Petualang Masa Lalu episode 14

Chapter 14 : Puncak Pertempuran

Kami kembali saling berhadapan…

Saling menatap tanpa berkedip.. Mencari kesempatan untuk menyerang. Pada saat yang bersamaan kami menyerang dengan cepat. Tombak kuarahkan ke lehernya, namun makhluk itu mampu berkelit dan balas menyerang dengan tangannya yang terbuka, bagaikan sebuah kipas besar.
Aku menunduk, menghindari sambaran tangannya yang menimbulkan angin keras.
Lolos….
Jantungku berdegup kencang… Andai aku terkena pukulan itu tepat di kepalaku…wuah…ga tahu apa jadinya.
Kutingkatkan tenaga dalam dan energi batinku hingga ke puncaknya.
Dengan perlahan, kusimpan tombak kyai cemeng dan kupanggil.kyai naga emas. Pilihan terakhirku.. Semoga bisa mengimbangi kedahsyatan makhluk itu.
Kyai Naga Emas sudah berada di genggaman tanganku. Kusalurkan energiku ke keris itu.
Cahaya berwarna emas terpancar terang dari keris itu. Membuat sebuah pedang sinar sepanjang stengah meter, membuat keris itu terlihat sangat panjang.
Makhluk itu menatap.nanar pada keris Kyai Naga Emas…
Lalu dia mengangkat tangannya ke atas, dan muncullah sebilah kapak bermata dua di tangannya.
Waduh… Main senjata juga dia.
Wah…makin kuat saja tentunya.. Tapi aku ga mau kalah dengannya, segera kuserang dia dengan keris Naga Emas.. Kusabetkan keris ke arahnya..tapi dia menangkis dengan kampaknya.

TRANGG….
Benturan dua senjata sakti, menyebabkan kobaran api yang besar dan angin ribut.
Ah…iya… Aku perlu melipat gandakan kekuatan keris itu agar mampu mengalahkan makhluk tinggi besar itu.
Segera, kubaca ayat-ayat suci, memohon kekuatan dari Sang Pencipta, dan keselamatan.
Sambil berteriak keras, aku menyabetkan keris itu ke arah makhluk itu. Selarik sinar kuning emas melabrak ke arah musuhku. Dengan sebat, makhluk itu menangkis dengan sabetan kampaknya. Cahaya merah menyala menyambut serangan cahaya kuning emasku.

GLAARR…..
Benturan dahsyat kembali terjadi.
Kali ini bumi bergetar bagai dilanda gempa, akibat benturan itu.
Aku terhentak mundur sampai 3 langkah oleh tenaga benturan itu.
Setelah berhasil berdiri tegak, aku memandang ke depan.
Ternyata makhluk itu juga tersurut mundur… Dan kampaknya patah menjadi 2, meninggalkan gagang kampak di tangannya. Melihat senjatanya patah, makhluk itu menjadi marah.

GROAARRRR…..
Diiringi raungan yang keras, makhluk itu membesar dengan cepat. Sekarang tingginya menjadi 4 meter kira-kira.
Busyet…bisa penyet nih kalo keinjek.
Zulaikha melesat ke arahku, berdiri di sampingku.

“Biar kuhadapi makhluk ini, kau cukup melihatnya…!” katanya.
“Dia besar banget lho…!” kataku.
“Gajah saja bisa mati digigit ular, kau tak usah khawatir!”

Apa boleh buat, aku terpaksa mundur dan melihat saja.
Zulaikha menerjang makhluk itu dengan kecepatan tinggi.
Makhluk itu memukulkan tangannya dengan telapak terbuka untuk menyambut serangan Zulaikha.
Dengan lincah Zulaikha berkelit menghindari pukulan makhluk itu.
Karena pukulan itu dihindari Zulaikha, maka damparan tenaga pukulan itu terus melesat ke depan hingga menghantam tanah di depanku. Aku terlonjak kaget karena tiba-tiba tanah di depanku berhamburan…

“Jianc**x…..!” seruku kaget.
“Hihihi…..!” Menik ketawa ngikik, bikin aku tambah kaget aja.
Sejak kapan dia ada di sampingku?

Kulihat Menik menutup mulutnya menahan ketawanya melihat tingkahku yang terkaget-kaget.
Semntara, Zulaikha masih bertarung sengit melawan makhluk jelek itu.
Kontras sekali pemandangan yang kulihat. Sesosok raksasa jelek bertempur dengan sesosok gadis cantik berukuran normal, seolah seorang dewi dalam mitologi Yunani sedang bertarung dengan raksasa anak buah Hades.
Zulaikha tampak gesit menghindari pukulan-pukulan makhluk itu, sambil melayang-layang di sekitar makhluk raksasa itu.
Sesekali dia mengayunkan pedang tipisnya, disusul dengan pukulan tangan kiri.

Aku mengalihkan pandangan pada arena yang lain.
Ki Santiko sedang bertempur dengan seru melawan seorang lelaki setengah baya, berumuran sepantar dengan Ki Santiko.
Pertempuran yang tak kalah seru.
Jual beli pukulan dan tendangan, serta pengerahan ilmu-ilmu masing masing membuat suasana hingar bingar.
Kelihatannya mereka masih sama kuat. Baju mereka sudah lengket oleh keringat, di pagi yang sangat dingin ini.

BLAARR…
Dua pukulan berlandaskan tenaga dalam berbenturan, dan tubuh mereka segera berpisah.
Mereka sama kuat, berdiri berhadapan.
Musuh Ki Santiko mengeluarkan sebilah keris berwarna hitam legam.
Aura yang gelap makin mengental.
Ki Santiko mengeluarkan juga sebilah keris yang lebih kecil dari musuhnya. Aura terang memancar dari keris itu… Menetralisir aura gelap yang menekan.
Kembali mereka saling serang… Aku menahan nafas melihat pertempuran mereka.
Kelebatan keris terlihat menyambat-nyambar, siapa yang terlena, akan menerima kekalahan.
Sesekwli suara denting keris yang beradu terdengar, disertai dengan bunga api yang timbul dari benturan itu.
Semoga Ki Santiko bisa mengalahkan musuhnya….doaku.

Saat asik melihat pertempuran itu, di arah yang lebih ke selatan lagi, terdengar teriakan-teriakan pertempuran.
Rupanya pasukan musuh sudah menyetbu dan dihadang oleh pasukan tanah perdikan.
Suara pedang beradu terdengar sangat ramai.
Suara jerit kesakitan dan kematian susul menyusul. Aku sebenarnya penasaran dan ingin melihat pertempuran itu, namun aku mempunyai tanggung jawab di sini.
Ga bisa nonton deh….

Aku memperhatikan gelanggang pertempuran antara Ki Ssrdulo dan pasukannya, dibantu makhluk ghaib Ki Santiko.
Musuh mereka sudah melarikan diri karena tinggal.sedikit saja yang masih hidup.
Ki Ssrdulo Seto mendekatiku dan berpamitan karena tugasnya di sini sudah selesai.
Bener-bener deh…
Apa boleh buat, aku hanya bisa berterima kasih dan mengangguk ssja.
Perlahan Ki Sardulo seto bersama pasukannya menghilang dari pandsngan.

Aku menonton lagi pertempuran Zulaikha dan makhluk raksasa itu. Dengan bentuk yang besar, makhluk itu tak lagi bisa bergerak cepat. Berkali-kali makhluk itu terkena tusukan dan pukulan dari Zulaikha.
Luka tusukan membuatnya semakin marah dan menyerang membabi buta.
Zulaikha dengan gesit menghindari serangannya dan mengirimkan tusukan serta pukulan lagi.
Hingga suatu saat Zulaikha berhasil menusuk salah satu mata makhluk itu.
Makhluk itu meraung keras sambil menutup matanya.
Tubuhnya mundur-mundur menahan rasa sakit di mata dan sekujur tubuhnya.
Zulaikha melesat menuju arahku dan mengambil kyai Naga Emas dari tanganku.
Disabetkan keris.itu ke arah malhluk itu, dan selarik sinar keemasan membentuk seperti sabit menerjang perut makhluk itu.
Makhluk itu menjerit kesakitan saat perutnya terbelah menjadi 2.
Usisnya terburai, dan darah hitam dengan bau busuk yang sangat menyengat memenuhi udara di tempat itu.
Akhirnya makhluk itu tumbang ke tanah dan berubah menjadi asap yang tertiup angin dan lenyap.

Sementara itu di tempat lain, Ki Santiko dan musuhnya masih berkutat dalam pertempuran. Nafas mereka sudah ngos-ngosan.
Gerakan mereka tak lagi cepat….
Gerakan mereka menjadi lambat, bahkan sangat lambat.
Tapi energi yang terpancar dari pertempuran mereka itu, sungguh bukan olah-olah dahsyatnya.
Rupanya gerakan lambat itu mengandung energi tenaga dalam tingkat tinggi.
Inilah pertempuran penentuan antar mereka. Perbedaan tenaga dalam walaupun hanya sedikit akan memjadi penentu kemenangan.
Dengan perlahan, kedua tangan mereka bertemu, dan lengket.
Pertempuran tenaga dalam yang sudah tak bisa dihentikan lagi, bila tenaga dalam mereka hanya terpaut sedikit.
Barangsiapa yang menarik tenaganya lebih dulu, maka dia akan diserang oleh tenaganya sendiri ditambah tenaga dalam musuhnya.
Jadi, pada fase ini, mereka hanya bisa saling menyerang dan bertahan.
Tak mungkin dihentikan, kecuali oleh seorang dengan tenaga dalam yang jauh lebih tinggi dari gabungan tenaga dalam mereka yang bertempur itu.
Dari posisi berdiri, perlahan tubuh Ki Santiko dan musuhnya makin merendah, dan dengan serentak mereka duduk bersila. Telapak tangan yang beradu tampak mengepulkan asap.
Sementara di ubun-ubun mereka, sudah mulai juga keluar asap tipis.
Kondisi ini adalah kondisi puncak pertarungan tenaga dalam.
Tinggal menunggu siapa.yang bisa bertahan lebih lama, maka dialah yang akan memenangkan pertempuran ini. Boleh dibilang, ini adalah saat paling kritis.
Jika ada sebuah kerikil.saja yang mengenai salah satu dari mereka dan konsentrasinya buyar…habis sudah.

Aku yang menonton ikut merasa sangat tegang. Keringat dingin mengalir di sekujur tubuhku. Tentunya aku berharap Ki Santiko yang menang.
Tapi, walaupun menang, tenaganya akan terkuras habis.
Maka, aku harus berjaga di sini..untuk menjaga segala kemungkinan yang terjadi.


cerbung.net

Petualang Masa Lalu

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Hai...namaku Bayu Satriaji, biasa dipanggil Aji. Tadinya aku adalah mahaslsww Teknik Sipil di sebuah Universitas Swasta di kota XX. Aku mempunyai kemampuan super...eh...bukan ding.. Kemampuan supranatural, sebut saja begitu. Aku berasal dari kota YY, yang berjarak sekitar 4 jam perjalanan menggunakan motor. Di kota XX, aku tinggal di kost dan punya pacar satu kost bernama Desi.Merupakan seri kedua lanjutan dari cerita Sang Pamomong

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset