Petualang Masa Lalu episode 23

Chapter 23 : Perang

Niat hati nak kabur, apalah daya sudah terkepung. Tak usah menunggu lama, Zulaikha dan Menik mengeluarkan senjata andalan masing-masing dan mulai membantai jin yang mengurung kami.
Otomatis, aku dan Melati sudah tak terlindungi oleh aji panglimunan lagi.
Begitu kami kelihatan mata telanjang lagi, segera banyak orang menghampiri kami berdua.
Aku harus segera mengambil keputusan…
Kupanggil Ki Sardulo seto dan menyuruhnya membantu Zulaikha dan Menik. Sementara, aku dan Melati mencoba bermain kucing-kucingan dengan pasukan yang mengejar kami. Untunglah, ilmu lari kami lebih unggul dari mereka, sehingga kami masih bisa menyusup kesana kemari.
Tapi lama-lama kami terpojok juga dl sudut timur, dekat kandang kuda dan dapur umum.
Aku dan Melati memutuskan masuk ke kandang kuda untuk bersembunyi. Keadaan yang gelap cukup membantu kami.
Ga mungkin menghadapi begitu banyak orang hanya berdua saja. Apalagi Melati belum pulih tenaganya.
Ah…iya, ada tumpukan jerami di kandang kuda. Kukeliarkan tombak Kyai Cemeng dan batu api, juga sabut untuk membuat api.
Aku sibuk membuat api untuk membakar jerami… Ayo…cepat nyala ..
Berkali kucoba masih belum berhasil. Kudengar orang-orang yang mengejar kami semakin mendekat.

“Ayo kita cari di dapur dan kandang kuda….!” terdengar suara seseorang berkata, yang segera diiyakan oleh yang lain.
Aku makin panik…
Semakin keras kupukul batu api untuk membakar sabut itu, dan ah….berhasil.
Sabut mulai terbakar dan membara. Lalu kuletakkan di bawah jerami dan aku tiup-tiup.
Melati membantu meniupnya. Dan…voila…. Jerami kering itu mulai terbakar menombulkan asap yang kemudian menjadi api yang berkobar

“Hei…kandang kuda kebakaran…!” teriak seseorang.
“Mereka pasti di kandang kuda…!” kata yang lain.
Terdengar suara langkah kaki berlari mendekati kandang kuda.

Sementara itu, kuda-kuda mulai gelisah dan panik melihat api di dekat mereka. Aku membuka pintu kandang dan membiarkan kuda-kuda itu berhamburan keluar.
Beberapa orang yang sudah mendekati kandang kuda, terpaku melihat kuda-kuda yang berhamburan keluar kandang.
Maka sebagian orang itu tertabrak kuda yang lari ketakutan.
Aku geli melihat pelandangan itu..
Tiba-tiba, sebuah tangan yang halus menarikku dan membawaku meloncat ke atas punggung seekor kuda.
Melati segera memegang tali kendali kuda, sementara aku duduk di belakangnya.
Melati membawa kuda itu untuk menerjang kepungan musuh.
Karena musuh sedang panik akibat kuda-kuda yang lepas, dengan mudah aku dan Melati lepas dari kepungan mereka.
Kami terus melaju di atas kuda, menjauh dari tempat itu.
Saat itulah terdengar sorak sorai pasukan yang menyerbu ke dalam.
Rupanya pagar halimunan berhasil dihancurkan.
Segera terjadi pertempuran yang seru dan penuh teriakan kesakitan dan kematian. Diterangi cahaya api dari kandang kuda yang terbakar, aku menyaksikan sebuah perang yang nyata.
Prajurit musuh yang tidak siap, mencoba melawan serbuan pasukan tanah perdikan yang datang bagaikan Garuda yang menyambar mangsanya.
Pasukan musuh bergerak saling mendekat hingga berkumpul menjadi satu, dan itu merupakan pasukan yang besar.
Tapi pasukan khusus yang bertindak sebagai kepala Garuda, menyerbu dengan gagah berani ke tengah barisan musuh. Setiap bertemu musuh, senjata mereka selalu mendapat korban.
Sementara, pasukan di kedua sayap, merangsek ke samping pasukan musuh, dan memukul mereka dari samping. Mereka bukan pasukan khusus, namun jelas terlatih dalam peperangan berkelompok.
Alhasil, tak perlu memakai.waktu lama, pasukan musuh seolah dihimpit oleh sayap dan dipatuk kepala garuda

Ketika pasukan musuh mulai terdesak, masuklah pucuk pimpinan pasukan musuh ke dalam barisan anak buahnya. Mereka berilmu tinggi dan mulai memporak-porandakan pasukan sayap.

“Gelar Supit Uraangggg….!” terdengar teriakan komando.

Segera terjadi pergeseran kedudukan. Pasukan sayap yang terdesak, bergeser ke tengah sambil mundur. Sementara, pasukan khusus menyebar ke kanan kiri pasukan yang terdesak.
Pasukan yang terdesak tadi sudah berkumpul menjadi 1 di tengah dan terus mundur. Sementara, pasukan khusus yang berfungsi sebagai capit udang, mulai menyerang dari kedua sisi pasukan musuh.
Pasukan musuh yang berada di sisi kanan kiri segera membentur serangan dari pqsukan khusus.
Sementara, para pemimpin pasukan biasa, menghadapi pemimpin pasukan musuh.
Kembali, pengalaman dan kedisiplinan menentukan.
Pasukan musuh semakin terdesak. Korban berjatuhan dari kedua pihak, namun terlihat bahwa yang cepat menyusut jumlahnya adalah pasukan musuh.
Semakin ciut nyali pasukan musuh.

“Gelar Dirada Meta….!!” komando terdengar lagi. Mengubah posisi pasukan menjadi seperti gajah yang mengamuk.
Pasukan khusus kembali menjadi tumpuan kekuatan sebagai kepala gajah, dengan belalai yang memukul ke kanan kiri, serta dua gading yang menusuk tajam.
Pasukan musuh seperti pohon yang diseruduk oleh gajah, kocar-kacir. Sebagian melarikan diri dari arena pertempuran.
Hancur sudah pasukan musuh yang hendak menggempur tanah perdikan Manyaran.
Melati membawa kuda yang kami naiki ke belakang pasukan ayahnya.
Di situ Ki Gede dan Pangeran Anom sedang mengamati jalannya pertempuran dari atas kuda.
Melihat ayahandanya, Melati meloncat turun dari Kuda dan memberikan salam hormat pada ayahnya dan Pangeran Anom.
Ki Gede hanya membalas dengan anggukan dan senyum sumringah.
Begitupun Pangeran Anom.
Saat itu Zulaikha dan Menik datang ke sampingku disertai Ki Sardulo Seto.
Ki Sardulo melaporkan bahwa tugasnya telah selesai dan mohon pamit.
Aku menyatakan terima kasih banyak atas bantuannya.

Kami kembali memandang pertempuran yang sudah dimenangkan oleh pasukan tanah perdikan.
Pasukan musuh sebagian besar mati, sebagian ditawan, dan lainnya berhasil kabur.
Dari penyelidikan selanjutnya, ternyata Anggoro juga berhasil.kabur dari tempat itu.

Akhirnya gubuk-gubug yang ada di situ dibumihanguskan. Diratakan dengan tanah.
Para prajurit yang masih sehat menolong teman-temannya yang terluka, dan membuat tandu untuk membawa teman-temannya yang gugur dalam tugas.
Ki Gede tampak berkaca-kaca melihat prajuritnya yang meninggal untuk membela Tanah Perdikan.
Tapi itulah perang… Selalu saja menimbulkan korban jiwa dan harta.

Kami beriringan kembali ke tanah perdikan. Walaupun menang perang, tak ada sorak kegembiraan.
Yang ada malah raut wajah lelah dan sedih.
Sebuah bukti bahwa sebenarnya mereka membenci peperangan.
Jika tidak terpaksa, mereka pastilah enggan berperang.
Sebetulnya keinginan setiap.manusia itu sederhana, hidup aman, tenteram dan damai.
Tapi, nafsu serakah segelintir orang yang haus kekuasaan, membuat para prajurit harus berperang. Bertaruh nyawa hanya karena ambisi seseorang.
Jika untuk membela bangsa dan negaranya, mereka akan ikhlas menyerahkan nyawanya sekalipun. Tapi, hanya demi tahta…apakah pengorbanan mereka sepadan?

Kami sampai di rumah Ki Gede saat mentari di ufuk Timur menyemburatkan cahayanya.
Terlewat sudah sebuah waktu ibadah untuk bertaruh nyawa.
Sungguh sebuah ironi.

Aku senang Melati selamat, tapi aku juga sangat sedih melihat banyaknya korban yang berjatuhan.
Sedih, ngeri, takut, cemas..bercampur aduk jadi satu.
Aku kangen pulang ke jamanku..
Jaman yang damai tanpa perang..
Menikmati hidup tanpa was-was…
Aku ingin pulang……

Tapi entah kapan aku bisa kembali ke jamanku. Terpaksa, mau tak mau, kujalani hidup di jaman yang sangat kuno ini.
Apa boleh buat….

Bapak, Anin, Desi…sedang apa ya sekarang?
Tiba-tiba kenangan akan semua orang yang kucintai hadir saat ini.
Tak terasa air mataku meleleh…
Kerinduan ini makin memuncak…
Ya Allah, tunjukkan jalan pulang…
Agar aku bisa berkumpul kembali dengan orang-orang yang sangat kucintai…

Rasa sedih, dan lelah badan, membuatku jadi lesu. Semangatku entah terbang ke mana.
Begitu acara ceremonial pelepasan prajurit yang gugur selesai, aku terkapar pingsan.

Begitu bangun, aku ada di ranjangku yang keras tanpa kasur.
Saat membuka mata, tampak Nyai Gede, Melati dan Menur menatapku dengan sinar mata bahagia.

“Di mana aku?” tanyaku
“Apa yang terjadi padaku?”

“Tenangkan dirimu Nak Aji. Kau ada di senthongmu. Tadi kamu pingsan, mungkin kelelahan. Kami sangat khawatir tadi. Untunglah tabib mengatakan bahwa kau tidak apa-apa!” kata Nyai Gede.
“Maaf Nyai, saya sudah membuat semua repot!”
“Sstt…tidak ada yang direpotkan di sini. Kau adalah pahlawan kami, yang wajib kami layani dengan baik!”
“Ah… Saya cuma bisa merepotkan semua Nyai. Saya nggak bisa apa-apa!”
“Kangmas, kalau nggak ada kangmas, siapa yang akan menyelamatkan mbakyu. Terima kasih kangmas sudah menepati janji, mengembalikan mbakyu dengan selamat!” ucap Menur. Air matanya berlinang.
“Nimas, maafkan, kemarin sudah membuat nimas menangis…!”
“Ah…sudahlah kangmas. Salahku sendiri yang masih kekanakan… Aku yang minta maaf pada kangmas!” sahut Menur dengan wajah sedikit memerah.

“Bagaimana keadaanmu Nimas Melati? Sudah pulihkah?”
“Alhamdulillah kakang… Terima kasih kakang sudah menyelamatkan aku. Aku tak tahu harus bagaimana untuk membalas budi Kakang ini!” jawab Melati.
Kulihat air matanya mengalir di pipinya.
“Sudah menjadi kewajiban sesama manusia untuk saling menolong Nimas. Lupakan soal hutang budi. Aku juga banyak berhutang budi pada Ki Gede dan tanah perdikan ini!” jawabku.

Kami semua terdiam, larut dalam pikiran masing-masing.

“Marilah kita keluar, biarkan Nak Aji beristirahat dengan tenang. Jika ada yang dibutuhkan, beritahu kami ya Nak Aji!’ kata Nyai Gede memecah kebisuan kami.
“Terima kasih banyak Nyai…!”

Mereka bertiga beranjak keluar…
Melati masih menengok padaku sekali. Aku hanya tersenyum padanya, dan dia segera menghilang di balik pintu.

Zulaikha tampak manyun di pojokan… Ga tahu kenapa.tuh..

Menik malah asyik jejogedan sambil nyanyi ga karuan…

“Mas Aji bingung…mas Aji bingung..
Ada yang suka malah bikin bingung…
Mbakyuku manyun…bibirnya mancung…!”

BLETAKH …

Kali ini Menik yang kena getok Zulaikha…


cerbung.net

Petualang Masa Lalu

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Hai...namaku Bayu Satriaji, biasa dipanggil Aji. Tadinya aku adalah mahaslsww Teknik Sipil di sebuah Universitas Swasta di kota XX. Aku mempunyai kemampuan super...eh...bukan ding.. Kemampuan supranatural, sebut saja begitu. Aku berasal dari kota YY, yang berjarak sekitar 4 jam perjalanan menggunakan motor. Di kota XX, aku tinggal di kost dan punya pacar satu kost bernama Desi.Merupakan seri kedua lanjutan dari cerita Sang Pamomong

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset