Petualang Masa Lalu episode 10

Chapter 10 : Penyusunan Rencana

Ki Santiko kulihat sangat resah. Duduknya tak tenang…”Ada apa Ki? Tampaknya ada hal yang dipikirkan?”
“Hmm… Marilah kita ke rumah Ki Gede. Ada hal penting yang harus kusampaikan pada Ki Gede!” kata Ki Santiko.
‘Baik Ki.. Mari..!”Setelah berpamitan dengan istrinya, kamipun berjalan menuju rumah Ki Gede Pamungkas.
Selama perjalanan kami.hany terdiam. Larut dalam pikiran masing-masing.
Tak terasa kami sudah sampai di regol rumah Ki Gede. Para prajurit jaga menyapa kami dan mempersilahkan kami untuk masuk. Seorang prajurit mendahului kami untuk memenggil sang empunya rumah.
Ketika kami sampai di pendopo, kami disambut oleh Ki Gede.”Ki Santiko, ada berita apa sehingga terburu-buru datang kemari?” tanya Ki Gede setelah kami duduk.
Melihat sepertinya ada yang penting, aku berniat mengundurkan diri.
Aku hanya tamu di sini. Tak sopan rasanya ikut mendengarkan pembicaraan penting, yang mungkin itu sebuah rahasia.Ketika aku berdiri hendak pamit undur diri, aku dicegah oleh Ki Santiko.

‘Tetaplah di sini, karena kami.akan membutuhkan bantuanmu!”

Aku kembali duduk, dan bersiap mendengarkan apa yang akan dibicarakan.

“Ada apa adi Santiko?” tanya Ki Gede.
Adi?? Baru kali ini aku mendengar Ki Gede memanggil Adi pada Ki Santiko.
“Begini kakang…! Tadi saat aku sedang berbincang dengan Nak Aji, aku mendapat laporan dari telik sandi (mata-mata) makhluk halus yang kukirim untuk memantau pergerakan dari kimpulan makhluk halus di luar perbatasan tanah perdikan ini!”

Ki Gede hanya diam mendengarkan. Tidak berkomentar apapun.
‘Dari laporan mereka, ternyata memang kumpulan makhluk halus itu, sengaja dikumpulkan oleh sekelompok orang, untuk menyerbu Tanah Perdikan Manyaran ini Kakang!” lanjut Ki Santiko.

“Adakah keterangan tentang kelompok yang mengumpulkan makhluk halus begitu banyak itu?”
“Tentang itu masih belum jelas Kakang. Hanya saja, mereka akan melakukan pergerakan masuk.ke wilayah tanah perdikan ini dalam waktu dekat.”
“Hmm…begitu. Lalu bagimana usulmu Adi Santiko?”
“Menurut hematku kakang, karena ada 2 kekuatan yang bergabung untuk menyerang tanah perdikan ini, maka kita juga harus menyiapkan 2 jenis pasukan untuk menghadapinya. Dan untungnya kita mengetahui rencana busuk ini sebelum mereka bertindak. Jadi paling tidak kita akan bisa mempersiapkan diri.”
“Betul Adi… Tenangkan hatimu. Aku sudah menyuruh Wirasana untuk bersiap dengan pasukannya apabila dibutuhkan sewaktu-waktu. Perasaanki sudah mencium keganjilan ini dari sejak engkau melaporkan penemuanmu kemarin.
Bagaimanapun, aku sebagai yang dipercaya memegang pimpinan di tanah perdikan.ini tidak mau kecolongan. Sekarang, untuk pasukan kedua yang akan menghadapi makhluk halus itu, aku serahkan padamu Di!”
“Baik kakang, aku akan melaksanakan tugas ini sebaik-baiknya.”

Kemudian Ki Santiko berpaling padaku.

“Nak Aji, sekarang engkau sudah mengetahui peemasalahan yang menimpa tanah ini. Sekarang terserah kepadamu, apakah akan membantu mengatasi prahara ini atau bagaimana. Karena kamu tidak punya kewajiban membela tanah ini. Dan kamu adalah tamu di sini!”

“Ki Gede dan Ki Santiko yang saya hormati dan saya kagumi, memang saya bukan penduduk di tanah perdikan ini. Saya hanya tamu di sini. Tapi, sebagai tamu, jika tuan rumah sedang kerepotan, maka saya akan membantu semampu saya. Walaupun mungkin bantuan saya tak berarti!” jawabku.
“Hahaha…aku kagum padamu nak Aji. Kamu tahu menempatkan diri dan tidak segan ikut dalam kerepotan kami…!” Ki Gede menyanjungku.
“Ah..Ki Gede, saya tidak bisa membantu apa-apa, hanya sebisa saya saja!”
“Itupun sudah cukup. Baiklah, kau akan aku tempatkan di bawah komando Adi Santiko!”
“Baik Ki Gede…!” jawabku mantap.
Yakin, ini pasti urusan melawan makhluk tak kasat mata.
“Baiklah kakang, aki dengar nanti akan ada paseban untuk membahas masalah ini. Nanti akan aku tunjuk beberapa orang yang mempunyai kemampuan di bidang ini untuk mendukung kami!”
“Baik adi, nanti.kau pilih saja siapa.yang sekiranya bisa kau andalkan untuk menghadang serbuan pasukan tak kasat mata itu!”

Kami masih berbincang beberapa lama, hingga pembicaraan kami terputus oleh hadirnya 3 orang berpakaian gembel yang datang menghadap.
Waduh..ini ada apa lagi ya?

Ketiga orang itu meletakkan tangan kanan di dada dan mengangguk hormat, dan dibalas anggukan oleh Ki Gede.

“Laporkan hasil penyelidikan kalian!” kata Ki Gede

Salah seorang yang berpakaian mirip orang gila, mewakili teman-temannya berkata:

“Menurut pengamatan kami, ada sekelompok orang sedang melakukan gerakan mencurigakan di tapal batas tanah perdikan ini. Mereka terdiri atas 200 an orang yang tersebar di 4 penjuru tapal batas.
Mereka membangun pondok-pondok kecil yang tersebar di dalam hutan dan saling berjauhan, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan. Di siang hari, tak ada kegiatan yang berarti. Tapi di malam hari, mereka melakukan kegiatan seperti layaknya persiapan perang. Namun menjelang dini.hari, semua berpencar lagi dan lenyap di dalam hutan. Itu yang kami dapatkan Ki Gede.”
“Apakah kalian sempat mendengarkan percakapan mereka?”
“Sangat sulit mendekat ke arah mereka Ki Gede. Ada beberapa kelompok penjaga yang selalu mengadakan perondaan. Sehingga akan mudah ketahuan kalau kami menyusup!”
“Baik. Terima kasih atas informasinya. Kembali ke tempat kalian sekarang. Jangan lupa selalu berhubungan dan jika ada kejsdian, segera laporkan!” kata Ki Gede.
“Baik Ki Gede. Kami mohon pamit!”

Setelah ketiga orang gembel itu pergi, Ki Gede memandang pada kami.

“Tadi adalah telik sandi yang kukirimkan untuk memata-matai mereka. Sudah kalian dengar sendiri, bagaimana kekuatan pasukan mereka.”

“Maaf Kakang, aku rasa persiapan kitapun perlu dirahasiakan. Karena bukan tidak mungkin mereka akan mengirim juga telik sandi mereka.”
“Benar, akupun berpikiran begitu Adi. Kalau telik sandinya orang luar, mungkin masih bisa kita ketahui. Yang sulit adalah jika ada pengkhianat di tanah perdikan ini. Jadi aku setuju denganmu, persiapan kita, akan kita lakukan secara diam-diam pula. Seolah kita tidak ada persiapan sama sekali.”
“Betul kakang. Jadi jika pada saatnya nanti mereka bergerak, kita akan memberi kejutan kepada mereka.”
“Mohon maaf Ki Gede dan Ki Santiko, boleh saya bertanya?” selaku.
“Silahkan nak… Bertanyalah!” sahut Ki Gede.
“Apakah di tanah perdikan ini ada pasukan khusus?”
“Maksudmu?”
‘Pasukan yang dilatih secara khusus dan lebih terampil dari prajurit biasa.”
“Ada… Ada sekitar 40 orang yang kami latih dengan kemampuan khusus. 1 orang dari pasukan ini, sebanding dengan 3 orang prajurit biasa. Mengapa kau tanyakan itu?”
“Mohon maaf, saya hanya sekedar mengusulkan, agar pasukan ini dibagi 5. Menyamar sebagai rakyat biasa, dan disebar di 4 tapal batas. Sedang sisanya, digunakan untuk menjaga rumah Ki Gede sebagai pusat penyerangan.”

Ki Gede dan Ki Santiko saling pandang. Aku sudah deg-degan…jangan-jangan usulku bakal ditertawakan mereka.

“Apa alasanmu mengusulkan hal tersebut?” tanya Ki Santiko.
“Menurut saya, kita harus menjaga segala kemungkinan. Termasuk serangan mendadak yang mungkin dilakukan oleh mereka. Jadi, jika di setiap perbatasan ada yang menjaga walaupun cuma 8 orang, tapi itu bisa menghambat pergerakan mereka, sampai bala bantuan datang.” jelasku.

“Hmm..usul yang bagus. Jadi jika mereka menyerang mendadak, kita akan bisa memperlambat laju mereka, dan dengan tanda khusus dapat mengabarkan pada pusat bahwa ada penyerangan. Sehingga kita bisa cepat mengirim bantuan! Patut dicoba usulmu anak muda..!” kata Ki Gede.
“Tapi sebaiknya kita rundingkan dulu cara ini dengan para sesepuh dan para perwira pasukan, nanti saat paseban!” kata Ki Santiko.

Akhirnya disepakati bahwa nanti saat paseban, akan dimatangkan rencana persiapan menyambut serangan dari luar.

Usai pertemuan terbatas itu, aku masuk kamar untuk beristirahat.
Kegiatan menembus jalur tenaga dalam tadi sungguh melelahkan. Istirahat sebentar saja lah, sebelum dzuhur.

Saat aku terlena ke dalam alam tidur, aku terkejut saat ada bayangan memasuki kamarku.
Kuintip dengan masih pura-pura tidur. Kulihat Zulaikha dan Menik malah asyik ngobrol di samping ranjang. Mungkin bayangan iti dianggap bukan sesusatu yang berbahaya.
Aku yang masih pura-pura tertidur, mencoba mengintip mencari bayangan itu, tapi tak kulihat. Entah di mana bayangab itu…
Saat itulah, sebuah benda berujung tajam menempel di leherku…
Lalu terdengar suara bentakan yang parau…


cerbung.net

Petualang Masa Lalu

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Hai...namaku Bayu Satriaji, biasa dipanggil Aji. Tadinya aku adalah mahaslsww Teknik Sipil di sebuah Universitas Swasta di kota XX. Aku mempunyai kemampuan super...eh...bukan ding.. Kemampuan supranatural, sebut saja begitu. Aku berasal dari kota YY, yang berjarak sekitar 4 jam perjalanan menggunakan motor. Di kota XX, aku tinggal di kost dan punya pacar satu kost bernama Desi.Merupakan seri kedua lanjutan dari cerita Sang Pamomong

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset