Petualang Masa Lalu episode 22

Chapter 22 : Pangeran Anom

Memang susah memberikan pengertian pada gadis belia yang masih sangat polos itu.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Menur itu. Bagaimanapun, aku cuma sebentar di masa ini. Dan aku ingin kembali ke jamanku sendiri. Pengin merajut mimpi bersama Desi.
Ah…ingat Desi, membuatku menjadi kangen pulang ke jamanku. Tapi tampaknya, masih agak lama untuk menemukan portal itu.

Untuk menghilangkan suntuk, aku bermaksud mendekati pendopo untuk mendengarkan rapat terbatas yang diadakan Ki Gede.
Ternyata pertemuan itu masih belum selesai. Saat aku hendak mendekati pendopo, tampak seorang prajurit tergopoh-gopoh menghadap Ki Gede dan menyampaikan sesuatu. Ki Gede tampak terkejut dan segera mengatakan sesuatu pada prajurit itu. Setelah prajurit itu pergi, Ki Gede mengajak semua yang ada di situ untuk menuju regol rumah Ki Gede.
Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di depan regol.
Saat aku memandang ke arah regol, tampak seorang lelaki berusia setengah baya sedang berdiri tenang di sana. Wajahnya tampak berwibawa namun juga teduh.
Entah siapakah orang itu?
Ki Gede tampak tergopoh menyambut orang itu.
Orang dengan dandanan sederhana seperti seorang petani saja layaknya, namun disambut dengan penuh hormat oleh Ki Gede dan segenap pengikutnya.
Rasa ingin tahu menggelitik hatiku. Dan aku semakin mendekati rombongan Ki Gede dan membaur dengan mereka.

“Ah…selamat datanga Pangeran Anom. Selamat datang… Silahkan pinarak di pendopo!” sambut Ki Gede dengan senyum sumringah.
“Hahaha…Samodra sahabatku, tak perlu banyak adat begini. Kebetulan aku sedang lewat di sini dan aku teringat padamu, jadi aku mampir ke rumahmu ini!”
‘Suatu kehormatan, pangeran Anom mau singgah di gubug hamba ini!”
“Sudah kubilang Samodra, jangan terlalu banyak adat. Bukankah kita bahkan sudah mengangkat saudara? Kenapa masih saja memanggilku pangeran?”
“Ah… Maafkan aku Kakang Anom. Silahkan…silahkan…!”

Pangeran Anom? Samodra? Wih…membingungkan sungguh.
Pangeran kok ga ada pengiringnya…
Samodra, mungkin nama Ki Gede saat masih muda?
Berbagai pertanyaan memenuhi pikiranku, sampai tak terasa, kami semua sampai di pendopo.
Setelah semua duduk, Ki Gede berkata kepada seluruh bawahannya.

“Aku kira, sudah cukup.kiranya yang kita bicarakan tadi. Laksanakan semua sesuai rencana, dan kalian boleh segera mempersiapkan diri!” kata Ki Gede.
“Baik… Kami siap melaksanakan!” seru semua yang hadir, kecuali aku…hehe.

Akhirnya semua yang hadir dalam pertemuan tadi berpamitan pads Ki Gede dan Pangeran Anom itu.
Saat aku dan Ki Santiko hendak berpamitan juga, Ki Santiko ditahan oleh Ki Gede.
Sementara, aku yang merasa tidak punya kepentingan, segera pamit pergi dari pendopo.
Baru berjalan dua langkah, terdengar sebuah suara memanggilku.

“Anak muda, sebentar dulu!”

Aku berhenti dan berbalik ke belakang. Kulihat Pangeran Anom melihatku sambil tersenyum.

“Anda memanggilku Pangeran?” tanyaku.
“Benar anak muda. Duduklah bersama kami. Boleh khan Adi Samodra?” tanya beliau pada Ki Gede.
“Haha…tentu boleh kakang. Apalagi kakang Anom yang menyuruh. Siapa yang mampu menolak…??” kata Ki Gede
“Hahaha…bisa saja kamu Adi!”

Aku kemudian duduk bersama mereka.

“Anak muda, siapa namamu?”
“Hamba Aji Pangeran, Bayu Satriaji!”
“Hmm..nama yang baik. Aku merasakan ada yang aneh pada dirimu. Darimana kau datang?”

Aku bingung mau menjawab apa. Aku hanya memandang kepada Ki Gede.
Akhirnya Ki Gede yang menerangkan tentang kedatanganku.
Pangeran Anom tampak mengangguk-angguk.

“Ternyata benar petunjuk yang kudapatkan dalam samadiku. Benar-benar Allah Maha Kuasa!” gumam Pangeran Anom.

Kami semua terdiam mendengar kata-kata beliau.

“Adi Samodra, dalam samadiku itu, aku mendapat petunjuk bahwa Tanah Perdikan ini diselimuti mendung. Dan dari balik mendung itu muncullah seberkas sinar berwujud seorang manusia muda dengan pakaian yang aneh menurutku. Bukan seperti pakaian yang kita kenakan pada masa ini.
Ternyata inilah jawabannya..
Anak muda inilah yang akan menolong tanah perdikan ini dari mendung yang menyelimuti.” jelas Pangeran panjang lebar.
“Ah…tapi hamba tidak punya kemampuan apa-apa Pangeran!” sahutku.
“Akan ada jalannya, anak muda. Dan mungkin kau sudah menemukan jalan itu!”

Makin bingung aku mendengar kalimat sang Pangeran. Ga paham apa maksudnya.

“Kakang Anom, mungkin benar petunjuk yang diperoleh kakang Anom. Aku merasakan hal yang sama. Dan dalam pertemuan tadi, semua setuju melaksanakan ide yang diusulkan nak Aji ini padaku untuk menghadapi pasukan musuh! Bukankah begitu Adi Santiko?”
“Benar pangeran, tak disangka, usul yang sangat bagus diberikan oleh nak Aji yanh tidak mengerti tentang strategi perang. Dan semua punggawa menyetujui usul itu tanpa bertanya!” jelas Ki Santiko.
“Nah itulah yang kumaksud tadi. Kau sudah menemukan jalannya. Dengan idemu untuk menghadapi pasukan musuh!” kata Pangeran Anom padaku.
Aku hanya menunduk malu, padahal dalam hati berbunga-bunga…..

Pangeran Anom kembali menatap pada Ki Gede.

“Sebenarnya apa yang terjadi Adi Samodra? Apa yang membuat Tanah Perdikan ini tersaput mendung?”
“Begini Kakang, anakku wadon diculik oleh keponakanku, dan dia menuntut tahta penguasa tanah perdikan ini diserahkan padanya!”
“Keponakanmu ini, anak dari siapa?”
“Anak dari Kakang Giri.. Kakakku.”
“Lalu apa tindakanmu?”
“Begini kakang, kami berencana untuk menghancurkan pasukan pendukung Anggoro keponakanku itu di padang rumput sebelah selatan tanah perdikan ini. Di sanalah mereka bermarkas dan menyandera anakku itu Kakang!”

Pangeran Anom tampak mengangguk-angguk. Kemudian beliau kembali bertanya….

“Jadi pertemuan tadi adalah membahas penyerangan ke sana? Kapan rencananya pasukanmu akan digerakkan?”
“Nanti malam Kakang. Karena Anggoro memberi batas sampai besok pagi untuk aku melepaskan jabatan Kepala Tanah Perdikan ini!”
“Bagaimana dengan anakmu yang disandera? Apakah itu tidak membahayakan nyawanya?”
“Kami merencanakan menyelamatkan anakku terlebih dahulu, baru setelah itu kami akan menyerang!”
“Rencana yang bagus… Tapi ingat, pemimpin mereka masih keponakanmu. Bagaimana caramu menghadapi keponakanmu itu nantinya? Apa kau tega nengakhiri.hidupnya? Aku tahu siapa dirimu Adi Samodra. Kau lebih baik kehilangan kedudukan, harta benda, daripada kehilangan saudara.”
“Itulah Kakang… Aku sebenarnya mau saja meletakkan jabatanku dan memberikan kepadanya, tapi penduduk tanah perdikan ini mencegahku. Apalagi, menurut telik sandi, pasukan Anggoro terdiri dari perampok, begal dan penjahat lainnya. Maka, dengan sangat terpaksa aku akan menghancurkan pasukannya itu daripada menyengsarakan rakyat tanah perdikan ini!”
“Hmm..begitu rupanya. Kukihat rencanamu sudah sempurna, tapi wajahmu masih menyisakan keraguan. Seorang panglima tak akan maju berperang jika dia masih meragukan kemenangannya!” kata Pangeran Anom.
“Ah…Kakang Anom memang jeli. Aku masih bingung, bagaimana menghancurkan pagar halimun yang menutupi keberadaan pasukan musuh itu!”
“Oh… Mereka dilingkupi oleh pagar halimun rupanya. Kau tenanglah, aku akan membantumu menghancurkan pagar halimun itu Adi!”
“Ah…terima kasih Kakang. Hanya itulah yang masih mengganjal pikiranku. Sekarang, aku sudah yakin Kakang Anom!”

Pangeran Anom tersenyum dan menepuk bahu Ki Gede. Seolah memberi semangat pada Ki Gede.
Kemudian beliau berpaling padaku.

“Kau tampaknya heran melihatku Aji?”
“Mohon maaf Pangeran. Hamba bingung dengan Pangeran. Kok tidak diiringi oleh para prajurit?”
“Hahaha…. Kau ceritakanlah padanya Adi Samodra!”

Ki Gede menceritakan bahwa Pangeran Anom ini adalah pangeran dari Kerajaan yang mengayomi tanah perdikan Manyaran. Tapi beliau tidak suka hidup terkekang di keraton. Beliau lebih suka berkelana dan ngangsu kawruh(mencari ilmu), dan bertapa.
Ilmu kesaktiannya bukan olah-olah lagi, bahkan Ki Gede mengaku kalah jauh dari beliau. Ki Gede berkenalan dan mengangkat saudara dengan Pangeran Anom sejak masih bujangan. Sama-sama suka bertualang dan gila ilmu kanuragan. Hingga Ki Gede menikah dan Pangeran Anom setia membujang, serta masih suka berkelana. Setiap melewati tanah perdikan ini, beliau selalu menyempatkan diri untuk mampir, menengok adik angkatnya yang sudah menjadi pemangku kekuasaan di Tanah Perdikan Manyaran ini.
Begitu cerita yang dituturkan oleh Ki Gede. Makanya beliau pangeran Anom tak pernah diiringi pasukan saat berkelana.

Aku mengangguk-angguk mengerti. Ternyata beliau ini Pangeran pengembara.

Kami masih bercakap-cakap tentang rencana penyerbuan nanti malam. Hingga waktu sholat Dzuhur, kami sholat berjamaah di Langgar.
Usai sholat dan makan siang bersama, Ki Gede berpamitan untuk memeriksa persiapan yang dilakukan prajurit tanah perdikan untuk penyerbuan nanti malam.
Ki Gede ditemani oleh Ki Santiko segera berangkat dengan berjalan kaki. Aku diajak oleh Pangeran Anom untuk melihat kondisi di padang rumput.
Dengan menggunakan ilmu lari cepat, kami melesat menuju padang rumput itu. Sekuat apapun aku mencoba mengejar Pangeran Anom yang tampaknya hanya berlari kecil itu, namun aku tak bisa menyusulnya. Padahal seluruh kemampuan sudah aku kerahkan.
Benar-benar hebat Pangeran satu ini. Sakti, sederhana, dan merakyat pula.
Wibawanya terpancar, bercampur dengan keteduhan.
Benar-benar sosok pengayom yang hebat.

Sampai di tepi sungai, nafasku sudah senin kamis, keringat bercucuran. Sementara Pangeran Anom tampak biasa saja. Setitik keringatpun tak tampak. Nafasnya teratur, bahkan bajupun tak kusut.
Aku hanya geleng kepala melihat kesaktiannya.

“Ah…dl sana rupanya pagar halimun itu!” kata Pangeran Anom.

Weits…beliau.bisa melihat sejauh itu? Aku yang lebih muda pun belum nampak pagar halimun itu, karena memang jauh dari pinggir sungai.

“Berapa orang yang membuat pagar halimun itu Nini?” tanya beliau pada Zulaikha.

Waduh, ternyata beliau punya kemampuan melihat makhluk ghaib juga.

“Tiga orang pangeran…!” jawab Zulaikha.
“Hmm…salah satunya bisa melihatmu juga Nini?”
“Benar Pangeran…!”
“Hmm…tiga setan gunung Merbabu rupanya. Sampai sejauh ini mereka berkelana.”
“Siapakah mereka Pangeran?” tanyaku penasaran.
“Mereka adalah pimpinan penjahat gunung Merbabu. Kejahatan mereka sudah melebihi takaran. Sudah pernah kuperingatkan mereka untuk berhenti berbuat jahat, namun masih saja mereka berbuat kejahatan.’
“Pangeran pernah mengalahkan mereka?”
“Benar. .dan sudah kuampuni mereka karena mereka berjanji untuk meninggalkan kehidupan gelap mereka. Tapi kenyataan berbicara lain, tampaknya mereka belum kapok juga!”

Sekali lagi aku dibuat kagum oleh orang ini. Seberapa saktinya beliau sebenarnya?

“Apakah kita akan mendekat ke pagar halimun itu Pangeran?”
“Tidak usah, yang penting aku tahu posisinya. Nanti malam kuperkirakan pagar halimun itu akan melemah.”


cerbung.net

Petualang Masa Lalu

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Hai...namaku Bayu Satriaji, biasa dipanggil Aji. Tadinya aku adalah mahaslsww Teknik Sipil di sebuah Universitas Swasta di kota XX. Aku mempunyai kemampuan super...eh...bukan ding.. Kemampuan supranatural, sebut saja begitu. Aku berasal dari kota YY, yang berjarak sekitar 4 jam perjalanan menggunakan motor. Di kota XX, aku tinggal di kost dan punya pacar satu kost bernama Desi.Merupakan seri kedua lanjutan dari cerita Sang Pamomong

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset