Petualang Masa Lalu episode 13

Chapter 13 : Pertempuran Awal

Ki Santiko masih bicara dengan dua telik sandi ghaib yang menghadapnya.
Aku ga tahu apa yang mereka bicarakan, jadi aku asik saja menghabiskan singkong bakar yang masih ada.
Daripada gabut…hehe.
Sampai tak sadar bahwa percakapan mereka sudah selesai dan dua telik sandi itu sudah hilang entah kemana.
Aku tersadar saat Ki Santiko menepuk pundakku.

“Eh..ki Santiko. Sudah selesai Ki?”
“Sudah… Kita harus segera menghubungi Ki Gede. Ada hal penting yang harus disampaikan!” kata Ki Santiko.
“Hal apakah itu Ki?”
“Besok, dini hari, mereka akan menyerbu tanah perdikan!” sahut beliau berbisik.
“Silahkan kalau Ki Santiko hendak menghubungi Ki Gede. Biar saya berjaga di sini.”
“Baiklah… Berhati-hatilah. Aku pergi dulu!”

Ki Santiko segera berlalu dengan cepat. Melesat dengan kecepatan tinggi dengan ilmu lari cepat.
Aku masuk ke dalam gubug dan kembali menikmati jahe hangat yang masih ada.
Zulaikha dan Menik duduk.di sampingku.

“Kalian ga istirahat?” tanyaku.
“Kau yang perlu beristirahat, kalau kami ga masalah. Kau tidurlah.” kata Zulaikha.
“Ah…kan aku lagi berjaga.. Nanti kalo Ki Santiko balik ga enaklah kalo aku tidur…!”
“Iya juga ya…!”

Akhirnya kami ngobrol untuk menghabiskan waktu. Sampai lewat tengah malam, barulah Ki Santiko kembali dari rumah Ki Gede.

“Bagaimana Ki? Ada pesan dari Ki Gede?” tanyaku.
“Ki Gede sedang memerintahkan pada para kepala pasukan untuk segera bersiap, dan .rnenyebar ke 4 penjuru. Sementara itu, kita harus tetap di pos masing-masing!” jawab Ki Santiko.
‘Kalau ada serangan dari pasukan musuh, bagaimana dengan kita Ki?”
“Tenang saja, pasukan yang akan menyebar nanti ada di depan kita.
Kita akan berada di belakang ekor pasukan. Kit baru bergerak ketika ada makhluk ghaib yang ikut menyerang.”
“Baik Ki… Saya siap…!”
“Sekarang istirahatlah sebentar…! Kita butuh banyak tenaga dini hari nanti!”
“Baik Ki!”

Aku mencoba memejamkan mata, tetapi tetap tak bisa tidur. Otakku melayang kemana mana, memikirkan tentang pertempuran nanti.
Cepat sekali mereka mengadakan serbuan, sementara dari pihak kami baru semalam merundingkan strategi pertempuran.
Tapi aku yakin, prajurit-prajurit di tanah perdikan ini adalah para prajurit yang terlatih.
Aku hampir yakin bahwa pihak tanah perdikan bakal meraih kemenangan.
Apalagi musuh tidak akan mengira bahwa kami telah melakukan persiapan.
Tapi tak urung, jantungku berdetak lebih kencang.

Karena tidak bisa tidur, aku keluar dari gubug itu dan duduk di tangganya.
Di kegelapan, aku melihat pergerakan beberapa orang… Mereka bergerak dengan sangat hati-hati menuju ke selatan.
Setelah mereka berlalu, sekitar 10 menit kemudian, datang lagi beberapa orang dengan langkah yang sangat hati-hati.
Berkat pandanganku yang meningkat seiring meningkatnya tenaga dalamku, aku bisa melihat pergerakan mereka. Tapi hanya sampai batas hutan saja. Selebihnya, mereka hilang dal gelapnya malam.
Begitu seterusnya hingga selama 1 jam.
Kuperkirakan ada sekitar 85 prajurit yang sudah menempatkan diri.
Dengan perhitungan bahwa jumlah musuh adalah 200 orang yang dibagi menjadi 4 kelompok, jumlah prajurit yang 85 orang itu kurasa sangat cukup untuk menghadapi musuh yang datang dari arah Selatan.
Sementara aku dan Ki Santiko khusus di perang ghaib. Semoga kawan-kawan yang di arah lain diberi kemenangan.

“Kok nggak istirahat Nak Aji…?” tegur Ki Santiko mengagetkanku.
“Nggak bisa tidur Ki.. Tegang..!”
“Tenang sajalah… Kulihat sudah ada sekitar 100 wadya bala prajurit yang beraembunyi di sekitar sini!”
“Hah…100 Ki? Saya pikir hanya sekitar 80-an. ”
“Itu prajurit biasa… Selebihnya adalah prajurit khusus yang memiliki kelebihan dibanding yang lain.”
“Oh..makanya saya nggak bisa melacak mereka!”
“Mereka sudah tiba lebih dulu. Penyamaran dan tindakan mereka sangat rahasia. Jadi bagi yang belum melihat mereka, sulit untuk mengenali mereka.”

Wah…100 orang. Bukan main… Jika musuh benar hanya 200-an orqng dan dibagi 4 penjuru, tentu akan terkejut menghadapi pasukan tanah perdikan yang berjumlah lebih banyak.

“Menang kalah masih belum pasti. Mereka dengan hanya kekuatan 200 orang prajurit, berani menyerbu tanah perdikan ini, pasti mereka punya andalan yang sangat hebat. Jadi, lebih baik kita minta perlindungan Allah, dan memohon agar kita diberi kemenangan!”
“Amin….!”

Di kejauhan terdengar suara kentongan yang menandakan sudah pukul 2 dini hari….kira-kira.
Berarti, semakin dekat dengan waktu penyerbuan yang akan dilakukan oleh musuh.
Berdasar perhitunganku, mereka akan melakukan penyerbuan dalam waktu tidak lama lagi.
Karena mereka mengandalkan makhluk ghaib. Jadi paling tidak makhluk ghaib itu akan menyerang sebelum matahari terbit.

Dan benar saja… Bunyi kentongan baru saja berakhir, terlihat lesatan banyak sekali makhluk ghaib yang menyerbu. Mungkin ratusan..atau mendekati seribu makhluk.
Busyet…ini ga main-main…
Ki Santiko segera membaca sesuatu dan dalam sekejap, beliau telah dikelilingi puluhan makhluk ghaib berbagai bentuk. Itu adalah makhluk ghaib yang sebagian pernah kulihat di rumah Ki Santiko.
Aku segera mengeluarkan tombak kyai Cemeng. Ki Santiko mengeluarkan sebuah cambuk yang memancarkan sinar keunguan.
Zulaikha dengan pedang tipisnya juga sudah siap.
Menik? Hei…kemana Menik?
Ah…itu dia… Malah iseng korek2 hidung dia. Cuek aja melihat musuh segitu banyaknya.
Segera makhluk ghaib musuh dengan aneka bentuk dan aura gelap yang kemtal menyerbu ke arah kami.
Zulaikha dan makhluk ghaib milik Ki Santiko segera menyambut serbuan makhluk-makhluk itu.
Aku dan Ki Santiko tak mau kalah, segera menyambut serbuan makhluk yang amat banyak.
Terjadilah pertempuran dengan jumlah yang tak seimbang.
Sekali babat, pedang tipis Zulaikha berhasil membunuh beberapa makhluk musuh.
Demikian juga dengan makhluk yang dibawa Ki Santiko. Sakti-sakti juga mereka.
Aku mengibaskan tombak Kyai Cemeng dan beberapa makhluk tertebas menjadi dua.
Ki Santiko dengan cambuknya mengamuk menghajar makhluk-makhluk itu.
Sast aku sibuk menghadapi makhluk-makhluk itu, tiba-tiba kulihat bayangan perak berkelebat susul menyusul.
Aku melirik sekejap ke arah datangnya cahaya perak itu. Menik…dengan pisau terbangnya mulai ikut menyerang. Baru tahu Menik ternyata ahli pisau terbang. Pisau yang dilontarkan setelah mengenai sasaran, balik kembali ke sang empunya.
Heibat… Aku sampai meleletkan lidah melihatnya.

Tapi, sekeras apapun kami bertempur dan membabat musuh, rasanya musuh tak ada habisnya.
Wah…ga seimbang nih jumlahnya.
Begitu pikiran itu muncul di pikiranku, aku segera memanggil Ki Sardulo Seto.
“Groarr….!” sebuah auman dahsyat menandai kehadiran Ki Sardulo.

“Ada apa memanggilku anak muda?”tanyanya.
“Ki Sardulo, tolong bantu kami. Musuh kami terlalu banyak. Panggillah pasukanmu!”
“Baik… ,!”

Kembali sebuah auman terdengar sangat dahsyat…dan….
Disambut dengan auman-auman yang lain..
Maka berkumpulah anak buah Ki Sardulo.
Segera mereka membantu kami, setelah aku mengatakan yang mana teman yang mana lawan.
Pasukan ghaib musuh mulai kocar-kacir saat Ki Sardulo dan pasukannya menerjang. Tak perlu waktu lama, pasukan ghaib musuh sudah hampir habis.
Saat itulah, muncul seorang manusia berbaju serba hitam disertai sesosok makhluk besar, hitam dan tinggi, serta bertanduk.di kepalanya dan menerjang ke arah kami.

“Nak Aji, urus makhluk itu… Si Dukun bagianku!” teriak Ki Santiko.
“Baik Ki…!” sahutku sambil menghadang makhluk besar itu.
Makhluk setinggi lebih dari 2 meter, dan sangat besar badannya. Dengan otot yang bertonjolan di badannya… Tetlihat sangat kuat dan ganas .
Aku sampai harus mendongak untuk melihatnya.
Tiba-tiba, tangan makhluk itu, yang sebesar kaki gajah, memukulku dari atas.
Waduh…kalau kena bisa remuk nih.
Aku mengacungkan tombakku ke atas, menyambut pukulan itu.
Makhluk itu ga berani meneruskan pukulannya, dan menarik kembali tangannya.
Semdntara itu kakinya menendang ke arahku.
Aku yang ga menyangka mendapat serangan itu, dengan terburu-buru melompat untuk menghindar.

Fyuh..untung ga kena. Kalau kena, bisa mental sampai.jauh tuh…
Aku kembali bersiap melawan makhluk itu. Karena kalah tinggi, aku melompat ke depan dan menyabetkan tombakku dengan penyaluran tenaga dalam, hingga sebuah energi berbentuk setengah lingkaran menyapu ke arah makhluk itu.
Jangan dilihat tubuhnya yang besar itu, tapi ternyata gerakan makhluk itu sangatlah gesit.
Seranganku luput, tidak menyentuhnya sama sekali.
Kami kembali saling berhadapan…


cerbung.net

Petualang Masa Lalu

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Hai...namaku Bayu Satriaji, biasa dipanggil Aji. Tadinya aku adalah mahaslsww Teknik Sipil di sebuah Universitas Swasta di kota XX. Aku mempunyai kemampuan super...eh...bukan ding.. Kemampuan supranatural, sebut saja begitu. Aku berasal dari kota YY, yang berjarak sekitar 4 jam perjalanan menggunakan motor. Di kota XX, aku tinggal di kost dan punya pacar satu kost bernama Desi.Merupakan seri kedua lanjutan dari cerita Sang Pamomong

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset