Petualang Masa Lalu episode 25

Chapter 25 : Petunjuk

Siang itu ga ada sesuatu yang penting untuk dilakukan. Tanah Perdikan Manyaran masih berduka, karena kehilangan beberapa putra terbaiknya akibat perang melawan pasukan Anggoro.

Aku memutuskan untuk melihat-lihat gua yang pernah diceritakan oleh Zulaikha waktu dikejar musuh.
Penasaran dengan gua itu.
Yah…siapa tahu aku bisa menemukan portal atau petunjuk tentang portal di sana.
Zulaikha setuju untuk mengajakku ke sana. Maka, bertiga dengan Kunyil…eh .. Menik, kami pergi ke sana. Tentunya dengan bantuan duo gadis ghaib itu, agar lebih cepat sampai.

Ternyata mereka membawaku ke sebuah hutan yang agak lebat. Aku celingukan mencari-cari gua yang dimaksud mereka. Tapi tak juga kutemukan.
Melihatku kebingungan, Zulakha mengajakku ke balik sebuah pohon yang sangat besar. Di balik pohon itu, ada sebuah gundukan yang tertutup oleh sulur-sulur yang lebat.
Zulaikha menyibak sulur itu dan dibaliknya ada sebuah lobang yang cukup dimasuki oleh seorang manusia.
Zulaikha mengajakku masuk ke dalam lobang itu, diikuti Menik di belakang kami.
Gua yang sempit…begitu pikirku.
Zulaikha terus membawaku masuk lebih dalam. Dalam kegelapan gua, beberapa kali aku tersandung batu hingga kakiku sakit…
Zulaikha dan Menik sih enak, mereka bisa melihat dalam gelap. Lha aku kan ga bisa…
Semakin ke dalam, gua itu semakin meluas.. Dan di depan sana kulihat cahaya yang redup.
Kupikir itu jalam keluar dari gua ini, tapi tetnyata peekiraanku salah.
Kami sampai di tempat cahaya redup itu.
Ternyata itu adalah sebuah ruangan yang luas. Bisa menampung belasan orang.
Dan di situ tidak terasa pengap dan lembab. Bahkan, tempat itu tampak terang, nggak gelap. Entah cahaya dari mana yang menerangi ruangan ini.
Dan yang lebih aneh, ada beberapa kursi dari batu, sebuah meja, dan sebuah tempat tidur yang juga terbuat dari batu.
Berarti, dulu goa ini peenah dihuni oleh manusia.
Ruangan ini terlihat bersih. Di tembok gua, ada beberapa cekungan buatan yang mungkin digunakan untuk meletakkan sesuatu.
Lalu kemana perginya penghuni goa ini?
Apakah sudah meninggal atau pergi begitu saja dari goa ini?

Aku melihat-lihat kondisi gua itu, siapa tahu ada pintu keluar yang lain. Tapi ternyata, goa itu berakhir di sini. Tak ada jalan keluar yang lain.
Aku meraba-raba dinding goa…berharap menemukan tombol atau apapun yang mungkin membuka sebuah pintu rahasia, seperti yang sering aku baca di cerita silat mandarin.
Tapi hasilnya nihil juga. Ga ada apapun.
Zulaikha dan Menik duduk dengan santai sambil memperhatikan tingkahku.

“Kok ga ada apa-apa ya?” gumamku.
“Memang apa yang kamu cari?” tanya Zulaikha.
“Ya…portal atau petunjuk tentang itu lah…!”
“Kalau ada, sudah aku beritahukan padamu!” kata Zulaikha.
“Iya juga sih …!” kataku sambil menghempaskan tubuhku di salah satu kursi batu itu.
Aku meletakkan tanganku di meja dan mengelap meja yang lumayan berdebu itu.
Eh…ruangan ini sangat beraih, tapi kok mejanya berdebu?
Aku membersihkan meja itu dengan tanganku…dan..aku menemukan sebuah petunjuk. Cuma sebuah gambar keris yang diukir di atas meja.
Apa maksudnya ya?
Aku memperhatikan gambar keris itu. Menik ikut melihat gambar itu di sebelahku.

‘Ih…ada gambar keris bagus banget…!” seru Menik.
“Lha siapa yang bilang ini gambar pisang?” kataku.
‘Ih..mas Aji masih marah… Maafin Menik deh…!” kata Menik sambil meraih tanganku dan mengajak bersalaman.

Aku ga menggubris tingkah Menik. Aku masih menekuri gambar keris itu. Sepertinya aku ga asing dengan gambar keris di tengah meja batu ini.

“Mas..ini kok mirip sama keris punya Mas Aji ya?”
“Eh…!” aku terkejut dan buru-buru memegang barangku di bawah sana.
‘Hihi…bukan yang itu Mas… Itu lho, keris emas itu…!” kata Menik lagi sambil nyengir.
“Kamu itu pikirannya jorok mulu!” kata Zulaikha sambil menoyor kepalaku.
“Trauma aku dikerjain Menik mulu..!” jawabku.
Lalu kuperhatikan gambar itu dengan seksama.
Benar…sangat mirip. Pamor naga yang terukir di meja batu itu, mirip dengan pamor keris Naga Emas.
Aku memanggil keris naga emas, yang segera muncul di genggamanku.
Kudekatkan ke gambar keris di meja itu. Benar-benar mirip, hanya ukurannya lebih besar sedikit.

Seperti ada yang mendorongku untuk meletakkan keris Naga Emas itu di atas gambar itu.
TREK…
Pas banget, keris Naga Emas masuk ke dalam ukiran keris itu.
Dan tiba-tiba, keris Naga Emas memancarkan cahaya emasnya.
Cahaya itu berkumpul di ujung keris dan melesat ke arah tembok.goa.

Aku memandang tembok goa yang terkena pancaran cahaya keris itu.
Ada beberapa baris tulisan yang tercetak oleh cahaya yang terpancar dari keris Naga Emas.
Lagi-lagi, tulisan jawa kuno.
Aku ga paham sama sekali apa isi tulisan itu.

Aku memandang ke Zulaikha dan Menik.
“Kalian bisa membaca tulisan ini? Usia kalian khan sudah ratusan tahun?” tanyaku.
“Wah ..aku nggak bisa. Waktu pelajaran itu aku nggak masuk!” jawab Menik.
emoticon-Cape d...
Ternyata suka bolos.juga dia. Eh..emang di alam ghaib ada sekolah ya?
“Mbakyu, kamu khan paling pintar tulis menulis.” ujar Menik pada Zulaikha.
“Iya bentar….!” kata Zulaikha.

Lalu dengan perlahan Zulaikha membaca tulisan jawa kumo itu.

Sing sopo kang maca ukara iki.
Bakal pikantuk kabegjan.
Bakal tinemu apa kang dadi sedyane.
Ananging, sadurunge ngancik salapan dina.
Kudu sabar lan tansah laku kabecikan.
Amarga durung wancine awak iro mulih ing sangkan iro.
Yen wus ganep salapan dina.
Muliha ing sajroning guwa.
Aywa lali curiga tansah ginawa.
Bakal antuk pituduh kang migunani

Terjemahan
Barang siapa menbaca kalimat ini.
Akan mendapatkan keberuntungan.
Akan memperoleh apa yang diinginkan.
Tetapi sebelum 35 hari.
Harus sabar dan melakukan kebaikan.
Karena belum saatnya dirimu kembali ke asalmu.
Jika sudah genap.35 hari.
Kembalilah ke dalam goa.
Jangan lupa keris ini selalu dibawa.
Bakal mendapatkan petunjuk yang berguna.

Fyuh ..akhirnya dapat juga petunjuk, walaupun masih harus bersabar 25 hari lagi.
Seridaknya, ada harapan untuk pulang ke asalku.

Aku mengambil kembali keris Naga Emas dan menyimpannya kembali.
Saat aku melihat gambar keris di meja, ternyata mejanya sudah terturup debu kembali.

“Masih sebulan lagi kita di sini!” ujar Zulaikha.
“Benar… Untunglah aku minta dibuatkan rumah…haha!” ujarku.

Kami akhirnya keluar dari gua itu dan pulang kembali ke rumah Ki Gede.

Yang masih menjadi pertanyaanku adalah, siapa yang membuat ukiran, tulisan, meja kursi dll di goa itu?
Apakah dia seorang sakti…
Ataukah Kyai Naga Wiru?
Apakah sudah diramalkan bahwa aku akan terjebak ke jaman ini, sehingga dibuatkan petunjuk seperri itu?

Rangkaian pertanyaan yang tak terjawab.
Karena tidak ada yang bisa menjawabnya.
Semua masih jadi misteri, dan aku masih harus di jaman ini paling tidak selama 25 hari lagi.
Ah…lama banget rasanya menanti untuk bisa pulang.
Dan yang paling aku takutkan adalah, jika aku jadi tertarik dengan Melati…
Akan bagaimana nanti akhirnya?
Ah…sudahlah.. Jalani saja.


cerbung.net

Petualang Masa Lalu

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Hai...namaku Bayu Satriaji, biasa dipanggil Aji. Tadinya aku adalah mahaslsww Teknik Sipil di sebuah Universitas Swasta di kota XX. Aku mempunyai kemampuan super...eh...bukan ding.. Kemampuan supranatural, sebut saja begitu. Aku berasal dari kota YY, yang berjarak sekitar 4 jam perjalanan menggunakan motor. Di kota XX, aku tinggal di kost dan punya pacar satu kost bernama Desi.Merupakan seri kedua lanjutan dari cerita Sang Pamomong

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset