Pengantin Berdarah Episode 1

Cincin Firasat

Adzan maghrib baru selesai berkumandang, Rusdi datang ke rumah, tumben jam segini dia datang. Yah paling lagi-lagi cerita tentang hubungannya dengan Wina. Dari dulu aku biasa mendengar keluhannya, dari awal mereka pacaran saat kuliah sampai sudah kerja. Jadi kalau dia mengadu aku hanya tertawa. Bagaimana tidak? Mereka sudah biasa putus nyambung, sekarang putus besok jadian lagi.

Namun kedatangan Rusdi kali ini agak beda, wajahnya terlihat kusut, ada sedikit memar di wajahnya, bajunya pun tampak lecek, tumben dia tidak rapi seperti biasanya. Rambutnya pun acak-acakan.

“Kamu kenapa?”

“Ndi … Wina hamil …,” kata Rusdi. Tapi kali ini tak ada wajah sedih seperti biasanya, yang ada dia terlihat marah juga kecewa, bahkan seperti ada dendam yang begitu membara.

“Tahu dari mana?”

“Aku barusan dari rumahnya, dia sudah menikah sama bosnya.”

A-apaaa!” teriakku tanpa sadar. Bahkan aku menumpahkan kopi satu gelas yang belum diminum sama sekali.

“Kamu tahu, Ndi. Baru dua minggu lalu dia bilang telat. Aku dan Wina itu sudah berhubungan jauuuh sekali,” jawabnya lirih.

“Tapi kok bisa nikah sama bosnya?”

“Aku nggak tahu, Ndi.” Entah apa yang salah, Rusdi yang biasanya cerewet kali ini tidak banyak bicara.

Dua minggu yang lalu Rusdi sempat cerita, sejak kerja dengan bos yang baru selama tiga bulan ini, Wina mulai berubah. Bahkan dia tak pernah mau lagi diajak jalan-jalan seperti biasanya. Alasannya dosa, awalnya Rusdi hanya tertawa dan tidak curiga, dia menuruti kata Wina. Toh tak lama lagi dia akan melamar kekasihnya itu. Sudah tiga tahun pacaran, dari semester tujuh sampai sudah kerja, Rusdi pikir kekasihnya hanya memancing agar ia segera menikahinya.

Namun perubahan sikap Wina lama kelamaan membuat Rusdi bingung. Katanya minta putus, ditanya alasannya, jawabnya bosan pacaran, pas Rusdi bilang mau melamarnya Wina tidak mau.

“Ndi, kemarin aku beli cincin. Hari ini rencana aku mau melamar dia, dengan semua keluargaku ikut datang.”

“Tapi yang kulihat justru hal yang menyakitkan, dia baru selesai melakukan ijab, dan kamu tahu, Ndi? Katanya dia hamil, artinya itu bisa jadi anakku juga, kan?”

“Kasian, Bapak sama Ibuk, juga keluarga besar yang ikut. Mereka pasti malu,” kata Rusdi. Ia bicara sambil menundukkan kepala, ada air mata yang menetes di sana.

“Anggap belum jodoh, Rus.”

Rusdi hanya diam, kulihat sedikit aneh, wajahnya tampak pucat. Mungkin karena kepikiran Wina, jadi kutawarkan makan, tapi dia tolak. Bahkan tidak seperti biasanya, dia hanya duduk di teras. Waktu kukatakan Ibu ada bikin risoles buat snackbox dia bergeming, padahal biasanya langsung masuk dan minta.

“Ndi, aku pulang dulu, aku titip cincin ini tolong kasih ke Wina, aku ikhlas dia nikah sama bosnya,” kata Rusdi sambil memberikan cincin bermata satu dalam kotak kecil berbentuk hati dan berwarna merah. Dia pun pamit pulang, saat berjalan keluar, aku menyadari ada yang salah.

“Ta-tapi, Rus. Kamu naik apa?” tanyaku baru sadar kalau Rusdi tidak bawa motor.

“Aku jalan, Ndi. Terima kasih ya sudah jadi sahabat dari SMA, sampaikan maafku ke ibukmu, aku pamit.” Aku hanya melongo, dalam satu kedipan mata dan Rusdi menghilang, tapi cincin ini masih kupegang.

“Ndii … Andiii! Andii!” teriak Ibu mengagetkanku.

“Ada apa, Bu, sudah malam teriak-teriak ntar dikira kesurupan.”

“Rusdi … dia …dia,” tiba-tiba Ibu gagap, aku pun segera ambil air minum, dan menenangkannya.

“Kenapa dengan Rusdi? Barusan dia datang, belum lima menit dia pulang,” jelasku, Ibu tampak makin bingung dan menyuruh aku mengambil ponsel yang kucharge dari sore tadi.

Ada tiga puluh panggilan tak terjawab, dari nomor ibunya Rusdi, juga dari nomornya Wina. Langsung aku hubungi ibunya Rusdi, dan aku diminta datang ke rumah sakit segera. Sudah jam setengah tujuh malam, akhirnya kupinjam mobil Mbak Nunik, karena Ibu memaksa mau ikut.

Sesampai di rumah sakit tampak keluarga Wina juga ada di sana, tapi semua terlihat penuh amarah. Aku ditarik adiknya Rusdi masuk ke ruang jenazah, kulihat sahabatku itu sudah terbujur kaku, wajahnya hancur seperti habis dikeroyok massa. Ada satu lagi laki-laki yang juga penuh luka, darah masih menetes dari perutnya.

“Sini, Ndi … duduk, saya jelaskan,” kata bapaknya Rusdi sambil memegang pundak.

Kata Bapak, siang itu jam satu, mereka datang ke rumah Wina, agak mendadak karena Rusdi pun memberitahunya baru dua hari yang lalu. Sesampai di rumah Wina, sudah ada banyak tamu, mereka pikir pasti Rusdi sudah persiapkan semua sampai Wina menyambut dengan acara.

Sayangnya begitu mereka sampai di rumahnya, yang ada Wina sedang duduk di pelaminan dengan bosnya. Tentu saja Rusdi kaget, ntah setan apa yang merasukinya, dia menerjang masuk dan menarik Wina. Menjadikan kekasihnya sebagai sandera, dia minta penjelasan tentang akad yang sudah terjadi.

Suami Wina yang tidak tahu apa-apa bingung, karena setahu dia Wina dan Rusdi sudah putus. Jadi semua kesalahan ya di Wina yang tidak mau jujur. Mendengar semua jawaban, Rusdi gelap mata, dia mengeluarkan pisau yang iya simpan di balik kemejanya. Melompat dan menusuk suami Wina di bagian perut berkali-kali disaksikan keluarganya.

Terakhir Rusdi memotong nadinya sendiri, semua terjadi begitu cepat, untung saja tetangga langsung datang mengamankan keluarga Rusdi. Tapi Rusdi habis dihajar keluarga Wina.

Jam dua keduanya dilarikan ke rumah sakit, setelah masuk IGD dua jam menunggu, sayang nyawa keduanya tak tertolong. Jam empat sore, keduanya mengembuskan napas terakhirnya.

Aku hanya bisa diam, cincin ini masih kupegang, jadi yang datang ke rumah tadi siapa? Tak lama Wina terdengar histeris, meneriakkan nama Rusdi, kadang memakinya, tapi sebentar lagi minta maaf. Sorot matanya kosong, entah kenapa cincin dalam genggamanku seperti mengajak mendekati Wina.

“Kamu, Ndi. Ada apa? Mau apa lagi Rusdi? Sudah cukup dia membunuh suamiku, apa dia juga mau anakku sekalian?” teriaknya. Jujur itu membuatku takut, apalagi tatapan matanya sangat menyeramkan. Bekas make up di wajahnya, semakin membuatnya tampak mengerikan.

Tiba-tiba Wina seperti mau menyerangku, tapi ada yang berteriak, pandangan Wina pun beralih ke suara itu. Ternyata ayahnya dengan seorang yang berpakaian seperti orang pintar. Tampak ia komat-kamit, Wina pun tertawa, dia melirik ke arahku dan berlari cepat sekali meninggalkan kami semua. Orang pintar tadi tetap komat-kamit, tak lama suasana di kamar jenazah itu begitu menyeramkan. Lampu-lampu padam, orang-orang seperti kehilangan suara, semua langsung diam.

Tak lama Wina muncul, kali ini dia bukan lagi berjalan normal, tapi menggunakan kedua tangannya, entah makhluk apa yang merasukinya, yang pasti menyeramkan.
Entah siapa yang mulai, kami semua bersholawat, hampir sepuluh menit, Wina tiba-tiba tertawa.

“Tunggu pembalasanku, akan kuhabisi kalian yang sudah membunuh kekasihku!” teriaknya melengking, tapi suaranya seperti orang tua.

cerbung.net

Pengantin Berdarah

Score 0.0
Status: Hiatus Tipe: Author: Dirilis: 2020 Native Language: Indonesia
Adzan maghrib baru selesai berkumandang, Rusdi datang ke rumah, tumben jam segini dia datang. Yah paling lagi-lagi cerita tentang hubungannya dengan Wina. Dari dulu aku biasa mendengar keluhannya, dari awal mereka pacaran saat kuliah sampai sudah kerja. Jadi kalau dia mengadu aku hanya tertawa. Bagaimana tidak? Mereka sudah biasa putus nyambung, sekarang putus besok jadian lagi.Namun kedatangan Rusdi kali ini agak beda, wajahnya terlihat kusut, ada sedikit memar di wajahnya, bajunya pun tampak lecek, tumben dia tidak rapi seperti biasanya. Penasaran dengan cerita kelanjutannya? Yuk dibaca kelanjutan keseruan dari cerita ini..

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset