Petualang Masa Lalu episode 16

Chapter 16 : Melati Hilang

Di pendopo, aku menemui Ki Gede dan Ki Santiko yang sudah terlebih dulu ada di situ.”Mari, silahkan duduk Nak Aji…!” sambut Ki Gede padaku.
“Terima kasih Ki Gede…” sahutku sambil duduk di samping Ki Santiko.
“Bagaimana kondisi panjenengan Ki?” tanyaku pada Ki Santiko.
“Alhamdulillah…sudah jauh lebih baik Nak. Aku berterima kasih atas bantuanmu membantu memulihkan tenagaku!”
“Ah…saya nggak berbuat apa-apa kok Ki!” elakku.
“Hahaha…tetaplah rendah hati Nak Aji..!” kata Ki Gede.

Kami hanya ngobrol biasa saja, sampai air minum dan makanan pendampingnya keluar. Dibawa oleh si cantik Melati..hehe.
Setelah meletakkan minuman dan makanan di meja, Melati segera mengundurkan diri. Aku sempat melihatnya melirikku dengan pandangan yang marah..

‘Monggo, silahkan diminum dan ini pacitannya (makanan kecil) dimakan…!” Ki Gede mempersilahkan kami untuk minum.
Sambil menikmati minuman hangat dan makanan kecil yang disediakan, Ki Gede menceritakan tentang pertempuran di semua wilayah perbatasan.
Boleh dibilang Tanah Perdikan menang dengan mudah.
Ki Gede juga menceritakan, bahwa beliau telah menginterogasi orang yang bertempur dengan Ki Santiko, dan mendapatkan bukti bahwa, penyerangan itu adalah sebuah serangan uji coba untuk mengetahui seberapa kuat tanah perdikan Manyaran.
Sebuah ujicoba yang gila menurutku, karena mengorbankan nyawa pasukan yang ga tahu apa-apa.
Ambisi yang menghalalkan segala cara.

“Aku takut, mungkin mereka akan mengirimkan pasukan yang jauh lebih besar dari yang dikirim sekarang!” kata Ki Gede
“Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang Kakang?” tanya Ki Santiko.
“Tetap waspada, sebar telik sandi, dan perketat penjagaan di perbatasan! Sementara itu yang bisa kita lakukan!” sahut Ki Gede.
“Apakah kita tidak merekrut prajurit baru untuk menambah kekuatan?”
“Kau tahu sendiri Adi.. Tidak mungkin menambah jumlah prajurit, karena jumlah anak muda di sini tidak terlalu banyak. Tapi, jika keadaan memaksa, seluruh penduduk tanah perdikan ini bisa digerakkan untuk melawan musuh!”
“Benar juga Kakang, pengalaman sudah membuktikan bahwa seluruh penduduk pasti mau berjuang demi tanah perdikan ini!”

Aku hanya menxengarkan apa yanh mereka percakapkan.
Aku tidak menyela ataupun mengajukan usul apapun.
Aku sama sekali buta tentang olah kaprajuritan, apalagi tentang strategi perang dan gelar perang.

“Apakah kau mempunyai usul Nak Aji?’
” Maaf Ki Gede, saya tidak paham tentang strategi perang.” jawabku.
“Oh..begitu. Apakah di jamanmu kau bukan seorang prajurit?” tanya Ki Gede.
“Bukan Ki Gede, saya hanya seorang pelajar saja!”
“Begitu rupanya. Tapi kau juga punya kemampuan tenaga dalam dan mampu bertempur juga. Apakah kau juga berguru pada seorang ahli silat?”
‘Ah..ilmu saya sangat jauh dibandingkan ilmu pendekar di jaman ini. Saya bukan apa-apa di.sini! Tapi saya akan membantu Tanah Perdikan ini semampu saya Ki Gede!”
“Terima kasih nak… Sebenarnya, kau tidak perlu ikut bertempur untuk membela tanah perdikan ini!”
“Saya tahu Ki Gede, saya hanyalah seorang tamu yang tidak memiliki kemampuan apapun. Tapi, melihat tuan rumah sedang kerepotan, tak pantas rasanya kalau saya hanya berpeluk tangan.”
“Bagus nak… Itulah sifat seorang ksatria. Langkah pertama, aku hendak merepotkanmu untuk membantu Adi Santiko untuk melacak keberadaan pasukan musuh. Maksudku, kau dan Adi Santiko melacak dengan kemampuan ghaib kalian.!”
“Baik Ki Gede, saya siap membantu Ki Santiko!”

Kami masih bercakap hingga sore menjelang.
Setelah Isya, aku diajak Ki Santiko untuk menginap di rumahnya.
Kami harus berembug tentang langkah-langkah yang harus kami ambil untuk melacak keberadaan musuh.
Semoga saja kekhawatiran Ki Gede tidak terjadi

Di rumah Ki Santiko, kami berembug hingga larut malam.
Setelah lewat tengah malam, ki Santiko memanggil jin mata-mata.
Dalam sekejap, hadirlah 4 jin mata-mata dan semuanya berdiri sambil menunduk hormat pada Ki Santiko.

“Kalian menyebarlah ke segala arah, untuk melihat dan mengamati di seluruh daerah tanah perdikan dan sekitarnya. Laporkan jika ada gerakan mencurigakan yang bisa mengancam ketentraman tanah perdikan ini!”

Mereka berempat mengangguk dan segera hilang dari pandangan.
Aku hanya bengong ngeliatnya… Enak kali ya, kalo punya jin mata-mata gitu. Bisa nyelidikin orang lain.
Atau suruh merekam cewe yang lagi mandi…
Abaikan…

Setelah ke-4 jin mata-mata itu pergi, ki Santiko berpaling kepadaku.

“Nak Aji, silahkan beristirahat. Aku akan memeriksa situasi di luar!”
“Boleh saya ikut Ki?” tanyaku sok care, padahal ngantuk banget…
“Bukan tidak boleh, tapi aku akan menggunakan ilmu rogoh sukmo.
Jadi nak Aji tidak akan bisa ikut…!’

Aku hanya bisa mengangguk saja.
Ki Santiko lalu duduk bersila dan memejamkan mata. Tak lama, dari kepalanya muncul kabut tipis yang terus membesar dan membentuk sosok mirip Ki Santiko.
Aku melongo melihatnya…

” Nak Aji tidurlah. Ragaku akan dijaga oleh beberapa jin yang ada di sini!”
“Baik Ki…!” sahutku.

Lalu sosok itu melesat menembus genting dan lenyap dari pandangan.
Jadi pengin belajar ilmu rogoh sukmo, biar bisa terbang, nembus tembok kamar mandi, dan…. Kalian tahulah….

Membayangkan aku bisa ilmu rogoh sukmo, aku sampai senyum-senyum sendiri…haha.

Ketika sadar dari lamunan, aku melihat beberapa jin sedang menjaga raga Ki Santiko.
Sementara Zulaikha melotot menatapku. Tampaknya dia tahu yang kupikirkan tadi….
Untung cuman dipelototin, ga digaplok..fyuh…..aman…aman.

Akupun merebahkan diri di balai-balai, dan tak perlu waktu lama aku sudah terlelap di alam mimpi.

————–zzzzzzzzzzzzzz———————

Waktu subuh, aku dibangunkan oleh Zulaikha. Dengan digaplok…..
Duh…ga ada mesra-mesrany jin satu ini.
Menik cuma cekikikan melihat aku dianiaya kakaknya.
Kakak adik ga ada bedanya ini sih…
Aku segera bangkit menuju pakiwan untuk mengambil wudhu dan sholat subuh di balai-balai tadi.
Kulanjutkan dengan dzikir dan meditasi sejenak.
Meditasiku terganggu oleh bau harum wedang sereh yang menggoda. Ada juga bau pisang goreng yang membuatku makin tidak konsentrasi.
Kubuka mataku, dan tampak nyai Santiko sedang meletakkan minuman dan makanan kecil di balai-balai.
Melihatku membuka mata, Nyai Santiko tersenyum dan mempersilahkan aku untuk minum.

“Silahkan nak Aji… Diminum wedangnya, dan ini sedikit gorengan untuk teman minum!”
“Terima kasih Nyai. Tapi dimana Ki Santiko?”
“Selepas subuh tadi sudah pergi ke ladang bersama anak-anak!” jawabnya dengan halus.
“Oh..sudah saatnya panen ya Nyai? Nanti saya akan menyusul ke sana!”
“Silahkan, tapi ini diminum dulu, dan dimakan, buat menghangatkan tubuh!”
“Baik Nyai, dan terima kasih…!”

Nyai Santiko kembali ke dapur. Dan dengan nikmatnya, aku minum wedang sereh itu dan makan gorengan yang kurasakan sangat.nikmat.

Setelah selesai, aku segera bersiap untuk menyusul Ki Santiko ke ladang.
Ketika aku akan berangkat, datanglah seorang prajurit dengan tergesa-gesa.
Setelah memberi salam, dia membungkuk hormat padaku. Aku balas dengan membungkukkan badan juga.

“Maaf Raden, apakah Ki Santiko berada di rumah?”
“Maaf Paman, ki Santiko sedang di ladang. Ini aku baru mau menyusulnya!”
“Mohon maaf Raden, sebaiknya saya yang menyusul ke ladang. Silahkan Raden langsung ke rumah Ki Gede saja.”
“Ada apa Paman? Tampaknya penting sekali?”
“Raden Ayu Melati menghilang dari rumah Ki Gede Raden…! Hamba peemisi untuk menyusul Ki Santiko!” kata prajurit itu.
“Baik paman… Silahkan. Aku akan langsung ke tempat Ki Gede!” sahutku.
Setelah menghormat dan mengucap salam, prajurit itu segera pergi ke arah Selatan.
Aku berpamitan dengan Nyai Santiko, dan bergegas menuju rumah Ki Gede.
Melati hilang….. Apakah dia pergi dari rumah atau diculik?
Ah…sudahlah.. Nanti juga akan jelas kalau sudah sampai di rumah Ki Gede.

Dengan langkah cepat, aku menuju rumah Ki Gede. Ingin segera tahu, sebenarnya apa yang terjadi.

Begiru sampai di rumah Ki Gede, aku melihat kerumunan prajurit sedang diberi pengarahan oleh Ki Gede.
Sementara, di belakang, kulihat Nyai Gede dan Menur sedang menangis.
Aku menghampiri mereka.
Begitu melihatku datang, Menur langsung menubruk dan memelukku.
Aku jadi bingung harus bagaimana…
Tapi, rasanya aku sedang dipeluk oleh Anin adikku. Reflek, tanganku mengelus rambutnya untuk menenangkannya.

“Ada apa ini nimas Menur?”
“Mbakyu kangmas… Mbakyu….!” kata Menur terpatah-patah.
“Tenanglah… Apa yang terjadi dengan mbakyumau?
” Dia…dia… Dia hilang..kangmas. Diculik orang!”
“Hah….diculik…?” dengan kaget aku bertanya.
“Benar kangmas, dan penculiknya meninggalkan pesan!”
“Sudahlah…jangan terus menangis. Nanti biar aki yang mencari mbakyumu!” kataku menenangkannya.
Menur melepaskan pelukannya, menjauh dan menatapku…

“Bener kangmas mau mencarinya?”
“Iya bener….!”
“Kalau begitu aku akan ikut kangmas…!”
“Nanti kita tanya Ki Gede…!” sahutku sambil meninggalkan Menur dan menghadap Ki Gede!


cerbung.net

Petualang Masa Lalu

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Hai...namaku Bayu Satriaji, biasa dipanggil Aji. Tadinya aku adalah mahaslsww Teknik Sipil di sebuah Universitas Swasta di kota XX. Aku mempunyai kemampuan super...eh...bukan ding.. Kemampuan supranatural, sebut saja begitu. Aku berasal dari kota YY, yang berjarak sekitar 4 jam perjalanan menggunakan motor. Di kota XX, aku tinggal di kost dan punya pacar satu kost bernama Desi.Merupakan seri kedua lanjutan dari cerita Sang Pamomong

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset