Petualang Masa Lalu episode 24

Chapter 24 : Absurd

Nah, ribut lagi tuh kakak beradik ghaib. Aku cuma geleng kepala melihat tingkah mereka.
Aku mencoba memejamkan mataku lagi. Tubuhku rasanya remuk redam. Entah karena kecapekan atau terlalu tegang melihat pertempuran semalam.
Baru sekali ini.aku melihat banjir darah karena perang. Untung malam hari, sehingga tidak terlalu tampak mencolok.
Betapa dalam perang, nyawa manusia tak ada harganya.

Tak terasa aku terlelap, dan tak ada yang menggangguku.
Aku terbangun saat maghrib. Suara bedug langgar yang membangunkanku.
Aku segera mandi dan berganti pakaian, lalu sholat sendiri di kamar.
Usai sholat, aku berdzikir dan memohon ampunan kepada Sang Khalik, atas semua kesalahan dan dosaku.
Selepas sholat Isya, baru aku keluar kamar, menuju ke pendopo. Pengin duduk-duduk saja sebetulnya.
Belum sampai pendopo, aku bertemu Menur yang mencariku untuk diajak makan malam.

Aku mengikuti Menur ke ruang makan. Sudah lengkap di sana. Ki Gede, Nyai Gede, Pangeran Anom dan Melati.
Kami makan bersama sambil sesekali bercakap ringan.
Ki Gede berpesan agar aku setelah makan, datang ke pendopo karena ada sesuatu yang mau dibicarakan.

Singkat kata, aku sudah berada di pendopo bersama Ki Gede dan Pangeran Anom.

“Nak Aji…! Aku sangat berterima kasih padamu baik secara pribadi maupun sebagai Pimpinan Tanah Perdikan ini, atas segala bantuanmu kepadaku dan kepada tanah perdikan ini. Aku ingin memberikan sebuah bebungah (hadiah) padamu. Nah, sebutkan saja apa yang kau inginkan. Seandainya aku bisa, pasti akan kuberikan kepadamu. Bahkan jika kau minta jabatanku sekalipun!” kata Ki Gede.
“Maaf Ki Gede, saya ini hanya berbuat apa yang saya bisa. Dan saya tidak merasa berjasa pada Ki Gede ataupun Tanah Perdikan ini. Jadi, saya tidak menginginkan apapun Ki Gede!”
“Jangan terlalu merendah. Jasamu padaku dan tanah perdikan ini sangat besar. Dan sebagai wujud rasa terima kasihku, dan janganlah kau tolak, aku ingin memberikan suatu hadiah padamu. Sebutkanlah… Supaya aku merasa lega!”

Aku terdiam… Ngasih hadiah kok maksa sih? Trus mau minta apa ya?

“Baiklah Ki Gede, supaya semuanya merasa senang, saya akan meminta sesuatu kepada Ki Gede. Saya ingin dibuatkan sebuah rumah kecil di sebelah selatan tanah perdikan ini Ki Gede. Yang kecil saja.”
“Lho…apakah kau tidak kerasan tinggal di rumahku?”
“Mohon jangan salah paham Ki Gede. Saya sangat senang berada di rumah Ki Gede. Tapi karena Ki Gede meminta saya untuk menyebutkan hadiah apa yang saya mau, saya cuma terpikir hal itu…!”
“Oh…baiklah. Apakah butuh tanah yang luas juga?”
“Tidak Ki Gede, cukup sebuah rumah kecil saja. Dan saya tidak akan mau jika dibuatkan rumah yang besar..!”
‘Lihat kakang Anom. Sebuah permintaan yang tidak lazim bukan?”
“Hahaha…seorang ksatria sejati, memang tak pernah berharap sesuatu dari tindakannya. Aku tahu, dia terpaksa meminta itu, karena engkau yang memaksanya untuk menerima bebungah darimu!” kata pangeran Anom.

“Hmm…betul.juga kakang. Baiklah nak Aji, akan aku buatkan rumah mungil di sana sesuai peemintaanmu. Walaupun menurutku, itu tak sebanding dengan jasamu!”
“Ki Gede, janganlah menyebut tentang jasa. Saya malah menjadi malu sendiri!” sahutku.
“Kau memang manusia yang berbeda dari yang lain. Baru sekarang aku temukan manusia sepertimu. Kudoakan semoga hidupmu bahagia!” kata Pangeran Anom.
‘Amin…!” jawabku dan Ki Gede bersamaan.
“Adi, kiranya sudah saatnya aku melanjutkan perjalananku. Besok aku pamit akan melanjutkan tapa ngrame!”
“Kakang, tinggallah dulu di sini beberapa hari lagi!”
“Sudah cukup Adi, tanah perdikan sudah tidak tersaput mendung. Tugasku di sini sudah selesai.’
“Aku hanya bisa msngucapkan selamat jalan Kakang. Terima kasih atas bantuan kakang terhadap tanah perdikan ini. Semoga Kakang selalu dalam lindungan-NYA.”
‘Amin… Anak muda, ingatlah kata-kataku. Jalan pulang itu sudah dekat. Teruslah mencari, dan akan kau dapatkan!”
“Maksud Pangeran?”
“Kau akan mengerti jika sampai pada saatnya. Tetaplah berbuat baik, tetaplah rendah hati. Jangan lupakan ibadahmu. Semua akan membawa kebaikan pada saatnya nanti!”
“Terima kasih Pangeran. Akan hamba ingat semua petuah Pangeran.”
“Sekarang kau istirahatlah. Aku akan membicarakan sesuatu dengan Adi Samodra!”
“Baik Pangeran… Saya mohon diri Ki Gede…!”

Aku bangkit dan berjalan menuju kamarku. Emtah apa yang akan dibicarakan Pangeran dengan Ki Gede? Bukan urusanku.
Terngiang kembali semua yang diucapkan oleh Pangeran Anom tadi.
Saat di kamar, aku mencari makna ucapan beliau tadi, namun belum juga ketemu.
Apakah portal untuk kembali sudah begitu dekat? Semoga…

Lalu aku berpikir tentang hadiah rumah itu. Aku senyum2 sendiri.
Kok ya minta rumah kecil itu buat apa lho. Kayak mau tinggal di sini seterusnya.
Tapi lha cuman itu yang terlintas sih….haha.
Mau minta dijodohin sama Melati kok ya kasihan Desi.
Dan Zulaikha pasti bakalan manyun.

“Hayo…ngalamun aja lho…!” suara Menik mengagetkanku yang sedang asik melamun.
“Eh…Kunyil ngagetin aja!”
‘Mas Aji kok ikutan manggil Kunyil.sih…? Sebel….!!”
“Habis lucu sih nama itu. Kunyil…hahaha!”
“Maasss….jangan panggil Kunyil donk… Ya…ya…?”
“Iya deh Menik… Ngapain ngagetin aku?”
“Heran aja, tadi mas kok minta rumah kecil sih? Kok ga minta harta atau kedudukan? Emang mas mau menetap di sini?”
“Ya enggak lah… Ga tahu tuh, tadi yang terlintas cuma rumah!”
“Kok ga minta Melati aja dijadiin istri? Khan cantik tuh…?”
“Hadeehh. Ntar dibawa ke masa depan jadi nenek2 peot dah…!”
“Hihik…iya juga ya? Tapi enggak lah Mas.. Mas aja sampai ke jaman ini ga jadi embrio kok!”
“Iya juga ya? Tapi kamu mau, lihat Melati perang sama Desi?”
“Mau banget lah… Pasti seru tuh… Jambak-jambakan… Jadi pengen lihat!”
“Huu…dasar Kunyil… Sukanya lihat orang berantem…!””
“Maaasss….bukan kunyil ah. Masa cantik gini kok dipanggil kunyil?”
“Huahaha…cantik katanya. Kayak gitu kok cantik… Yang jelek kayak apa?”
“Kayak mas Aji…hihihi…!” sahutnya sambil ngilang gitu aja.
‘Kunyiilllll…….!”

Kena batunya aku. Niatnya ngebully, malah kena bully.
Jin kecil satu ini lincah banget sih balikin kata-kata. Belajar di mana ya?

Esok paginya, Melati sudah masuk.ke.kamarku. Wajahnya cerah dan tampaknya sudah mandi. Tercium dari aromanya yang wangi.
Dengan pakaian putri, dia tampak sangat cantik. Aku sampai menelan ludah melihat kecantikannya. Ditambah dengan dadanya yang membusung di balik pakaian adat jawa yang mempeelihatkan sebagian dadanya.

‘Selamat pagi kangmas…!” sapanya.
‘Eh…selamat pagi Nimas. Cantik sekali Nimas pagi ini!” balasku.
“Apa kamgmas? Kangmas bilang aku cantik?”
Ups…salah ngomong nih… Dasar mulut celamitan. Ga boleh lihat yang cantik-cantik langsung muji aja.
Bisa terjadi salah paham nih. Tapi sebagai seorang yang , harus pinter ngeles dong.

“Iya cantik. Masa sih tampan?”
“Ah ..kangmas ini bisa saja. Aku boleh bertanya kangmas?”
“Silahkan den ayu….!”
“Kok den ayu lagi sih?”
“Eh..maaf, boleh Nimas!”

Melati tersenyum manis… Sangat manis. Kelamaan berhadapan dengan Melati, bisa pindah ke lain hati nih…
“Kangmas…apakah menurut kangmas aku ini cantik?”
WTF…pertanyaan retoris yang ga butuh jawaban sebetulnya.
“Cantik Nimas….!”
“Cantik saja atau cantik banget kangmas?”
“Emm…cantik banget….!”
“Tapi percuma cantik kalau kangnas tak tertarik padaku!” katanya sambil cemberut.

Ini apa lagi… Kok jadi agresif gini sih si Melati? Padahal yang kutahu, dia agak pemalu.

“Eh .apa Nimas? Kok ngomong gitu?”
“Aku kalah cantik dengan Desi ya Kangmas?”

Eeits. Tunggu dulu.. Kok dia tahu tentang Desi? Aneh …

“Kamu tahu tentang Desi? Darimana kau tahu?” tanyaku penasaran.
“Eh…ada yang…yang memberitahuku lewat mimpi…!” sahutnya agak gugup.

Hmm..apakah ulah Zulaikha atau Menik yang ngasih tahu dia?
Akan kuselidiki…

“Kangmas…kenapa diam? Apakah aku tidak menarik?”
“Sangat menarik Nimas… Hanya saja…!”
Ah….puyeng deh… Gimana aku harrus mengatakannya?
Kalau aku bukan dari jamannya?

“Hanya saja apa kangmas?”
‘Emm..aku ga bisa bilang alasannya Nimas!”
“Ayolah kangmas. . jangan membuatku penasaran. Kangmas tahu bukan, kalau aku tertarik.pada kangmas. Apalagi setelah kangmas menyelamatkanku kemarin malam… Jiwa ragaku sudah menjadi milik kangmas…!”

Gila…ini bener-bener gila. Salah makan apa Melati sampai segitunya.
“Maaf Nimas.. Aku tidak bisa membalas perasaanmu!”
“Ya sudah..!” katanya sambil beranjak menuju pintu dan keluar dari kamarku.
Aku bengong sendiri… Cuma gitu aja? Ga merengek-rengek minta diterima cintanya?
Kok serba aneh ya? Ada apa ini sebenarnya? Apakah aku mimpi?
“Aduuhh….!” teriakku saat kucubit tanganku. Ini bukan mimpi…

Semenit kemudian, pintu diketuk. Aku beranjak ke pintu dan membuka pintu kamar.
Melati ada di sana dengan pakaian yang berbeda dari yang dipakainya tadi.
Cepet amat ganti baju.
“Ada apa Nimas?”
“Sarapan sudah siap.kangmas. Silahkan menuju kamar makan untuk sarapan bersama!” katanya sambil berbalik.
“Tunggu Nimas… Apakah Nimas tadi dari kamarku?”
“Tidak kangmas… Aku baru saja ke sini setelah mengatur meja makan untuk sarapan! Ada apa kangmas?”
“Ah…tidak apa-apa Nimas. Mungkin aku salah lihat tadi!” kataku mengelak.

Nah lo… Jadi siapa yang barusan dari kamarku?
Bingung aku dibuatnya….

Tiba-tiba terdengar suara cekikikan yang sangat familiar.
Ah…dia lagi rupanya….
Tahu lah…siapa yang paling suka usil gangguin aku…!

KUNYYIIIILLLLLLLLL……!!!!!!!!!!!!


cerbung.net

Petualang Masa Lalu

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Hai...namaku Bayu Satriaji, biasa dipanggil Aji. Tadinya aku adalah mahaslsww Teknik Sipil di sebuah Universitas Swasta di kota XX. Aku mempunyai kemampuan super...eh...bukan ding.. Kemampuan supranatural, sebut saja begitu. Aku berasal dari kota YY, yang berjarak sekitar 4 jam perjalanan menggunakan motor. Di kota XX, aku tinggal di kost dan punya pacar satu kost bernama Desi.Merupakan seri kedua lanjutan dari cerita Sang Pamomong

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset