Petualang Masa Lalu episode 26

Chapter 26 : Menur Sakit

Ga terasa waktu berlalu dengan cepat. Rumah mungil sudah jadi, dan aku tinggal di rumah itu sekarang.
Dengan tinggal di rumah itu, aku bisa meminimalisir (bahasamu rek…) pertemuan dengan Melati yang begitu menggoda iman.
Permasalahannya adalah…gimana mau makan? Ga punya beras dan lainnya. Kalo buat minum sih bisa, tapi buat masak makanan? Argh….kenapa juga ga disediain bahan makanan yak?
Emang kalo ada bahan makanan bisa masak? Lha masak air aja susah banget bikin apinya… Keburu haus dah…
Untung Zulaikha punya alternatif yang lain, menggunakan ilmunya untuk membakar kayu di tungku…hahaha.
U are d best lah Zul…. Lop yu pull deh…

Dan si Dul ini juga yang nyari bahan makanan. Dapet dari mana coba?
Lengkap dengan peralatan masaknya juga.
Jangan-jangan nyolong nih…
Waktu aku tanya, katanya minjem di rumah Ki Santiko…
Ada-ada aja deh…

Dan dengan telaten, Zul masak buat aku. Juga nyediain semua kebutuhanku seperti minum dll.
Dah kayak punya istri aja pokoknya…

Kok ga si Kunyil aja yang suruh masak sih? Ah…aku sama sekali ga percaya sama Menik. Ga mungkin dia bisa masak.
Lha masak air aja gosong kok….
Abaikan…

Tapi ternyata, setiap pagi siang dan sore, si Menur dan seorang pelayan rumah Ki Gede datang buat nganter makanan buatku
Dibawain juga gula jawa dan sereh, serta jahe buat bahan minuman
Kadang Menur berkutat di dapur buat bikinin aku minuman itu.
Baik banget ni anak…
Dan manjanya juga ga ketulungan.
Seringkali dia betah berjam-jam di rumahku ini. Ada saja alasannya.
Kayaknya cocok nih ama si Menik..hehe.

“Nimas, kamu lama di sini apa nggak dicariin ibumu tho?”
“Sudah bilang kok kangmas… Aku bakal pulang sore.”
“Dan dibolehin?”
“Ya boleh lah.. Kanjeng ibu paling takut kalo aku ngamuk kok!” katanya dengan tanpa dosa.
“Trus mau ngapain di sini?”
“Pengin ngobrol sama kangmas. Aku kan nggak punya kakak laki-laki, jadi seneng rasanya ada kangmas di sini. Sperti punya kakak laki-laki!”

Itulah alasannya, karena aku dianggap sebagai kakaknya.
Ga papa lah, asal bukan Melati yang di sini seharian…

Menik sudah berkurang juga usilnya. (Mungkin belum nemu moment yang pas ya?)
Zulaikha ga masak lagi, lha udah dikirim makanan sama Menur.

Malam hari, kadsng Ki Santiko bertandang ke rumahku. Kami membicarakan banyak hal. Kadang aku yang ke rumah beliau untuk silaturahmi…(sekalian ikut makan malam…)
Tak terasa sudah 6 hari sejak aku ke gua itu. Tak ada kejadian istimewa di tanah perdikan.
Hingga malam ini aku dipanggil oleh Ki Gede supaya ke rumahnya.
Aku bergegas ke sana…dengan membawa obor dari daun kelapa kering yang diikat dan dibakar.
Lha ..gelap jalannya.
Di pendopo, tampak Ki Gede dan Ki Santiko sedang berbincang.
Aku mengucap salam dan ikut duduk bersama mereka.

“Silahkan duduk Nak Aji… Apa kabar?”
“Terima kasih Ki Gede, kabar saya sangat baik. Semoga demikian juga dengan Ki Gede!”
“Alhamdulillah, aku sehat dan tak kurang suatu apa. Hanya saja adikmu Menur kurang sehat!”
“Apa yang terjadi dengan Nimas Menur Ki?” tanyaku dengan terkejut.
“Tadi sudah kuperiksa, dan Menur ternyata mendapat kiriman santet dari seseorang!” kata Ki Santiko.
“Santet….?”
“Iya nak Aji… Aku sudah mencoba mengobatinya, namun aku tidak kuat. Karena aku kurang paham masalah santet!” jelas Ki Santiko.
“Apakah santetnya sangat kuat?”
“Benar… Bahkan aku tak mampu mengobatinya.”
“Bahkan Ki Santiko tak sanggup mengobatinya, apalagi saya Ki?” jawabku.
“Jangan merendah nak Aji. Boleh saja tenaga dalamku lebih hebat darimu, tapi energi kebatinanmu jauh di atasku.” kata Ki Santiko.
“Ah… Ki Santiko ini terlalu membesar-besarkan. Ilmu saya masih sangat dangkal Ki!”
“Ah ..kenapa kita malah berdebat? Lebih baik kau coba dulu mengobati Menur!”
“Benar nak Aji, aku minta tolong padamu untuk menyembuhkan Menur!” kata Ki Gede.
“Baik Ki Gede, saya akan mencobanya semampu saya. Semoga Allah memberi kesembuhan bagi nimas Menur.”
“Amin….!” jawab mereka serentak.

Aku diantat ke kamar Menur yang terletak di kaputren. Baru dua kali ini aku masuk wilayah ini. Pertama kali, saat nyasar dulu..haha.
Setelah sampai di kamar Menur, aku merasakan aura gelap yang kental.
Perlahan, aku masuk ke kamar Menur. Kudapati Nyai Gede dan Melati sedang menunggui Menur. Mata mereka bengkak karena menangis.
Kulihat Menur terbaring lemah di ranjangnya. Wajahnya pucat, dan mulutnya tak henti-hentinya merintih.
Perut Menur tampak membesar, dan kulit tubuhnya menghitam.
Aku menggelengkan kepala melihat kondisinya yang mengenaskan.
Tak ads lagi Menur yang ceria. Tak ada lagi Menur yang cerewet dan manja.
Kok tega-teganya ada orang yang tega menyakiti gadis tanggung yang energik ini.
Tak sadar, emosiku memuncak…
Aku marah pada orang yang mengirim santet pada Menur.
Dalam hati, aku berniat untuk mengembalikan santet itu. Supaya si pengirim tahu rasanya kena santet.
Enak aja main santet orang seenaknya…grr.
Zulaikha menepuk pundakku dan berkata:
“Istighfar mas… Jangan larut oleh emosi!”
“Astaghfirullahal ‘adzim…..!” ucapku.
Aku sempat dibutakan oleh emosi dan dendam.
Aku ucap istighfar berkali-kali agar aku tidak larut dalam emosi.
Kemudian aku pamit pergi ke pakiwan untuk mengambil wudhu.
Untuk bersuci dan meredam amarah.
Setelah wudhu, aku sholat sunnah 2 rakaat, memohon petunjuk dan perlindungan Sang Khalik.
Sesudahnya, aku menuju kamar Menur.. Melihat Menur dengan pandangan batin.
Ternyata dalam tubuh Menur penuh dengan aura ghaib yang pekat. Mungkin berasal dari benda kiriman dan juga makhluk ghaib budak dukun yang mengirim santet.

Aku mengarahkan tanganku yang sudah kualiri energi batin ke sekujur tubuh Menur yang tergolek lemah.
Mencoba mendeteksi kekuatan si pengirim santet.
Tenaga yang kusalurkan seperti terhadang oleh tabir yang tak terlihat. Kucoba tingkatkan energiku setahap demi setahap. Namun mental terus.
Wah…kuat banget ni dukun…
Aku menekur sebentar memusatkan pikiran dan perasaan. Menghubungi Ki Naga Wiru, meminta ijin menggunakan kekuatannya yang diberikan padaku.
Lalu memohon pertolongan dan perlindungan Allah SWT.

Lalu aku menarik nafas panjang, mengeluarkan energi batinku digabung dengan energi Naga Wiru, sampai pada puncaknya.
Kedua tanganku berpendar cahaya biru keperakan… Tak lupa, sebagian tenaga aku gunakan sebagai perisai diri. Untuk berjaga dari kemungkinan tenagaku membalik menyerang diriku.
Kuarahkan energi di tanganku pada tubuh Menur, tangan kanan dari kepala, tangan kiri dari kaki.
Perlahan kugerakkan kedua tanganku berlawanan arah dan bertemu di bagian perut Menur yang membusung.
Kurasakan perlawanan dari dukun lewat media yang dikirimkan ke tubuh Menur.
Si dukun mempertahankan media yang dikirimkan, sedang aku berusaha mengeluarkan apapun benda asing di tubuh Menur.
Terjadi tarik menarik yang sangat hebat…
Menur yang terhimpit di tengah adu tenaga batin ini melolong kesakitan. Kalau begini terus, kasihan Menur.
Aku mengontak Zulaikha lewat batin agar membantuku.
Serentak, Zulaikha dan Menik menempelkan telapak tangannya di punggungku. Menyalurkan energinya untuk memperkuat energiku.
Perlahan media yang ada di tubuh Menur keluar dalam bentuk asap tebal hitam yang bergulung-gulung, menimbulkan bau amis yang sangat menyengat.
Dengan menahan rasa mual, aku membungkus asap itu dengan energiku, lalu kulontarkan ke atas menembus atap dan meledak di luar sana.
Huft…berhasil juga mengeluarkan media yang dikirim dukun itu.
Masih dibantu oleh Zulaikha dan Menik, aku memeriksa tubuh Menur.
Hmmm…sudsh bersih. Tak kurasakan lagi aura gelap di dalam tubuhnya.
Aku terhempas duduk di lantai. Demikian juga Zulaikha dan Menik.
Kami segera bermeditasi untuk memulihkan tenaga.
Saat kurasakan sudah agak baikan, aku membuka mata sebentar dan berkata pada Ki Santiko.

“Ki Santiko, tolong dibuatkan pagar ghaib, untuk berjaga dari serangan yang mungkin datang lagi. Saya hendak memulihkan tenaga dahulu!”
“Baik Nak Aji… Aku akan mencoba yang terbaik.”

Aku menutup mataku kembali dan melanjutkan meditasi.
Ada sekitar 1 jam aku bermeditasi, namun energiku seolah sulit untuk pulih. Mungkin karena aku sudah mengeluarkan seluruh energiku.hingga terkuras habis.

Ketika akan kusudahi meditasiku karena kurasa kurang memadai, tiba-tiba kurasakan sebuah tangan yang lembut menyentuh ubun-ubunku dan mengalirlah energi hangat yang memasuki tubuhku.
Aku melanjutkan meditasi, menerima energi yang masuk dan menyelaraskan dengan energiku.
Ternyata eneegi itu bukan eneegi asing, sudah sangat familiar.
Aku membuka mataku dan tampak Nyi Among tersenyum sambil melepaskan tangannya dari ubun-ubunku.

“Ibu. .?”
“Iya nak… Kamu terlalu memaksakan diri.hingga seluruh energimu terkuras. Akan sangat lama mengembalikan energimu hanya melalui meditasi. Makanya ibu membantumu!”
“Terima kasih banyak Bu!”
“Sama-sama. Ibu pamit dulu.. Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikum salam…!”

Setelah Nyi Among pergi, aku mengontrol energiku. Alhamdulillah, sudah 70% pulih. Tinggal nanti meditasi lagi. Untuk saat ini cukuplah.
Aku melihat Zulaikha dan Menik… Mereka sudah selesai bermeditasi.

“Terima kasih banyak…!” ujarku pada mereka.
“Ga perlu berterima kasih. Sudah jadi kewajiban kami.kok!” jawab Zulaikha.
“Huh…terima kasih doank. Sini bayar… Capek tahu…!” gerutu Menik.
“Nih..aku bayar…!” sahutku sambil memencet hidungnya.
“Ih ..lepasin…!” kata Menik.
Kulepas hidungnya sambil ketawa.
Dalam hati ketawanya…
Ntar dikira gila kalau ketahuan ketawa sendiri…

Aku bangkit dari dudukku…
Menur tampak sudah lebih sehat sekarang. Dia baru saja disuapi oleh Nyai Gede.
Begitu melihatku berdiri di samping ranjangnya, dia menatapku dengan mata berkaca-kaca.
Lalu serentak memelukku di depan semua orang.
Aku bingung mau bersikap gimana, akhirnya hanya diam saja.

“Terima kasih kangmas… Kangmas sudah menolongku. Aku tidak tahu apa jadinya kalau tidak ada kangmas.. Hiks. !” katanya sambil sesengukan.

“Sudahlah Nimas… Bersyukurlah pada Allah, yang sudah menolong kita. Aku hanya perantara saja Nimas!” jawabku sambil mengelus rambutnya
“Iya kangmas .. Alhamdulillahir robil ‘alamin…!” katanya sambil masih memelukku.
“Sudah Nimas.. Ayo diteruskan dulu makannya, biar cepat sehat…!” ujarku sambil melepaskan pelukannya.
Menur mengangguk dan kembali disuapi oleh ibunya.
Aku, Ki Santiko, dan Ki Gede keluar dari kamar itu, kembali menuju pendopo.


cerbung.net

Petualang Masa Lalu

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Hai...namaku Bayu Satriaji, biasa dipanggil Aji. Tadinya aku adalah mahaslsww Teknik Sipil di sebuah Universitas Swasta di kota XX. Aku mempunyai kemampuan super...eh...bukan ding.. Kemampuan supranatural, sebut saja begitu. Aku berasal dari kota YY, yang berjarak sekitar 4 jam perjalanan menggunakan motor. Di kota XX, aku tinggal di kost dan punya pacar satu kost bernama Desi.Merupakan seri kedua lanjutan dari cerita Sang Pamomong

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset