Petualang Masa Lalu episode 18

Chapter 18 : Pagar Halimun

Puas sudah rasanya dibully kakak beradik ghaib itu.
Aku menyandarkan tubuhku ke batang pohon yang rimbun itu.
Angin sepoi-sepoi dan kerimbunan pohon, membuat udara terasa sejuk.
Dan itu membuatku mengantuk, apalagi beberapa malam.ini kurang istirahat. Jadilah aku tertidur di bawah pohon itu.

Aku seolah berada di sebuah warung ikan bakar yang lezat. Memesan seporsi ikan bakar dan menikmatinya.
Mungkin karena gagal bakar ikan, jadi mimpi seperti itu.

Bau harum ikan bakar menggelitik hidungku.
Aku terbangun dan perutku berkeruyukan… Lapar…
Gara-gara mimpi makan ikan bakar nih.
Eh…tapi tunggu dulu. Kok bau ikan bakar itu masih tercium ya?
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sumber bau itu.
Kulihat seorang gadis kecil sedang membelakangiku. Di depannya tampak seekor ikan besar di atas api unggun.
Dari belakang, sosoknya mirip dengan Menur.

“Menur….?” panggilku.

Gadis itu tak menoleh saat kupanggil. Apakah dia bukan Menur?

“Apakah kamu Nimas Menur?” tanyaku sekali lagi.

Gadis itu menengok dan aku tersentak kaget melhat wajahnya yang rusak dan berbelatung. Sangat mengerikan…

‘Si…siapa kamu?” tanyaku tergagap.
“Aku penunggu sungai ini.” katanya. Suaranya seolah datang dari jauh.
“Kenapa kau menggangguku?”
“Kau sudah lancang tidur di daerah kekuasaanku. Maka aku akan membunuhmu!’

Mendengar kata-katanya, aku menjadi marah.

“Silahkan kalau kau mampu…!” tantangku.
Segera kupanggil tombak Kyai Cemeng, dan dalam sekejap sudah ada di tanganku.

“Makanlah ikan ini dulu… Agar kau mati tidak kelaparan…!” katanya lagi.
“Persetan dengan makanan itu. Kau makan sendirilah!” kataku penuh emosi.
Makhluk itu memandang ikan yang sedang dibakar itu.

“Beneran ga mau…?” tanyanya lagi.
Kok suaranya berubah ya?

Waktu makhluk itu menoleh lagi….

“Meniiikkkkk….. Kurang ajar kamu… Seneng amat ngerjain aku!” sungutku.
“Hahaha . .!” menik tertawa ngakak.

Ya… Makhluk itu jelmaan Menik. Kurang kerjaan banget jin kecil satu ini…

“Nih mas.. Udah kubakarin ikan. Kasihan tuh perutnya bunyi mulu..hihik!” kata Menik sambil mengulurkan ikan bakar itu.
Liurku nyaris menetes melihat ikan itu. Gemuk dan berbau harum ikan bakar.
Tapi aku ga mau dikerjain lagi.

“Udah, kamu makan sendiri aja. Aku ga lapar kok…!”
KRUYUK….

Menik ngakak mendengar suara perutku. Dasar perut pengkhianat…

“Ga lapar ya? Nih makan aja. Aku ga makan kayak ginian!”

Aku menyambut ikan bakar itu. Ternyata ga dikerjain lagi. Segera kumakan ikan itu… ENYYAAKKKK…

“Eh…mbakyumu kemana?”
“Lagi pergi ke sana!” kata Menik menunjuk ke padang rumput di depan sana.
“Ngapain ke sana?”
“Ga tahu….!”

Aku hanya mengangkat bahu dan melanjutkan makan ikan bakar itu.
Saat aku memandang padang rumput itu, tampak sesuatu bergerak di atas padang rumput itu.
Melesat cepat nenuju tenpatku duduk.
Setelah dekat, baru aku tahu kalau itu Zulaikha.

“Eh…kamu. Dari mana aja Dul?” sapaku saat dia sudah sampai di dekatku.
“Dul..Dul…Dul siapa?” tanyanya
“Ya kamu lah…Dulaikha…!” sahutku sambil ngakak.
“Enak aja ngerubah nama orang…!” katanya sambil cemberut.
“Lah…kamu kan bukan orang…!”
“Eh ..iya juga ya…!”
“Darimana saja kamu?”
“Ngecek ke tempat awal mula kamu kejebak di masa ini!”
“Apa yang kamu temukan?”
“Ga nemu apapun yang berhubungan dengan portal itu. Tapi aku menemukan sedikit keanehan.”
“Aneh…??? Aneh gimana?”
“Di tengah padang rumput sana, aku menemukan suatu medan energi yang berbentuk kubah. Kurasa itu sebuah pagar ghaib. Tapi untuk apa ada di sana?”
“Kau tidak memeriksanya?”
“Sudah aku coba, tapi aku ga bisa menmbusnya dan ga bisa melihat ke dalam medan energi itu.”
“Sekarang sebaiknya gimana?”
“Coba kita cek lagi ke sana. Dan kita lihat, apakah kamu.bisa melihat isi di dalam medan energi itu!” usul Zulaikha.

Sesuai usul Zulaikha, aku dan kedua gadis ghaib itu meluncur ke tekape.
Benar saja, di tengah padang rumput itu, aku melihat sebuah selaput medan energi gelap yang melingkupi suatu daerah yang sangat luas. Melebihi luasnya lapangan bola.
Heran juga aku melihatnya. Kucoba untuk melihat ke dalam, tapi tidak mampu menembus medan energi itu.
Aku mengitari medan energi itu untuk mencari celah. Siapa tahu bisa ngintip ke dalam, dan melihat isinya.
Tapi dua kali aku putari, tak bisa juga melihat ke dalam.
Kucoba merasakan aura di dalam medan energi itu, dan sanar samar kurasakan adanya aura yang lemah banyak sekali.
Ada beberapa aura yang sangat kuat. Tapi susah membedakan apakah itu aura jin atau manusia.
Aku berpikir, seandainya saja ada yang keluar dari medan energi itu, dan membuatku mengerti apa yang ada di dalamnya.
Tapi harapan tinggal harapan. Menunggu beberapa waktu, tapi tak ada sesuatupun yang keluar dari medan energi itu.

Aku berpaling ke Zulaikha dan Menik, serta mengajak mereka untuk pulang.
Kami kembali ke tepi sungai, dan aku meminta tolong Zulaikha dan Menik untuk mengantarku ke rumah Ki Gede dengan ilmunya.
Mereka menggandeng tanganku dan ZAAPP…. Kurasakan perjalanan super cepat. Dalam 3 hitungan, kami sudah sampai di rumah Ki Gede.

Tampak Ki Gede dan Ki Santiko masih di pendopo, menunggu laporan dari telik sandi.
Kok ya betah ga ngapa-ngapain seharian ya?

Aku segera menghampiri mereka dan mengucap salam.
Serentak mereka menoleh sambil membalas salamku.

“Oh…nak Aji. Mari silahkan duduk!” kata Ki Gede.
“Terima kasih Ki Gede!”

Setelah duduk, aku memberitahukan kepada mereka tentang hal yang kutemui tadi.

“Hmm…ada sesuatu medan energi di sana ya? Seperti perisai ghaib yang sangat besar?” gumam Ki Gede.
“Benar ki Gede!”
“Saat kau dulu sampai ke sungai itu, bukankah kau melewatinya? Apakah saat itu medan energi ini sudah ada?”
‘Entahlah ki Gede, saat itu saya sedang bingung. Namun seandainya sudah ada, mungkin saya bisa merasakannya.” sahutku.
“Bagaimana Adi Santiko?”
“Emm… Begini saja kakang. Nanti biar aku dan Aji melihat ke sana, untuk memastikan. Semoga aku bisa mengetahui isinya!” kata Ki Santiko.
“Apakah butuh prajurit untuk menemani?” tanya Ki Gede.
“Tidak perlu kakang. Biar kami berdua saja, supaya tidsk menarik perhatian!”
“Baiklah kalau begitu. Tapi nanti saja setelah sholat dzuhur. Sebentar lagi masuk waktu dzuhur!”
“Baik kakang..!”

Usai sholat dzuhur dsn makan siang, kami segera berangkat ke tempat Zulaikha menemukan medan eneegi itu.
Lewat batas tanah perdikan, kami menggunakan ilmu lari cepat untuk mempersingkat waktu.

Tak berapa lama, sampailah kami di tempat itu. Zulaikha dan Menik berdiri di sampingku, siap menjaga segala kemungkinan.

Ki Santiko memeriksa medan energi tersebut. Lalu beliau duduk bersila dan mengheningkan cipta.
Aku hanya memperhatikan beliau.

Sampai agak lama beliau dalam posisi itu.
Aku tak berani bertanya atau mengganggunya. Kelihatan sedang serius sekali.
Beberapa saat kemudian, beliau membuka matanya.

“Bagaimana Ki?” tanyaku.
“Hmm…aku bisa merasakan aura manusia yang banyak sekali. Sepertinya ini adalah pagar halimun, untuk menyembunyikan sesuatu dari pandangan manusiq dan jin. Jadi kita tak bisa melihat yang ada di dalamnya.”
“Pagar halimun Ki? Berarti jika ada manusia di dalamnya, mereka bisa melihat kita?”
“Mungkin begitu.. Aku sendiri tak begitu memqhami sifat pqgar halimun ini.Lebih baik kita segeta pergi dari sini, sebelum ada hal-hal yang tidak kita inginkan.” kata Ki Santiko sambil berdiri.

“Hei…awas….!” Zulaikha berteriak dan menghantamkan tangannya ke depan.

PLOKKK….

Suara pukulan Zulaikha yang beradu fengan sesuatu.
Ada suatu benda yang terjatuh di dekat kami.

“Cepat pergi dari sini. Terlalu bahaya di sini.!”

Segera aku meraih Ki Santiko dan melarikan diri dari tempat itu.
Aku sempat menyambar benda yang dipentalkan i oleh pukulan Zulaikha tadi.
Kami berlari secepat dan sejauh mungkin dari daerah itu. Zulaikha dan Menik membayangi kami dari belakang, menjaga jika ada serangan gelap.
Ketika kami sampai di tepi sungai, Ki Santiko mengajakku berhenti.
“Sudah aman sekarang.”ucapnya. Lalu beliau memandang pada Zulaikha dan berkata..

” Terima kasih banyak Cah ayu!”
“Sama-sama Ki… !” jawab Zulaikha sambil tersenyum manis.
Kami beristirahat di bawah pohon, dan memgatur nafas kami.
Aku mengeluarkan benda yang tadi nyaris mengenai Ki Santiko.
Untunglah Zulaikha cepat bertindak.
Ternyata itu adalah sebuah pisau kecil yang sangat tipis.
Ki Santiko ikut memperhatikan pisau itu.

“Hah..ini khan pisau terbang?”serunya.
“Maksud Ki Santiko?”
“Ini adalah senjata andalan dari seorang jagoan bernama Si Pisau Terbang. Dia mendapat julukan itu karena keahliannya dalam melontarkan pisau ini. Serangannya hampir tak pernah meleset. Alhamdulillah, aku masih dilindungi oleh Yang Maha Kuasa!”
“Apakah dia seorang pendekar Ki?”
“Entahlah… Setahuku, dia itu tidak hitam juga tidak putih. Angin-anginan sifatnya. Kalau lagi jahat, jahatnya nggak ketulungan, kalau lagi baik, juga sangat baik!”
“Tapi hal ini juga menguntungkan kita Ki. Kita jadi tahu, bahwa yang ada di balik pagar halimun itu adalah manusia.”
“Benat juga.. Dan ini tidak boleh dianggap enteng, harus segera dilaporkan kepada Ki Gede, agar bisa diambil tindakan secepatnya!”
“Benar Ki… Atau mungkinkah kalau pagar halimun itu dibuat untuk menyembunyikan pasukan dalam jumlah banyak?”
“Kalau menilik besar dan luasnya pagar halimun itu, kemungkinan itu bisa saja terjadi.” kata Ki Santiko.

Kami terdiam dalam pikiran kami masing-masing. Masih menjadi misteri, tentang keberadaan pagar halimun itu.
Siapa yang membuatnya, apa isinya?
Paling tidsk, kami tahu bahwa ada manusia di dalamnya.
Untuk jumlahnya, kami tidak tahu…

‘Marilah kita laporkan kejadian ini pada Ki Gede nak!”
“Mari Ki…!”

Kami bangkit dari duduk kami dan segera menuju Tanah Perdikan Manyaran untuk melaporkan hal ini pada Ki Gede.


cerbung.net

Petualang Masa Lalu

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Hai...namaku Bayu Satriaji, biasa dipanggil Aji. Tadinya aku adalah mahaslsww Teknik Sipil di sebuah Universitas Swasta di kota XX. Aku mempunyai kemampuan super...eh...bukan ding.. Kemampuan supranatural, sebut saja begitu. Aku berasal dari kota YY, yang berjarak sekitar 4 jam perjalanan menggunakan motor. Di kota XX, aku tinggal di kost dan punya pacar satu kost bernama Desi.Merupakan seri kedua lanjutan dari cerita Sang Pamomong

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset