Petualang Masa Lalu episode 27

Chapter 27 : Pembuatan Pagar Ghaib

Aku sedang berhadapan dengan Ki Gede yang sedang marah-marah. Beliau bermaksud menjodohkan aku dengan Melati, tapi aku menolaknya.

“Jadi sebutkan alasanmu menolak…!” kata Ki Gede dengan keras.
“Bu…bukan me..menolak Ki Gede!” tergagap aku coba menjelaskan.
“Berarti kamu mau….?”
“Bu..bu..bukan juga….!”
“Hei…jadi laki-laki itu yang tegas… Jangan plintat plintut gitu…!”

Aku menarik nafas dalam-dalam…
Mencoba menata debur jantungku yang bergerak cepat.
Tenang Ji… Tenang….
Tarik nafas…lepas…
Tarik nafas….lepas….

“Maaf Ki Gede, bukan saya menolak atau meremehkan Ki Gede. Tapi seperti yang Ki Gede ketahui, saya bukan berasal dari jaman ini. Dan suatu saat saya akan pulang ke jaman saya. Itu alasan saya Ki Gede!”

Aku mengangkat muka memandang wajah Ki Gede. Matanya masih melotot menatapku…
Ternyata kalo lagi marah, Ki Gede serem juga euy….

“Benar, hanya itu alasanmu menolak? Bukan karena kau menganggap remeh anakku Melati?”
“Benar Ki Gede… Hanya itu. Bagi saya nimas Melati itu cantik dan termasuk wanita pinilih. Jadi, nimas Melati berhak mendapatkan calon yang jauh lebih baik daripada saya!”

Hehe…dah lancar aku jawabnya. Aji gitu loh… Mental baja…. (Atau muka tembok..??)

“Hahaha….tenanglah nak Aji. Aku hanya sedang mengujimu. Ternyata kau adalah seorang yang berpendirian teguh. Maafkan aku tadi sempat membentakmu…!” kata Ki Gede dengan wajah cerah.

Sekarang aku yang melongo….
Ga nyangka, seorang penguasa tanah perdikan punya selera humor juga
Coba jaman itu udah ada yutup, pasti bakal dishare ke yutup. Dengan judul: Pendekar Ghaib Gunung Sumbing kena PRANK!!!

Ki Gede menepuk-nepuk bahuku sambil berkata:

“Sungguh nak Aji, jika saja engkau berasal dari jaman ini, aku benar-benar ingin menjodohkan Melati denganmu! Sayang, kalian memang tidak berjodoh!”

“Ah. Ki Gede membuat saya kaget tak terkira. Saya sampai takut tadi, melihat Ki Gede marah pada saya…!”
“Hahaha… Sekedar pelepas penat pikiran saja Nak Aji. Supaya aku tetap waras dalam tekanan permasalahan seperti ini.”
“Oh..begitu Ki Gede? Em..mohon maaf Ki Gede, tampaknya sudah saatnya saya pulang kembali ke rumah. Ada beberapa hal yang harus saya lakukan.”
“Baiklah… Jangan dimasukkan ke hati apa yang baru saja kuperbuat padamu!”
“Baik Ki Gede. Kalau begitu, saya mohon pamit. Assalamu’alaikum..!”
“Wa’alaikum salam…!”

Aku meninggalkan rumah ki Gede dengan hati agak mendongkol.
Gimana tidak…seorang mahasiswa, kena prank orang jaman dulu… Sedihnya…..

Sesampai di rumah, aku bermaksud berleha-leha di balai-balai sekedar menghilangkan perasaan dongkolku.
Baru juga rebahan, hadirlah si Menik dengan wajah cengengesan.
Asli ..perasaanku sudah ga enak banget lihat wajahnya.

“Mas…mas… Mas Aji…!”
“Ada apa Nik?”
“Mas Aji mau dijodohin sama Melati ya?”
“Udah ah… Ga usah dibahas…!”
“Hihihik… Kasihan … Dikerjain Ki Gede… Uluh uluh…..!” kata Menik.

Aku menutup kuping dengan kedua tanganku dan memejamkan mata.
Masa udah kena prank masih mau dibully lagi sama Jin Bocil satu ini?

“Ga usah ditutup.kupingnya… Tetep aja kedengaran, khan pakai bahasa batin…hihik!”
“Menik…udah ah… Jangan ganggu aku donk. Lagi sebel nih…!”
“Duh…baper amat sih, kayak cewek aja…hahaha!”

Dan…alhasil, aku dibully habis-habisan sama Menik. Aku diam aja dan pura-pura tidur. Ga bakalan menang deh berdebat sama Kunyil satu ini….

Esok harinya, seorang prajurit menyampaikan pesan Ki Gede agar aku datang ke rumahnya pagi ini.
Setelah mandi, aku segera meluncur ke TKP.
Di halaman pendopo sudah berkumpul 5 orang, termasuk Ki Santiko.
Ki Gede tampak sedang berdiri di dekat tiang pendopo, memperhatikan kelima orang tersebut.
Agaknya, ritual pembuatan pagar ghaib ekstra luas akan segera dimulai.
Aku menghampiri Ki Gede dan mengucapkan salam, lalu ikut melihat kegiatan tersebut.
Tampak di depan 5 orang itu sudah tersedia 5 buah lempengan berwarna kuning. Mungkin itu adalah lempengan kuningan.

Lempengan itu diletakkan di tengah-tengah, lalu kelima orang itu mengeluarkan energinya masing2 dan mulai menggabungkannya.
Gabungan kelima energi itu seolah membentuk sebuah gumpalan energi berwarna-warni seperti pelangi.
Masing-masing mengontrol energi itu dan mengarahkannya ke lempengan kuningan itu.
Gumpalan energi itu menyelubungi lempeng2 itu dan sebagian meresap masuk ke dalam lempengan itu.
Setelah lempengan2 itu berisi energi, 4 lempengan itu masing-masing diberikan kepada jin pendamping yang ada di situ. 4 jin pendamping itu segera melesat ke 4 arah yang berbeda
Sementara, Ki Santiko mengambil sebuah lempeng yang tersisa, dan berkomat-kamit entah membaca apa, lalu membanting lempengan itu ke atas tanah di depan pendopo.
Lempengan itu begitu menyentuh tanah lalu lenyap tak berbekas.
Aku sampai melongo melihatnya…
Ilmu yang sangat hebat…

Selang tak lama, keempat jin yang membawa lempengan sudah kembali ke situ.
Dimulailah ritual kedua… Mereka mengambil posisi segiempat dan Ki Santiko berada di tengah, duduk bersila.
Empat orang mengeluarkan energi masing-masing dan mengarahkan aliran energinya menuju ke pusat, sementara Ki Santiko mengeluarkan energinya dan menyambut empat energi.
Kelima energi itu bergabung di tengah, membaur dan dengan aba-aba Ki Santiko, serentak mereka mengangkat tangan ke atas, melontarkan energi itu ke atas.
Pemandangan yang indah terlihat… Gumpalan energi seperti pelangi melesat ke atas hingga ketinggian sekitar 20 meter. Pada ketinggian itu, energi itu berhenti dan melayang-layang, lalu berpendar dan menyebar ke 4 arah.
Maka tampaklah sebuah tabir cahaya berwarna-warni menyelubungi langit tanah perdikan.
Terlihat sangat indah…
Lalu sebuah jalur energi turun dan membentuk sebuah tiang besar tepat dimana lempengan tadi dikubur.
Sehingga, tampak seperti payung berwarna-warni dengan gagangnya di depan pendopo itu.

Semua orang memandang ke atas…melihat keindahan yang hanya bisa nampak oleh orang berkemampuan khusus.

“Apakah prosesinya sudah selesai Nak Aji?” tanya Ki Gede padaku.
“Alhamdulillah sudah Ki Gede. Dan mereka berhasil membuat pagar ghaib yang menaungi seluruh tanah perdikan ini!”
“Syukurlah… Tanah Perdikan sudah mempunyai benteng ghaib dari hal-hal ghaib!”
“Benar Ki Gede…!”

Aku kembali memandang ke halaman pendopo.
Tampak kelima orang itu sedang bermeditasi, memulihkan energi mereka.
Butuh energi sangat besar untuk membuat pagar ghaib sebesar itu.

Setelah semua selesai bermeditasi, Ki Gede mengundang semuanya untuk makan bersama. Rupanya Ki Gede sudah menyediakan makan besar untuk kami semua. Lengkap dengan ingkung ayam, ikan masak santan dsb.
Wuah…makan besar…


cerbung.net

Petualang Masa Lalu

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Hai...namaku Bayu Satriaji, biasa dipanggil Aji. Tadinya aku adalah mahaslsww Teknik Sipil di sebuah Universitas Swasta di kota XX. Aku mempunyai kemampuan super...eh...bukan ding.. Kemampuan supranatural, sebut saja begitu. Aku berasal dari kota YY, yang berjarak sekitar 4 jam perjalanan menggunakan motor. Di kota XX, aku tinggal di kost dan punya pacar satu kost bernama Desi.Merupakan seri kedua lanjutan dari cerita Sang Pamomong

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset