Petualang Masa Lalu episode 17

Chapter 17 : Sungai Itu

Melihat para prajurit sudah bubar, aku meninggalkan Menur dan menghadap Ki Gede untuk mendengar informasi yang lebih jozz.
Bersamaan dengan itu, aku melihay Ki Santiko tampak berjalan tergesa-gesa menuju pendopo.
Sesaat kemudian, aku dan Ki Santiko sudah duduk berhadapam dengan Ki Gede Pamungkas.
Ki Gede menceritakan runutan kejadian yang diketahuinya.
Malam itu semua masih melihat Melati, namun esok harinya, ketika subuh, nyai Gede berniat membangunkan puterinya itu, namun beliau tidak menemukan Melati di kamarnya. Disangkanya Melati ada di pakiwan mengambil wudhu, karena di dapur tidak ada.
Ketika Nyai Gede hendak keluar kamar, di meja dekat cermin, beliau melihat sebuah gulungan kain kecil yang biasa dipakai sebagai surat. (masa itu belum mengenal kertas).
Karena penasaran, beliau membuka gulungan itu dan membaca isinya.
Betapa terkejutnya saat mendapati isi surat itu adalah sebuah pesan dari penculik Melati.
Dengan panik, Nyai Gede segera menemui suaminya dan menunjukkan surat tersebut. Begitu membaca surat itu, Ki Gede menjadi marah dan membanting surat itu.
Segera dipanggilnya seorang prajurit untuk memanggil Ki Santiko dan diriku.
Lalu beliau mengumpulkan semua prajurit yang sedang dinas saat itu, dan menyuruh mereka menyebar untuk mencari putrinya itu. Saat itulah aku datang.

Ki Gede menunjukkan surat itu pada Ki Santiko.
Ki Santiko membeberkan surat itu di atas meja agar aku bisa membacanya.
Aku melongok melihat surat itu..
Ternyata isinya ga aku mengerti.
Tulisannya seperti tulisan jawa, namun agak sedikit berbeda.
Mungkin itu yang disebut tulisan jawa kuno.

Aku memandang Ki Santiko..

‘Maaf Ki.. Apa surasa ( isi) surat itu?”
“Apakah nak Aji tidak bisa membacanya?”
“Tidak Ki.. Huruf jawa yang saya pelajari tidak seperti itu bentuknya.”
“Oh begitu… Baiklah, aku bacakan saja ya?”

Katur dhumateng Ki Gede Pamungkas, Pamengku Siti Perdikan Manyaran
Kepada Ki Gede Pamungkas, Pemangku Tanah Perdikan Manyaran.
Sakpuniko putri panjenenganipun wonten ing asto kawulo
Sekarang putri anda berada di tangan saya.
Menawi panjenengan ngersaaken putri panjenengan tansah wilujeng
Jika anda menginginkan putri anda selamat.
Panjenengan kedah lengser keprabon saha amasrahaken palenggahan dhumateng kawula
Anda harus turun tahta dan memasrahkan kursi kekuasaan pada saya.
Kawula aturi wekdal 3 dinten, menawi dereng wonten pawartos, putri panjenengan mesti sirna margi layu
Saya beri waktu 3 hari, jika belum ada kabar, putri anda akan mati.
Tertanda: Anggoro

Begitu isi surat yang dibacakan oleh Ki Santiko.

“Lantas Anggoro ini siapa Ki?”
“Anggoro adalah keponakan Ki Gede. Anak dari kakak Ki Gede. Dia merasa lebih berhak atas kedudukan penguasa tanah perdikan ini!”

Hmm…ternyata perebutan kekuasaan antar saudara. Aku ga mau ikut campur urusan itu. Tapi bagaimanapun, aku harus berusaha menyelamatkan Melati.
Kasihan dia dilibatkan dalam perebutan kekuasaan ini. Entah apa yang akan dilakukan Anggoro pada adik misannya itu.

“Lalu apa yang akan kita lakukan Ki?” tanyaku pada Ki Santiko.
“Bagaimana kakang? Apa yang harus kami lakukan?”

Ki Gede tampak berpikir sebentar.

‘Waktu 3 hari adalah waktu yang tidak lama. Sementara ini, kita tunggu laporan para ptajurit dan telik sandi yang sudah kukirim untuk mencari jejak Anggoro dan putriku.’
“Baik kakang. Lantas bagaimana mungkin Anggoro bisa masuk kaputren dan menculik den ayu Melati? Bukankah kaputren dijaga ketat?”
“Tak ada yang tahu bagaimana dia masuk. Semua prajurit tertidur saat itu. Aku sudah lengah, hingga akupun tak terasa sudah terkena ajian sirep Anggoro itu!”

Ah…rupanya si penculik menggunakan sirep, yang bisa membuat tidur seluruh penjaga dan seisi rumah Ki Gede, lalu menculik Melati tanpa hambatan.
Ilmu jaman dulu memang aneh-aneh dan dahsyat…

“Baiklah kakang… Kita tunggu laporan dari prajurit dan telik sandi yang sudah disebar. Semoga segera ada kabar gembira!” kata Ki Santiko.
“Amin….!”jawabku dan Ki Gede bersamaan.

Otomatis, seharian itu kami tak berbuat apa-apa. Karena bosan, aku berniat untuk berjalan-jalan ke sungai tempat aku bertemu Melati dan Menur dulu.
Kayaknya adem kalo berendam di sungai itu.
Aku berpamitan kepada Ki Gede dan Ki Santiko, hendak berjalan-jalan, siapa tahu mendapatkan petunjuk.
Aku dipersilahkan menggunakan.kuda jika ingin, tapi aku ga mau. Masih agak kurang nyaman naik kuda..hehe.

Akupun berjalan menuju sungai yang masih kuingat jalannya bersama Zulaikha dan Menik.

“Kamu mau kemana sih? Mau nyariin cewe itu ya?” tanya Zulaikha
‘Mau ke sungai dan cari ikan serta berendam. Siapa tahu ga sengaja dapat petunjuk!” sahutku.
“Wah ..asik, main ke sungai!” sorak Menik kegirangan.
“Nanti aku tangkepin ikan yang banyak Mas Aji!” sambungnya lagi.
‘Emang kamu bisa nangkep ikan?” tanyaku.
“Lihat saja nanti!” katanya.

Setelah keluat dari gapura tanah perdikan dan suasana sepi, aku mencoba ilmu lari cepat.
Pertama agak sulit, tapi lama-lama biasa juga.
Lariku kok jadi bisa secepat ini sih…
Kecepatanku kira-kira bisa 60km/jam.
Udah kayak motor aja lariku…haha.
Ketika melewati rintangan, aku melompay dan…alamak.. Lompatanku tinggi sekali… Duh…gimana turunnya ini?

“Tahan nafas kalau turun…!” kata Zulaikha di sampingku.
Aku mencoba menahan nafas, dan tubuhku turun perlahan.
Setelah turun, aku coba lagi, memusatkan tenaga dalam ke kaki dan melompat lagi. Kali ini lebih tinggi… Turun lagi.
Ah…nyobain kaya yang di film-film kolosal itu ah…
Saat kulihat sebatang pohon yang tinggi, aku meloncat sekuat tenaga.
Mengarah ke cabang yang tertinggi.
Apa yang terjadi? Karena lompatanku terlalu kuat, malah kebablasan…
Kucoba lagi, dan berhasil. Aku berhasil mendarat di ranting yang tinggi. Aku bertengger di ranting sebesar lengan itu.
Aneh..rantingnya tidak melengkung.
Aku mencoba lagi melompat ke dahan pohon terdekat.
Berhasil… Dan akhirnya aku berloncatan dari dahan ke dahan..
Mungkin ini yang disebut ilmu meringankan tubuh.
Atau entah apa namanya.. Yang penting aku senang bisa melakukan hal itu.

Tak lama, sampailah kami di sungai.itu.
Aku tertegun memandang padang rumput di seberang sungai. Dari sanalah aku pertama kali.datang di sini.
Mungkinkah portal itu ada di hutan seberang padang rumput itu?
Ah… Keinginan untuk pulang semakin menguat.
Tapi, aku masih punya tugas untuk menemukan dan menyelamatkan Melati.
Mataku masih nanar memandang padang rumput itu.

“Hei… Apa yang kau lihat? Hanya ada rumput di sana!” tegur Zulaikha.
‘Dari sanalah aku pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini. Do seberang padang rumput itu ada hutan alam ghaib!” sahutku.
“Hei..benarkah?”

Lalu kuceritakan semua pada Zulaikha. Dari awal.aku terdampar sampai tiba di sungai ini.

“Marilah kita cari portal itu di sana!” ajak Zulaikha.

Aku duduk di bawah pohon, dan Zulaikha ikut duduk di sampingku.

“Sebenarnya aku ingin.. Tapi aku masih harus menemukan Melati dan menyelamatkannya!”
“Halah… Biarlah itu diurus sama ayahnya dan Ki Santiko. Kita urus saja urusan kita!” kata Zulaikha.
“Ridak bisa begitu… Bagaimanapun, aku sudah banyak berhutang budi pada Ki Gede. Sekaranglah saatnya aku membalas kebaikan beliau!” kataku.
“Bukan karena kau tertarik pada gadis itu?”
“Sedikit…hehe. Dia emang cantik dan sangat menarik. Tapi aku khan udah punya Desi!”
“Kalau dia mau sama kamu gimana?”
“Ya mau gimana lagi… Itu namanya rejeki anak sholeh ..!” kataku sambil ngakak.
“Dasar buaya….!” sentak Zulaikha sambil menoyor kepalaku.
“Duh…yang cemburu… Galaknya minta ampun..!” godaku.
“Siapa yang cemburu? Ga sudi…!” katanya sambil melengos. Sempat kulihat pipinya memerah.
Aku tersenyum menahan tawa melihat Zulaikha salah tingkah.

“Woi… Malah pacaran. Ini ikannya!” suara Menik mengagetkanku.

Aku menoleh ke arah Menik yang memegang 2 ekor ikan besar.

“Wah… Bisa juga kamu nangkap ikan. Gemuk-gemuk lagi. Sini deh, biar aku bakar.” kataku.

Menik mengulurkan kedua ikan itu padaku. Begitu akan kuambil, dilemparnya kembali ikan itu ke sungai…
Tentu saja dengan sukses aksinya itu membuatku bengong….

“Kok dilempar ke sungai lagi?” tanyaku.
“Kalau mau makan ikan, ya usaha lah. Tadi cuma buat membuktikan kalo aku bisa nangkep ikan…wek…!” katanya sambil menjulurkan lidahnya mengejekku.

Kena deh dikerjain Menik lagi. Zulaikha ketawa ngakak melihatku dikerjai Menik.
Dan dua bersaudara itu langsung melakukan high five…..
Jadilah aku merasa dibully…


cerbung.net

Petualang Masa Lalu

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Hai...namaku Bayu Satriaji, biasa dipanggil Aji. Tadinya aku adalah mahaslsww Teknik Sipil di sebuah Universitas Swasta di kota XX. Aku mempunyai kemampuan super...eh...bukan ding.. Kemampuan supranatural, sebut saja begitu. Aku berasal dari kota YY, yang berjarak sekitar 4 jam perjalanan menggunakan motor. Di kota XX, aku tinggal di kost dan punya pacar satu kost bernama Desi.Merupakan seri kedua lanjutan dari cerita Sang Pamomong

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset