Petualang Masa Lalu episode 12

Chapter 12 : Penjagaan

Sambil menunggu Ki Among dan ki Sardulo kembali, aku berjalan-jalan di sekeliling rumah Ki Gede.
Saking gedhenya rumah, aku malah nyasar ke bagian taman yang indah.
Terdengar suara ngos-ngosan nafas perempuan. Jelas sangat menarik perhatian.
Aku berjalan pelan menuju arah suara. Di tengah taman, aku melihat seorang gadis berusia 17 tahun sedang berusaha mengatur nafasnya. Ternyata itu adalah Melati. Lagi ngapain dia ya?
Rasa kepo yang menggelitik membuatku ingin mengintipnya.
Dari balik rumpun bunga, aku berjongkok untuk mrngintip gadis itu.
Yakin, penasaran dengan apa yang sedang diperbuatnya.
Tampak gadis itu sedang duduk bersila mengatur nafasnya yang tidak teratur.
Dadanya terlihat naik turun dengan cepat.
Setelah nafasnya teratur, Melati berdiri…memasang kuda-kuda, dan mulailah dia menggerakkan tangan dan kakinya dalam rangkaian sebuah jurus yang cepat. Bahkan sangat cepat menurutku. Sampai pandanganku kabur ga bisa melihat jelas gerakan apa yang dilakukannya.
Aku mengucek mata berharap bisa menyaksikan gerakannnya itu.
Saat aku memandang ke depan, lah…Melati sudah hilang dari pandangan.
Kemana dia?

Sebuah pertanyaan yang langsung ada jawabannya.

“Apa yang kau lakukan di sini kangmas Aji?”

Tersentak aku menoleh ke belakangku. Hei…sejak kapan Melati berdiri di belakangku?
Kok aku ga mendengar apapun?
Benar-benar, ilmu orang jaman old emang hebat-hebat.

Tapi yang membuatku lebih terpana adalah, dalam pakaian latihan, dengan kemben yang memperlihatkan kedua bahu dan sebagian dadanya, dengan keringat yang membasahi tubuhnya. Rambut yang digelung dan diikat…memperlihatkan leher jenjangnya, Melati tampak semakin cantik dan terlihat eksotis…

“Kenapa malah bengong gitu kangmas?” tanya Melati lagi.
“Eh..maaf den ayu, tadi saya kesasar ke tempat ini dan kebetulan melihat den ayu berlatih silat. Saya sangat kagum dengan gerakan silat den ayu. Begitu cepat…!”
“Sebenarnya, tempat ini adalah tempat yang dilarang untuk dimasuki lelaki kecuali kanjeng romo. Ini adalah kaputren. Mari aku antar keluar dari sini!”
“Maafkan saya den ayu… Saya nyasar tadi waktu melihat-lihat rumah ini!”
“Tidak jadi apa. Orang yang tidak tahu, tidak bersalah. Marilah kangmas, aku antar kau keluar supaya jangan terjadi salah paham nantinya!”
“Baik den ayu… Sekali lagi, maafkan saya…!”

Melati hanya tersenyum manis saja, lalu berbalik dan berjalan. Aku mengikuti di belakangnya. Beruntung tak ada orang saat kami keluar dari kaputren.
Kalau sampai ketahuan orang lain, pasti akan ada salah paham. Tamu laki-laki kok selonongan ke kaputren. Setelah aku melihat pohon tambutan tempatku duduk tadi, aku meminta Melati untuk berhenti.

“Cukup sampai di sini saja den ayu, saya hendak menikmati keteduhan pohon rambutan itu.”
“Baiklah kangmas, nanti akan kubawakan minuman untukmu!” jawabnya.
‘Tak perlu repot den ayu, dan sekali.lagi maafkan saya karena sudah masuk ke kaputren. Saya sungguh-sungguh tidak tahu!’
“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan!” ujarnya sambil kembali ke arah semula.

Aku berjalan menuju pohon rambutan, dan kulihat Ki Sardulo dan Ki Among sudah berada di situ.
Aku menghampiri mereka dan duduk di dekat mereka.

“Bagaimana Ki Among? Sudah berhasil menghubungkan 2 Ki Sardulo?”
“Alhamdulillah sudah Nak…!”
“Bagaimana Ki Sardulo Seto?”
“Benar…di masa yang akan datang, aku akan selalu membantumu. Tadi aku sudah bercakap dengan diriku di masa depan, dan dia menyarankan aku untuk membantumu. Karena dia tidak bisa datang kemari karena perbedaan dimensi. Karena itu, aku berjanji akan membantumu. Panggillah aku saat kau membutuhkanku. Aku akan datang. Sekarang aku akan pergi dahulu. Sampai jumpa lagi!”

Perlahan sosok Ki Sardulo menghilang.

“Terima kasih Ki Among, kau sudah banyak membantuku.”
“Sudah menjadi kewajibanku untuk menolongmu. Aku pamit pergi dulu Nak! Assalamu’alaikum..’
“Wa’alaikum salam… !”

Huft…lega rasanya aku mempunyai bantuan yang bisa kuandalkan untuk menghadapi musuh yang berat.
Tapi yang utama tetap memohon bantuan Sang Pencipta, bukan makhlukNYA.
Siapa yang tahu jika Ki Sardulo.jaman ini nantinya berubah pikiran? Tak ada yang tahu…

Singkat cerita, malam harinya diadakan paseban yang hanya dihadiri belasan orang saja. Menurut cerita Menur, itu adalah orang-orang kepercayaan Ki Gede yang juga memiliki olah kanuragan yang mumpuni. Walaupun tidak sesakti Ki Gede.
Aku tidak mengikuti paseban itu, hanya melihatnya dari pohon rambutan, yang menjadi tempat favoritku sekarang. Aku ditemani Menur, Menik dan Zulaikha.
Suasana paseban yang tampak hidup dengan banyaknya usul dan tanggapan, tampak begitu demokratis. Tapi aku tak begitu paham apa yang mereka bicarakan.
Semua menggunakan bahasa keprajuritan dan bahasa taktis perang yang aku sama sekali ga tahu.
Biarlah nanti Ki Gede atau Ki Santiko yang menerangkan padaku dalam bahasa yang lebih sederhana.

Setelah paseban selesai, masing-masing kembali ke tempatnya. Kecuali Ki Santiko dan beberapa orang yang tadi disebut Ki Santiko. Aku melihat ada 6 orang yang tinggal, selain Ki Gede dan Ki Santiko.

Aku melihat Ki Santiko melambai memanggilku.
Aku segera mendekat, dan keenam orang itu memperhatikanku.
Baru kusadari, selain keenam orang itu ada 8 makhluk ghaib yang hadir di situ. Mungkin itu pendamping orang-orang itu.

Akupun dikenalkan kepada keenam.orang itu. Ki Pancala, dengan pendamping seekor harimau kumbang besar.
Ki Maruta, dengan pendamping nenek-nenek dan seekor ular yang sangat besar.
Ki Nala, dengan pendamping satu genderuwo besar dan seekor buaya putih.
Ki Rodra, dengan pendamping seekor singa yang sangat besar.
Nyai Sawitri, dengan pendamping wanita cantik berbusana keraton.
Dan terakhir dan paling muda adalah Danureksa, seorang berumur sekitar 30-an dengan pendamping sesosok kakek-kakek berjenggot putih dan bersorban.

Ki Santiko menjelaskan bahwa enam orang itu, ditambah Ki Santiko.dan aku sendiri, adalah kelompok yang khusus menahan serbuan makhluk.ghaib yang membantu penyerangan musuh.
Dan kami.akan dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing 2 orang, dan akan mengawasi 4 penjuru mata angin.
Setiap kelompok akan bersiaga di arah yang telah ditentukan.
Ki Santiko dan aku akan bersiaga di arah.Selatan.
Ki Nala dan Pancala di Utara.
Di Barat ada ki Maruta dan Ki Rodra.
Sedang di Timur adalah Nyai Sawitri dan Danureksa.
Kami akan mulai berjaga sejak malam ini. Tentunya akan juga dibekali dengan akomodasi berupa makanan dan minuman.
Setiap saat kami.harus siaga penuh, sambil menunggu perintah dari Ki Gede, berdasarkan laporan Telik Sandi.
Kami dilarang untuk menyerang tetlebih dahulu, dan sedapat mungkin kami harus bersikap.biasa dan melakukan penjagaan dengan sembunyi-sembunyi.
Makhluk pendamping juga jangan menyerang musuh sebelum diserang.

Setelah selesai perundingan, kami langsung diperintahkan untuk menuju tempat penjagaan kami masing-masing.

Aku dan Ki Santiko berjalan dengan santai menuju ke arah selatan. Sepanjang jalan kami bercakap-cakap dan tidak terburu-buru.
Kata ki Santiko, ada 2 tujuan tindakan kami yang santai ini.
Yang pertama, mencegah kepanikan penduduk. Kalau kami terlihat sibuk dan tergesa, penduduk pasti bertanya-tanya. Ada apa dan mau apa? Dan seperti biasanya, akan menimbulkan berbagai opini yang carut marut, dan akhirnya akan membuat penduduk resah.
Tujuan kedua adalah, supaya musuh tidak tahu bahwa kami adalah bagian dari pengawas untuk mengawasi pergerakan mereka. Jika kita bersikap seolah tak ada apa-apa, maka jika ada telik sandi musuh yang melihat, maka mereka akan menganggap.kami belum tahu tentang keberadaan.dan niat mereka.
Masuk akal juga sih… Dan aku yang awam dalam urusan begini, ya cuman nurut aja lah.
Saat ada warung yang masih buka, kami sengaja mampir dan membeli minuman dan makanan yang tersedia di situ. Kami ngobrol dengan sesama pengunjung warung.
Sesudah kejadian itu, aku sempat bertanya, ngapain kita mampir ke warung?
Kata ki Santiko, warung adalah tempat yang tepat untuk menyirap berita. Jadi, bisa saja kita mendapat petunjuk yang berguna di warung.
Wah…memang pandai sekali Ki Santiko ini. Tak salah beliau menjadi tangan kanan Ki Gede.

Selama di warung, hanya pembicaraan biasa yang kami.lakukan.
Sementara Ki Santiko.juga bercakap dengan pengunjung warung yang lain. Menanyakan tentang kondisi sawah atau tegalan.
Di tegalan menanam apa dan sebagainya.

Setelah kami hanya berdua di tengah malam, beliau bertanya apakah aku mendapatkan suatu petunjuk di warung itu?
Kujawab tidak… Bagaimana dengan ki Santiko?

“Aku berhasil mendapatkan petunjuk, siapa yang menjadi telik sandi musuh. Tapi ini baru dugaan sementara ‘
‘Bagaimana Ki Santiko bisa mendapat petunjuk itu? Rasanya semua hanya bercakap hal-hal yang umum dan biasa!”
‘Itu karena Nak Aji tidak mengenal tanah perdikan ini. Jika mengenal tanah perdikan ini, maka kau akan menemukan beberapa kejanggalan dari pembicaraan dua orang di warung itu!”
“Orang yang mana Ki?”
“Tak perlu kuberitahukan. Yang pasti percakapan mereka memang seperti percakapan biasa, namun aku menangkap, dari yang biasa itu, ada sebagian kata-kata yang digunakan sebagai sandi. Dan buat orang Tanah Perdikan sepertiku ini, itu mudah sekali dilihat!”
“Apakah pengunjung lain juga tahu Ki?”
“Tentu tidak, karena mereka tidak mempunyai kecurigaan apapun. Tapi aku yang sudah berniat menyelidiki, tentunya penuh dengan kecurigaan. Setiap orang bisa dicurigai. Setiap kata bisa menjadi petunjuk!”
“Ah..pusing saya Ki!”
‘Hahaha… Sudahlah.. Ayo kita lanjutkan perjalanan kita!”

Kami terus berjalan hingga kami sampai di tanah tegalan. Ki Santiko menghampiri sebuah gubug di tegalan itu
Aku melihat juga gubug-gubug lain yang serupa.
Ada beberapa gubug yang membuat api unggun. Rupanya mereka sedang menjaga kebun mereka ini. Mungkin karena sudah hampir panen, jadi harus dijaga supaya tidak dirusak hewan atau.juga dicuri seseorang.
Ki Santiko mengajakku masuk ke gubug itu, sementara ki Santiko menata kayu kering dan dibuat api unggun. Mudah sekali Ki Santiko membuat api dengan batu api.
Dan tak lama, api unggun sudah menyala di depan gubug itu.

“Gubug siapa ini Ki?”
“Gubugku lah… Sekalian menjaga kebun yanh sebentar lagi panen. Itu pohon ketela hampir panen. Kalau tidak dijaga, pasti akan dirusak oleh celeng!”
‘Oh ..begitu Ki!”

Kami duduk di depan api unggun dan ngobrol. Lalu Ki Santiko bangkit dan mencabut sebatang pohon singkong. Wah…singkongnya banyak sekali.
Oleh Ki Santiko, singkong itu bersana batangnya yang sudah dipatahkan, dimasukkan ke dalam api unggun.
Bakal makan singkong bakar.nih…haha.
Tak berapa lama, tampak cahaya obor datang mendekati gubug di mana kami berdiam. Ternyata, anak pertama ki Santiko datang mengantarkan kendi dan teko tanah liat yang mungkin berisi minuman hangat, serta dua buah cangkir tanah liat.
Setelah meletakkan barang-barang itu, putra Ki Santiko pulang, setelah mencabut sebatang pohon singkong.
Mungkin bakal dimasak besok pagi…

Singkong bakar sudah matang, dan minuman dalam teko tanah liat itu ternyata jahe panas…
Wow… Nikmat.. Di tengah cuaca dingin ini, pas banget…

Selesai menikmati hidangan sederhana ini, kami mulai merokok sambil mengobrol.
Saat asik merokok, tiba-tiba dua telik sandi ghaib milik Ki Santiko datang menghadap beliau.
Setelah menghaturkan hormat, mereka mulai berkomunikasi batin…
Sebuah kehati-hatian yang patut diacungi jempol.
Entah apa yang mereka bicarakan…


cerbung.net

Petualang Masa Lalu

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Hai...namaku Bayu Satriaji, biasa dipanggil Aji. Tadinya aku adalah mahaslsww Teknik Sipil di sebuah Universitas Swasta di kota XX. Aku mempunyai kemampuan super...eh...bukan ding.. Kemampuan supranatural, sebut saja begitu. Aku berasal dari kota YY, yang berjarak sekitar 4 jam perjalanan menggunakan motor. Di kota XX, aku tinggal di kost dan punya pacar satu kost bernama Desi.Merupakan seri kedua lanjutan dari cerita Sang Pamomong

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset