahan tangis. Kali ini rasa perih yang muncul ketika melihat senyumnya.

Dan Nida berbalik membelakangiku. Dia mulai berlari kecil meninggalkanku yang terpatung disini.

“Nida!!” kucoba memanggilnya sambil setengah berteriak. Dia terhenti sejenak, tapi tak menoleh kemudian berlari lagi.

“Kamu curang Nida, kamu curi hatiku dan sekarang kamu berharap aku mengambilnya lagi?” lirihku putus asa.


cerbung.net

Pengagum Rahasia

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2014 Native Language: Indonesia
Kisah anak SMA yang mengagumi teman sekelasnya , namun tokoh utama menyadari terdapat "jarak" yang tidak dapat ia capai dan berpikir tidaklah mungkin ia dapat bersama pujaan hatinya.Akankah cinta tokoh utama dapat terwujud?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset