Petualang Masa Lalu episode 22b

Chapter 22b : Lanjutannya

“Apakah kita akan mendekat ke pagar halimun itu Pangeran?”
“Tidak usah, yang penting aku tahu posisinya. Nanti malam kuperkirakan pagar halimun itu akan melemah.”
“Mengapa pangeran?”
“Karena untuk membuat pagar halimun itu membutuhkan energi yang besar. Walaupun mereka ada 3 orang dan bisa bergantian, tapi mereka pasti akan sangat lelah dan kehabisan energi. Mereka juga butuh istirahat. Dan malam hari adalah saat yang tepat. Karena tempat ini jauh dari pemukiman, dan mereka merasa aman di malam hari.”
“Ah…begitu rupanya. Bagaimana Pangeran bisa tahu semua itu?”
“Hahaha…pengalaman yang memberikan pelajaran untukku. Sebuah pertempuran akan lebih mudah kita menangkan jika kita tahu kelemahan musuh dan kekuatan kita.”

Ternyata memang pengalaman adalah guru terbaik. Pangeran Anom pastilah seorang ahli strategi yang mumpuni.

“Usulmu untuk melakukan penyerangan di malam hari adalah sangat tepat. Bagaimana kau bisa mengusulkan hal itu?”
“Ah…saya cuma berpikir, bahwa mereka berada di balik pagar halimun. Mereka pasti akan merasa aman dan itu akan membuat mereka lengah. Dan karena lengah, kewaspadaan berkurang, sehingga jika ada serangan mendadak, pasti akan kebingungan. Dan lagi, mereka merasa mempunyai sandera yang akan membuat Ki Gede tidak mungkin menyerbu mereka,” jawabku.
“Benar sekali apa yang kau ungkapkan itu. Lalu, apa rencanamu untuk membebaskan Putri adi Samodra itu?”

Aku mengungkapkan rencana yang kususun bersama Ki Gede, tentang penyelamatan Melati sebelum serbuan dilaksanakan.

“Sebuah cara yang bagus, tetapi tetaplah waspada.”
“Baik pangeran..!”
“Nini, tolong jangan terpaku pada rumah dengan pagar ghaib, tapi periksalah gubug di sekitarnya. Mereka pasti akan lebih waspada karena penyusupan kalian kemarin, dan mungkin gubug dengan pagar ghaib itu hanya sebagai pancingan saja, sedangkan putri adi Samodra itu pasti sudah dipindahkan!”
“Baik Pangeran…!” sahut Zulaikha.

“Sekarang marilah kita pulang. Prajurit Tanah Perdikan sudah mulai menempatkan diri di tempat persembunyian.”
“Benarkah Pangeran? Hamba tidak melihatnya!”
“Percayalah, mereka datang satu demi satu dengan rahasia. Jangan kita ganggu mereka. Lebih baik kita pulang saja sekarang!” kata Pangeran Anom sambil beranjak dari situ.
Aku mengikutinya dari belakang.

Malam hari sudah menjelang. Setelah sholat Isya, kami mematangkan rencana kami untuk penyerbuan.
Ki Gede menyatakan bahwa pasukan sudah siap di tempat pada posisi masing-masing.

Nanti, setelah tanda kuberikan, pasukan akan menyerbu langsung ke pusat pertahanan lawan, tentunya setelah pagar halimun dihancurkan.
Menurut Ki Gede, mereka akan menggumakan gelar perang Garuda Nglayang, sebuah gelar dengan pasukan khusus sebagai paruh garuda sekaligus menggedor pertahanan musuh, sefangkan kedua sayap garuda sebagai pendukung serangan sekaligus menahan pasukan musuh dari samping.
Jika dibutuhkan, maka dalam pertempuran itu, gelar bisa segera diubah menjadi gelar Supit Urang atau gelar Wulan Tumanggal

Aku ga paham segala gelar itu…
Yang penting, laksanakan tugas, selamatkan Melati…selesai.

Menjelang tengah malam, aku berangkat dulu sebagai pelopor. Dengan tanganku dipegang Zulaikha dan Menik di kanan kiriku, aku melesat menuju Pagar Halimun itu. Dengan pengaruh ilmu panglimunan dari Zulaikha dan Menik, aku bisa menembus pagar halimun itu tanpa diketahui penjaga yang terkantuk-kantuk.
Benar ada penjagaan, namun kurang berarti. Tampaknya mereka tak menyangka akan ada serbuan malam lni.
Kami bertiga sambil tetap berpegangan tangan supaya aku tetep ga kelihatan, mencari tempat Melati ditahan.

“Ini tempatnya yang kemarin!” kata Menik menunjuk sebuah gubug dengan pagar ghaib yang kuat dan dijaga beberapa orang bersenjata.
“Tunggu, kita cari ke gubug yang lain dulu. Siapa tahu ini hanya pancingan saja. Carilah aura Melati!”

Kedua gadis ghaib itu berkonsentrasi…mencari arah aura Melati.

“Ah…dari gubug itu..!” desis Zulaikha.
“Kau periksalah ke sana, biar aku dan Menik di sini. Jika benar, beri tanda pada kami!”
“Baik…!” Zulaikha melepas pegangannya dan melesat ke salah satu gubug yang tidak dilindungl pagar ghaib dan tidak dijaga dari luar.
Tak lama, Zulaikha kembali dan berkata…
“Benar dla ada di sana. Penjaga sudah kulumpuhkan.”
“Mari kita ke sana…!”

Kami segera menuju gubug itu, dan dengan tenaga kami bertiga, kami mendobrak pintu masuk ke gubug itu.
Di dalam aku lihat Melati dalam posisi terikat
Mendengar pintu didobrak, dia mengangkat wajahnya dan berseru…
“Kangmas….!”
Aku meletakkan telunjukku di depan bibirku, memberi isyarat agar dla jangan berisik.
Aku membuka ikatan pada tubuhnya dan membawanya keluat darl gubug itu.
Saat kami keluar dari gubug, kami.termyata sudah dikepung musuh.
Dengan sigap, Zulaikha dan Menik memegang kami berdua, dan membawa kami keluar kepungan melewati kepala orang-orang yang mengepung kami.

“Hei…mereka menggunakan jin untuk menghilang.” seru seseorang.
Tapi kami sudah agak menjauh dari kepungan. Saat itulah aku mengeluarkan energiku yang berwarna kebiruan, dan kupukulkan ke atas.
Itu adalah tanda bahwa Melati sudah selamat, dan pasukan bisa menyerbu kemari.

Tapi akibat pukulan yang kulepaskan, kedudukan kami ketahuan. Berbondong-bondong musuh mendekati tempat kedudukan kami. Saat Zulaikha dan Menik akan melesat membawa kaml, ternyata sudah banyak makhluk ghaib mengepung kami.


cerbung.net

Petualang Masa Lalu

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Hai...namaku Bayu Satriaji, biasa dipanggil Aji. Tadinya aku adalah mahaslsww Teknik Sipil di sebuah Universitas Swasta di kota XX. Aku mempunyai kemampuan super...eh...bukan ding.. Kemampuan supranatural, sebut saja begitu. Aku berasal dari kota YY, yang berjarak sekitar 4 jam perjalanan menggunakan motor. Di kota XX, aku tinggal di kost dan punya pacar satu kost bernama Desi.Merupakan seri kedua lanjutan dari cerita Sang Pamomong

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset